
Michelle masih diam seribu bahasa. Tak ada komunikasi, tak ada sentuhan maupun pelukan. Sudah hampir sebulan lamanya ia masih dalam masa ngambek. Ia tak bisa memaafkan Eja semudah itu. Setiap Eja menyentuhnya, Michelle langsung menepis dan pergi tidur atau pergi memasak, mencuci dan lain sebagainya. Eja merasa bersalah. Ia tak menyangka Michelle akan curiga kepadanya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin membuat Michelle semakin menjadi marah kepadanya.
HP Michelle berbunyi. Eja langsung menoleh karena ia sama sekali tak pernah mendengar Michelle mendapat sebuah telepon setelah menikah dengannya. Eja sedikit curiga.
“Ya baiklah saya akan datang besok” begitu kata Michelle.
Akhirnya Eja pun bertanya.
“Wawancara dek?” Mungkin ia akan segera bekerja pikir Eja. Michelle pun hanya mengangguk.
Keesokan harinya, Michelle pun datang ke sebuah perusahaan ternama untuk melakukan wawancara. Michelle dengan PD (percaya diri) nya datang dan melakukan wawancara dengan baik. Betul sekali, tidak butuh waktu lama Michelle pun dianggap memenuhi kriteria dan diminta segera masuk untuk kerja.
Sepulang dari perusahaan, Michelle merasakan lelah pada kaki nya, ia berlari kesana kemari mengejar kereta. Selama ini ia terus menggunakan mobil untuk pulang pergi kemana pun. Ia tak menyangka akan tiba saatnya ia tidak berlari kesana kemari demi mengejar sebuah kereta yang akan membawanya pulang pergi kos-perusahaan. Sesampainya di kos, Michelle tertidur dari sore hingga pagi.
Pagi harinya ia mulai merasa tak enak badan namun ia tetap pergi untuk kerja. Badan nya kurang berasa sehat. Ia merasa begitu lelah. Ia pun menyadari bahwa ia sudah dua minggu ini telat datang bulan. Ia tak ingin hamil dulu karena pekerjaan nya menuntut ia tidak boleh hamil atau kontrak pekerjaan akan berakhir begitu saja.
“Michelle, ini kantor mu ya sebagai PA (personal assisstant). Di sebelah adalah kantor direktur. Selesai Inu kamu dipanggil direktur untuk menemuinya.” Netty kepala personalia mengenalkan kantornya untuk Michelle.
“Baik Bu, saya akan segera menemui presdir”
“Permisi pak. Saya Michelle personal assistant pak Thomas saat ini.” Ia melihat sesosok gagah dengan setelan jas hitam, tinggi, putih, dengan sedikit brewok di dagu nya dan lengan baju digulung, benar-benar terlihat maskulin pikir Michelle. Andai aku belum menikah tentu akan memilihnya dalam hati Michelle bergumam. Presdir tampan dan gagah itu cukup menarik banyak perhatian wanita dan tidak sedikit yang menginginkan menjadi istrinya. Karena usia nya sudah menginjak hampir 40 tahun, Presdir masih terlihat muda dengan seluruh kekayaan dan ketampanan serta kegagahan nya. Ia mampu menjatuhkan wanita hanya dengan sekali senyuman.
“Ya Michelle terima kasih. Atur jadwal saya besok ke New York bersama kamu ya.”
“Tidak boleh! Kamu tidak boleh pergi berdua saja dengan Presdir kamu itu!” Eja melarang Michelle yang sedang mem-packing baju-baju dan sepatunya. Satu koper cukup batin nya.
“Kakak bilang mau Michelle kerja. Sekarang Michelle udah kerja jadi Michelle ada tuntutan dalam bekerja. Kakak jangan plin-plan deh. Harus konsisten dengan ucapan kakak.” Michelle tak mau kalah dalam berdebat. Toh memang Eja dan seluruh keluarganya menyuruhnya bekerja.
“Besok mama kesini, apa kata mama kalau kamu pergi berdua saja dek? Inget kejadian kemarin kamu dengan Benny.” Eja masih mencoba menahan istrinya untuk tidak pergi tapi tetap saja Michelle tak menggubrisnya dan meninggalkannya yang masih kesal dan tak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya akan pergi berdua dengan bos nya sendiri tanpa pendamping yang lain.
“Apa? Istri kamu ke New York? Kok gak bilang ke mama ya! Istri kamu itu anggep mama ini seperti apa sih?” Mertua Michelle yang datang pun tampak kesal karena tingkah menantunya tidak sesuai dengan harapannya. Ia berharap menantunya tersebut sering menghubunginya dan banyak menghabiskan waktu bersamanya dan anak nya. Ia tidak ingin menantunya berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya dan anaknya sendiri.
“Iya Ma, dia pergi dengan teman-teman kantornya, ada urusan mendadak gitu lah pokoknya” Eja tampak agak gugup mengatakannya karena ia berbohong kepada mamanya agar mamanya tidak lebih kesal dan marah kepada istrinya. Ia tidak ingin hubungan istri dan mamanya tidak harmonis. Bagaimanapun istrinya sudah membantunya bekerja. Ia tidak ingin menambah tingkat stress istrinya yang ber kerja siang malam untuk membantu ekonomi rumah tangga mereka.
“Dasar ya menantu apa tu begitu! Masa gak pernah sedikitpun hubungi mama! Menantu macam apa seperti itu!” Eja pun mencoba menenangkan mama nya dengan pelukan.
“Udahlah Ma, kan Michelle udah bantu-bantu Eja kerja juga, dia kerja untuk bantu ekonomi rumah tangga kami berdua Ma” Mertua Michelle tersebut pun hanya manyun. Bagaimanapun ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan menantunya layaknya hubungan menantu dan mertua seperti yang lain. Tapi hal tersebut bahkan belum terjadi sama sekali. Ia tidak pernah menghabiskan waktu berdua saja dengan menantunya tersebut padahal ia ingin sekali mengenal menantunya itu seperti layaknya anak sendiri bukan orang lain.
Michelle berlari kecil menuju ruang kantornya dan berharap presdir nya belum datang. Karena ia tau ia sudah datang terlambat.
“Pagi pak, mohon maaf saya datang terlambat” Michelle tergesa-gesa dengan nafas terengah-engah menghampiri presdir yang sudah berada dalam jet pribadi nya. Thomas hanya memandangnya dengan santai.
“Tidak apa, duduklah, kita akan segera lepas landas.” Thomas mempersilakan Michelle duduk di depan nya. Michelle pun duduk dengan sedikit canggung. Baru pertama kali sudah pergi dengan bos saja pikirnya. Selama perjalanan entah mengapa ia mengantuk sekali. Aneh pikirnya. Enggak ada minuman atau makanan yang ia sentuh tetapi benar-benar mengantuk. Tanpa ia sadari ia pun tertidur. Michelle tidak tahu jika dirinya sedang dilirik presdir, tatapan tajam namun sendu itu ternyata menyimpan kerinduan ingin segera memiliki seseorang yang mampu menaklukkan hati nya pada pandangan pertama. Ya presdir Thomas menaruh hati padanya saat perjumpaan mereka pertama kali sewaktu wawancara. Matanya yang bulat, rambut panjang yang terurai, senyuman mungil dan hidung mancung menghiasi wajah Michelle dan seketika membuat hatinya bergejolak. Kini wanita itu Dihadapannya, presdir tak memungkiri bahwa keinginan nya untuk bersama Michelle adalah suatu kesalahan. Ia tau jika Michelle sudah menikah, tetapi ia tak ingin Michelle pergi darinya. Ia harus selalu dekat dengannya, karena hanya dengan Michelle lah presdir menemukan sosok yang tepat untuk jadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anaknya.