Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Fitnah


“Eja kamu harus tau! Ada seorang laki-laki yang menjemput Michelle di rumah kita di kota G! Bahkan ia sempat memukul kakak mu!” mertua Michelle, mama nya Eja memfitnah Michelle agar mereka semakin bertengkar. Ya, mereka melakukan hal yang salah dalam hubungan orang tua dan anak. Walaupun mereka tau itu adalah salah dan kesalahan ini sebenarnya tidak disengaja dan itu benar-benar sulit untuk diungkapkan. Hanya saja mereka sadar mereka ingin segera mengakhiri hubungan yang tidak baik ini secepat mungkin. Mungkin ini adalah akhirnya. Eja tidak bisa begitu saja membiarkan istrinya pergi dengan laki-laki lain. Perceraian bukanlah hal yang diinginkannya. Ia harus mengambil keputusan.


“Apa?!” Eja kaget mendengar mamanya berbicara seperti itu. Ia tidak bisa merelakan Michelle yang telah mampu menaklukkan hati, jiwa dan raganya. Terlebih kini mereka sudah memiliki anak, Eja merasa menjadi seorang lelaki sejati yang memiliki rasa tanggung jawab dan rasa peduli yang timbul entah dari mana.


“Iya kamu tau selama di rumah, mama yang selalu membereskan pekerjaan rumah tangga! Mama mencuci, memasak, menyapu, mengepel, menyetrika! Mama sampai lelah dengan tingkah Michelle yang seperti ratu! Dia benar-benar tidak menganggap mama ada! Mama cuma jadi babu!” Eja menoleh ke arah mama nya seakan tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Mertuanya bingung harus berkata apa, yang ia inginkan adalah agar Eja tidak memarahinya karena telah berbohong. Ia mencoba mencari kambing hitamnya, walaupun ia tau itu salah. Ia pun tak ingin agar menantunya tersebut meninggalkan anaknya. Baginya membuat bertengkar saja sudah cukup. Ia hanya ingin menguji menantunya tersebut apakah sudah sepantasnya mendampingi anaknya. Maklum, pacaran saja mereka tidak melakukannya. Jadi proses pengenalan pun tidak ada. Sebenarnya ia menaruh curiga kepada menantunya, tetapi ia belum menemukan kecurigaan sampai detik ini ketika Ditelpon seperti itu, ia merasa kecurigaannya terbukti.


“Kamu harus cerai dengan nya Eja! Dia tidak pantas untuk kamu!” Ia sengaja menyuruh bercerai karena ingin melihat reaksi anaknya. Apakah ia lebih memilih istrinya ataukah ibunya sendiri.


“Enggak ma! Eja gak bisa cerai dengan nya! Eja sayang Michelle! Gak mungkin Michelle sekejam itu sama mama! Gak mungkin Michelle memiliki cowo lain selain Eja!” Eja bergegas menelepon Michelle segera tetapi sayang, telepon nya tidak di angkat. Tak ada sahutan. Eja pun meninggalkan mamanya seorang diri. Kini mama nya Eja tau bahwa anaknya telah memilih istrinya sendiri ketimbang dirinya sebagai seorang ibu kandung. Sedih dan air mata pun menetes di pipi nya. Ia mencoba tegar bahwa anaknya lebih memilih istrinya ketimbang ibunya, apalagi ia memilih istri yang lebih memilih laki-laki lain selain anaknya. Ia merasa kasihan dengan nasib anaknya yang bertepuk sebelah tangan menurutnya. Ia pun tidak ingin melanjutkan hubungan yang salah dengan anaknya. Ia tau bahwa dirinya juga bersalah sebagai seorang ibu. Ia sudah gagal menjadi seorang ibu. Malu. Ya ia malu, tapi bagaimanapun ia ingin agar hubungannya dengan anak nya tidak hancur. Karena ia tau kesalahan mereka sebenarnya tidak disengaja dan ia tidak ingin meninggalkan anaknya seorang diri apalagi menjauhinya. Bagaimanapun ia adalah orang tua dan ibu kandung nya yang seharusnya melindungi, menyayangi, mendidik dan mengasihi anak laki-laki nya itu agar tidak terjerumus ke jalan yang salah.


“Dokter bagaimana hasil operasinya?” Thomas menghampiri dokter yang baru selesai keluar dari ruangan dokter. Thomas segera membawa Michelle ke UGD RS yang ternama di kota G. Dan dalam waktu singkat, operasi kecil pun segera berlangsung dan selesai dalam waktu kurang lebih satu jam.


“Pak Thomas, keadaan Bu Michelle sudah membaik. Bu Michelle beruntung sekali segera mendapatkan penanganan operasi kecil secepatnya. Apabila terlambat mungkin akan mengancam nyawa Bu Michelle akibat perdarahan.”


“Syukurlah dok, saya sangat berterima kasih.”


“Baiklah pak kalau begitu saya tinggal dulu, ingat untuk kontrol dan perawatan luka selama kurang lebih satu minggu ini”


Thomas segera menemui Michelle di ruang perawatan. Hatinya benar-benar miris melihat wanita yang dicintainya itu begitu menderita karena mendapatkan perlakuan yang kejam dari keluarga suaminya sendiri.


Kini anaknya Michelle sedang berada dalam pengawasannya. Ia pun dengan segera melakukan tes DNA untuk menghemat waktu. Ia tau Michelle akan mengizinkannya karena waktu nya tidak cukup meninggalkan kota M dan perusahaan Thomas.


“Kenapa kamu pulang Ja? Mana mama?” Kak Cici yang kaget setelah memperlakukan Michelle dengan kasar bertanya-tanya mengapa ia tega meninggalkan mama nya dan pulang tanpa memberi kabar. Pastilah mencari Michelle pikirnya.


“Mana Michelle kak?”


“Loh bukannya kakak sudah telepon mama dan kasih tau mama kalau dia sudah pergi bersama laki-laki lain bias nya atau apalah itu?” Suara nya meninggi mendengar nama yang tidak ia senangi itu. Sebenarnya ia cukup menyukai adik iparnya hanya saja ia selalu mendengar keluh kesah mamanya tentang Michelle yang berkelakuan buruk terhadap mamanya di saat ia sedang tidak ada. Tentu kak Cici tidak mengetahui kebenarannya, ia hanya mempercayai mamanya yang selalu menuduh Michelle adalah wanita yang tidak baik. Benar saja saat ia melihat Thomas datang untuk menemuinya, Cici pun naik pitam.


“Memangnya kenapa sih sampai bos nya datang?! Masa harus sampe dijemput ke rumah kita segala? Atau jangan-jangan dia ada hubungan rahasia dengan bos nya itu? Kok kamu gak tau apa-apa sih?Cici tidak ingin adiknya jatuh cinta terlebih dalam kepada Michelle.


“Sudah, sudah, aku salah nanya sama kakak! Yang aku butuh in itu keberadaan Michelle!”


“Cari sana! Mungkin dia sedang bermesraan dengan laki-laki itu!” Cici mengumpat adiknya yang pergi jauh meninggalkannya. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa adiknya bisa mencintai wanita seperti itu. Yang dengan seenaknya pergi begitu saja apalagi ingin bekerja kembali tanpa memberitahukan mereka terlebih dahulu. Terlebih lagi main pergi saja dengan orang lain pake acara jemput segala. Memangnya ada keperluan apa sampai segitunya dalam benaknya bertanya-tanya. Kakak iparnya benar-benar dibuat bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Padahal ia hampir menyukai adik iparnya itu. Karena baginya mengenal seseorang bukanlah perkara gampang. Ia tidak mudah mempercayai orang lain, terlebih mereka menikah tanpa proses pacaran, proses pengenalan, dan tiba-tiba langsung ingin menikah saja. Walaupun Michelle berasal dari keluarga berada, ia tetaplah tidak ingin mempercayai orang lain semudah itu, terutama seseorang yang ingin masuk ke dalam wilayah keluarganya. Selama ini ia hanya berhati-hati, tetapi benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini dalam keluarganya.