
"Guru aku tidak akan pernah tahu bahwa aku benar benar akan membunuhmu. " ucap lirih Cao Zhen Xin kemudian berlutut didepan makam Bing Yinshi untuk terakhir kalinya.
Setelah itu, Cao Zhen Xin juga melakukan hal yang sama dikedua kuburan She Mei dan She Yang.
"Aku berjanji mulai saat ini aku pasti akan melindungi Luaner dan membuatnya bahagia. Tenanglah dialam sana." ucap Cao Zhen Xin.
Tak lama, Zheng Lian yang menemani Cao Zhen Xin juga memberikan beberapa curhatannya kepada makam Bing Yinshi.
"Zhener mari kita kembali." ucap Bing Yinshi selang beberapa menit.
Cao Zhen Xin mengangguk setelah itu keduanya melesat kearah aula sekte Cahaya Suci. Sesampainya Zheng Lian yang mengenal biksu Wangyan mulai bercengkerama dan saling bertukar cerita. Berbeda dengan Cao Zhen Xin yang murung sambil melamun memikirkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
"Amitabha Zhener kenapa kau melamun." ucap biksu Wangyan.
"Senior aku sungguh tidak pernah tau hal seperti ini akan terjadi dikehidupanku." ucap Cao Zhen Xin jujur.
Biksu Wangyan dan Zheng Lian mengangguk secara bersamaan, namun bagi mereka yang hidup ratusan tahun hal tersebut sudah biasa terjadi.
"Zhener semuanya sudah diatur oleh Yang Kuasa... Jadi kau tidak perlu merasa terus bersalah. " ucap biksu Wangyan yang disetujui oleh Zheng Lian.
Tiba tiba ditengah pembicaraan mereka, dua orang murid biksu Wangyan memasuki aula dengan wajah pucat pasi.
"Guru.." ucap keduanya berlutut didepan biksu Wangyan.
"Amithaba berdirilah. " ucap biksu Wangyan menatap keduanya dengan hangat.
Sedangkan Cao Zhen Xin tak menghiraukan kedatangan kedua murid tersebut, ia masih melamun dan terus membayangkan kejadian waktu lalu.
"Guru... Apa yang saat ini guru khawatirkan akhirnya terjadi juga." ucap salah satu murid tersebut.
Biksu Wangyan mendengar hal tersebut sedikit terkejut. Namun karena ia pandai dalam menyembunyikan raut wajahnya terlihat santai.
"Dunia Asura telah terbuka..." ucap biksu Wangyan.
"Be-benar guru... Seorang kakek tua berjanggut putih lah yang membuka segel pengunci Dunia Asura. " ucap keduanya.
Cao Zhen Xin yang melamun mendengar hal tersebut seketika menjadi penasaran. Namun ia masih diam dan mengalihkan pendengarannya untuk mendengarkan biksu Wangyan serta muridnya yang sedang berbincang.
"Akhirnya kau kembali lagi bangsa Asura... Namun sepertinya kekuatanmu sudah tidak seperti dulu lagi. " ucap biksu Wangyan sedikit gelisah.
Zheng Lian terdiam ia juga sama halnya terkejut seperti biksu Wangyan, namun ia yang pandai menyembunyikan raut wajahnya. Dan kini wajahnya terlihat biasa saja. Namun dengan jelas hatinya sangat gelisah.
"Senior..." ucap Cao Zhen Xin yang heran dapat membaca pikiran keduanya.
Zheng Lian dan biksu Wangyan menatap Cao Zhen Xin dengan leekat.
"Sepertinya guru dan senior sangat gelisah... Memang apa masalahnya? " tanya Cao Zhen Xin.
Zheng Lian serta Biksu Wangyan hanya bisa menghela napas. Kemudian keduanya saling bertatap tatapan.
"Ini hal yang sangat rumit Zhener... Karena ras mereka layaknya seperti para iblis yang kejam dan tak berperi kemanusiaan. " ucap Zheng Lian.
"Amithaba... Bangsa Asura adalah ras yang menantang langit, meskipun mereka Kultivator, mereka menggunakan cara yang tak lazim dalam menaikan ranah kultivasi mereka. Aku, Zheng Lian, Bing Yinshi, serta ketiga pertapa lainnya yang telah tewas saat pertempuran mengerikan tersebut akhirnya dapat menyegel Dunia tersebut..." ucap biksu Wangyan terus menjelaskan.
"Setidaknya kita memiliki waktu satu tahun untuk memeranginya... Bagaimana pun mereka pastinya ingin membalaskan dendam dan ingin mengetahui kekuatan yang kita miliki sebelum mereka bertindak." ucap Zheng Lian.
Cao Zhen Xin terdiam, namun tiba tiba She Luan memasuki aula sekte dan berlari kearah Cao Zhen Xin. Setelah itu She Luan memeluk erat Cao Zhen Xin.
"Luaner... Bagaimana kabarmu." ucap lemah Cao Zhen Xin membalas pelukan She Luan.
"Gege bisakah aku mengunjungi makam kakak serta pamanku." ucap She Luan yang belum mengunjungi makam kakak dan pamannya.
"Tentu..." ucap singkat Cao Zhen Xin melepaskan pelukan She Luan dan menatap biksu Wangyan dan Zheng Lian.
"Senior.... Guru maaf sepertinya mengenai Dunia Asura bisa kita bicarakan nanti lagi. " ucap Cao Zhen Xin.
Zheng Lian dan biksu Wangyan yang mengerti kemudian mengangguk membiarkan keduanya mengunjungi makam She Mei dan She Yang.
Swuuuush! Cao Zhen Xin dan She Luan bergandengan tangan, setelah itu keduanya menghilang lalu muncul didepan makam She Mei dan She Yang.
"Luaner... " ucap Cao Zhen Xin yang tiba tiba melihat She Luan menangis didepan makam She Mei.
"Kakak... Maafkkan aku yang tak bisa menolongmu." ucap She Luan pasrah.
She Luan terus memberikan isi yang ada dihatinya didepan makam She Mei. Tidak ada senyuman di bibirnya sama sekali, yang ada hanya air mata mengalir kearah pipi lalu terjatuh diatas tanah subur pemakaman tersebut.
Cao Zhen Xin terus membiarkan She Luan berkabung, karena ia jelas tahu She Luan lebih merasa kehilangan dari pada dirinya sendiri. Selang beberapa menit She Luan mencurahkan semua isi hatinya. She Luan berdiri dan menatap Cao Zhen Xin dengan lekat.
"Gege bisa kau ceritakan mengenai kakak dan pamanku." ucap She Luan kemudian sambil melirik makam Bing Yinshi. Tentu ia heran kenapa guru Cao Zhen Xin ikut dimakamkan.
Cao Zhen Xin menjelaskan semuanya dengan terperinci. Bahkan ia memberikan rahasia mengenai asal usulnya, siapa dirinya.
"Ge-g...." ucap She Luan kemudian menjauhi Cao Zhen Xin.
Melihat sikap She Luan, Cao Zhen Xin seketika terdiam.
"Luaner kenapa kau menjauh..." ucap Cao Zhen Xin kebingungan.
"A-aku benar benar tak pantas bersanding denganmu." ucap She Luan menahan air matanya agar tidak kembali menetes.
Seketika Cao Zhen Xin menghilang lalu memeluk dan langsung mencium bibir lembut She Luan.
"Ge..." ucap She Luan yang ingin memberontak namun tindakannya dihentikan oleh Cao Zhen Xin.
Selang beberapa detik berciuman, Cao Zhen Xin melepaskan bibirnya dan menatap She Luan dengan hangat.
"Percayalah aku tidak perduli mengenai statusku... Bahkan kedua orang tuaku sepertinya menginginkanmu tinggal dialam Dewa sana... Namun sepertinya saat ini aku benar benar belum bisa membawamu menemui kedua orang tuaku." ucap Cao Zhen Xin.
She Luan yang sempat wajahnya memerah terdiam sejenak.
"Gege apakah kamu memiliki tugas? " tanya She Luan.
"Benar... " ucap Cao Zhen Xin menjelaskan panjang lebar tanpa ada satupun rahasia yang kini ia tutup tutupi lagi. Karena perbincangan mereka terasa lama, dan tentunya mereka berada di pemakaman membuat Cao Zhen Xin mengajak She Luan untuk segera mencari tempat yang cocok untuk melanjutkan perbincangan mereka.