Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Wanita itu mempengaruhinya!


"Ard!!!!"


Suara keras wanita itu sampai ketelinga semua manusia yang tengah melakukan Aktifitas paginya, sekarang para Pelayan sana lansung mendekati Pintu Utama Istana karna Putri Vanelope tampak berdiri dengan penjagaan yang ketat dengan Beclie digenggamannya.


"Ard!!! kau tak bisa melakukan ini padaku!!!"


"Putri!"


Ratu Rosmeryna mendekati Vanelope yang tampak menggeram merubah raut wajahnya sendu seraya mengarahkan Beclie agar mendekat kearah wanita paruh baya yang anggun itu.


"Grandma!"


"Prince, pergilah bermain dulu. hm?"


Beclie mengangguk hingga ia menatap Ibunya Vanelope yang memperbolehkannya, barulah si kecil itu pergi dikawal para pengawalnya dengan ketat.


Dan sekarang, Vanelope menangis lansung memeluk Yang Mulia Ratu Rosmeryna dengan kepiluan yang ia rasakan, hingga hati wanita itu tersentuh mengelus punggung Vanelope yang gemetar seraya mengisyaratkan para pelayan untuk pergi.


"Nak, ada apa?"


"Ibu Ratu, aku..aku tak mau bercerai dengan Putramu, hiks! aku tak mau, Bu!"


Ratu Rosmeryna mengarahkan Vanelope untuk duduk disampingnya di Sofa sana, sebenarnya ia tak tahu harus apa jika Ardelof menginginkan ini ia tak bisa berkata banyak.


"Aku tak bisa membantu, Ardelof sudah menceraikanmu dan.."


"Ibu Ratu, aku..aku mohon bujuk Ardelof untuk kembali padaku, aku belum menandatangi surat itu, Bu!"


"Vanel! baik kau tandatangani atau tidak, Ardelof akan tetap memberikan pernyataan dia dan kau sudah bercerai! dia itu cerdas bisa melakukan apapun!"


Vanelope mengumpat membatin, Ratu Rosmeryna sekarang sudah mulai menuruti Ardelof padahal dulu ia sangat bisa mengambil hati wanita ini.


"Ibu Ratu, aku sudah tahu aku salah, tapi aku akan memperbaikinya! aku tak akan mengulangi itu lagi dan..dan aku tahu Ardelof masih mencintaiku!"


"Cobalah kau bicara dengannya diatas, pergilah keruang kerjanya!"


"Baiklah, terimakasih, Ibu Ratu!"


Ratu Rosmeryna mengangguk saat Vanelope memberi salam hormat, ia pamit pergi seraya melangkah menuju Lift karna ia yakin Ardelof tak akan bisa keluar dari jerat Pesonanya.


Didalam Lift, Vanelope memperbaiki tampilannya yang memakai Gaun ketat menambah kesan Sexsi dari tubuh sintal semampainya, ia begitu cantik dengan aura dewasa dan penuh keangkuhan.


"Aku tahu, Sayang! kau hanya marah sesaat, ketika kita sudah bersatu kau akan kembali tergila-gila padaku! aku pastikan itu, Putra Mahkota Alison!"


Gumam Vanelope hingga penampilannya begitu Perfect hingga Lift itu terbuka dengan sangat percaya diri Vanelope melangkah menuju ruang kerja Ardelof, ia menurunkan resleting dibelahan dadanya hingga gumpalan dagging kenyal itu menyembul keluar dengan kerlipan nakal tubuhnya.


"Ard!"


Panggil Vanelope begitu mendayu, tapi sayangnya dua manusia yang tengah menatap Layar Laptop itu tak mendengar lebih tepatnya mereka seakan menuli karna asik dengan kegiatannya sendiri.


Yah, sekarang Sofea dihadapkan dengan semua berkas Istana yang diserahkan Ardelof karna Sofea selalu mengeluh bosan dikamarnya hingga Pria bernetra biru Tampan itu lansung menyerahkan pekerjaannya pada Sofea yang ia dudukan diatas pangkuannya.


"Kau bisa? Cihh! sudah ku duga penyihir berotak lamban sepertimu itu hanya bisa menangis!"


"Sebentar.."


Sofea mengamati bagaimana masalah Pajak di Istana yang tak setabil serta ada beberapa Kelompok yang sepertinya dimasukan kedalam Sistem Pemerintahaan kerajaan agar memantau bagaimana kondisi kedepannya.


"Aku tak tahu, tapi sepertinya di bagian Pengawal dan Jendralmu bermasalah!"


"Benarkah?"


"He'em. Kokinya juga! kau bilangkan banyak yang membocorkan rahasia Istana ke luar, berarti kalau tidak Pelayan bagaian Koki Dapur Utama. tapi aku tak tahu, ini hanya dugaanku saja!"


Tapi sayangnya itu benar, Ardelof sudah tahu tapi ia ingin melihat pengamatan Sofea bagaimana terhadap semua bukti yang merujuk pada orang-orang Istana yang telah disuap atau terjadi manipulasi.


"Kau pusing?"


Sofea mencengir mengangguk, ia menjauhkan Laptop itu dari matanya saat melihat deretan angka pengeluaran Bulanan Istana membuat ia merasa negri, padahal itu hanya sedikit bagi Ardelof, apalagi sumber penghasilan Kerajaan bukan dari Pajak dan Usaha lainnya melainkan Perusahaan ACB(Alison Corporation Buseness) yang menjadi Perusahaan tertinggi dan Termaju di Negara ini bahkan sudah bersaing di 3 Negara terkuat, Inggris, Jerman dan Jepang sebagai Negara penyaing dengannya.


"Sudahlah, pergilah makan!" Ucap Ardelof mendekatkan Nampan berisi piring makanan dan Segelas susu putih kehadapan Sofea yang menatapnya rumit seakan masih meragukan apa ia manusia atau bukan seperti penjelasannya pagi ini.


"Aku bukan manusia!"


"A..Apa?" Sofea Syok.


"Aku pemakan wanita sepertimu!" geram Ardelof mengigit kecil telinga Sofea yang merenggut, akhirnya ia menurut membawa Nampan itu menuju Sofa tak jauh dari meja kerja Ardelof, hanya satu langkah maka Ardelof lansung duduk disamping Sofea.


"Aku disana saja, ya?" menunjuk sudut ruangan.


"Kenapa?"


"Kau sedang bekerja, aku takut menganggumu!" Ardelof menggeleng meneggaskan Sofea untuk duduk di Sofa dibelakang kursinya hingga Sofea pasrah tanpa ada bantahan.


Ardelof menyunggingkan senyum misteriusnya saat meletakan Kamera Ponsel didekat meja hingga ia bisa melihat tampak belakang dimana Sofea tengah menikmati makan siangnya.


"Ard!!"


Degg..


Sofea lansung meletakan Piring itu seraya berdiri mendekati Ardelof yang mengepalkan tangannya kuat, wajah Sofea tampak pucat karna bisa saja itu orang Istana.


"I..Itu.."


"Kau bisa mainkan ini sampai aku datang, hm?"


"Apa kau akan lama?" tanya Sofea merasa tak rela, ia tak punya teman disini sedangkan Ardelof pergi.


"Apa kau merindukan aku?"


Bluss..


Sofea memerah menunduk meremas jari-jarinya, jujur Ardelof yang lembut begini ia sangat suka karna Sofea merasa dirinya sangat Spesial. melihat kebungkaman malu-malu itu lansung memantik rasa hangat dihati Ardelof.


Ia berjongkok menyamakan tinggainya dengan Sofea yang menunduk seraya menggenggam kedua tangan wanita itu.


"Angkat kepalamu!" Sofea perlahan mengangkatnya hingga ia bersitatap dalam dengan netra biru elang ini.


"Aku akan segera kembali, kau cukup hibur dirimu sendiri!"


"Tapi kau kemana?"


"Hanya keluar!"


Ardelof mengecup bibir Sofea kilas lalu kembali berdiri melangkah menuju pintu disertai tatapan malu Sofea, saat Ardelof memperlakukan begitu. Sofea seakan menjadi Egois ingin memiliki tapi sayangnya ia sadar rasa ini hanya sebatas kagum semata.


Sedangkan Ardelof, ia lansung menutup pintu ruangannya membuat Vanelope segera menyeringit seakan Ardelof semangkin menjaga batasan dengannya.


"Ard!"


"Hm!"


"Sayang, aku.."


Ardelof melangkah pergi menuju ruang santai diatas sini dimana tak ada benda apapun selain Sofa dan Kaca besar penghubung Dunia luar yang dibuka membuat Ardelof berdiri didekatnya tanpa menatap Vanelope.


"Sayang, aku..aku tak ingin kita bercerai!"


"Itu keputusanku, kau bukan lagi Istriku dan kita tak punya hubungan apapun!"


"Ard aku.."


Brughh..


Tubuh Vanelope terhempas kelantai saat ingin menyentuh Ardelof yang mengeraskan wajahnya kuat, kepalan tangan Ardelof seakan meremukan leher Vanelope yang sangat merasakan kebencian dan amarah itu meluap padanya.


"Sudah cukup! apa perlu aku melumpuhkan mu seumur hidup? atau MEMBUNUHMU!"


"A..Ard hiks, aku..aku minta maaf, Sayang! aku ingin kita seperti dulu, hanya kau dan aku. Delof dan Vanel!"


Grett..


Vanelope terbatuk mencengkram lehernya sendiri hingga ia sulit bernafas, bahkan darah itu keluar dari hidung Vanelope saat menatap mata biru Ardelof yang berubah merah menyala menghisap keberaniannya.


"Aku masih menghormati, Ayahmu! tapi, bukan berarti aku tak segan MEMBUNUHMU!"


Brakk..


"ARDELOF!!!!"


Bentak Ratu Rosmeryna berlari mendekati tubuh Vanelope yang terhempas keras kedinding hingga wanita itu terbatuk darah, wajah Ardelof sudah mengeras dengan rasa murka akan ketidak maluan wanita ini.


"Kristof!!!!!"


Kristof yang tadi datang dengan Ratu Rosmeryna lansung mendekati Ardelof yang menatap lurus dengan mata yang kembali seperti semula.


"Saya, Yang Mulia!"


"Kau umumkan pada Dunia, aku tak ada lagi hubungan dengan wanita menjijikan ini!"


"Ard!!! hiks, aku..aku mohon, jangan!"


Histeris Vanelope tapi Ardelof hanya membisu tuli melangkah pergi amarahnya sudah sangat meledak hingga ia tak berani menemui Sofea karna bisa saja wanita itu akan kena Imbasnya.


Melihat itu Ratu Rosmeryna lansung membantu Vanelope duduk di Sofa hingga wanita itu menangis pilu membuat Ratu Rosmeryna prihatin akan ke Tempramentalan Putranya.


"Aku sudah bilang, bukan? Ardelof tak akan mencabut keputusannya!"


"I..Ibu hiks, aku..aku mohon bantu aku!" Isak Vanelope memohon, ia sedari dulu sangat dekan dengan wanita ini apalagi dulu Ardelof sangat mencintainya hingga ia bisa menggenggan segalanya.


"Apa?"


"Aku..Aku yakin ada yang sudah mempengaruhi Ardelof, dia masih mencintaiku, Ibu! aku melihat itu dari matanya!"


Ratu Rosmeryna terdiam, tapi ia rasa Ardelof sekarang sangat kasar dan itu bukan Cinta tapi sebuah kemarahan yang belum terluap semuanya.


"Maksudmu?"


"Ibu! aku..aku mohon, Ardelof pasti menyembinyikan sesuatu, wanita itu pasti mempengaruhi pikirannya!"


....


Vote and Like Sayang..