Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 16. Dibalik Kisah Satu Malam Bersama Kanaya


Sementara itu di dalam mobil, Kanaya menatap putranya.


"Apakah ada yang perlu mami ketahui?" tany Kanaya.


"Aku mengetahuinya dari Kalian," ucap Gerald santai.


"Gerald," ucap Kanaya.


"Ok mom," ucap Gerald kemudian matanya menerawang teringat kejadian saat dia bersekolah di Perancis dulu. saat dimana dia dihina oleh seorang temannya, karena tak memiliki seorang ayah. dengan perasaan marah dan kecewa Gerald pulang ke mansion ibunya dan menggeledah kamar ibunya hingga dia menemukan sebuah identitas KTP pria bernama Edward Kusuma dan dengan otaknya yang pintar dia berhasil tahu siapa pria tersebut dan saat kembali ke Jakarta dia pun selalu menguping pembicaraan


maminya, Opa dan Omanya serta uncle nya. dari situlah Gerald yakin bahwa pria itu adalah Papi kandungnya hanya saja dia tak berani bertanya kepada maminya, karena Gerald yakin jika dia bertanya maka maminya akan sangat terluka dan menangis lagi seperti malam-malam sebelumnya, saat dalam tidurnya Gerald menyaksikan maminya termenung menatapnya dan menangis. maminya tak mengetahuinya jika Gerald hanya berpura-pura tertidur.


Tak jarang juga Gerald menemukan maminya duduk melamun tampak kesedihan dalam wajahnya, meneteskan air matanya, saat maminya menelpon seseorang tanpa bicara sedikit pun pada orang yang ditelponnya hanya menutup mulutnya dan menangis terisak, kini Gerald telah mengetahuinya bahwa yang di hubungi oleh maminya adalah Omanya dan Opanya, maminya menahan kerinduannya, tak ingin menemui kedua orang tuanya hanya karena ingin menyelamatkan nama baik keluarganya, kini Gerald sudah mengetahui semuanya. walau terkadang Gerald merindukan kehadiran Papinya, tetapi saat Gerald mengetahui bahwa Gerald adalah anak yang tak diinginkan oleh pria itu saat itulah Gerald membenci pria itu.


"Bisakah aku menjawab pertanyaan mami saat sampai di mansion?" tanya Gerald.


mendengar perkataan.putranya Kanaya mengeryitkan keningnya sedangkan Cintya yang fokus menyetir melirik Gerald yang duduk di belakang, melalui kaca yang ada di mobil Kanaya.


"Cin, kau berangkatlah duluan ke resort, aku menyusul," ucap Kanaya pada Cintya.


"Oke Nay," ucap Cintya.


Tak lama kemudian Mobil pun sampai di mansion keluarga Bimantara dengan langkah santai Gerald keluar dari mobil itu dan memasuki mansion begitu pun dengan Kanaya dan Cintya. Sesampainya di ruang keluarga Daddy Ded dan juga mommy Lingga mengeryitkan keningnya melihat Gerald pulang bersama dengan Kanaya dan juga Cintya.


"Kalian pulang bersamaan? dan Gerald kenapa pulangnya cepat sekali?" tanya mommy Lingga.


"Ada insiden mom," ucap Kanaya.


"Insiden?" tanya Daddy Ded.


Kemudian Kanaya menceritakan kejadian di sekolah Gerald.


"Kurang ajar, berani-beraninya dia melakukan itu pada cucu ku," ucap Mommy Lingga dengan penuh amarah.


"Tenanglah mom, lagi pula aku malas berurusan dengan ibu dan anak yang tidak penting seperti mereka," ucap Kanaya santai.


"Gerald," ucapnya lagi pada putranya.


"Ya mam, i know," ucap Gerald.


"Maaf mam, aku sengaja menguping pembicaraan mami, Opa dan Oma, ," ucap Gerald seraya menundukkan kepalanya.


"Apakah mami pernah mengajarkan mu untuk menguping pembicaraan orang tua?" tanya Kanaya.


"Je suis désolé maman, mais je suis un grand garçon et je sais ce qui se passe," ( maafkan aku mami, tapi aku sudah besar dan aku tahu yang terjadi ) Ucap Gerald menatap sendu maminya.


"Que sais-tu fils?" ( Apa yang kau ketahui nak? ) tanya Kanaya seraya menatap Wajah putranya. Daddy Ded dan mommy Lingga menatap putri dan cucunya dengan penuh tanda tanya, kemudian menoleh pada Cintya dan menatapnya, Cintya hanya menatap kedua orang tua Kanaya dan menggelengkan kepalanya. tiba-tiba terdengarlah suara Gerald berkata


"Aku tahu siapa pria itu mam," ucap Gerald kemudian menceritakan semua yang dialami saat di Perancis dan temannya mengejeknya, serta bagaimana dia mengetahui Siapa Edward Kusuma, setelah selesai berbicara Gerald pun menatap maminya sendu, dia tahu dia tak bisa lagi menyembunyikan semuanya dari maminya karena cepat atau lambat maminya akan mengetahuinya.


"Mengapa tidak menceritakan pada mami?" tanya Kanaya hatinya merasa trenyuh dan sedih mendengar yang terjadi pada putranya.


"Aku tidak ingin membuat mami bertambah sedih," ucap Gerald seraya menundukkan kepalanya, air matanya menetes mengingat setiap kesedihan maminya yang tak sengaja di lihatnya dan bagaimana maminya menangis karena perbuatan Edward.


"Sayang," ucap Kanaya kemudian merengkuh tubuh putranya dan memeluknya dengan erat.


"Aku sangat membencinya mam, dan aku tak ingin melihatnya lagi mam," ucap Gerald dengan nada sedih, tangisnya di tahannya dalam hati agar maminya tak mengetahuinya. sedangkan Mommy Lingga meneteskan air mata mendengar perkataan cucunya, Daddy Ded mengepalkan tangannya penuh amarah, Cintya pun menghela nafas panjang dan merasakan kesedihan seorang anak berusia 9 tahun harus merasakan semua itu hanya karena perbuatan seorang pria yang tak bertanggungjawab. Tak lama kemudian Daddy Ded bangkit berdiri kemudian berjalan meninggalkan mereka , menuju ruang kerjanya dan menghubungi seseorang.


"Bonjour ( Hallo) ," ucap si penerima telpon.


"Je veux que vous découvriez qui a insulté ma petite-fille à l'école internationale française, et vous savez quoi faire, n'est-ce pas ( aku ingin kau mencari tahu siapa yang menghina cucu ku di sekolah internasional Perancis, kau tahu apa yang harus kau lakukan buka )," Ucap Daddy Ded, seraya menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari si penerima telpon. kemudian Daddy Ded melangkahkan kakinya kembali menuju Ruang Keluarga, dan duduk kembali di sofa, matanya tak lepas memandang Putrinya dan cucunya serta istrinya yang sedang memeluk Gerald.


"Berjanjilah pada mami, apapun yang terjadi kau akan menceritakannya pada mami," ucap Kanaya seraya menepuk punggung Gerald.


"Ok, mam aku berjanji," Ucap Gerald.


"Sekarang naiklah keatas dan gantilah baju mu," Ucap Kanaya seraya melepaskan pelukannya dan menatap putranya dengan senyum meneduhkan.


"Ayo, Oma antar," ucap Mommy Lingga seraya menarik tangan cucunya dengan lembut, menaiki anak tangga mansion menuju kamar Gerald.


"Cin, cari tahu siapa yang menghina putra ku di sekolahnya dulu, dan cari tahu siapa pemilik sekolah tempat Gerald sekolah saat ini," Ucap Kanaya.


"Oke, Nay.


"Tidak perlu, Daddy sudah menyuruh orang Daddy untuk mencari tahu," ucap Daddy Ded.


"Dan apakah ada yang terlewatkan?" tanya Daddy Ded seraya menatap Kanaya dengan tatapan penuh selidik. Dina yang sangat mengenal tatapan Daddy nya itu lalu menjawab.


"Kami bertemu dengan bajingan itu disekolah Gerald," ucap Kanaya kemudian menceritakan Yang terjadi dan apa yang dikatakan Gerald pada Edward.


Daddy Ded hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar semua perkataan Kanaya.


"Apakah yang menimpa si bajingan itu belum cukup juga?" baiklah aku akan memberikan sedikit lagi sentilan, akan ku buat kalian kelimpungan kali ini, dan perlahan kalian akan merasakan bagaimana hidup diujung tanduk dengan memiliki sedikit harta, sebelum kalian Luntang lantung dijalanan," Ucap Daddy Ded seraya menyeringai licik.


"Hari ini batalkan untuk ke resort, anak ku lebih penting daripada Resort," ucap Kanaya.


"Jangan kuatirkan itu Nay, aku sudah menghubungi Jeni untuk mewakili kita," ucap Cintya.


"Good Job," ucap Kanaya. Kemudian menatap Daddy nya dan berkata.


"Jangan coba-coba Dad mereka bagian ku," ucap Kanaya seraya menatap tajam Daddy nya. Daddy Ded yang mendengar perkataan Kanaya hanya menggedikkan bahunya dan berdiri lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar cucu kesayangannya. dalam hatinya berkata.


"Walaupun kau melarang Daddy princess, tetapi Daddy akan tetap melakukannya. Tanpa Kanaya ketahui Daddy nya telah melakukan sesuatu yang tak terduga dengan menggerogoti satu persatu klien Kusuma Group. Kusuma Group sekarang tampak gagah diluar tetapi di dalam perusahaan tersebut telah terdapat banyak lobang sehingga jika terus menerus terjadi Kusuma Group akan tinggal nama saja, untunglah Putra Kusuma memiliki sebuah perusahaan yang tak di ketahui oleh Siapapun hanya dia dan istrinya lah yang mengetahuinya yang di kelola oleh orang kepercayaannya.


Sementara itu Edward yang tak berhasil mencari mobil Kanaya, melajukan mobilnya menuju Perusahaan KUSUMA Group, sesampainya di perusahaan Edward pun memarkirkan mobilnya. kemudian membuka pintu mobil dan keluar dengan langkah tegas dan tergesa dia pun memasuki perusahaan Papinya. semua mata wanita memandang genit pada Edward, mengagumi ketampanannya, Edward yang menyadari itu hanya cuek dengan wajah dinginnya melangkahkan kakinya menuju lift khusus pemilik perusahaan tak lama kemudian pintu lift pun terbuka, Edward pun memasukinya, dalam lift pikirannya selalu terbayang seorang anak laki-laki yang menatapnya penuh kebencian dan mengusirnya dengan nada dingin, wajahnya sangat mirip saat dia masih kecil. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Edward pun keluar dari lift kemudian berjalan menuju ruangan Papinya. Tanpa mengetuk pintu Edward masuk ke dalam ruangan Papanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Ada apa kau kesini," ucap Putra Kusuma Papi Edward dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkasnya yang ada dihadapannya.


"Ceritakan pada ku, apa yang Papi ketahui? dan kenapa Papi tiba-tiba menelpon ku dan mengajak ku kesekolah itu? bukankah pengelolaan sekolah itu sudah Papi ambil alih dari ku?" tanya Edward.


Putra Kusuma hanya menatap dingin Putranya itu, dan mengalihkan kembali pandangannya pada berkas laporan yang ada dihadapannya.


"Perusahaan merugi dan juga banyak klien yang memutuskan hubungan kerja dengan Kusuma Group hanya karena perbuatan mu yang bejad itu," ucap Papi Edward dengan dingin.


"Dan ini akan berlanjut terus, Bahkan perusahaan mu diperancis terancam bangkrut bukan?" tanya Papi Edward seraya menatap putranya dengan sinis.


"Dan aku berani jamin jika seperti ini terus maka kita akan menjadi gelandangan di jalanan hanya karena perbuatan mu itu Edward," ucap Papi Edward lagi.


"Aku tidak tahu jika wanita itu putri dari Deddy Bmantara dan Lingga Bimantara, hubungan pertemanan ku pun putus dengan Richard Bimantara," ucap Edward seraya menghela nafas panjang.


"Kau bilang kau tidak tahu jika dia putri Bimantara, jadi jika dia bukan putri dari Bimantara kau juga akan melakukannya hah?" Ucap Papi Edward seraya bangkit berdiri melangkah menghampiri Edward dn menghajarnya dengan penuh amarah, sehingga Edward jatuh terduduk tanpa sedikitpun melawan Papinya yang sedang murka, setelah puas memukuli Edward, dengan geram Papi Edward berkacak pinggang menatap putranya tajam.


"Aku tidak pernah mendidik mu untuk merusak wanita Edwarddddd, kau lahir dari seorang wanita, Mami mu adalah wanita Edwarddd bukan batu," ucap Papi Edward penuh amarah, nafasnya tersengal matanya menatap tajam Putra semata wayangnya itu.


"Apakah karena kau memiliki segalanya sehingga kau memperlakukan wanita seenak mu?" tanya Papi Edward


"Kau tahu Edward apapun yang kau miliki saat ini, kau tidak akan bisa keluar dari setiap permasalahan mu yang sebentar lagi akan kau hadapi," ucap Papi Edward lagi


"Katakan pada ku apa yang akan kau lakukan jika apa yang menimpa Kanaya menimpa putri mu atau adik mu, hahhhh...,jawab Edward Kusuma," ucap Papi Edward dengan dingin dan tajam matanya nyalang menatap Edward.


"Aku akan membunuh dan menghancurkannya," ucap Edward tanpa berpikir panjang, kemudian Edward pun terdiam memikirkan sendiri perkataanya itu, perkataannya seolah-olah mengenai dirinya sendiri.


"Maka dari itu, kau tunggulah kematian dan kebangkrutan mu, karena mereka telah melakukannya sekarang dan aku tidak akan pernah membantu mu, aku malu memiliki putra seperti mu," ucap Papi Edward, Seraya mendudukan tubuhnya di sofa Yang ada disampingnya.


"Aku berharap besar pada mu, untuk menjadi penerus Kusuma Group tetapi dalam sekejap kau menghancurkannya, kau ingat siapa keluarga Bimantara, tak satu pun yang dapat membantah mereka, kau tahu apa yang kita alami saat ini sedikit demi sedikit akan hancur, walaupun mereka mampu melakukannya dalam sekejap, tetapi mereka mencicilnya karena mereka ingin melihat kau sengsara dengan secara perlahan," ucap Papi Edward kemudian berdiri mengambil sebuah map yang berada diatas meja kerjanya dan melemparkannya keatas meja Tepat dihadapan Edward.


"Perusahaan kita di Belanda dinyatakan pailit, seluruh investor menarik dana dari perusahaan kita, sekarang kau puas hah?" tanya Edward.


"Bagaimana bisa?" tanya Edward.


"Bisa karena kau menghadapi orang yang salah," ucap Papi Edward kemudian mengambil sebuah map lagi dan melemparkannya pada Edward tepat mengenai wajah Edward sehingga berkas tersebut tercecer dilantai kemudian Edward pun mengambil satu persatu berkas tersebut dan membacanya.


"GB Group?" tanya Edward.


"Pemiliknya sangat misterius tak ada satu pun yang mengetahuinya, menurut informasi pemilik perusahaan tersebut selalu memakai topeng, dan Papi curiga ini ada hubungannya dengan BIMANTARA Group," ucap Papi Edward.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Edward


"Apa yang bisa kau lakukan hahh.., apakah kau ingin mencari wanita bertopeng itu dan memaksanya untuk tidur dengan mu?" tanya Papi Edward dengan ketus.


"Cukup Pi, Papi jangan menghina ku terus, aku mengaku, aku bersalah malam itu tetapi sebenarnya aku menyesalinya dan asal Papi ketahui aku tidak sepenuhnya bersalah," ucap Edward dengan dingin.


"Kau bilang tidak sepenuhnya bersalah? apakah kau tidak salah dengan ucapan mu itu Edwarddddd," teriak Papinya.


"Benar aku tidak sepenuhnya bersalah malam itu aku sedang menemui klien kita, lalu entah bagaimana minuman ku ditaruh obat perangsang, dan saat aku sadar aku telah menyetubuhi seorang gadis, aku mencari tahu semuanya dan yang menaruh obat itu adalah anak gadis dari klien kita," ucap Edward.


kemudian Ingatannya pun melayang.


saat dia menemui klien Kusuma Group di sebuah lounge restaurant yang terdapat di hotel bintang lima bersama dengan Asistennya. saat kliennya mengenalkan anak gadisnya padanya, tak sedikit pun rasa curiga, kemudian mereka pun berbincang santai setelah membicarakan bisnis mereka kemudian anak gadis dari kliennya tersebut permisi ke toilet dan saat kembali, dia bersama seorang waitress yang mengantarkan minuman, tanpa ada curiga sedikit pun Edward menerima minuman dari tangan si anak gadis kliennya itu, dan setelah meminumnya dia pun merasakan tubuhnya sangat panas, dan bergairah, kemudian dia pun meminta asistennya untuk keluar dari lounge tersebut dan memesan kamar karena menurutnya saat itu, dia tak kan mampu pulang ke mansion orang tuanya dalam keadaan tubuhnya yang panas dan bergejolak gairah akan nafsu yang ingin segera di lampiaskan.


Kemudian asistennya pun menuruti perintahnya dan membawanya kesebuah kamar VVIP, Edward menyuruh asistennya memanggil dokter, lalu saat asistennya pergi mencari dokter dengan tergesa Edward masuk kedalam kamar dan membuka pakaiannya dan saat ingin memasuki kamar mandi dalam kamar hotel tersebut, Edward melihat seorang gadis yang terpejam diatas kasur dengan gaun yang tersibak sehingga menimbulkan gairah yang sangat dahsyat akibat obat perangsang tersebut, dan tanpa pikir panjang dia pun menggagahi wanita yang tertidur itu dengan penuh gairah menyalurkan hasrat obat perangsang yang ada dalam tubuhnya, hingga saat pagi dia terbangun dan melihat wanita itu masih tertidur dalam keadaan bingung dia pun menatap sekujur polos wanita yang ada dihadapannya, dan saat wanita itu membuka matanya Edward pun kembali berpura-pura tertidur telungkup, masih teringat apa yang dikatakan wanita itu, dan juga tangisannya, juga caci maki yang terpaksa dilakukannya mengingat saat itu dia masih memiliki kekasih dan saat wanita itu keluar dari kamar dengan menangis tersedu Edward pun terkejut melihat noda darah yang ada di sprei putih penutup kasur.


Kemudian saat wanita itu menemuinya dengan terpaksa dia menghina wanita itu,agar wanita itu pergi dari hidupnya, dan tak menuntut pertanggungjawabannya. saat itu dia melakukannya karena dia sangat mencintai kekasihnya, dan saat dibandara pun Edward terpaksa melakukan itu lagi agar wanita itu pergi secepatnya. kemudian Edward pun mengakhiri semua ceritanya itu dengan pandangan sendu pada Papinya.


Papinya yang mendengar semua cerita Edward bukannya simpati tetapi malah memakinya.


"Kau memang biadab Edward Kusuma, aku tidak menyangka kau sepengecut itu," ucap Papi Edward.


"Pergilah kau dari hadapan ku, aku tak ingin melihat mu lagi," ucap Papi Edward setelah mengusir putranya Dia pun berbalik dan berjalan kearah jendela ruangannya dan menatap jalanan kota Jakarta dengan pikiran menerawang. Edward yang melihat Papinya seperti itu lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Papinya sendiri dalam ruangan itu, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Papinya berkata.


"Jangan kembali sebelum kau menyadari kesalahan mu, dan jangan ingatkan aku tentang kekasih mu yang brengsek itu," ucap Putra Kusuma. seraya menghela nafas panjang seraya berkata dalam hatinya.


"Aku harus tega melakukan ini, aku tidak ingin putra ku menjadi bajingan selamanya, dia harus menjadi pria sejati yang memiliki rasa tanggungjawab atas apa yang dilakukannya.