
Setelah menjelaskan panjang lebar alasannya, akhirnya kesepuluh tetua tersebut mengerti akan kesulitan yang bisa saja kapan saja terjadi jika mereka terus membuntuti Cao Zhen Xin.
"Baiklah Zhen kami mengerti." ucap salah satunya.
Cao Zhen Xin mengangguk, kemudian ia menatap kearah timur dunia kecil milik Dewa Kekacauan dengan perasaan penasaran.
"Tidak mungkin bukan jika didunia ini tidak ada satupun sumber daya lainnya." ucap dalam hati Cao Zhen Xin kemudian membuat segel tangan.
Swuuuung! Segel tangan bersinar sangat terang, setelah itu muncul pintu yang dihubungkan untuk keluar dari Dunia kecil tersebut menuju lorong yang berada dibalik air terjun.
"Senior pintu ini menghubungkan ketempat air terjun... Jadi jagalah pintu ini tetap aman agar kalian dapat keluar masuk dengan bebas dunia kecil ini." ucap Cao Zhen Xin.
"Baik Zhen..." ucap mereka semua kemudian membagi rata mutiara yang telah dimurnikan Cao Zhen Xin.
Swuuuush! Cao Zhen Xin menghilang lalu muncul tepat diistana timur dunia kecil tersebut. Sesampainya didepan istana, Cao Zhen Xin segera mengedarkan kekuatan jiwanya melacak keberadaan apapun yang dapat ia jangkau.
Kedua alisnya kembali menyatu merasakan adanya sebuah aura kehidupan didalam istana tersebut. Karena ia penasaran, dan tentunya ia harus mengetahui dari mana asal aura kehidupan tersebut, Cao Zhen Xin kemudian memasuki istana kecil itu.
Sesampainya tepat disebuah singgasana istana, kedua alis Cao Zhen Xin kembali menyatu karena terheran heran karena melihat sebuah telur besar yang akan menetas.
Disaat ia hendak mendekati telur itu, tiba tiba retakan telur mulai membesar.
Kraaaackkk! Swuuuuush! Dibarengi dengan keretakan telur tersebut, Cao Zhen Xin yang merasa firasat buruk merasakan aura yang sangat kacau dari telur tersebut segera melepaskan auranya sendiri.
Dhuuuuuuaaar! Ledakan menggema dengan terpentalnya Cao Zhen Xin kebelakang sejauh sepuluh meter.
"Ledakan yang sangat kuat...." ucap Cao Zhen Xin kemudian melihat sosok pemuda duduk diatas singgasana istana itu menatap santai Cao Zhen Xin.
Aura yang sangat kacau terus menyebar, ,namun hal tersebut tidak membuat rasa takut hadir dibenak Cao Zhen Xin.
"Siapa kamu? " tanya Cao Zhen Xin mencoba mencerna kejadian singkat itu.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu siapa kamu? " tanya pemuda tersebut masih duduk tenang sambil memainkan rambutnya.
Saat Cao Zhen Xin akan menjawab pertanyaan pemuda itu, ia segera menghentikan ucapannya.
"Tunggu! Kamu manusia langit sampai didunia kecil ini bagaimana caranya? Bukankah kalian bermusuhan dengan ras Asura? " tAnya tenang pemuda itu sambil asik memainkan rambutnya.
Melihat pemuda tersebut santai dan tidak memiliki niat membunuh, Cao Zhen Xin mencoba mengakrabkan diri, karena sampai saat ini ia masih berpikir, apakah pemuda yang ada didepannya adalah telur yang tadi menetas atau orang yang berbeda. Dan yang lebih membuat kepalanya pusing serta bingung, pemuda yang tampan itu samar samar Cao Zhen Xin dapat merasakan aura ranah Dewa Agung tingkat empat akhir, yang diartikan sebentar lagi pemuda tersebut naik ketingkat Dewa Agung tingkat lima.
"Sauu..." ucap Cao Zhen Xin kembali terhenti.
"Siapa yang menganggapmu saudaraku? Enak saja..." ucap dingin Pemuda itu namun masih bersikap tenang.
"Huh baiklah... Aku Zhen, aku kesini bersama saudaraku lainnya hanya ingin beristirahat." ucap Cao Zhen Xin yang mulai gusar.
"Ooh beristirahat? Tapi bukankah kamu telah membunuh bawahanku semua? " tanya Pemuda tersebut tenang.
Deeeghh! Jantung Cao Zhen Xin berdetak kencang, namun ia yang pandai menyembunyikan reaksinya segera menghela napas panjang.
"Jika aku tak salah menebak kamu pemilik dunia kecil ini? " tanya Cao Zhen Xin.
"Menurutmu? " ucap Pemuda tersebut masih memainkan rambutnya.
Merasa pemuda tersebut bersikap menyebalkan, Cao Zhen Xin kemudian ingin segera meninggalkan pemuda itu, namun disaat ia akan keluar istana kecil itu, langkahnya segera dihentikan oleh pemuda yang tak lain Dewa Kekacauan yang sesungguhnya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? " tanya dingin Pemuda tersebut mengedarkan aura kekacauan yang sangat dahsyat mencoba menekan pergerakan Cao Zhen Xin.
###
Satu dulu lur aku cape sekaleeeee..