
Faeyza Nurcahyo. Ya, lelaki tampan dan gagah yang dilihatnya kemarin dengan meninggalkan perasaan berdebar tanpa tau namanya. Kini setelah mengetahui namanya, ia mendapatkan pesan dari lelaki itu. Mereka pun bertukar pesan seperti layaknya orang lain. Mulai dari kenalan lagi seperti biasa, dan basa-basi seperti layaknya orang lain. Mereka melakukan hal-hal yang juga dilakukan orang lain. Kebahagiaan tengah menyelimuti mereka. Mereka pun bertukar pesan tanpa mereka sadari bahwa pukul sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Ya, seperti layaknya orang yang lagi kasmaran, rasa kantuk menghilang, bahkan rasa ingin terus bertukar kabar itulah yang mereka inginkan. Mereka tidak peduli dengan waktu, yang mereka inginkan hanyalah mengetahui kabar masing-masing. Sedang apa, suka apa, hobi apa, yah kurang lebih seperti itulah, karena bagi mereka sekarang itu lebih penting mengenal satu sama lain. Karena mereka sadar mereka ingin hubungan ini lebih dari sebuah perkenalan, mereka ingin saling lebih memahami, dan tentunya ingin hubungan mereka lebih dari sekedar saling tau, lebih dari sekedar teman, sahabat. Tidak terasa hape mereka saling sahut menyahut, ada saja pokok bahasan yang dibahas. Mulai dari tanggal lahir, bulan lahir, tahun lahir, sampai karir dan nama keponakan atau sepupu. Tak ada bosan-bosan nya mereka saling membicarakan satu sama lain. Padahal baru saja berkenalan dan bertukar pesan, tetapi pesan yang didapat mungkin sudah ratusan. Layaknya orang kasmaran, bagi mereka waktu berduaan seperti inilah yang diharapkan. Sampai akhirnya mereka sadar haru mengakhiri pembicaraan mereka.
“Dek, kalo ada yang perlu dibantu lagi, hubungi kakak aja ya” pesan yang langsung membuat Michelle begitu senang sampai ke Ubun-Ubun nya, tidak menyangka akan mendapatkan respon lebih dulu. Ternyata Tuhan mengabulkan doanya.
“Iya kak, siap kak, makasi banyak ya kak perhatian nya, btw soal kemarin bener-bener minta maaf ya kak sebelumnya” Michelle berharap lelaki tersebut tidak salah paham dengan nya. Karna sampai detik ini Michelle belum berpacaran lagi.
“Iya gapapa, kakak kira Kamu ada yang punya”
“Enggak kak, belum ada sekarang, kalo ada maunya gak pacaran lagi, langsung nikah aja” Michelle tidak main-main dengan ucapannya. Tapi dia berharap lelaki itu memberikan respon yang baik, yaitu mengajak nya menikah. Michelle tak perlu berangan2 ingin punya anak berapa, yang dia pikirkan hanyalah ingin bersama lelaki itu selamanya. Tetapi, apa mau dikata mungkin lelaki tersebut belum siap.
“Kakak juga gak mau pacaran lagi, kalo bisa ya langsung nikah aja” Michelle melihat hape nya penuh dengan rasa kecewa, tetapi ia tak hilang akal bagaimana lelaki tersebut masuk ke perangkapnya.
“Kalo gitu kita nikah aja, ayo dateng kerumah kak ketemu papa saya, ngomong ke papa saya” Michelle memberanikan diri berbicara seperti itu tanpa pikir panjang. Ia benar-benar dibutakan oleh cinta, ia tak memikirkan asal usulnya, apalagi perasaan lelaki tersebut bagaimana, karna Michelle menganggap nya hanya bercanda untuk menguji lelaki itu, namun di lain sisi ia menginginkan lelaki itu dan tak berani kehilangan.
Lama tak ada balasan, Michelle pun mengira lelaki tersebut sama seperti lelaki lain yang hanya ingin bercanda, dan tidak pernah ingin serius. Ia pun menyingkirkan hape nya dan baru mau tidur karna tanpa sadar ternyata sudah jam 2 dini hari. Ia pun mulai memejamkan mata. Tetapi, ting ting hape berbunyi kembali.
“Baiklah besok kakak kerumah adek ya buat ketemu papa kebetulan juga hari Minggu semoga papa ada waktu ya.” Michelle pun membelalakkan matanya tak percaya.
Hari yang dinanti pun tiba. Tentu Michelle sangat kekurangan tidur karena rasa kantuknya kalah akan rasa senang yang sudah mengubun-ubun itu. Michelle berdandan dan mengenakan gaun yang indah, ia berharap papa nya tak akan terkejut dengan lamaran dari seseorang yang belum pernah dibawanya kerumah sama sekali.
“Pa hari ini akan ada temen dateng kerumah, papa gak pergi kan? Karna kali ini tamu penting buat papa.” Michelle menggandeng tangan papa dan mama nya yang sedang duduk di ruang keluarga menonton TV berdua.
“Iya, apa anak bungsu mama ini akan dilamar orang?” Michelle merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, kakak nya yang tertua merupakan calon penerus perusahaan ternama di kota G tersebut.
“Hmmmmm...... sebenernya iya pa, ma” disambut kaget sekaligus senang nya kedua orang tua Michelle.
“Wah papa mama bakal dapet menantu ya, memang nya orang mana? Tinggal dimana? Kenal nya kapan? Kerja apa? Sudah punya rumah belum?” Bu Nita yang paling antusias bertanya tentang anaknya, namun papa nya tidak kalah antusias nya.
“Iya nduk, anak ke berapa? Sudah berapa lama kerja? Kenal dimana?” Giliran pak Ardi yang bertanya-tanya.
Tentu saja Michelle bingung bagaimana menjawabnya, ia tidak begitu mengenal siapa lelaki itu.
“Biar papa mama tanya langsung aja ya, Michelle mau mandi sarapan dulu” giliran pak Ardi dan Bu Nita yang dibuat bingung sekarang. Kenapa anaknya ga seantusias mereka.
“Assalamualaikum, saya Eja, temen nya Michelle pak, Bu” eja memberi salam dan langsung memberi sujud tangan kepada kedua orang tua Michelle. Tentu hal itu membuat Michelle deg-deg an tidak karuan, tidak menyangka akan bertemu kembali dengan lelaki pujaan nya.
“Waalaikumsalam silakan masuk nak Eja” pak Ardi mempersilahkan Eja masuk dan mereka pun duduk di ruang tamu bersama beserta kakak Michelle, Herry. Tentu saja Herry pun kaget dengan berita ini, siapa yang menyangka adiknya akan dilamar sebelum dia.
Setelah proses perkenalan yang panjang lebar, pak Ardi dan Bu Nita baru tau kalau Eja adalah seorang yatim, ia tidak memiliki sosok ayah lagi sedari kecil, ia tinggal bersama ibu dan kelima saudara perempuan nya di kota G. namun ia bekerja di kota F sebagai karyawan di sebuah perusahaan di kota tersebut. Alangkah terkejut nya mereka ketika mengetahui Michelle dan Eja baru saja berkenalan dan langsung ingin menikah. Sejujurnya Bu Nita dan apak Ardi masih ragu tetapi melihat Michelle begitu ingin bersama Eja mereka hanya bisa pasrah akan keputusan Michelle, asalkan Michelle hidup bahagia.
Karena bagi mereka Michelle adalah anak bontot yang tidak ingin mereka lupakan, kakak-kakaknya selalu mendapatkan perhatian. Michelle yang merupakan satu-satunya anak perempuan mereka tentunya mereka pun inginkan kebahagiaan bagi putri mereka sendiri. Walaupun putri mereka masih terbilang paling muda, tetapi mereka ingin agar anak mereka tersebut tidaklah salah dalam memilih pasangan hidup.