
“Pa, Ma, dimana Michelle dan Kevin?!” Eja datang terburu-buru menghampiri pak Ardi dan Bu Nita. Mereka berdua kaget dan saling pandang.
“Michelle dan Kevin?” Pak Ardi balik bertanya kepada Eja.
“Mereka tidak ke sini nak Eja. Memangnya ada apa?” Bu Nita juga ikut menimpali Eja dengan pertanyaan. Mereka bingung kenapa anak dan cucunya tidak ada, melainkan hanya Eja seorang diri.
“Michelle.... pergi Ma, Pa, sama Kevin...” Eja mau tak mau harus memberitahukan kebenarannya.
“Pergi kemana? Kok kamu gak tau??” Pak Ardi mulai khawatir.
“Iya Nak, kok kamu sendirian gak sama Michelle dan Kevin?” Bu Nita tampak panik mengkhawatirkan keadaan anak dan cucunya.
“Saya gak tau pa ma, Michelle pergi dengan orang lain”
“Hah siapa???” Pak Ardi dan Bu Nita khawatir anak dan cucu nya diculik atau dihipnotis. Setidaknya mereka memikirkan dua hal itu sekarang.
“Kata kak Cici sama bos di perusahaan nya dulu di kota M” pak Ardi dan Bu Nita saling pandang
“Kamu yakin?” Pak Ardi tak percaya begitu saja. Ia tau betul anaknya tidak akan pernah pergi tanpa memberi kabar.
“Pergi kemana?” Bu Nita balik bertanya.
“Saya gak tau Ma, kalau tau mungkin gak nanya sama mama papa” pak Ardi mencoba menenangkan Bu Nita yang seketika terduduk lemas.
“Kalian tidak sedang bertengkar kan Nak?” Bu Nita terlihat memegang kepalanya yang terlihat pusing.
“Enggak Ma, kami baik-baik saja. Cuma memang Michelle gak saya bolehin kerja dulu. Karena belum ada pengasuh, tapi bos nya datang untuk merekrutnya lagi kata kak Cici. Saya kira Michelle datang kesini dulu sebelum pergi ke kota M” Bu Nita masih mencerna apa yang terjadi. Pak Ardi pun terlihat kebingungan.
“Benar kata Nak Eja. Michelle pasti datang kesini untuk pamitan setidaknya.”
“Bagaimana ini Pak? HP nya Michelle gak di angkat” Bu Nita terlihat semakin panik.
“Iya ma, hape Michelle gak bisa dibubungi.”
“Yosuda kita coba tunggu saja. Mungkin besok Michelle akan menghubungi kita atau datang ke rumah ini.” Eja mengangguk.
“Nak Eja tinggal disini saja sampai Michelle pulang.”
“Baik pa” Eja mengangguk lagi setuju dengan pemikiran papanya.
Michelle membuka matanya pelan. Ia tau bahwa dirinya sedang di rumah sakit dan telah menjalani operasi. Hanya saja luka yang terasa masih begitu perih. Ia melihat sekeliling berharap menemukan anaknya. Kevin Satya Nugraha. Itulah nama anaknya yang diberikan oleh Eja dan Michelle. Namun ia tidak menemukan dimana anaknya, hanya Thomas yang duduk di samping dirinya.
“Pak, Kevin dimana?” Michelle bertanya dengan suara pelan karena menahan sakit yang teramat menyakitkan.
“Sedang dirawat di ruang anak, kamu tenang saja. Kemarin aku meminta rumah sakit untuk melakukan tes DNA kepada Kevin.” Thomas duduk di hadapan Michelle dan meraih tangan Michelle.
“Michelle, kamu tau kalau tujuanku kemari adalah untuk Kevin bukan? Kalau memang benar anak ku, maka kamu harus cerai dengan Eja dan menikah dengan ku”
Michelle mencoba mencerna baik-baik ucapan dari presdir nya itu.
“Kamu tenang saja, nanti saya yang beritahukan mereka”
“Jangan pak... saya belum siap”
“Michelle apakah kamu pikir akan hidup terus membohongi kedua orang tua mu??” Rhoma melepaskan genggaman tangan nya dari Michelle.
“Ti..tidak pak. Saya hanya bingung bagaimana mengutarakannya ke orang tua saya dan Eja suami saya” Thomas meliriknya dengan sedih. Yah bagaimanapun Michelle masih memiliki suami. Thomas tidak berhak mengatur kehidupan Michelle selagi ia belum bercerai dengan suaminya. Ia khawatir Eja tidak ingin bercerai dengan Michelle apapun yang terjadi.
“Saya ingin menghubungi keluarga saya pak” Michelle hanya ingin segera menghubungi keluarganya dan memberitahukan bahwa dirinya akan pergi ke kota M. Ia hanya mengkhawatirkan apa yang diucapkan presdirnya adalah benar.
“Pak Naz, berikan Hape Nyonya Michelle” Michelle sedikit kaget dengan gelar yang didengarnya. Benar. Ia sudah memiliki suami dan anak, tapi bukan berarti nyonya Thomas bukan? Ia sedikit bingung.
“Ini Bu, silakan”
“Terima kasih pak” Michelle menerima HP nya dan segera menekan nomor Bu Nita, mamanya.
“Halo mama?”
“Michelle, kamu kemana aja nak? Eja papa dan mama di rumah nunggu in kamu.”
Deg! Apa yang Eja lakukan? Bagaimana kalau papa mama khawatir dengan keadaannya! Apakah Eja memberitahukan permasalahan mereka dan memberitahukan bahwa ia sedang bersama seorang lelaki dengan anaknya? Pikiran Michelle berkecamuk.
“Michelle dan Kevin baik-baik aja ma. Michelle akan pulang besok ya ma. Michelle ada kerjaan sebentar sama bos Michelle.”
“Kenapa bawa Kevin nak? Kan ada mama, kalau kamu mau kerja bisa titip dengan Mama” Bu Nita mencoba menenangkan anaknya. Ia tau anaknya sedang di posisi sulit. Kalau tidak kenapa ia berani meninggalkan mertua nya demi pekerjaannya.
“Itu... hmmm nanti kita ngobrol lagi ya ma, pa. “ michelle menutup teleponnya.
“Michelle kamu belum boleh pulang dari rumah sakit. Luka kamu masih perlu penyembuhan.”
“Tapi pak, kedua orang tua saya khawatir.”
“Tidak ada tapi-tapi. Atau saya akan menghubungi keluarga kamu dan bertemu dengan mereka.” Thomas mengancam karena Michelle sedang dalam kondisi tidak sehat.
Dua minggu sudah berlalu dan mereka benar-benar tidak dapat ditemukan oleh Eja dan keluarganya.
“Michelle, kita akan pergi dari rumah sakit kembali ke kota M. Kamu akan tinggal disana dengan ku dan bayi kita.”
“Tunggu dulu, apakah benar Kevin adalah darah daging pak Thomas?” Michelle berkata pelan agar tidak menyinggung Thomas.
“Belum, belum tau apakah benar ia darah daging ku atau dari suami mu. Hanya saja, aku tak bisa membiarkan kamu dan Kevin tinggal bersama keluarga kejam itu!” Thomas mulai sedikit gusar dan memancing Kevin menangis. Michelle yang menyadari itu segera menimang-nimang anaknya agar tidak menangis.
“Tapi pak. Saya mesti ketemu orang tua saya dulu.” Tiba-tiba dokter datang.
“Bu Michelle sudah boleh pulang ya. Pak Thomas ini hasil tes DNA nya. Hasilnya adalah Kevin bukan anak Pak Thomas. Saya turut menyesal tetapi hasilnya adalah seperti ini.” Dokter memberikan sepucuk surat hasil dari laboratorium. Thomas yang kaget pun menerima surat itu dengan perasaan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Thomas mendelik seakan tak percaya, Kevin bukan anak nya? Ia bertanya dalam hati. Matanya membulat tak percaya, hati nya nelangsa. Hilang sudah harapan nya untuk tinggal bersama wanita yang dicintainya. Ia benar-benar tidak tau harus berpikir apa. Padahal Michelle belum tentu ingin tinggal bersamanya. Apakah ia hanya memaksa keadaan yang justru tidak berpihak kepadanya? Apakah ia terlalu egois dan tidak berpikir peluang lain yang akan terjadi? Bodoh. Ia menghakimi dirinya sendiri. Tidak terasa air mata pun keluar dari pelupuk matanya. Ia mencoba mengusapnya dan bersandar pada tempat duduk. Michelle yang melihatnya pun turut bersedih. Ia pun tidak tau harus berkata apa dengan apa yang terjadi di sini.