
"Sesampainya di dalam ruang Kantor Bangunan resort, Kanaya duduk di kursi, diikuti oleh Richard dan juga Cintya, sedangkan Jeni hanya berdiri, matanya tak lepas memandang Richard.
"Duduklah Jen, tak perlu kau memandang kakak ku sambil berdiri," ucap Kanaya.
Jeni yang mendengar perkataan bosnya itu wajahnya berseru merah dan menjadi kikuk, Sedangkan Richard hanya menatapnya heran. Jeni pun duduk di kursi bersebelahan dengan Cintya.
"Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar saja
"Takkan sanggup kamu merasakan sakit ini begitu dalam
Nada dering handphone Cintya berbunyi, Cintya pun melihat identitas penelpon dan mengangkatnya.
"Hallo," ucap Cintya.
setelah mendengarkan perkataan si penelpon Cintya pun menutup telpon, lalu mengirim sebuah pesan WhatsApp pada penelpon.
"Kepala proyek sudah ditemukan," ucap Cintya.
"Bagus," ucap Kanaya.
"Bawa dia kehadapan ku sekarang juga," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam. satu jam kemudian kepala proyek bersama dua orang pria memasuki ruangan. Kanaya menatap Tajam Kepala Proyek tersebut, tatapannya mengikuti setiap langkah pria berusia 45 tahun itu, yang menundukkan wajahnya tak berani menatap Kanaya. kemudian dua orang pria yang berada di samping kiri dan kanannya mendudukkan Kepala Proyek itu dengan kasar.
"Jelaskan," ucap Kanaya dingin, mata di balik topengnya itu nyalang menatap Pria yang menunduk ketakutan.
"Maafkan saya nona, semua ini saya lakukan demi anak saya," ucap Kepala proyek tersebut. seraya menengadahkan kepalanya matanya menatap sendu wajah Kanaya.
"Anak saya membutuhkan uang untuk pengobatannya," ucap Kepala proyek mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tetapi Kanya menyelanya.
"Hubungan mu dengan Eden?" tanya Kanaya dingin.
"Tuan Eden menemui saya di sini nona dan mengatakan bahwa, dia yang akan melanjutkan menyuplai bahan bangunan, awalnya saya tidak percaya tetapi dia menyerahkan surat kuasa dari PT. PK, dan akhirnya saya percaya," ucap Kepala proyek.
"Dan satu bulan kemudian anda diancam oleh Si Eden itu, karena anda membutuhkan uang untuk biaya operasi anak anda dengan dana yang cukup besar, sehingga tanpa pikir panjang anda melakukannya," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam.
"Bukankah begitu?" tanya Kanaya, tatapan Matanya tak lepas dari wajah kepala proyek tersebut. Kepala proyek yang mendengar semua perkataan Kanaya terperangah menatap Kanaya seolah tak percaya, bagaimana bos nya ini mengetahui semuanya.
"Iya nona," ucap Kepala proyek tersebut dengan nada sendu kedua matanya berembun.
"Pergilah, dan jangan pernah melakukan tipuan murahan seperti ini lagi," ucap Kanaya dengan tajam. mendengar perkataan Kanaya kepala proyek itu menatap Wajah Kanaya seolah tak percaya, kemudian berkata.
"Nona apakah anda tidak akan menghukum atau memecat saya, saya iklas menerimanya nona," ucap Kepala proyek seraya menundukkan kepalanya.
"Jika aku katakan pergi maka kau pergilah dan jika aku mengatakan jangan mengulanginya maka jangan coba-coba kau mengulanginya jika sekali anda mengulanginya maka saat itulah anda akan merasakan yang dikatakan hukuman dari ku," ucap Kanaya dengan dingin.
"Dan akan aku pastikan hukuman itu adalah hukuman yang akan kau sesali seumur hidup mu. sehingga kau akan segan untuk menghirup udara di pagi hari," ucap Kanaya. matanya menatap tajam kepala proyek itu.
"Terima kasih nona," ucap Kepala proyek kemudian bangkit dari kursinya dan duduk bersimpuh seraya menundukkan kepalanya dan berkata lagi.
"Terima kasih nona," ucap kepala proyek, seraya meneteskan air matanya, dia tak menyangka akan mendapatkan maaf semudah itu, padahal dia sudah pasrah, dan akan menerima hukuman apapun, walaupun dia masih membutuhkan pekerjaan ini, untuk menghidupi keluarganya dan juga pengobatan putrinya yang memiliki penyakit jantung bawaan.
"Bangunlah dan keluar lah dari ruangan ini," ucap Kanaya. kemudian kepala proyek tersebut bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, kemudian berlalu meninggalkan Kanaya dan yang lain dalam ruangan tersebut.
"Dan jangan membuatnya bisa bernafas dengan bebas," ucap Kanaya lagi.
"Sip," ucap Cintya seraya mengacungkan jempolnya pada Kanaya.
"Setelah pembayaran uang atas tanah penduduk, aku ingin mendengar kabar tentang Si Eden Kusuma itu," ucap Kanaya seraya menyeringai. Richard dan Jeni yang melihat seringai di bibir Kanaya, bergidik ngeri.
"Apakah dia benar adikku? masa lalu mu yang pahit telah membuat mu menjadi wanita yang dingin dan kejam," ucap Richard dalam hatinya.
"Sepak terjangnya mirip dengan ku dan Daddy, dan jika tidak salah terka, orang itu akan gulung tikar," ucapnya lagi dalam hatinya.
"Entah apa lagi yang kamu maksud dengan trik licik itu Nay?" ucap Richard lagi dalam hatinya seraya menatap wajah adiknya. Dan berkata lagi.
"Jika seperti ini, dia bukan seperti Kanaya Adik ku, dan aku yakin sebentar lagi akan ada kejutan dari mu lagi Nay," kemudian Richard pun menggelengkan kepalanya mencoba menepis semua yang ada di pikiran dan benaknya mengenai adiknya.
Keesokan paginya, tepat jam 10 pagi Cintya dan Jeni sedang menyelesaikan pembayaran tanah penduduk, sedangkan Kanaya dan Richard berkeliling meninjau lokasi pembangunan Resort. Setelah semuanya selesai mereka pun kembali ke Jakarta.
Menjelang malam, Kanaya dan Richard sampai di mansion kedua orang tuanya.
"Gimana urusannya Nay?" tanya Daddy Ded.
"Beres Dad," ucap Kanaya.
"Gerald kemana Dad?" tanya Kanaya.
"Ada di kamarnya, dari tadi gak turun-turun," ucap Daddy Ded.
"Gak biasanya," ucap Kanaya kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar putranya, sesampainya di depan pintu kamar Gerald, Kanaya pun membuka pintu tersebut dan memasukinya, terlihatlah Gerald yang sedang duduk disofa, sambil melamun.
"Kok ngelamun sih nak?" tanya Kanaya.
"Eh..., mami udah pulang, ngagetin aja," ucap Gerald.
"Kamu aja yang ngelamun terus, mikirin apa sih nak?" tanya Kanaya.
"Gak mikirin apa-apa kok mam," ucap Gerald. seraya menatap wajah ibunya.
"Mami cape kan? mending mami istirahat aja," ucap Gerald. Kanaya yang mendengar perkataan putranya menatap wajah Gerald dengan penuh selidik.
"Sepertinya Gerald menyembunyikan sesuatu," ucap Kanaya dalam hatinya.
"Ya udah mami istirahat dulu ya," ucap Kanaya seraya mengecup kening putranya dan berlalu dari kamar Gerald, menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya Kanaya pun duduk diatas kasur king size miliknya, dalam pikirannya di penuhi dengan tanda tanya.
Kemudian Kanaya membuka tas selempangnya dan mengambil handphonenya, lalu menghubungi seseorang.
"Hallo," ucap Si penerima telpon.
"Cari tahu apa yang terjadi pada putra ku hari ini, aku ingin semua informasi itu, paling telat besok pagi," ucap Kanaya, kemudian tanpa menunggu jawaban Kanaya menutup telponnya. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya, dan memejamkan matanya, kepenatan yang dirasakannya hilang, saat kantuk menerpanya dan akhirnya Kanaya pun tertidur pulas. hingga pagi pun datang menyapanya kembali.