Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 39. Kritis


Sementara itu Mommy Lingga yang sedang berada di kamarnya duduk termenung di tepi kasur king Size nya.


"Mengapa sejak pagi aku merasakan sesuatu yang tidak enak begini ya?" tanyanya dalam hati.


Tak lama kemudian handphone nya pun berbunyi, Mommy Lingga mengambil handphonenya yang tergeletak diatas tempat tidur kemudian melihat identitas penelpon, yang ternyata Pak Iwan.


"Hallo Pak," ucap Mommy Lingga.


"Hallo nyonya," ucap Pak Iwan.


"Nyonya lebih baik sekarang ke rumah Sakit Harapan Kasih. saat ini Nona Kanaya ada di ruang ICU," Ucap Pak Iwan.


""Apa..!" seru Mommy Lingga.


"Cepatlah Nyonya, Nona Kanaya korban tabrak lari," ucap Pak Iwan. Kemudian mommy Lingga berlari keluar dari kamarnya menuruni anak tangga lalu berteriak memanggil Bi Wati.


"Biiiii,"


"Bi Wati lari tergopoh-gopoh menghampiri Mommy Lingga.


"Iya nyonya," ucap BI Wati.


"Kita kerumah sakit Bi, panggil sopir, Kanaya di tabrak Bi," ucap Mommy Lingga. Kemudian berlari menuju halam mansion, berteriak memanggil sopir pribadinya. Sopir pribadi Mommy Lingga pun menghampirinya dengan Tergopoh-gopoh.


"Cepat Pak antar saya kerumah sakit sekarang juga," ucapnya, kemudian berlari menuju mobilnya yang berada di garasi. diikuti oleh sopir pribadinya dan juga Bi Wati.


Tak lama kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit Harapan Kasih. Mommy Lingga serta Bi Wati keluar dari mobil dan berlari menuju ruang ICU, Di depan ruang ICU, terlihatlah Pak Iwan yang sedang gelisah berjalan mondar mandir.


"Pak Iwan bagaimana dengan putri saya, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Mommy Lingga, kedua matanya berkaca-kaca, seraya menatap wajah Pak Iwan.


"Nona Kanaya menyebrang jalan lalu, sebuah mobil melaju dengan sangat kencang dan menabrak nona hingga terpental, saya mengejar dan berteriak memanggil nona Kanaya untuk menghindar tetapi, mobil itu sudah terlebih dulu menabraknya, Nona Kanaya kehilangan banyak darah, tetapi untunglah seorang mendonorkan darahnya pada nona Kanaya." ucap pak Iwan.


Mendengar perkataan Pak Iwan Mommy Lingga jatuh terkulai, saat akan jatuh sebuah tangan menahannya sehingga mommy Lingga tak sempat terjatuh ke lantai tembok rumah sakit.


"Mom," seru Richard dan Daddy Ded. Setelah menghubungi Mommy Lingga, Pak Iwan pun menghubungi Daddy Ded yang saat itu sedang bersama Richard Di ruangannya membicarakan Proyek baru mereka. Setelah menerima Telpon Daddy Ded dan Richard bergegas menuju Rumah Sakit.


Richard pun menggendong Mommy Lingga kemudian berlari menuju ruang periksa dokter, diikuti oleh BI Wati.


Tak lama kemudian Dokter pun keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaan Putri saya dok?" tanya Daddy Ded.


"Kondisi putri anda saat ini dalam keadaan kritis tuan, di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka, dan terdapat luka di bagian keningnya."Ucap Dokter.


Tak lama kemudian Suster keluar mendorong brankar tempat tidur rumah sakit, terlihatlah Kanaya yang sedang terbaring tak berdaya, dengan mata terpejam, pakaian yang dipenuhi dengan darah. Daddy Ded yang melihat kondisi putrinya terlihat sangat shock.


"Nak," ucap Daddy Dad mendekat pada Kanaya


"Bangun Nay," ucap Daddy Ded lagi.


"Maaf tuan jangan menghalangi jalan kami. Nona ini harus segera dioperasi," Ucap Suster. kemudian kedua suster dan dokter mendorong Brankar Kanaya, diikuti oleh Daddy Ded dan Pak Iwan serta sopir pribadinya.


"Maaf tuan, lebih baik anda menunggu di luar," ucap Suster. Menahan Daddy Ded di depan pintu operasi yang ingin ikut masuk kedalam. Kemudian Suster pun masuk dan menutup Pintu ruang Operasi. Operasi pun di mulai. Daddy Ded berjalan mondar mandir, dengan penuh kecemasan dan kekuatiran, tak lama kemudian muncullah Richard.


"Dad," ucap Richard.


"Bagaimana keadaan Mommy?" tanya Dady Ded.


"Menurut Dokter Mommy pingsan karena shock," ucap Richard.


"Mommy telah dipindahkan ke kamar, Bi Wati menemaninya." ucap Richard lagi


"Pak Iwan bagaimana kejadiannya?" tanya Richard.


Kemudian Pak Iwan pun menceritakan semua yang terjadi pada Kanaya, Mendengar semua cerita dari Pak Iwan. Richard dan Daddy Ded pun terlihat di penuhi kemarahan, kedua tangannya terkepal, tatapan matanya nyalang, seolah-olah akan menerkam mangsanya.


"Siapapun dia aku bersumpah akan membuat hidupnya sengsara," ucap Richard.


Beberapa jam kemudian lampu operasi pun padam, pertanda operasi telah selesai, tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka, terlihatlah dokter.


"Operasinya berjalan lancar tuan," ucap Dokter


"Terima kasih dok," ucap Daddy Ded dan Richard.


"Sama-sama tuan, tetapi lebih baik ucapan terima kasih itu anda ucap kan pada pendonor darah, seperti yang kita ketahui bahwa putri anda kehilangan banyak darah, jika tidak ada pria itu mungkin saat ini anda tidak bisa melihat putri anda," ucap Dokter.


"Saya mengerti Dok, saya sangat berterima kasih pada orang yang mendonorkan darahnya pada putri ku," ucap Daddy Ded.


"Lalu bagaimana dengan putri ku?" Tanya Daddy Ded.


"Untuk saat ini kami belum bisa mengatakan apapun sampai nona Kanaya melewati masa kritisnya," ucap Dokter.


"Bersabarlah tuan-tuan, perbanyaklah berdoa, semoga nona Kanaya baik-baik saja."ucap Dokter.


"Maaf saya permisi tuan, sebentar lagi nona Kanaya akan dipindahkan ke ruang pemulihan," Ucap Dokter seraya melangkahkan kakinya, berjalan meninggalkan Daddy Ded, Richard dan yang lainnya.


"Dad," seru sebuah suara.


"Mommy," ucap Daddy Ded yang melihat istrinya berjalan di papah oleh Bi Wati.


"Bagaimana keadaan putri ku Dad?" tanya Mommy Lingga.


"Kanaya baik-baik saja mom, lebih baik mommy istirahat saja," ucap Daddy Ded.


"Bi, bawa Mommy kembali ke kamarnya Bi," ucap Richard.


"Tidak, mommy mau lihat Kanaya," ucap Mommy Lingga.


Tak lama kemudian Suster pun keluar.


"Sus bagaimana Putri saya?" tanya Mommy Lingga.


"Putri anda berada di ruang pemulihan nyonya," ucap Suster.


"Apakah saya boleh melihatnya?" tanya Mommy Lingga.


"Maaf nyonya anda tidak bisa masuk, bersabarlah sampai pasien dipindahkan ke kamar rumah sakit," ucap Suster seraya tersenyum menatap wajah mommy Lingga.


kemudian Mommy Lingga pun mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi bersebelahan dengan ruang pemulihan. Air matanya pun menetes di kedua belah pelupuk matanya. Perasaan takut, sedih, kuatir, campur aduk di dalam hatinya.


"Putri ku didalam kesakitan, aku tidak sanggup melihat putri ku seperti ini." ucap Mommy Lingga.


"Dad, apakah Kanaya baik-baik saja?" tanya Mommy Lingga seraya menatap wajah suaminya dengan wajah yang basah oleh air mata.


"Mom, Kanaya baik-baik saja," ucap Daddy Ded.


"Lalu kenapa aku tidak bisa melihatnya Dad?" tanya Mommy Lingga, seraya terisak. Daddy Ded menghampiri Mommy Lingga kemudian memeluknya. Mommy Lingga semakin terisak. satu jam kemudian Dokter keluar dari pintu ruang pemulihan.


"Bagaimana Dok?" tanya Daddy Ded.


"Sebentar lagi kami akan memindahkan putri anda," ucap Dokter.


"Bagaimana dengan kondisi putri saya dok?" tanya Mommy Lingga dengan sendu.


"Saya belum bisa mengatakan apapun nona, sampai putri anda melewati masa kritisnya." ucap Dokter.


Beberapa menit kemudian dua orang suster keluar dari ruang pemulihan seraya mendorong brankar tempat tidur rumah sakit.


"Nay," ucap Mommy Lingga.


"Bangun nak, ini mommy," ucap Mommy Lingga seraya terisak menatap sekujur tubuh putrinya lalu menatap keningnya yang diperban.


"Nay, buka mata mu nak," ucap Mommy Lingga seraya tersedu.


"Maaf nyonya harap tenang, Kami harus membawa pasien segera," ucap dokter. Daddy merengkuh Mommy Lingga dan memeluknya.


"Tenang Mom, jangan seperti ini, biarkan dokter dan suster membawa putri kita ke kamarnya agar bisa beristirahat," ucap Daddy Ded. kemudian mereka pun mengikuti dokter dan suster yang mendorong brankar tempat tidur Kanaya.