
Michelle dan presdir baru sampai hotel ketika hari sudah malam. Mereka sudah mendatangi pertemuan dan rapat penting di lima tempat di New York. Akhirnya Michelle yang sedari tadi sudah lelah benar-benar bisa memanjakan diri dengan mandi air dingin dan tidur di kasur empuk. Hmmmm nyaman nya, tetapi wajar sih kan hotel bintang lima batinnya dalam hati. Tiba-tiba HP Michelle berbunyi.
“Sudah makan dek? Gimana kerjaannya?” Suara Eja dari seberang telpon terdengar begitu merindukannya. Michelle pun sebenarnya merindukan pelukan ciuman suaminya itu, tetapi ia bingung bagaimana mengutarakannya. Michelle agak malu dan gengsi untuk memulai lagi, lagian kepercayaannya pada Eja masih labil. Tak berselang lama, telepon dari presdir tiba-tiba muncul di layar hape nya. Buru-buru ia mematikan hubungan telepon dengan Eja dan menerima panggilan presdir nya. Presdir meminta ia menemui nya segera. Michelle pun dengan sigat berganti pakaian yang lebih formal, namun karna buru-buru ia asal mengancing bajunya. Tak sadar jika baju bagian atasnya terbuka dan memunculkan belahan dadanya yang montok.
“Maaf pak saya lihat pintu tidak terkunci.” Belum selesai Michelle melanjutkan pembicaraannya, kini ia tau bahwa bos nya sedang mabuk. Memang selama rapat dan pertemuan di lima tempat itu, presdir disuguhkan wine yang sebenarnya Michelle tidak tau apakah bisa membuat mabuk ataukah bos nya yang tidak bisa minum-minuman seperti itu.
Sadar kalau bos nya sudah mabuk, Michelle pun mencoba mengangkat bos nya untuk pindah ke kasur. Aduh badan nya berat sekali pikir Michelle. Yang penting cepet selesai biar aku bisa tidur juga batin nya.
“Chell, kamu wangi dan cantik ya.” Thomas meracau apa yang ada dipikirkannya begitu saja. Ia pun mengelus wajah Michelle, dan dengan satu hentakan kini wanita itu berada di bawahnya, dan Thomas berada di atasnya.
“Pak, saya Michelle pak. Bapak sadarlah, bapak sedang mabuk” Michelle meronta-ronta tapi apa daya, badannya yang kecil mungil dan sedang lelah itu didekap begitu erat oleh badan yang kekar dan gagah, tetapi apa daya tubuhnya tak mampu melawan tubuh besar bos nya yang tinggi dan gagah. Dan dalam sepersekian detik, Thomas telah menguasai tubuh mungil Michelle dan mereka pun tenggelam dalam heningnya malam. Ya hanya satu malam. Michelle pun hanya bisa menangis dalam diam karena perbuatan bos nya sendiri. Ia khawatir jika melawan akan membuat bos nya marah dan ia bisa dipecat. Tak lama setelah bos nya tertidur, ia pun segera keluar dari kamar bos nya dan menangis sejadi-jadinya. Ia tak bisa menolak dan ia kesal sendiri. Seharusnya ia mendengarkan perkataan Eja bahwa pergi berdua saja itu tidak lah benar. Kini ia hanya bisa meratapi apa yang sudah terjadi. Ia tidak sampai berpikiran bahwa presdir nya sendiri seperti itu terhadapnya. Ia sangat bingung akan bersikap bagaimana besok. Terlebih lagi bagaimana mungkin ia bisa berpapasan dengan bos nya dengan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Ia mulai khawatir bos nya akan bertindak seperti hal itu lagi kepadanya. Ia tidak mau bila nanti akan terjadi hal seperti ini lagi nantinya. Bukan kah ini namanya pelecehan? Ataukah pemerkosaan? Ia benar-benar pusing memikirkannya. Dan bagaimana kalau nanti ia hamil? Michelle membelalak seakan tak ingin percaya apa yang baru saja dipikirkannya. Ia pun kembali ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya.
Satu bulan sudah sejak kepulangan mereka dari New York. Thomas masih seakan tak percaya, apakah benar ia telah menggauli istri orang. Walaupun itu adalah Michelle tapi ia tak sebejat itu sampai harus menggauli istri orang. Berkali-kali perasaan malu dan bersalah ia tepis. Setiap kali melihat Michelle ia masih menginginkan wanita itu dalam setiap jam nya mereka bertemu, ia masih ingat jelas keharuman dan kebahagiaan malam itu, tetapi ketika ia melihat raut wajah Michelle, yang ia dapati hanyalah raut wajah yang lelah. Apakah Thomas sudah sering menyusahkannya. Saking rindu nya Thomas untuk bertemu, ia akan selalu memberikan waktu kepada Michelle agar bisa muncul di hadapannya selalu.
Saat Thomas tidak memanggil Michelle ke dalam ruang kantor nya, Michelle selalu mendapatkan dirinya muntah-muntah karena pusing dan hampir hilang keseimbangan. Ada bau yang menyengat, ia akan muntah, hanya dengan wangi-wangian kualitas tinggi seperti bos nya, maka ia tidak akan muntah. Ketika di kos an pun ia akan muntah, namun saat berada dalam pelukan Eja ia akan tenang. Kini ia dan Eja tidak lagi bertengkar. Mungkin karena perasaan bersalahnya, Michelle akhirnya memberanikan diri menerima Eja dengan lapang dada. Apa yang terjadi ya sudah terjadi, entah itu benar atau tidak, apa yang dilakukannya salah atau benar, bukanlah suatu masalah besar. Karena Michelle tau pasti, gejala yang dialaminya adalah kehamilan muda. Ya, Michelle hamil, ia melakukan test pack kemarin dan merupakan suatu masalah besar jika yang dikandung nya adalah anak hasil hubungan nya dengan Thomas bukan anak hasil hubungannya dengan Eja. Ia benar-benar bingung harus bagaimana. Raut wajah itulah yang ditangkap Thomas, ia dan Eja sama-sama tidak mengetahui kebenaran nya. Begitupun dengan Michelle, yang ia tau pasti ia akan kehilangan pekerjaan ini dan membesarkan buah hatinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ia berniat untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan Thomas, ia bisa membayangkan untuk bekerja dalam waktu yang lama dengan Thomas. Karena ia akan ingat anak yang dikandungnya. Ia bingung apakah ini anak Thomas ataukah anaknya Eja. Ia benar-benar tidak mampu menjawab nya. Ia tidak habis pikir untuk menyembunyikan kenyataan ini dari suaminya sendiri. Bahkan setiap hari ia merasakan perasaan bersalah kepada suaminya. Ia tidak ingin suaminya mencap nya sebagai wanita murahan. Ia tau suaminya akan sangat cemburu dan bahkan mungkin bisa marah. Hal yang pasti tidak ingin ia alami adalah perceraian. Ia tidak ingin bercerai dan menghancurkan rumah tangga nya sendiri akibat kelalaian nya sendiri. Kalau saja ia mendengarkan perkataan Eja, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dan ia tidak akan menyimpan perasaan bersalah kepada Eja setiap harinya. Ia pun bisa bekerja terus dengan pak Thomas. Ia sudah menganggap pak Thomas sebagai panutan yang baik, tetapi semuanya tidaklah seperti itu lagi kini.