Menjadi Ibu Sambung Putri CEO

Menjadi Ibu Sambung Putri CEO
Bab 39


Waktu terus berjalan hingga 3 hari kemudian.


perubahan signifikan Alex terdapat pada postur tubuh yang mulai tidak terurus.


makan dan tidur pun selalu ia abaikan. seakan dunia hanya tinggal hari ini.


Aira yang masih ditahan untuk tetap tinggal di Bali oleh orangtua Alex pun selalu saja memberontak ingin pulang dan menemui Amel.


bahkan untuk komunikasi dengan Alex pun ,tidak selalu mama Sandra lakukan. mengingat Aira akan selalu mencari amel dan berakhir menangis jika tidak mendapati sosok Amel di balik telfon.


Ditempat lain, di kota B tempat Amel memulai hidup baru pun sudah ia lakoni dalam beberapa hari ini.


Amel sudah membuka minimarket yang terdapat di salah satu daerah di kota tersebut.


Dengan bantuan bu Nia, minimarket Amel bisa berjalan dengan semestinya dan banyak sekali pengunjung yang datang.


apalagi harga di minimarket Amel sangat terjangkau untuk kalangan daerah sana dan pastinya amel memberlakukan harga grosir untuk warga yang mungkin ingin berjualan dirumahnya.


"Alhamdulillah ya neng, toko ini berjalan dengan baik" ucap Bu Nia dengan mata berbinar


"iya Bu, Alhamdulillah. terimakasih atas Bu Nia selama ini untuk Amel"


"sama-sama neng. ibu juga terimakasih, kehadiran neng Lia ibu jadi tidak merasa kesepian lagi"


"hehe iya Bu, Lia juga merasakan itu"


Untuk tempat tinggal, sementara Amel dan Bu nia masih tinggal di tempat Bu Nia karna lantai atas masih belum beres jika untuk tempat tinggal sementara.


Amel sangat merindukan aira,sang anak sambung. jika untuk suaminya, Alex. Amel sedikit merindukan laki-laki itu, tapi memang ini jalan yang terbaik untuk semuanya.


Amel berharap jika Aira akan secepatnya pulih dari kenangan bersama Amel dan bisa melupakan Amel tanpa harus melalui sakit seperti sebelumnya.


Untuk Alex sendiri Amel berharap jika dia dapat memutuskan keputusan yang bijak untuk keluarganya.


memang seharusnya Amel tidak pernah menerima tawaran Alex atau bahkan Amel tidak seharusnya mengenal mereka.


"hahhh!! semoga semuanya cepat berlalu dan tidak akan terjadi apa-apa kedepannya" batin Amel


***


Roy yang saat ini di sibukkan dengan tumpukan berkas di kantornya pun merasa sedikit jenuh.


"Secepatnya memang aku harus menemukan Amel, dimana anak itu. meninggalkan tanpa jejak sedikit pun" keluh Roy berkali-kali


Bahkan Roy sudah mengirimkan pesan ke beberapa medsos yang Amel miliki. tetapi tetap saja tidak ada balasan yang ia terima.


Roy seperti robot manusia yang mengurusi semua pekerjaan kantor dan mengurusi pencarian Amel secara bersamaan.


Teman roy pun sampai sekarang bahkan tidak muncul batang hidungnya.


.


.


"papa dimana? Aira mau telfon sama mama" teriak Aira dari penghujung telfon


"ehm. mama sedang keluar sayang"


"aira mau sama mama,papa"


"iya nanti kalau mama sudah pulang, papa telfon Aira ya"


tuttt..tutt..tutt


"haissh anak ini" Alex menyibakkan rambutnya kebelakang dan berjalan menuju balkon


"kemana kamu sayang.. kenapa tidak meninggalkan jejak sedikitpun" batin Alex dengan mengamati halaman rumahnya


****


"ibu besok Lia mau ke pasar ya, mau beli beberapa dagangan yang udah habis dan stoknya menipis"


"iya neng, ibu dirumah atau ikut ke pasar?"


"kalau ibu dirumah nunggu toko gimana? nggak papa Bu?"


"nggak papa neng, daripada toko kita tutup malah kasian orang yang mau beli"


"iya betul Bu"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...