Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Aku bukan babu!!


Sudah satu bulan michelle tinggal di rumah mertuanya. Michelle menghabiskan banyak waktu di kamar Eja saja bersama anaknya. Bisa dihitung jari kalau mertuanya bermain sama anak nya. Makan, cuci baju, cuci piring, setrikaan, menyapu, mengepel lantai, semuanya Michelle yang kerjakan dengan ikhlas. Tak pernah Michelle mengeluh walaupun luka operasi masih terasa sangat perih. Sedangkan Eja belum kembali setelah Michelle lahiran. Eja tak pernah mengetahui kesulitan yang dihadapi istrinya tersebut. Michelle benar-benar lelah dan tak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Tetapi, mertuanya itu seringkali mengabaikannya bahkan memarahinya kalau pekerjaan Michelle tak selesai atau masih saja ada yang kotor. Berat badan Michelle pun turun karena ia harus menyusui dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan ia berencana pergi ke kota M menemui Eja. Alasannya adalah rindu. Lantas mengapa ia tak diajak? Bukankah Michelle dan anaknya justru yang paling merindukannya dan dirindukan Eja. Michelle berulangkali mencoba untuk menegur mertuanya, tetapi tetap saja mertuanya tidak terlalu mempedulikannya. Michelle berpikir keras apakah ia punya kesalahan kepada mertuanya. Di lain sisi mertua nya tersebut bingung harus bersikap bagaimana, ia sebenarnya ingin bersama dengan menantunya tersebut. Tetapi memang didikan mertuanya seperti itu. Ia ingin agar anak-anak nya adalah anak-anak yang mandiri dan kuat, dan itu pun berlaku untuk menantu yang sudah dianggapnya anak. Dalam hati mertuanya hanya bisa meminta maaf. Ia akan bersikap seperti itu tidak akan lama, karena sebenarnya mertuanya ini ingin melihat bagaimana reaksi menantunya. Apakah akan terus bisa bersabar dengan perlakuan yang tidak adil ataukah justru akan sebaliknya. Akan tetapi, mertuanya yakin menantunya ini akan selalu bersikap sabar terhadap dirinya dan semua anak-anaknya.


Sudah satu minggu mertuanya tidak kembali. Michelle kini tinggal bersama iparnya. Tak pernah iparnya menegurnya, yang ia tau kerjaan di rumah sudah dirapikan oleh Michelle. Tiba-tiba Michelle mendapatkan telepon. Memang kakak ipar Michelle tidak serajin Michelle bahkan mungkin lebih pemalas lagi. Dan sikap acuh tak acuh nya memang sudah mendarah daging, jadi bukan berarti dia memusuhi Michelle sebenarnya. Kakak-kakak iparnya hanya tidak terlalu suka pekerjaan rumah tangga dan mereka pun sangat terbantu dengan adanya Michelle yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hanya saja mereka tidak ingin mengucapkan terima kasih terlalu cepat, khawatir adik iparnya tersebut bisa besar kepala dan berleye-leye seperti mereka. Sedangkan Michelle yang kelelahan dan bersedih hati hanya bisa bersabar dengan kelakuan keluarga suaminya itu. Ia hanya berharap agar bisa segera keluar dari rumah ini dan menjalankan hidup yang bahagia bersama anak dan suaminya saja.


“Michelle kamu dimana? Saya sudah di kota G. Saya akan menjemputmu.”


“Saya dirumah mertua saya pak. Memangnya bapak ada perlu apa pak sama saya? mau menjemput saya memangnya kita mau kemana Pak?” Michelle kaget sekaligus senang mendengar kabar bos nya. Karena ia akan meninggalkan penjara, rumah mertuanya tersebut.


“Saya ada perlu sebentar, nanti kalau sudah selesai saya akan anter kamu pulang.” Ulala ia pun senang mendengar kabar yang entah sebenarnya mau kemana mereka, tetapi Michelle bersyukur untuk saat ini. Michelle lalu mengirim lokasi mereka melalui HP.


“Tunggulah aku akan segera sampai.” Perkataan Thomas benar-benar seperti malaikat pelindungnya.


“Saya Thomas Bu, bos perusahaan Michelle. Saya ingin merekrutnya kembali ke perusahaan.” Thomas sedang berusaha menjelaskan tetapi tiba-tiba kakak iparnya menghampiri Michelle langsung.


“Heh!!! Kamu itu harus nurut sama suami! Kalo kata suami gak usah kerja yauda ga usah kerja! Kamu mau pakai alasan bos kamu kesini segala? Kamu yang suruh datang? Ada hubungan apa kamu sama bos kamu sampe kamu dijemput-jemput segala hah?!” Kakak Iparnya mendorong-dorong Michelle hingga Michelle terjatuh. Terdengar iparnya menelepon mertuanya yang kebetulan sedang pergi keluar.


“Nih mama mau ngomong sama kamu!” Michelle menahan sakit perutnya. Darah, sepertinya luka operasi Michelle terbuka. Pantas perih sekali.


“Eh kamu ya! Kamu bukan wanita baik-baik berani sekali bawa lelaki lain datang kerumah ku! Tak tau diri kamu ya! Istri kurang ajar! Kamu anggap apa anak ku hah?! Kerja ga bener, bawa-bawa laki-laki pula datang! Saya laporkan kamu ya ke suami kamu, biar kamu tau rasa! Kamu pantes untuk diceraikan!” Tampak mertuanya murka kepada Michelle. Ia tidak habis pikir menantunya akan bersikap memberontak bahkan dengan membawa laki-laki lain yang tidak bukan adalah rekan kerja nya juga.


“Cukup! Saya akan bawa Michelle dan saya bisa laporkan tindakan kamu ke polisi!” Thomas mengancam saudara perempuan Eja dan membuatnya terdiam.


“Aduh Michelle kakak bukan bermaksud jahat sama kamu”


“Maaf ya kak, tapi aku bukan babu.” Michelle tidak banyak bicara karena ia cukup menahan rasa sakit di perutnya. Ia melihat sekilas darah yang keluar hanya setetes tetapi perihnya benar-benar membuatnya bergetar hingga ia merasa ingin pingsan, ia lalu memeluk Thomas dan menunjukkan luka di perutnya.


Segera Thomas meminta bantuan penjaga nya untuk meringkas semua barang-barang Michelle dan mengambil anaknya.


“Tunggu kamu gak bisa bawa anak Eja! Kamu gak pantes bawa anak Eja! Kalian bisa kami tuntut!” Iparnya yang bermulut besar itu berani mengancam Thomas dan Michelle.


“Silakan tuntut, kita lihat siapa yang menang di pengadilan!” Thomas mengeraskan suaranya dan membuat iparnya tersebut diam.


“Pak Thomas terima kasih banyak! Tolong rahasiakan ini dari orang tua saya” mata Michelle kabur tak bisa melihat jelas lalu menutup.


“Tenanglah Michelle, luka mu akan ditutup kembali, sadarlah! Cepat ke rumah sakit!!” Thomas terlihat sangat khawatir. Sayup-sayup terdengar suara tangisan anaknya. Michelle merasa lega ada yang menolong nya dan ia bisa melindungi anaknya dari keluarga suaminya. Ia tidak ingin bertengkar sebenarnya, tetapi Michelle sebagai keluarga baru disana juga tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah mencoba untuk bertegur sapa tetapi yang didapat hanyalah sikap acuh tak acuh. Ia sampai bingung kenapa ia diperlakukan seperti itu, salah nya apa dan dimana. Ia tidak habis pikir, padahal saat acara pernikahan berlangsung semua tampak tersenyum bahagia. Suaminya juga tidak pernah mengeluhkan sikap apa dari dirinya yang kurang baik kepada suaminya tersebut ataupun kepada keluarganya. Keluarga ini aneh dan penuh rahasia.