
Gedung-Gedung megah itu telah berdiri megah dengan tatanan yang luar biasa, deru Mobil mewah teratur memadati jalan dengan Aparat yang bersiaga mengamankan.
Tanpa polusi dan Kedamaian, semuanya dibangun dengan sangat Epic dan fantastik. wajah-wajah bahagia itu semangkin hari semangkin tampak menikmati hidup bermasyarakat dan mulai ada perbedaan.
Yang dulunya fokus pada Dunia, sekarang telah berdiri megah bak Istana Kubah besar menjulang tinggi dengan Desain yang mengaggumkan, kemajuan Kota Alison didorong oleh perkembangan Aggama yang pesat mengingat sebagian besar penduduk Alison tak ada kepercayaan hingga Yang Mulia Putri Mahkota memasukan Ajarannya ke Wilayah Kekuasaannya.
Semuanya sudah mengenal arti Tuhan, dan semua orang tak lahi asing dengan yang namanya Kepercayaan Religius, Alison menjadi kota yang Asing bagi Alison yang dulu.
"Yang Mulia!!"
Mereka semua tengah berkerumun menyaksikan Pidato kecil di Lapangan khusus bagi pertemuan Petinggi Kerajaan untuk berbaur dengan Masyarakat tepat didepat Masjid Baitullah, Sofea menjalankan Roda Pemerintahaan dengan Sistem Pendekatan pada Rakyatnya hingga sekarang ia berdiri ditengah-tengah semua orsng diatas karpet merah dengan tatapan berwibawah dan pakaian khas Kerajaan Alison.
Semua mata terfokus, Pada seorang wanita yang sudah 1 Tahun ini memimpin hingga semua kejayaan bisa mereka raih bersama.
"Selamat pagi!!!"
"Selamat Pagi, Yang Mulia!!!"
Jawab mereka bersemangat membuat sudut bibir cantik nan indah itu terangkat, tak ada lagi raut kekanak-kanakan diwajahnya melainkan seorang yang lebih Dewasa.
"Bagaimana dengan Sistem Regulasi baru yang diberikan? apa sangat membantu atau tidak?"
"Yang Mulia!"
Seorang laki-laki tua berjenggot bermantel itu mengangkat tangannya kearah Sofea yang mengangguk hingga para Pengawal mengurai penjagaannya.
"Silahkan!"
"Saya pria tua yang sudah rentan, apa saya bisa mengajak Keluarga saya dari luar Negara ini untuk berkepercayaan sama dengan saya?"
Mereka semua terdiam hingga memfokuskan mata ke panggung besar sana, tak ada raut marah atau pun menghakimi dari Wanita cantik itu, melainkan binaran dari mata indahnya yang damai.
"Tak masalah, selagi mereka tak menganggu atau berniat mengacau di sini, yang aku inginkan. Setiap masalah kalian terhadap Pemerintahaan Alison atau yang berhubungan dengan sebagainya, aku mau kalian laporkan itu pada Team yang akan terus turun melihat kalian semua."
"Baik! Yang Mulia!!!"
Sorak mereka keras hingga Sofea mengangguk memberi sapaan kecil menjelang siang hingga mata mereka mengiring si cantik itu turun dari panggung, para Kru lansung menganbil alih penjagaan dengan memfokuskan Kamera ke wajah Menawan Sofea.
"Yang Mulia, anda ada rapat dengan Dewan Direksi!"
"Hm, jam berapa?"
Tanya Sofea tanpa menatap Renin, ia sudah bergegas ke Mobil karna sudah lama meninggalkan Putranya bersama si pria aneh tapi nyata itu.
"Nanti, Jam 10 an, Yang Mulia!"
"Kau atur saja."
Tegas Sofea masuk ke Mobilnya sesekali menjawab sapaan para Raykatnya yang diperbolehkan mengambil foto, semuanya bebas selagi tetap pada aturannya.
Helaan nafas Sofea muncul ketika menduduki kursi Mobilnya, ia menatap keluar jendela Mobil dimana Rakyat Alison mengiring Mobilnya pergi hingga ia melambaikan tangannya menciptakan keriuhan.
"Yang Mulia!!!!!"
"Daaaa!!!!"
Sofea hanya menjawabnya dengan senyuman hingga Mobil melaju stabil keluar dari area Pers para Rakyatnya itu, sekarang ia sendirian ditenggelamkan sepi. telah lama waktu berjalan bahkan ia menjalankan keinginan pria itu tapi tak jua mendapat kecerahan.
Renin melihat wajah Sofea yang murung menatap keluar jendela, sudah banyak yang ingin menikahi Sofea tapi tak ada yang diterima satupun.
"Putri!"
"Hm?"
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik!"
Hanya percakapan kecil mengantar mereka menuju Istana Alison, semuanya berjalan begitu saja. Sofea fokus pada Pekerjaan dan Putranya yang beranjak balita, sungguh hidup ini sangatlah luar biasa singkat.
Setelah beberapa lama, mereka sampai di Wilayah Istana hingga Gerbang besar itu dibuka oleh para Penjaga yang membungkukan tubuhnya, terlihatlah Lapangan luas dengan jalan pas dengan Mobil ini menyapa dengan indah menyempurnakan kemeggahannya.
"Tuan Putri!"
"Momyyyyy!!!!"
Lengkingan suara bernada itu membuat senyum Sofea merekah keluar dari Mobilnya lansung berlari menuju tepi Dermaga, terlihatlah si kecil dengan Gusi merah dan wajah Tampan itu tengah duduk ditepi Dermaga dengan penjagaan ketat dari pengawal serta seorang pria yang tubuhnya sudah basah.
"Baby!"
"Myyyy!!"
Mereka membungkuk hormat saat Sofea melangkah mendekat mengulur tangannya hingga si kecil itu naik ke gendongannya, tatapan binar biru datar nan tajam itu menghunus Digo yang telah berubah menjadi Babysister putranya.
"Kenapa tubuhmu basah?" heran Sofea melipat dahinya.
"Kau tanya pada Yang Mulia Prince yang terhormat ini, dia tak akan senang jika aku tak berenang di Dermagamu ini!"
Ketus Digo membuat wajah Baby Aron mengeras hingga melototkan mata elangnya membuat keggemasan itu dirasakan mereka semua.
Para Pengawal itu melangkah pergi hingga mereka hanya bertiga disini, Sofea mengeluarkan sapu tangannya dan melemparnya kewajah Digo yang basah.
"Bersihkan dirimu, juga!"
"Ouuuh, Kau yang terbaik!!"
Ucap Digo megundang keggeraman Sofea tapi ia sudah melesat kedalam Istana hingga ia mendecah kecil menatap daerah sekitarnya yang sunyi.
"Baby, Baby tadi makan apa?"
"Myy!!!"
Jawab Baby Aron bahagia meraba wajah Sofea dengan tangan mungilnya, wajah Baby Aron semangkin hari demangkin mengingatkan Sofea pada Ardelof, bahkan tempat ini penuh akan kisah mereka.
"Kau merindukan, Dady? hm!"
Baby Aron terdiam melihat wajah Sendu Momynya, ia juga diam membenamkan wajahnya ke dada sang Momy dengan satu tangan memelintir rambut Sofea yang diurai cantik bergelombang.
"Myy!"
"Sudahlah, ayo kita masuk. Baby pasti lapar, hm?"
Sofea membawa Baby Aron masuk kedalam Istana hingga Keluarganya yang sudah berbulan-bulan di Kerajaan ini lansung menyambutnya dengan senyuman.
"Nak, kau sudah pulang?"
Tanya wanita tua dengan rambut hitam terselip surai memutih yang rentan, wajah kisutnya dibalut hijab yang dipadupadankan dengan Gamis berwarna Coklat tua tampak anggun dan berwibawah.
Dialah Nenek Maryam yang datang karna Raja Hangton menyerahkan Sofea agar dibimbing ke jalannya, tentu selama 1 Tahun ini Sofea belajar Aggama dengan ta'aat hingga mampu membawa seluruh Rakyatnya memeluk aggama yang sama.
"Sudah, Nek! alhamdulillah acaranya, lancar!"
"Ouhh, baguslah! tadi kau pergilah ke kamarmu Istirahat, Digo sudah membuatkan makanan."
Sofea hanya mengangguk melanjutkan langkahnya, ia sudah biasa dengan Digo yang sangat perhatian padanya, kadang ada rasa bersalah dihati Sofea karna membuat pria itu berharap.
Ia menaiki Lift yang lansung membawanya ke lantai kamar, sementara Baby Aron masih diam memainkan helaian rambut bergelombang Momynya, lekungan cantik itu membuatnya seakan mendapat mainan baru.
Tingg..
"Putri!!"
Suara Digo yang sedari tadi menunggu dilantai sini setelah membersihkan diri tadi lansung menyonsong kedatangan Sofea.
"Kau.."
"Ini! pasti kau laparkan?"
"Iya tapi.."
Digo mengambil Baby Aron dari gendongan Sofea lalu meletetakan Nampan ditangannya ditangan Sofea yang mengkerutkan dahinya.
"Ini, kau makanlah! Si Kecil ini aku yang mengurusnya."
Baby Aron hanya menunjukan wajah tak sukanya pada Digo yang memang selama ini membantu mengurusnya dengan baik.
"Tidak usah, Putraku pasti haus, aku akan makan di Kamar."
"A..m, Baiklah! tapi kalau butuh apa-apa kau panggil aku."
Sofea mengangguk melangkah kekamarnya dengan Digo yang mengantarkan Baby Aron sampai kedepan pintu hingga Digo menghela nafas saat pintu kamar itu ditutup rapat.
"Fyuhh, semoga saja dia memakannya."
Gumam Digo lalu melangkah pergi dengan semangat membara, ia sampai lupa pulang ke Negaranya asik mengurus dan membantu Putri tercantiknya itu.
Sementara Sofea, ia duduk disamping ranjangnya dengan Baby Aron yang duduk disamping pahanya, si kecil menatap makanan yang begitu lezat yang dibuat Digo untuk Momynya.
"Baby mau?"
"Myy!"
Baby Aron menggeleng lalu bersandar ke paha Sofea yang tahu isyarat ini hingga ia menepuk bokong berpopok ini untuk tidur, sementara satu tangannya menyuap Nasi dan beberapa lauk pauk khas yang dibuat Digo untuknya, ia tak masalah karna memang Digo pria yang baik.
Whuss...
"Uhukk!"
Sofea terbatuk menyemburkan makanannya saat ada angin yang berhembus kuat menepuk tengkuknya. wajah Sofea memucat saat cengkraman tangan besar seseorang menekan tengkuknya dengan aura yang tak biasa.
"Muntahkan!!!"
.......
Vote and Like Sayang..