
Sesampainya
dirumah Adena.
“Baru datang
bu.” Kata Imah art Adena.
“Iya, Cio sama
mama dimana?” Tanya Adena.
“Dikamar mas
Abercio bu, tadi oma nya mau membawanya ke rumah tapi mas Cio tidak mau.
Sekarang mereka tidur.” Kata Imah.
“Oh iya,
lagipula sekarang sudah malam. Oh iya ada makanan apa dirumah? Aku membawa
atasanku, dia ingin mencoba masakanku.” Bisik Adena.
“Wah jadi itu
calon papanya mas Cio ya bu?” Kata Imah sangat senang.
“Heiiii
pelankan suaramu, nanti mama bisa mendengarnya.” Kata Adena.
“Maaf bu, di
kulkas banyak bahan makanan kok bu, mau saya bantu?” Tanya Imah.
“Kalau kamu
membantuku itu namanya bukan masakanku tapi masakanmu. Kamu kembali saja ke
kamar dan jangan bilang sama mama ya kalau malam ini aku membawa atasanku.”
Kata Adena.
“Beres bu
asalkan saya di ajak jalan-jalan lagi hehehe.” Kata Imah.
“Hmmmm iya
tenang aja. Cepat masuk ke kamar sana.” Kata Adena.
Kemudian Adena
segera membuat makanan untuk Aidan, sementara Aidan menunggunya di taman sambil
melihat-lihat sekililing. Tidak lama kemudian, Adena menghampiri Aidan.
“Sedang apa
pak?” Tanya Adena.
“Oh ini aku
sedang melihat-lihat taman, banyak juga ya tanaman kamu, sepertinya kamu sangat
menyukai bunga anggrek, disini sangat banyak koleksi anggrek milikmu bahkan aku
melihat jenis anggrek yang harganya lumayan mahal.” Kata Aidan.
“Aku dan ibuku
memang sangat menyukai bunga anggrek, kalau yang mahal itu aku dapatkan secara
gratis dari seseorang.” Kata Adena.
“Kalau boleh
tau, dari siapa kamu mendapatkannya?” Tanya Aidan.
“Dari mantan
suamiku, dia memberikan bunga anggrek tersebut lalu mengajakku berpisah. Sebenarnya
aku ingin membuangnya namun anggrek tersebut adalah anggrek kesukaan anakku,
entah kenapa anakku sekecil itu bisa mengatakan hal tersebut, dia juga bilang
sangat menyukai anggrek tersebut dan melarangku untuk membuangnya apalagi
menjualnya.” Kata Adena.
“Memang ada
yang mirip denganmu.” Kata Aidan.
“Apa memangnya
pak?” Tanya Adena.
“Tenang, anggun
mempesona namun sangat misterius dan sulit untuk ditebak. Ya seperti itulah
dirimu, sisi misterius tersebut yang membuat orang sangat ingin mengetahuinya
bahkan berusaha untuk mendekatinya.” Kata Aidan sambil menatap tajam ke arah Adena,
Adena pun salah tingkah.
“Makanan nya
sudah aku siapkan, tapi ibu dan anakku sedang tidur. Aku tidak ingin
membangunkan mereka.” Kata Adena.
“Jadi kamu
khawatir kalau aku makan disini akan membangunkan mereka ya. Kalau begitu kita
makan saja didalam mobilku. Bagaimana?” Tanya Aidan.
“Tapi pasti
akan sempit pak dan tidak leluasa.” Kata Adena.
“Kalau begitu
didalam kamar saja, bagaimana?” Goda Aidan.
“Bapak bawa
saja makanannya dan silahkan dimakan dirumah bapak.” Kata Adena.
“Wah tidak seru
kalau begitu.” Kata Aidan.
“Baiklah makan
didalam mobil bapak saja, tunggu sebentar akan saya siapkan makanannya.” Kata Adena.
“Ok aku tunggu
didalam mobil ya.” Kata Aidan.
Kemudian Adena
masuk kembali kedalam rumah lalu segera menyiapkan makanan dan dibawa kedalam
mobil Aidan, Adena sangat berhati-hati agar tidak terdengar oleh ibunya.
“Aku harus
berhati-hati agar mama dan Cio tidak mendengarnya, bisa gawat kalau sampai
mereka mendengarnya, bisa-bisa mama akan mengintrogasiku, lagian pak Aidan juga
ada-ada saja minta makan segala dirumahku, apa jangan-jangan dia benar-benar
menyukaiku ya, ah lupakan mana mungkin dia menyukaiku.” Kata Adena dalam hati.
Setelah selesai
menyiapkan makanan, Adena pun segera membawa makanan tersebut kedalam mobil
Aidan.