
Keesokan harinya jam 10 pagi, Edward menjemput Kanaya dan putranya untuk melakukan Fitting Baju pengantin di Miracle Butik. Dengan santai mereka keluar dari mobil Edward dan berjalan menuju Butik. Di depan pintu manajer butik telan menunggu mereka.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya, Tuan muda,"ucap Manajer tersebut seraya menunduk hormat.
"Selamat pagi,"ucap Kanaya dan Gerald, sementara itu Edward hanya melirik manajer tersebut tanpa menjawab sapaannya.
"Silahkan masuk,"ucap Manajer tersebut seraya mempersilahkan Kanaya dan Edward serta Gerald masuk ke dalam butik. Kemudian mereka memasuki butik tersebut, sesampainya di dalam butik, mereka menuju ruangan manajer, sesampainya di ruangan Manajer. Edward dan dan Kanaya serta Gerald dipersilahkan duduk, kemudian Manajer berkata
"Ini gaun pengantinnya,"ucap Manajer seraya memperlihatkan gaun pengantin yang sangat indah pada sebuah boneka manekin, pada Kanaya.
"Perfect,"ucap Kanaya. mendengar perkataan Kanaya, Manajer tersebut hanya tersenyum simpul, lalu berkata lagi.
"Dan yang ini baju tuan Edward,"ucap Manajer seraya memperlihatkan Baju Edward.
"Dan ini untuk tuan Muda,"ucap Manajer itu.
"Silahkan di coba Tuan, Nyonya,"ucap Manajer tersebut. lalu Kanaya dan Edward pun bangkit berdiri, dan menghampiri Boneka Manekin, lalu Edward menatap gaun pengantin Kanaya dan juga Tucxedo miliknya.
"Sayang kamu tahu aja selera aku, tuxedonya sangat bagus, jahitannya juga rapih, apakah ini pas di tubuh ku?"tanya Edward.
"Aku yakin pasti pas, di tubuh mu,"ucap Kanaya.
"Bagaimana kamu tahu?"tanya Edward.
"Aku bisa menebak ukuran baju seseorang hanya dengan sekali pandang,"ucap Kanaya dengan nada santai, lalu berkata lagi.
"Ukuran tubuh Kak Richard tidak jauh berbeda dengan mu, tetapi jika ukurannya kekecilan atau kebesaran, bisa di ubah kembali, karena pada jahitan pakaiannya terdapat kelebihan kain yang sengaja di buat oleh desainnya, agar jika kekecilan bisa diperbesar sedikit,"ucap Kanaya menjelaskan pada Edward.
Mendengarkan perkataan calon istrinya itu, Edward mengerutkan keningnya, menatap Kanaya penuh tanda tanya.
"Benar Tuan yang dikatakan oleh Nona Kanaya,"ucap Manajer itu, melihat tatapan mata Edward pada Kanaya, membuat manajer itu membuka mulutnya.
"Bagaimana kamu bisa mempersiapkan ini tanpa berbicara pada ku?"tanya Edward.
"Hemm, bukankah kamu katakan jika dia minggu ini kau sangat sibuk?"tanya Kanaya. Kemudian teringat saat Kanaya menelponnya dan meminta Edward untuk ke Butik tetapi jawaban Edward saat itu.
"Maaf sayang aku sangat sibuk sekali, aku harus membereskan semua pekerjaan ku, agar saat hari pernikahan kita, aku dapat cuti lama dan kita bisa berbulan madu."
"Apakah kau ingat apa yang kau katakan, jika aku menunggu mu, pakaian pengantin ini tidak akan selesai,"ucap Kanaya seraya mendelikkan matanya pada Edward.
"Maaf sayang,"ucap Edward seraya menatap Kanaya dengan tatapan memohon.
"Ya sudah coba sana,"ucap Kanaya dengan nada tegas.
"Kamu juga Nak, coba baju mu,"ucap Kanaya pada Gerald.
"Oke mam,"ucap Gerald.
"Dimana kami bisa mencoba pakaian ini?"tanya Edward dengan nada dingin pada Manajer butik.
"Di balik pembatas ruangan ini ada sebuah kamar, tuan buka saja pintunya, anda dan putra anda bisa mencoba pakaian di dalam kamar tersebut."ucap Manajer tersebut.
"Ayo nak,"ucap Edward setelah mendengarkan instruksi dari Manajer butik.
Kemudian Edward dan Gerald pun melangkahkan kaki menuju kamar tesebut. sesampainya di depan pintu, Edward membuka pintu kamar yang di maksud manajer itu, Lalu Edward dan Gerald memasuki kamar, mata Edward memandang sekeliling kamar tersebut. Kamar yang di desain minimalis, hanya ada sebuah tempat tidur berukuran Kecil, TV berukuran sedang, Kulkas mini, lemari kecil, Cermin menempel di dinding, meja dan kursi. kamar yang tidak terlalu besar itu, terlihat nyaman, karena penataannya yang apik dan rapih desainnya yang minimalis, membuat kamar tersebut terlihat luas.
"Ini bukan seperti ruangan untuk mencoba pakaian, tetapi persis seperti sebuah kamar."ucap Edward dalam benaknya.
"Eh iya, Papi coba dulu ya,"ucap Edward terkejut mendengar perkataan Putranya. Lalu di pun mencoba Tucxedo dan juga celananya.
"Sangat nyaman dipakai dan sangat pas di tubuh ku,"ucapnya lalu mematut dirinya di depan cermin.
"Gimana Papi ganteng kan?"tanya Edward, seraya bergaya bak peragawan di catwalk.
"Mantap, keren, ganteng, kenapa Papi gak jadi model Mami aja,"tanya Gerald. Mendengar pertanyaan putranya Edward mengerutkan keningnya dan bertanya.
"Maksud kamu apa? jadi model Mami? kamu ini ada-ada aja,"ucap Edward.
"Hem,"ucap Gerald seraya menggendikkan bahunya tak perduli, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar tesebut, menghampiri maminya diikuti oleh Edward.
"Mam..!"seru Gerald.
"Kami ganteng kan,"ucap Edward.
"Pake banget,"ucap Kanaya seraya tersenyum puas menatap Edward dan Gerald memakai Tucxedo yang sama hanya beda ukuran saja.
"Sekarang giliran mami,"ucap Gerald.
"Oke,"ucap Kanaya. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar, diikuti oleh manajer butik. Sesampainya di dalam kamar tersebut Kanaya pun mencoba gaun pengantinnya.
"Astaga Nona Kanaya anda terlihat sangat cantik memakai gaun pengantin ini,"ucap Manajer tersebut menatap Kanaya dengan tatapan penuh dengan kekaguman.
"Gaun yang di desain dengan simpel tetapi elegan, gaun tanpa lengan, menampilkan bahunya yang mulus, dan lehernya yang jenjang, gaun yang menjuntai kebawah tampak mewah di tubuh Kanaya yang ramping, gaun yang di berikan ornamen permata berkilaun menambah kemewahan gaun tersebut. Setelah puas menatap gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya di depan cermin, Kanaya melangkahkan kakinya berjalan keluar menuju ruangan manajer.
Sementara itu Edward yang sedang menerima telpon dari Asistennya, melirik ke arah pintu kamar, lalu kedua matanya terbelalak, seakan tak percaya melihat Kanaya, lalu dia pun menatap Kanaya dari atas kebawah, kemudian Edward mematikan telponnya. kedua matanya terpana, menatap kagum pada kecantikan Kanaya memakai gaun pengantinnya, matanya tak lepas memandang Kanaya dari atas hingga kebawah, seraya berjalan kearah Kanaya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman, matanya tak sedikit pun beralih dari wajah Kanaya.
"Sayang kamu sangat cantik memakai gaun ini,"ucap Edward seraya berdecak kagum, lalu berkata lagi.
"Sepertinya kita tidak perlu mengundang orang-orang, kita menikah cukup di saksikan Papi, mami, Daddy, Mommy,Richard, Cintya dan putra kita saja,"ucap Edward.
"Ehh.., mulai kumat lagi deh,"ucap Kanaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Mami sangat cantik,"ucap Gerald menatap Maminya seraya tersenyum lalu berkata lagi.
"Seperti bidadari di cerita dongeng."
"Kamu juga ganteng,"ucap Kanaya.
"Siapa dulu dong,"ucap Gerald.
"Anak mami,"ucap Gerald lagi.
"Anak Papi juga dong,"ucap Edward.
"Iya Anak Papi dan Mami,"ucap Gerald lalu tertawa, di wajahnya menampak kegembiraan dan kebahagiaan seorang anak yang sebentar lagi akan memiliki keluarga yang utuh, keluarga yang selalu di impikannya.
Lalu Gerald berhenti tertawa dan menatap Mami dan Papinya secara bergantian.
"Pi, Mi, Terima Kasih, sekarang aku telah memiliki keluarga yang lengkap, seperti teman-teman ku yang lain,"ucap Gerald seraya tersenyum menatap kedua orang tuanya.
"Sama-sama sayang,"ucap Kanaya dan Edward lalu mereka menundukkan wajahnya dan mengecup pipi putranya. Gerald pun tertawa seraya memegang kedua wajah orang tuanya, dalam benaknya berkata.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih Mami, Papi, sekarang aku sudah sangat bahagia."