
“Pa, Eja akan membawa Michelle kembali kerumah dan tinggal bersama mama saya.” Eja mendatangi pak Ardi dan Bu Nita yang sedang duduk di ruang tamu. Michelle yang sedang beristirahat dengan Kevin tertidur di kamar pun terbangu.
“Eja maaf, aku mau sama Kevin tinggal berdua dengan mama papa di sini. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa membagi waktu untuk tinggal di rumah mama papa atau rumah orang tua mu. Ini juga baik untuk Kevin agar selalu ingat dengan nenek dan kakek nya.” Michelle berkata lirih dengan mata yang belum terbuka sempurna, ia mencoba mengambil posisi yang nyaman untuk bayi nya dan tidak membuat luka operasi nya bertambah nyeri.
“Michelle sudah bangun Nak?” Bu Nita mencoba membenarkan posisi tidur Michelle.
“Benar juga itu apa yang dikatakan Michelle, nak Eja sebaiknya Kevin, Michelle, dan kamu tinggal disini saja dulu, nanti baru tinggal di rumah orang tua mu biar Kevin bisa liat nenek nya juga yang disana” pak Ardi mencoba menarik kesimpulan dengan harapan agar menantu nya itu bisa terbujuk dan mengalah.
Eja pun terlihat berpikir sebentar, “Baiklah pa, ma, saya minta maaf kalau-kalau merepotkan mama dan papa, mungkin ada baiknya kami tinggal bersama mama dan papa dulu di sini”
Keseharian mereka pun diisi dengan kesenangan, hingga tiba suatu hari
“Eja kenapa kamu gak pulang-pulang?”terdengar suara Mama Eja menelepon dengan lantang
“Iya Ma nanti kita kesana ya Ma, soalnya Michelle butuh waktu 3 bulan istirahat di rumah orang tua nya”
“Gimana sih gitu aja kok manja!” Mama Eja pun menutup telepon dengan mendengus kesal. Ia berpikir bagaimana caranya agar ia dan Eja bisa bersatu. Bagaimanapun di dalam hatinya Eja tetaplah seorang anak yg pernah dilahirkannya. Ia tau bahwa hubungan mereka salah sehingga waktu berpisah selama 1 bulan saja ia tak bisa. Ia sadar betapa ia mencintai anak nya, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai ibunya. Ia sadar akan kekhilafan nya, tetapi ia masih berpikir bahwa Michelle lah yang menyebabkan hubungan orang tua dan anak nya merenggang.
“Halo Ma, mama tenang dulu ma, Michelle juga rindu orang tua nya Ma, Eja rasa Michelle juga memiliki hak untuk diperhatikan orang tuanya. Sebaiknya kita tidak boleh membuat Michelle pusing apalagi sampai stres. Mungkin dia butuh waktu sebagai ibu yang baru memiliki seorang anak, seorang bayi, cucu Mama.” Eja mencoba menjelaskan ke mama nya perihal ini dengan lembut dan hati-hati. Ia tau bahwa orang tua nya ini hanya tinggal sebatang kara dan hanya memiliki Eja seorang sehingga mau tak mau Eja pun harus menjaga perasaan mamanya. Tetapi, Eja ingin juga meluruskan apa yang terjadi di antara mereka, akan lebih baik bila tidak diteruskan. Karena hanya akan menyebabkan banyak orang terluka. Michelle salah satunya. Eja tak ingin Michelle terluka mengetahui apa yang terjadi antara ia dan mama nya. Belum lagi memang selama ini Eja pun banyak memiliki teman wanita yang entah sudah ke berapa kali nya ia mengkhianati Michelle. Eja pun sadar apa yang dilakukan nya adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang harus diperbaiki. Ia tidak ingin menyakiti siapapun lebih lanjut. Ia terlanjur mencintai Michelle dan anak nya, juga mama nya sebagai orang tua bukan sebagai pasangan. Ia pun menyayangi mertuanya yang sudah banyak berkorban demi Michelle, mulai dari Michelle lahir sampai besar sekarang. Eja tak sampai hati ingin menyakiti perasaan siapapun. Karena baginya keutuhan rumah tangga adalah penting. Ia tak ingin anak nya melihat ia sebagai orang tua yang acuh, egois, apalagi banyak berbuat salah dan tidak berhati nurani. Ia ingin anak nya menjadi pribadi yang lebih baik lagi darinya. Apalagi ia adalah contoh atau panutan untuk anak nya.
Mama Eja yang mendengar anak nya menangis pun akhirnya tak kuasa menahan tangis, tak terasa air mata berlinang di pipinya. Ia mencoba menghela napas pelan agar tak terdengar bahwa ia pun sedang menangis. Ia mencoba tegar, sebagai orang tua ia seharusnya mendidik anak nya lebih baik lagi darinya. Betapa gagal nya ia merasa bahwa ia sungguh orang tua yang jahat. Mertua yang tidak baik untuk menantunya. Mertua yang egois, dan tidak berpikiran luas dan hanya mengikuti hawa nafsu.
“Yasudah Nak, tidak apa-apa. Semua akan kembali seperti sedia kala. Kamu tetap anak Mama. Michelle juga anak mama. Mama yang sebenarnya bersalah. Mama tidak pantas menjadi orang tua. Mama minta maaf tidak bisa mendidik dengan benar, tidak bisa menjadi mertua dan orang tua yang baik. Mama hanya mengikuti hawa nafsu dan pemikiran yang salah. Mama kira mama pantas mendapatkan yang lebih baik. Padahal kalian lah yang terbaik untuk mama. Kamu dan Michelle juga Kevin adalah segalanya bagi Mama. Kita tidak akan meneruskan yang salah Nak, kita sebaiknya berbenah terutama Mama. Mama juga akan berusaha menjadi lebih baik lagi untuk kita semua. Maafkan Mama ya Nak” tangisnya pun pecah dan tak dapat dibendung. Eja yang mendengar semua ucapan mamanya tak mampu berkata-kata lagi, karena setiap ucapan mamanya menusuk hatinya. Ia terluka tapi juga bahagia karena akhirnya mereka dapat menemukan jalan yang benar dan tepat. Ia terluka karena setiap kata orang tua nya mencerminkan dosa-dosa yang sudah mereka lakukan. Eja tak mampu membendung rasa bersalah nya juga, tetapi ia tau bahwa ia dan orang tua nya tetaplah keluarga yang tak bisa digantikan orang lain. Sebesar apapun salah nya, ia tak bisa menggantikan sosok mama nya dengan orang lain. Begitulah hidup, apapun kelebihan dan kekurangan nya tetaplah keluarga.
“Maafin Eja ya Ma. Eja yang salah sama mama “ mereka berdua pun kalut dalam emosi yang sama.
Michelle yang tak sengaja melihat Eja menangis pun mencoba ingin menenangkan, tetapi ia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan masalah yang tidak ia pahami sama sekali. Ia pun berdeham.
“Ehm ehm ehm, Kevin mau digendong sama papa gak?” Michelle mencoba mencairkan suasana. Dan ternyata itu berhasil. Eja yang kaget pun langsung mematikan telpon nya, ya ia tidak ingin masalah ini ketahuan keluarganya. Ia mencoba agar keluarganya tidak terluka oleh perbuatan nya pada Michelle yang telah banyak menyakiti Michelle.
“Sini nak main sama papa” eja pun menggendong Kevin dan memeluk Michelle.
Michelle dan Eja juga Kevin pun tampak bahagia dari kejauhan. Ya ada seorang lelaki yang menatap dari kejauhan, ia mengamati kebahagiaan wanita yang dicintainya itu. Ia tak bisa mencampuri urusan orang lain. Apapun yang terjadi sudah terjadi, ia memang tidak dapat memiliki wanita itu, apalagi berangan-angan untuk hidup bersamanya. Ia hanya dapat melihat wanita itu tersenyum, tertawa bahagia, dan memang itulah yang terpenting untuknya. Kebahagiaan wanita yang dicintainya itulah yang penting untuknya. Ia hanya bisa merelakan dan mengikhlaskan wanita yang dicintai nya itu hidup bahagia dengan orang lain. Ia sadar tak mampu memiliki wanita sebaik dan secantik itu. Oleh sebab itu, dalam hatinya ia pun mendoakan kebahagiaan mereka. Karena dengan begitu ia bisa pergi tenang meninggalkan wanita yang dicintainya. Ia akan menerima pekerjaan dan meneruskan pembukaan proyek cabang perusahaan terbarunya di negeri orang. Ia akan meninggalkan kenangan nya bersama wanita itu cukup sampai disini. Ia pun beranjak pergi meninggalkan mereka yang sedang tertawa bahagia.
Kini Michelle dan Eja juga Kevin tinggal bertiga dan akan menanti seorang anak lagi yang ternyata kembar menurut hasil pemeriksaan dari dokter kandungan. Mereka pun tinggal di rumah yang cukup besar dengan kendaraan pribadi. Hasil jerih payah mereka berdua, mereka persembahkan untuk anak-anak mereka nanti. Dan tentunya untuk membahagiakan orang tua mereka semua. Mertua dan orang tua bagi mereka sama saja. Tidaklah beda satu sama lain. Dan mereka pun memiliki kesamaan pendapat bahwa mereka ingin mengurus orang tua mereka semua dengan baik bukan hanya mengurus anak-anak saja, tetapi mereka memiliki rasa cinta tang luar biasa untuk orang tua mereka semua. Bagi mereka orang tua adalah segalanya tak dapat tergantikan, begitu pun dengan anak, adalah berkah dan amanah yang harus dijaga, dididik, disayang, dan diperhatikan.