
Perlahan mata wanita itu mengkerut menimbulkan gelenjer keringat didahinya, bibirnya tertutup rapat mendesis saat merasakan matanya terasa berat dan sangat pusing bahkan ia tak bisa terlalu banyak bergerak karna tubuhnya masih belum bisa disadarkan.
"K..Kenapa sangat sakit?"
Gumam Sofea mencengkram kepalanya, ia meraba tempat disampingnya hingga ia merasakan keempukan ranjang serta Selimut yang telah membaluti tubuhnya dengan hangat.
Degg..
Mata Sofea lansung melebar terbuka saat ingat, malam itu Tuan Edgar dan Juand telah menembak Mamanya dan sudah menjualnya untuk menikah dengan seseorang.
"T..Tidak, ini..ini Tidak Mungkin."
Lirih Sofea menggeleng, matanya semangkin memanas saat melihat Pakaiannya sudah berganti dengan Gaun Malam berwarna Merah menyala yang pas dengan Kulut putih bersih tanpa noda itu.
Kegelisahan Sofea kian meruak, kamar ini sangat gelap hingga ia tak melihat apapun, bahkan Sofea panik tanpa menduga ini tempat siapa selain Tuan berperut buncit itu.
"M..Mama hiks!"
Sofea khawatir pada Mama Netty yang belum tahu keadaannya, ia menyibak selimut dengan nekat melangkah kebawah ranjang dengan sangat gemetar menerobos Kegelapan tanpa pikir panjang.
"Mau kemana?"
Duarrr..
Sofea terlonjak kaget bukan main hingga ia mematung dipinggir ranjang dengan mata yang was-was, ia sangat kenal suara itu dan sudah hafal dikepalanya. Kamar gelap ini mulai Sofea kenali dengan baik saat aroma Maskulin menguar ke hidungnya.
"K..Kau..."
Whuss..
"Aaaa!!!"
Sofea terpekik keras lansung terhuyung maju karna dorongan angin yang sangat kencang hingga ia pasrah saat tubuhnya jatuh kedalam kegelapan.
Grep..
Sayangnya, lampu kamar itu lansung menyala terang dengan tubuhnya yang jatuh kepangkuan kokoh seorang pria yang sudah dari tadi duduk disini menunggu Sang Mahadewi ini bangun menunjukan kuasanya.
Mata Sofea terkunci dengan netra Biru Elang yang sangat tajam namun begitu Mempesona, dari keberadaan Ardelof menawarkan kenyamanan dan rasa aman bagi Sofea tapi juga hawa panas karna kemarahan.
"Kau sepertinya tak cukup mengerti dengan peringatanku, hm?"
Suara Ardelof terkesan menghakimi disertai raut wajah tenang tapi sangat menakutkan, Sofea menunduk mencengkram peggangan Sofa ini dengan kuat disertai rasa takut dalam dirinya.
"JAWAB!!!!"
"M..Mama hiks."
Lirih Sofea terlonjak sakit gemetar, ia sangat mengkhawatirkan Ibunya karna wanita itu tengah terluka. bagaimana Sofea bisa tenang sekarang jika ia disini masih hidup bagaimana dengan wanita tua lumpuh itu.
"Kau menangis?"
"T..Tuan, T..Tolong.. i..ibuku hiks, aku..aku mohon!" pinta Sofea tak tahu lagi harus apa, hanya Ardelof yang ia kenal dan bisa diminta tolong walau nanti entah apa yang akan terjadi padanya yang jelas Mama Netty harus selamat.
Lama Ardelof termenung melihat Sofea menagis sekugukan didadanya, wanita ini beberapa kali menatap Balkon yang terbuka seakan ia ingin pergi menemui wanita itu, secercah rasa empati itu keluar karna merasa sesak dengan isak tangis pilu Sofea yang sangat menyayangi Mamanya.
"Mama hiks, dia..dia tadi tertembak dan...dan sekarang .."
"Hentikan tangisanmu!"
Tapi Sofea tak bisa, sehingga saat wajah Ardelof mulai mengeras ia menyembunyikan wajah sembabnya diceruk leher pria ini seraya mengigit bibirnya rapat agar tak terisak walau tubuh dan suaranya terdengar tertahan.
"Kau merusak telingaku."
"A..Aku..Aku Mohon!"
Lirih Sofea berbisik nyaris lemah membuat Ardelof lansung menghela nafas berat, ia lansung meredam amarahnya karna kalau sampai ia meledak sekarang maka Sofea akan sangat takut dan bisa jadi wanita ini semangkin memberontak.
"Yang kau bisa pikirkan hanya disini, diam, tanpa banyak bertingkah!"
"Mama!"
"Kau percaya dengan Tuhan?"
Sofea mengangguk seraya masih meminta disela nafas kecilnya, Ardelof tak memberi jawaban selain pertanyaan berulang kali.
"Aku percaya!"
"Kata, Mama! Jika aku beruntung maka aku sudah diberkati Tuhan, jika tidak berarti Nasip buruk Tuhanku!"
"Tak ada yang lain?"
Sofea menghela nafas, jujur ia tak tahu apapun karna saat ia berumur 7 Tahun dulu ia tak ingat apa ia punya teman masa kecil dari lahir atau tidak? yang ia tahu hanya Yella dan Gibran-lah seseorang yang berarti dalam hidupnya dalam rangka Persahabatan.
"Aku juga tak tahu!" sambung Sofea melemah, kepalanya tak bisa diajak berfikir keras hingga ia hanya diam menyandarkan tubuhnya ke dada kekar nan kokoh tegap Ardelof yang tengah berfikir tenang.
Sofea masih meredam pertanyaan karna Ardelof tak suka ia bertanya tentang hal pribadi Ardelof sendiri, ia harus menunggu Moment yang tepat bisa menggali informasi dari pria ini.
"Kau istirahatlah!"
Ardelof berdiri menggendong Sofea ringan didalam rangkuhannya menuju ranjang pembaringan, senyum kilasnya mekar entah kenapa saat menapaki benda empuk ini bersama sang Mahadewi yang sempurna parasnya.
"Kau mau kemana?"
"Ada urusan!" Ardelof menyelimuti Sofea yang mematung melihat wajah Tampan ini beruara, ia takut jika sampai ia jatuh dalam pesona pria Misterius ini karna Sofea juga wanita Normal.
"Tapi. Mama..."
"Kau hanya bisa tenang, jika dia ditakdirkan hidup maka akan hidup! jangan takut untuk mati."
"T..Tapi aku.."
"Kecuali kau!"
Degg..
Sofea mematung mendengar ucapan Ardelof yang ambigu menurutnya, 'Kecuali Kau' itu Bagaimana? aku tak mengerti maksudmu apalagi kau seakan ingin membantu tapi aku tak percaya.
Tangan Ardelof terulur merapikan Poni Sofea yang menutupi dahi mulus wanita itu, matanya terus menatap wajah damai Sofea yang juga memandangnya melamun. ada gejolak hati yang mulai timbul tapi keduanya tak bisa menjabarkan keabuan ini.
"Jangan lagi mencoba lari dariku. kau tak akan bisa!" Ucap Ardelof terkesan menekan tapi dalam Intonasi yang datar memberi peringatan, Sofea memejamkan matanya terbuai akan belaian tangan pria itu ke wajahnya karna jari telunjuk Ardelof menyusuri garis wajah dan hidung mungilnya hingga berlabuh dibibir mungil nan sensual itu.
Ada pantikan hasrat melambung dari panasnya kulit Sofea yang seakan menyentak aliran darahnya, raut berat Ardelof semangkin terlihat saat Sofea mengigit kecil bibirnya karna merasa canggung dengan tatapan Ardelof kebibirnya.
"T..Tuan!"
Ardelof tak sadar hingga ia terbuai sendiri membungkukan tubuhnya yang duduk disamping Sofea hingga kedua tangannya mengungkung separuh tubuh wanita ini, matanya sudah bergejolak berat seraya hembusan nafas terkesan penuh penahanan.
"Kau menggodaku?"
"A..Apanya aku..aku tidak.. me.."
Cup..
"Emm!!"
Sofea memberontak saat Ardelof menyambar bibirnya liar membuat ia terlonjak kaget bukan main, bibir Ardelof menekan bibirnya kuat seraya mengigit kecil hingga Sofea terpekik meloloskan lidah Ardelof yang bermain sangat lihai.
"Emm!!"
Pemberontakan Sofea hanya mendapat kekosongan karna tubuh pria ini begitu kekar mengungkungnya dengan kedua tangan yang Ardelof kunci keatas kepala Sofea hingga dada wanita itu membusung ia remas gemas disela ciuman panasnya.
Lidah Ardelof menyusuri rongga mulutnya dengan sangat pas dan meremangkan tubuh Sofea, ia wanita normal yang tak tahan jika Pria sempurna pernuh dengan pesona seperti Ardelof memanjakan tubuhnya dengan ciuman pemantik gairah.
"Enguh!"
Sofea melenguh kecil disela ciuman Ardelof yang terkesan mempermainkan hasratnya, pria ini begitu pandai dalam bertaut Saliva hingga hisapan kuatnya membuat bibir Sofea kebas dengan decapan dari lidah nan terdengar nyaring.
Merasakan Sofea mulai sulit bernafas, Ardelof lansung menghadiahkan hisapan kuat dibibir Sofea hingga membuat wanita itu memekik nyeri.
Plup..
"K..Kau hos!"
Sofea ngos-ngosan setelah Ardelof melepas tautannya tapi jarak wajah mereka masih 5 senti hingga Ardelof menikmati raut merah malu dan kesal menggunung Sofea yang terlihat.
"Itu hukumanmu!"
.......
Vote and Like Sayang..
Untuk Visual Author nggak bisa ngasih. soalnya susah nyarinya.. mending ikutin Imajinasi aja suoaya lebih sempurna😂