
Tatapan menajam pria itu lansung menghunus Foto Keluarga Bangsawan Alison yang ada dihadapannya, dimana banyak wajah suram terlihat dimatanya bahkan begitu mempunyai aura misterius.
Ia menelisik jauh pada sesosok pria dengan wajah berauranya penuh wibawah berdiri kekar ditengah Keluarganya, dialah Raja Petratolison seorang pria dengan raut wajah tak pernah tersenyum tapi ia selalu bisa membuat orang terdekatnya nyaman.
"Lihatlah, dia sangat mirip denganmu! bahkan sangat." gumam pria itu seraya menggertakan giginya geram, kepalan tangannya menguat dengan mata berubah menghitam mengeluarkan kabut asap hitam ditangannya.
"Dia mulai memberontak, saatnya akan tiba karna Tanah yang dulu Makmur dan Keadilan yang dulu kau teggakan akan ku runtuhkan perlahan-lahan, Bangsamu Alison tak akan pernah jaya sampai darahnya Tumpah di Tanah kelahirannya sendiri!"
Duarrr..
Suara petir diatas sana lansung berkumandang menarik hujan yang kembali menguyur, seringaian iblisnya muncul lalu menghilang seperti asap hitam dibawa oleh angin.
..........
"A..Ardd, Akhs!"
Sofea mengerang kuat saat pria ini kembali mengagahinya karna Seorang Ardelof Douglas Alison tak pernah memberikan sesuatu secara geratis hingga saat dini hari pun Ardelof meminta imbalannya hingga Sofea tak mau melawan selain pasrah melayani hasrat suaminya.
Keringat panas disekujur tubuh keduanya mengalir menyurusi pori-pori kulit yang terus dibuat terguncang akibat Servis kali ini tak main-main, Ardelof meminta Sofea melayaninya secara sadar dengan ke dahsyatan tekanan wanita itu membuat Ardelof sangat candu dan menggila.
"Ouuss, Yaah!!"
Ardelof terus menggeram nikmat saat Sofea menari diatas tubuhnya, ia pria normal yang tak akan pernah lepas dari hasrat kerasnya pada Tubuh sang istri yang selalu membuat ia lupa waktu dan tunduk dengan pesonanya.
Kedua tangan Ardelof tak berhenti meremas dua benda kenyal yang ikut berguncang karna gerakan pelan namun penuh tekanan itu, ia sangat menggila mendengar suara lembut Istrinya yang menyatu dengan jeritan nikmatnya saat ia mulai mengambil alih untuk memompa.
"A..Ard!!!!"
Pekik Sofea berpeggangan ke dada bidang Ardelof yang sudah beberapa kali mencapai puncak keduanya hingga sekarang Nirwana itu kembali mereka daki keras sampai membuat jeritan keras Sofea sangat membelah batin Ardelof yang tengah berada diujung puncak Batinnya yang pecah.
"A..Akuuu.."
Ardelof mencengkram rambut Sofea yang lansung mengadah terus memanggil namanya hingga keduanya lansung melenguh panjang saat pendakian itu sukses tercapai dengan sangat dahsyat.
"Kau..Kau luar biasa, Sayang!"
Ucap Ardelof spontan dengan wajah bersinar kepuasannya merasakan bagaimana Sofea mengaduk jiwanya hingga diledakan begitu saja, nafasnya memburu panas dengan tubuh Sofea yang bergetar merasakan rahimnya sangat hangat karna sudah beberapa kali mengalami pelepasan.
"S..Sudah!"
"Belum!"
"P..Pinggang ku sudah sakit, Ard!" lirih Sofea kesal karna ini sudah jam 6 pagi, pria ini seakan tak pernah lelah terus menggempurnya. bukan tanpa alasan Ardelof begitu haus, bayangkan saja jarang-jarang Sofea mau melayaninya secara sadar jika bukan ia yang mencuri tidur wanita ini maka tak akan pernah ia dapatkan Kenikmatan menggelora itu.
"Tapi enak?"
Sofea bersemu menepuk dada Ardelof kecil seraya meneggakan tubuhnya hingga ia kembali keposisi semula tengah menyatu dengan tubuh yang sama-sama polos.
Sebenarnya Sofea agak canggung mengatakan kalau rasanya ternyata sangat Nikmat jika dilakukan bersama, tapi ia malu karna bisa saja nanti Ardelof melunjak meminta lebih.
"Ard!"
"Hm?" Ardelof menjadikan kedua tangannya bantalan kembali seraya menatap Sofea yang masih menyatu dengannya, wanita itu duduk tepat dibagian Perkasa itu hingga ia hanya menikmati pijatan dinding lembut ketat itu.
"Ard!"
"Hm, ada apa?"
"Bagaimana cara lepasnya?"
Ardelof lansung terkekeh kecil melihat ini, tadinya juga Sofea tak mengerti bagaimana cara naik memimpin permainan, tapi nyatanya ia cepat tanggap hingga sekali diajari ia bisa membuat Ardelof selalu mendesah halus.
"Dia tak bisa lepas!"
"Ard, aku serius! aku mau mandi" lemah Sofea.
"Aku serius, dia tak bisa lepas!"
Sofea lansung lunglai, ia sudah tak sanggup berjalan ke kamar mandi sana apalagi rasanya benda ini begitu mengekang bagian intinya.
"Ard, lain kali kau tak usah membelikan apapun!"
"Kenapa?"
"Kau sama sekali tak tulus memberikannya!"
Arselof hanya menyunggingkan senyum nakalnya membuat Sofea jengah, tapi ia lansung terdiam saat menatap bagian perutnya lalu menatap Ardelof yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Kesini!" Ardelof membuka rentangan tangannya hingga Sofea lansung memeluk Ardelof yang memiringkan tubuhnya hingga mereka menyatu tampa jarak sesenti pun.
kepala Sofea tepat dibenamkan kedada bidang kekarnya dengan satu kaki Sofea yang naik keatas paha pria itu karna mereka masih menyatu.
"Jangan memikirkan apapun!"
"Ard! apa ..apa aku akan hamil?" suara Sofea khawatir.
"Tidak!"
Jawab Ardelof singkat, tapi percayalah ada makna dibalik kata TIDAK yang Sofea tak ketahui, seketika wajah Sofea lansung terdongak menatap wajah Tampan Ardelof yang juga memandangnya.
"Kenapa?"
"Karna tak sembarang orang bisa menerima bagian dariku!"
"T..Termasuk aku?"
Ardelof hanya diam melepas penyatuannya pelan tanpa mau menjawab membuat Sofea lansung mencengkal tangan Ardelof yang ingin turun dari ranjang ini.
"B..bisa kau ja..jawab aku!"
"Ada sesuatu yang belum saatnya terjadi, hidup ini rumit. kau tak akan mengerti!"
Tegas Ardelof lalu berdiri menyambar Bathrobe di atas Sofa dan lansung melangkah kekamar mandi membuat Sofea mematung mendengar semuanya. ia memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan suara gemercik air terdengar nyaring.
"A..Aku memang tak mengerti." lirih Sofea dengan mata berairnya mencengkram selimut yang membaluti tubuhnya, ia meringkuk menekuk kedua kakinya dengan isak tangis tertahan yang ia telan sendiri.
"L..Lalu a..aku..aku kau anggap apa, hiks? a..aku..aku pikir kau..aku berbeda, aku..aku pikir kau mencintaiku tanpa alasan, ta..tapi kau..kau hanya ingin tubuhku, saja hiks. h..hanya hasrat!"
Sofea menangis ditengah kesunyiannya, ia mencengkram perutnya kuat seakan ia membenci dirinya sendiri, kenapa ia begitu lemah hingga tak bisa melawan pesona pria itu? ia terlalu terbuai hingga sampai melupakan kalau ia bukanlah siap-siapa.
Sofea tak tahu, kalau yang sakit disini bukan hanya dia seorang tapi Pria yang melihatnya dari pintu sana juga sama, Takdir begitu buruk sampai membuat rintangan sebesar ini datang begitu saja.
"Memilikimu saja itu sudah kebahagiaan terbesarku, untuk anak, aku bukan tak mau. Sayang! tapi, kehadirannya akan membangkitkan sesuatu yang bisa merenggutmu dariku!"
Batin Ardelof terkoyak, ia ingin Sofea hidup dengannya dan selamanya, ia sudah merencanakan jika kelak nyawanya panjang Ardelof ingin mengatakan kalau Ratu Bijaksana Tanah Alison itu telah datang, tapi ia perlu waktu karna banyak yang mengincar nyawa Sofea sebagai penguat Sihir kebatinan.
....
Vote and Like Sayang..