Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Episode 159


Renata dan Kaira tiba di bandara.




“Ren, sebentar ya aku mau telfon


dulu ke mas Raffa ya.” Kata Kaira.


“Tidak usah kak, kita hanya


sebentar saja kok.” Kata Renata.


“Sekarang kan jam 11 siang,


kira-kira nanti sampai Jakarta lagi jam berapa?” Tanya Kaira.


“Ya paling lambat jam 10 malam


lah.” Kata Renata.


“Kau sudah pesan tiket untuk


pulangnya?” Tanya Kaira.


“Belum, gampang kak nanti saja.”


Kata Renata.


“Kau sudah bilang ke suamimu? Lalu


Azura bagaimana?” Tanya Kaira.


“Suamiku sedang diluar kota kak,


kalau Azura sekarang sedang dirumah sama baby sitternya. Sudah tidak usah


bilang kak Raffa. Aku yakin pasti kak Raffa juga akan mengijinkannya kok. Kita tunggu


disana dulu yuk.” Kata Renata.


Namun Kaira tetap menelfon


suaminya.


“Hallo mas, mas aku sekarang


sedang di bandara mau ke Singapore bersama Renata. Dia mengajakku untuk beli


tas, tapi setelah itu langsung pulang kok mas. Renata juga mendadak sekali


tiba-tiba mengajakku.” Kata Kaira.


“Batalkan saja, jangan pergi. Kau


ingat tadi kata dokter kalau kau harus banyak istirahat, tapi kau malah pergi


ke luar negeri. Kau sedang hamil muda sayang.” Kata Raffa.


“Aku tidak enak kalau harus


menolaknya mas, lagipula hari ini juga aku akan pulang kok.” Kata Kaira.


“Aku akan menyusulmu, aku akan


pergi denganmu. Biarkan Renata berangkat duluan.” Kata Raffa.


“Kasian lah mas, dia saja


mengajakku karena dia tidak ada temannya. Begini saja, aku tunggu kau disana


ya.” Kata Kaira.


“Yauda, lain kali kalau mau pergi


jauh bilang dulu dan minta ijin ke aku. Ingat ya kamu itu sedang hamil sayang.”


Kata Raffa.


“Iya mas aku juga mengerti kok. Kalau


gitu aku tutup telfonnya dulu ya.” Kata Kaira.


Lalu Kaira menghampiri Renata.


“Habis telfon kak Raffa ya?”


Tanya Renata.


“Iya Ren, awalnya dia marah


“Oh gitu, lagipula ke Singapore


kan dekat kak. Ayo kita berangkat sekarang.” Kata Renata, lalu mereka segera


menaiki pesawat.


“Kenapa kak? Kak Kaira kok sampai


berkeringat seperti itu?” Tanya Renata.


“Aku merasa mual Ren, bagaimana


ini?” Kata Kaira.


“Mending kak Kaira ke toilet


saja, mau aku antar?” Tanya Renata.


“Boleh deh Ren, tolong antarkan


aku ya.” Kata Kaira.


Setelah itu, mereka segera


kembali lagi ke tempat duduknya.


“Gimana sudah enakan belum? Kakak


sakit ya?” Tanya Renata.


“Aku sedang hamil sebenarnya Ren.”


Kata Kaira.


“Apa? Kenapa tidak bilang sih,


kalau kak Kaira tadi bilang aku juga tidak akan mengajak pergi. Waduh bagaimana


ini, kalau sedang hamil muda kan seharusnya banyak istirahat. Aduh aku jadi


merasa bersalah sekali sama kak Kaira.” Kata Renata.


“Sudahlah tidak apa-apa kok, aku


juga tidak enak kalau menolakmu Ren. Aku sekarang sudah lebih baik kok.” Kata Kaira.


“Syukurlah kalau begitu, kalau


butuh apapun bilang padaku ya.” Kata Renata.


“Iya Ren.” Kata Kaira.


“Perjalanan kita sebentar lagi


akan sampai kok.” Kata Renata.


“Ah syukurlah kalau begitu.” Kata


Kaira.


Tidak lama kemudian, mereka tiba


di bandara Singapore. Mereka segera turun dan menuju hotel terlebih dahulu.


“Kita kemana ini Ren?” Tanya


Kaira.


“Kakak aku antarkan ke hotel saja


ya, nanti aku akan pergi sendiri saja atau mungkin sama mami. Kita ke hotel


sekarang ya, disana ada mami juga kok.” Kata Renata.


“Iya, aku juga ingin ikut kau


beli tas loh padahal Ren.” Kata Kaira.


“Yauda lihat nanti saja ya, oh ya


kak Raffa kesini kapan?” Tanya Renata.


“Penerbangannya jam 5 sore Ren.” Kata


Kaira.


“Oh gitu, nanti biar kak Raffa


langsung menuju hotel saja kalau begitu.” Kata Renata.