Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Bertengkar lagi


Michelle datang pagi-pagi sekali karena hari ini bos nya akan mengadakan meeting dan harus segera pergi ke Paris dan Jerman. Michelle tidak sarapan dan segera pergi ke kantornya. Disana sudah ada presdir menunggu kehadirannya. Saat masuk ke ruangan Thomas, Tiba-tiba Michelle berjalan sempoyongan, kepalanya pusing, dan rasa mual begitu hebat membuat Michelle berlari ke toilet dan muntah-muntah hebat. Thomas yang menyadari hal itu segera menunggu Michelle di depan pintu toilet. Karena Michelle tak kunjung keluar, ia pun masuk ke dalam dan mendapati Michelle tengah duduk lemas tak berdaya. Thomas pun kaget dan segera membawa Michelle ke rumah sakit terdekat.


Di rumah sakit, Thomas menjawab semua pertanyaan dokter dengan kooperatif. Setelah memeriksa dan bertanya, dokter menyimpulkan bahwa Michelle tengah mengalami gangguan mual dan muntah berlebih selama kehamilan. Tentu saja hal ini membuat Thomas kaget bukan kepalang. Bagaimana kalau Michelle hamil anaknya bukan dari suaminya. Thomas pun menceritakan hal yang dialaminya dengan Michelle dan dokter menyarankan tes DNA untuk memastikan kebenarannya. Thomas tidak ingin terburu-buru, ia pun menyetujui untuk melakukan tes DNA setelah Michelle melahirkan.


Thomas merasakan perasaan cintanya begitu besar kepada Michelle dan semakin bertambah seiring berita kehamilannya. Ia akan sangat menyayangi Michelle dan anaknya bila ternyata benar itu adalah anaknya dengan Michelle. Thomas dengan setia menemani Michelle tanpa berpikir untuk menelepon Eja suaminya. Ia ingin menghabiskan sisa waktu dengan Michelle tanpa ada orang lain yang mengganggu.


Selang berapa lama Michelle pun tersadar. Ia kaget melihat presdir berdiri di hadapannya.


“Michelle gimana? Enakan?” Thomas bertanya karena khawatir dengan wanita yang dicintainya itu.


Gawat. Apakah sudah ketahuan? Thomas membuat Michelle kaget dengan kehadirannya.


“Mendingan pak. Alhamdulillah. Bukankah bapak ada meeting dan harus berangkat ke Paris dan Jerman ?” Michelle sedikit kaget dan ia berusaha bertanya agar mengalihkan perhatiannya sekalian.


“Tenang aja, sudah ada Netty yang urus. Lagian ke Paris dan Jerman nya saya undur bulan depan. Saya khawatir sama kamu, kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil?”


Deg!! Jadi sudah tau ya, batin Michelle dalam hati. Ia pun pasrah akan kehilangan kerjanya tersebut.


“ saya, saya gak mau kehilangan pekerjaan ini pak.” Michelle berbicara jujur dengan Thomas. Entah mengapa ia merasa bisa mengandalkan Thomas dibandingkan dengan Eja, suaminya sendiri.


“Kamu gak akan kehilangan pekerjaan ini. Saya minta Netty carikan saya PA lagi. Michelle dengar baik-baik apa yang saya katakan. Kita tau kita berdua sudah saling ngapain, dan aku gak bisa diem gitu aja. Bagaimana kalau ini anak ku nanti? Aku akan melakukan tes DNA setelah kamu lahiran”


Michelle melotot kaget, ia tak percaya Thomas akan membicarakan hal ini juga berdua dengan nya. Akan tetapi, ia tidak menyangka bila Thomas menginginkan anaknya.


“Ba..baik pak. Saya minta maaf saya tidak ada maksud apa-apa dengan bapak. Saya... saya..” Michelle bingung ingin berkata apa lagi, karena dengan pengakuan dari Thomas saja ia sudah bingung menghadapinya akan seperti apa.


“Sudahlah Michelle, saya juga yang salah. Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu. Saya cuma minta kalau anak kamu benar adalah darah daging ku, aku inginkan anak itu dan kamu menjadi istriku Michelle.” Thomas bersujud memohon Michelle kelak akan memilihnya dan bercerai dengan suaminya.


Aduh kepalaku berat. Pusing sekali. Apa yang harus aku katakan pada Eja batin nya. Malam itu Michelle tertidur lagi dan Thomas menemaninya hingga keesokan harinya.


Michelle bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya tengah dirangkul oleh Thomas yang khawatir Michelle akan jatuh dari tempat tidur pasien.


Alangkah baiknya kalau aku bertemu kamu lebih dulu ketimbang Eja, Michelle menggumam dan ia membelai pipi Thomas yang maskulin itu. Kemudian ia melihat HP, 99 kali panggilan dari My Hubby yaitu Eja sedari malam.


“Kenapa?” Ternyata Thomas sudah bangun dan melihat Michelle kebingungan.


“Saya... mau pulang pak.” Michelle berkata terbata-bata.


“Baiklah saya antar kamu, tapi kita tanya dulu dengan dokter apa sudah boleh pulang ataukah belum” Michelle pun mengangguk pelan.


Sesampainya di kos an. Alangkah terkejutnya Thomas melihat kos-kos an yang kecil dan kumuh.


“Michelle kamu jangan tinggal disini lagi ya. Nanti aku siapkan apartemen dan mobil untuk kamu. Kamu mau ajak suami kamu itu terserah. Yang penting saya gak mau kalau itu nanti benar anak saya ya, saya gak sudi anak saya tinggal dan besar di tempat seperti ini”


“Tapi pak...”


“Gak ada tapi-tapi an, kalau ini anak saya kamu harus tanggung jawab.”


“Tinggallah di apartemen saya di Berminghem Residence lantai paling atas, ini kartu kamar nya, disana sudah ada mobil mercy untuk kamu.” Thomas memberikan kartu kamar miliknya kepada Michelle.


Bukk!! Ternyata Eja berlari dan memukul wajah Thomas yang membuat nya tersungkur.


“Bajingan! Kamu apa kan istri saya hah???!!!”


Michelle kaget dan langsung menutupi Thomas dengan tubuhnya.


“Eja!!!! Cukup!!!! Sudah!!!!!” Michelle memeluk Thomas, takut Thomas akan membalas pukulan nya kepada Eja. Ia tak ingin ada perkelahian.


Plak!!!


“Cukup Eja!!! Aku baru pulang dari rumah sakit!!” Michelle menampar Eja. Eja kaget dan langsung pergi ke dalam kos an nya, meninggalkan mereka.


“Pak maafin suami saya Pak. Saya bener-bener minta maaf pak “ Michelle sesenggukan menangis seperti bayi, ia tak menyangka bos nya akan mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Sedangkan bibir Thomas mengeluarkan banyak darah.


“Gapapa Chell, saya pulang dulu ya”


“Iya pak maaf ya pak, hati-hati di jalan.” Michelle menempelkan sapu tangan nya ke bibir Thomas untuk menghentikan perdarahan. Sebenarnya kondisi Michelle masih lemah, tetapi ia ingin dirawat jalan saja dan merawat dirinya sendiri dirumah.


“Kamu gak sopan Kak! Itu bos aku! Presdir aku! Aku kerja untuk kita! Kalau aku gak kerja bagaimana kehidupan kita! Anak kita!” Michelle teriak-teriak dengan sisa tenaga yang ia miliki.


Eja hanya terdiam dan tanpa berbicara lebih lanjut ia keluar meninggalkan Michelle sendirian.


Tiga hari tanpa ada kabar dari Eja. Michelle pun menelepon kembali Eja. Tersambung. Akhirnya.


“Kak kamu dimana? Kenapa gak pulang??”


“Eja lagi dirumah aku loh, di rumah aku!” Terdengar suara cewe berteriak dari seberang telepon mencoba menarik perhatian Michelle. Michelle pun langsung menutup teleponnya. Tak terasa air mata mengalir dari pipinya. Begitu deras. Ia marah, sedih, kecewa, kenapa suaminya bisa sampai hati meninggalkannya demi perempuan lain. Memang Eja tidak tau kalau Michelle sedang hamil. Mereka bertengkar lagi untuk kesekian kalinya.