Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Sah!!!


Hari yang dinanti pun telah tiba, alangkah senangnya hati Michelle karena akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan yang mengikat hingga maut memisahkan mereka, begitu setidaknya yang dipikirkan Michelle untuk saat ini.


“Saya terima nikahnya Michelle bin Ardi dengan seperangkat alat solat dan emas tiga suku dibayar tunai.”


Para saksi pun saling bertanya dan saling pandang.


“Bagaimana pak? Apakah sah?” Penghulu mulai bertanya kepada para saksi


“SAAAAHHH” para saksi pun menjawab


“Selamat ya pak Bu kini kalian telah resmi menjadi suami istri yang sah di mata hukum dan agama”


Kini Michelle memberi sujud dan diikuti Eja mencium kening nya. Mereka akhirnya masuk ke dalam suatu kehidupan yang lebih kompleks, tetapi Michelle sangat yakin kalau dia mampu dan bisa terus di samping Eja. Bisa memasak dan mematuhi seseorang yang kini menjadi tanggung jawab nya begitupun sebaliknya ia memiliki seseorang ya g bertanggung jawab kepadanya.


Tapi ada suatu kejanggalan yang baru Michelle sadari. Bu Nita di hari itu sama sekali tidak tersenyum kepadanya, anak nya sendiri. Bukankah ini yang ditunggu-tunggu Bu Nita kalau anaknya bisa menikah dengan seseorang yang merupakan pilihan Michelle sendiri, lalu kenapa tampang nya sangat tidak sesuai dengan hari ini, dimana ia seharusnya sudah mendapatkan lelaki pujaan nya. Michelle heran tapi perasaan bingung itu ia tepis dan simpan baik-baik.


Michelle pun bersiap-siap mem-packing semua barang-barangnya dan berniat bekerja di kota M dekat dengan suaminya. Tentu saja hal ini sudah menjadi kesepakatan Eja dan Michelle, terlebih Michelle tak ingin berpisah terlalu lama dengan suaminya. Ia benar-benar mencintainya dan ingin selalu berada di dekatnya. Setelah berbenah, kini mereka ingin menghitung uang dari hasil acara mereka. Acara mereka terbagi dua, yakni akad yang berlangsung di kediaman Michelle, dan resepsi yang berlangsung di sebuah hotel bintang lima. Hari ini mereka akan menghitung yang acara yang berada di kediaman Michelle. Setelah cukup lama mereka menghitung, ternyata hasil yang diperoleh cukup fantastis, yakni lima puluh juta. Michelle cukup senang walau ia sekilas melihat Eja dengan tatapan tidak senang, namun ditepis nya. Kini saatnya mereka berpamitan kepada pak Ardi dan Bu Nita karena Eja akan membawa Michelle ke rumah orang tuanya Eja sebelum mereka pergi ke kota M.


“Pa, Ma, Michelle pergi dulu ya pa, Ma, ini Michelle sisihkan 20 juta untuk papa dan mama. Do’ain Michelle di kota M bisa segera dapat pekerjaan ya pa, ma.” Michelle memeluk kedua orang tua nya satu-persatu dan memberikan mereka amplop coklat berisikan uang tunai dua puluh juta rupiah.


“Tidak usah nak, Michelle dan nak Eja pasti lebih membutuhkannya” Tetapi Michelle tetap memberikan amplop tersebut secara paksa. Ia yakin semua pengorbanan papa dan mama nya selama membesarkannya tidaklah cukup untuk dibalas seumur hidupnya. Ia hanya ingin mencoba membalas kebaikan kedua orang tua nya dengan cara membantu finansial mereka walau sebenarnya itu tak perlu. Kini kedua orang tuanya akan sangat jarang sekali melihat anak perempuan mereka satu-satu nya.


Michelle dan Eja pun melajukan mobil mereka ke rumah orang tua Eja dimana Mamanya dan kedua kakak perempuan nya telah menunggu mereka di sana.


Saat tiba mereka pun langsung memasuki kamar Eja dan alangkah kaget nya Michelle, tidak menyangka kamarnya kecil sekali, dan berisi tumpukan benda-benda selayaknya gudang. Akan tetapi, hal ini tidak membuat cintanya kepada Eja padam ataupun berkurang. Ia pun melihat-lihat, tidak ada TV, lemari yang tidak ada kaca nya, bahkan kaca nya pun copot entah kemana. Lemari di kamar itu ada dua dan bertumpuk berdekatan. Ketika ia membuka lemari itu ia melihat tumpukan baju anak-anak, dan baju-baju cowok yang sepertinya milik Eja. Ia pun berpikir baju anak-anak itu mungkin milik keponakan nya.


“Sayang ayok Kita mau pergi spa sama mama sama kak Ayu dan Kak Cici” kaget Michelle kok udah pergi saja dalam hati nya. Eja tidak mengajak orang tua Michelle kah? Kenapa ia tidak memperlakukan orang tua nya seperti ia memperlakukan orang tua nya sendiri batin Michelle. Tetapi buru-buru ia tepis pikiran negatif itu, karena orang tua Michelle adalah orang yang berada jadi tidak perlu mengajak nya pergi untuk hal-hal seperti ini batin nya.


Michelle pun melangkah keluar kamar dengan mencoba untuk tenang tidak terprovokasi oleh pikiran negatif nya sendiri. Ia berusaha merencanakan kegiatannya sendiri sebagai seorang istri, terlebih setelah melihat kamar suaminya yang seperti itu. Ia pun berinisiatif untuk membersihkannya nanti, mencoba mendesain kamar yang kecil dan penuh tumpukan baju itu harus diapakan. Ia pun mempersiapkan mental bahwa rencana tidaklah segampang dengan tindakan. Ia berpikir pasti akan capek sekali. Alangkah enaknya bila ada pembantu yang bisa beres-beres. Tetapi tentunya itu tidak akan membantu dirinya dan suaminya yang baru memiliki uang yang tidak cukup banyak tentunya. Ia pun memantapkan hati untuk membereskan kamar dan menyusun baju-baju yang bertumpuk di kamar suaminya itu dengan tekad yang kuat. Dan benar saja setelah mereka pulang dari spa. Yah membereskan semuanya sendirian tidaklah gampang. Sedangkan suaminya berleye-leye ria di atas kasur. Tidak ada iri di dalam hatinya. Ia bersyukur suaminya bisa beristirahat di atas kasur dan bebas dari penatnya kerja. Lagian memindahkan baju-baju bukanlah pekerjaan yang memerlukan tenaga berat. Hitung-hitung sebagai olahraga, tentu akan membuatnya bisa tambah lebih sehat. Dan tidak terasa waktu pun sudah berlalu selama setengah hari penuh. 12 jam penuh ia berbenah kamar yang kecil tapi penuh dengan tumpukan baju-baju yang entah punya siapa saja. Setidaknya ia sudah menyusun semuanya lebih baik ketimbang awal-awal tadi, sekarang ruangannya terasa lebih plong alias terasa lebih luas dan mata tidak sakit untuk melihat, dada pun tidak terasa sesak dengan tumpukan baju-baju. Tidak terasa keringat berjatuhan dari atas dahi dan sekujur badan nya. Ia pun menelentangkan badan nya di kasur, karena waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam. Ia pun memejamkan matanya dengan senyum sumringah dan syukur dalam hatinya.