
“Kak Michelle butuh uang untuk bayar fotografer dan MUA nya” Michelle menggunakan video call menelepon Eja selama LDR-an.
“Iya dek nanti kakak transfer tiap bulan nya dua juta ya”
“Baik kakak sayang, makasi banyak ya, i love you, oh ya kak, mana mama? mama di sana sampe berapa hari?”
Begitulah sekarang hampir sepuluh bulan Michelle dan Eja sedang menabung untuk keperluan pernikahan mereka. Setiap ada uang, Eja selalu memberikannya ke Michelle, begitu juga Michelle berusaha mengirit untuk tidak belanja maupun jalan-jalan. Yang ia fokuskan adalah bekerja di perusahaan papa nya. Mereka tidak ingin merepotkan kedua orang tua mereka.
“ i love you too, ini mama mungkin besok baru pulang,” Eja menunjukkan mamanya sedang menggunakan handuk dan berganti pakaian di depan Eja.
DEG!
Kok mama nya ganti baju disana kenapa enggak di kamar mandi aja sih? Batin Michelle, perasaannya berkecamuk, marah, curiga, sedih, rindu. Memang Eja bekerja di kota M sekarang dengan menyewa tempat kos bulanan dan mama nya setiap bulan mengunjungi anak nya tersebut.
Menurut Eja, mama nya juga bekerja di kota M jadi sekalian setiap bulan mamanya datang menjenguk nya. Hal ini tentu di luar nalar Michelle yang benar-benar dibutakan cinta sehingga ia tidak mampu berpikir jernih lagi.
“Oh yauda salam aja buat mama ya kak” Michelle menutup telepon dengan perasaan kecewa, sedih, curiga, dan marah tentunya. Setau nya mama nya sendiri tidak pernah berani berganti pakaian di depan kakak nya yang merupakan anak laki-laki satu-satu nya.
Pusing memikirkan itu, Michelle akhirnya memutuskan untuk menghubungi MUA favorit nya.
“ halo kak Ben, saya mau daftarin diri untuk pakai MUA kakak di acara pernikahan saya bulan depan, apakah masih ada slot nya ya kak? Mohon maaf kalau terburu-buru.”
“Halo sayang, ini dengan siapa ya? Kayaknya bulan depan bisa say untuk tanggal segitu, aku masukin ya kamu di tanggal segitu biar bisa di keep”
“Saya Michelle kak, baik kak makasi banyak kak sebelumnya, kalau ketemuan kita nya bisa kapan ya kak?” Michelle ingin sekali bertemu MUA satu ini, selain karena kepandaian nya, Benny, MUA ini juga memiliki tampang yang lebih tampan dari Eja, dan tentu lebih gagah lagi, hanya tidak terlalu tinggi seperti Eja. Michelle si gadis polos ini hanya melihat ketampanan lelaki saja, ia benar-benar hampir lupa kalau Eja melarang nya bertemu dengan pria-pria lain selama ia bekerja di kota M.
“Saya di kafe Celfit kalo mau ketemu, ayok kakak tunggu sekarang ya say” Dari nada bicaranya, memang si Benny ini adalah seorang gay, jadi Michelle tak melanggar perintah Eja yang notabene sekarang adalah tunangan nya. Toh belum menikah pikirnya, jadi masih bebas untuk bertemu siapa saja. Lagian dia dengan mama nya aja begitu masa aku gak boleh dengan seorang yang cuma gay doang, begitu pikirnya. Tanpa pikir panjang ia pun mengiyakan ajakan tersebut.
“ hai kak Ben”
Ya ampun wajahnya benar-benar glowing lebih dari aku, dan bibir merah nya sexy banget. Sayang dia seorang gay, kalau enggak sudah aku pepet nih batin Michelle dalam hati.
“Hai, Michelle ya pasti. Ayo duduk” Benny mempersilakan Michelle duduk di samping nya.
“Michelle kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain?”
Terdengar suara Eja menggebu-gebu di seberang sana. Michelle yang sudah tau akan hal ini menjawab dengan santainya
“Michelle baru selesai ketemu dengan MUA paling bagus di kota G ini kak, dan dia setuju, Michelle seneng banget kak. Dia nanti yang bakal jadi MUA kita kak” mendengar Michelle senang sekali Eja hampir tidak ingin marah. Tetapi hatinya tidak senang kalau MUA itu akan menjadi mitranya.
“Terus dia yang foto nya sama kamu di DP kamu itu?”
“Iya kak, emang kenapa?” Michelle pura-pura masa bodoh. Toh dia dan mama nya ngapain juga sampe segitunya di depan Michelle. Michelle sudah memaklumi mama nya yang berpenampilan melebihi seorang gadis biasa, dengan rambut berwarna merah, dan selera baju yg terbuka-buka menampakkan seluruh lekuk tubuh nya yang tidak sebanding dengan Michelle yg berisi.
“Segera hapus foto itu. Aku marah ya sama kamu dek. Kamu gak pantes berkelakuan begitu” Michelle mulai panik.
“ kamu tau kalo mama liat foto kamu? Dan bilang kalau kamu cewe gak bener kalau berfoto seperti itu?” Kepanikan Michelle berubah menjadi kelegaan karena tujuan nya berhasil membuat marah mama dan Eja. Biar sampe paham tuh mereka jadi ga bakal aku hapus sampe berapa hari, begitu pikir Michelle.
“Yauda nanti Michelle hapus ya kak” kini Michelle belajar berbohong, entah keberanian darimana ia peroleh.
Beberapa hari tidak pernah dihapus foto itu dari hape Michelle, begitu juga Eja berapa hari ini tak pernah memberi kabar. Michelle menggunakan taktik lain yaitu dengan membalas chat an para lelaki yang mencoba berkenalan dengan nya di media sosial. Namun masih tak ada kabar dari Eja selama 3 hari ini. Akhirnya Michelle memberanikan diri menelepon Eja.
“Halo kak, kakak lagi apa? Masih marah sama Michelle?”
“Hmmm siapa yang eggk marah tunangan nya foto dengan cowok lain, dan chat an dengan cowok lain di media sosial?”
“Ya ampun kak, MuA itu seorang gay, gak mungkin lah Michelle ngapa-ngapain sama dia, Michelle baru pertama kali nya cuma sama kakak, belum pernah sama yang lain, gak pernah” Michelle agak merasa senang karena umpan nya berhasil tetapi sedikit panik karena Eja tidak pernah marah dengannya sebelum ini.
“Terus kamu jadi murahan dengan bales-bales chat an cowok-cowok lain di sosial media?”
“Apa? Murahan?” Michelle kaget Eja akan berani berkata kasar seperti itu dengan dirinya.
“Yauda kalo gitu kita gak usah nikah” Michelle memutuskan telepon. Michelle pun menangis dan berharap Eja meneleponnya balik, tetapi tidak ada telpon dari Eja kali ini. Ia pun bingung harus bagaimana menjelaskannya ke Eja agar tidak salah paham.