
Keesokan paginya, Kanaya yang telah siap berangkat bekerja, mendatangi kamar putranya. sesampainya di depan pintu kamar Gerald. Kanaya membuka pintunya lalu melangkahkan kakinya memasuki kamar putranya, terlihat Gerald yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya, sedang memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas sekolahnya.
"Nak, udah siap berangkat sekolah?" tanya Kanaya, seraya menatap putranya.
"Iya mam," ucap Gerald seraya membalas tatapan maminya.
"Ayo," ucap Kanaya.
"Dan untuk kali ini, mami yang anter kamu sekolah," ucap Kanaya lagi.
"Aku kan naik sepeda mam," ucap Gerald.
"Kamu bareng sama mami aja naik mobil, mulai saat ini kamu diantar Pak Iwan lagi," ucap Kanaya.
"Tapi mam," ucap Gerald sebelum selesai bicara Kanaya menyelanya.
"Gak ada tapi-tapian," ucap Kanaya dengan nada tegas.
Mommy Lingga yang mendengar pembicaraan putri dan cucunya menghela nafas panjang, seraya melangkah kakinya masuk kedalam kamar Gerald kemudian berkata.
"Biarkan saja Gerald berangkat sekolah menaiki sepedanya Nay," ucap Mommy Lingga menatap wajah cucunya yang menunduk kepalanya.
"Tapi mom," ucap Kanaya.
Mommy Lingga menatap Kanaya dan menggelengkan kepalanya. Kanaya menghela nafas panjang seraya menatap Gerald kemudian berkata.
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati, dan ingat jika ada orang asing atau orang yang belum pernah kamu temui mendekati mu, kamu harus menghindar nak,"
"Iya mam," ucap Gerald seraya mengerutkan keningnya pada maminya, dalam hatinya bertanya-tanya.
"Kenapa mami mengatakan seperti itu?"
Kemudian Gerald mengulurkan tangannya pada mami dan Oma nya, lalu mencium tangan mereka dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju halaman mansion dimana sepedanya berada. Kanaya dan mommy Lingga pun mengikuti Gerald, mengantarkannya sampai di depan pintu mansion.
"Gerald dewasa sebelum waktunya Nay," ucap mommy Lingga pandangan matanya menatap Gerald yang mengayuh sepedanya keluar dari halaman mansion. Terngiang ucapan Gerald saat mami, Opa dan dirinya bertanya, akan merayakan ulang tahunnya dimana 3 bulan yang lalu, Gerald genap berusia 10 tahun. Opa dan Omanya sibuk dengan berbagai rencana untuk cucu semata wayangnya tetapi saat mereka menyiapkan segalanya dengan entengnya berkata.
"Gak usah siapin apapun Oma, Opa, aku tidak tidak ingin ulang tahun ku dirayakan, aku hanya ingin membagikan berbagai sembako dan juga makanan pada panti asuhan, dan juga anak jalanan serta orang yang tidak mampu di perkampungan kumuh, yang masih ada di Jakarta ini," Oma dan Opa nya serta Mami dan pamannya terlonjak kaget saat itu.
Jika anak-anak lain yang terlahir seperti Gerald memiliki segalanya yang diperlakukan bak pangeran di sebuah istana, akan sangat antusias merayakan hari kelahirannya bahkan mereka tak jarang meminta barang-barang mahal pada orang tuanya, tetapi Gerald tidak menginginkan itu semua. dan lebih terlonjak kaget lagi ketika Gerald mengatakan.
"Aku memiliki uang yang ku tabung selama ini, sepertinya cukup untuk membelikan mereka sembako dan juga makanan yang lainnya," mereka yang berada bersama Gerald hanya termenung menatap Gerald dengan tatapan kagum dan juga sedih. kemudian mommy Lingga menatap Kanaya dengan tatapan sendu.
"Kamu berhasil mendidik putra mu, cucu ku. Tetapi kedewasaannya timbul karena merasa tidak ingin membebani kita semua Nay, entah apa yang terlintas dipikirannya, tetapi mami perhatikan terkadang Gerald termenung sendiri di dalam kamarnya atau di taman halaman belakang," ucap Mommy Lingga. ingatannya pun menerawang ketika tanpa sengaja melihat Gerald duduk sendirian tatapan matanya menatap lurus kedepan, termenung entah apa yang dipikirkannya.
"Aku tahu mom, Nay sering bertanya padanya apa yang membuatnya sering termenung dan melamun sendirian, tetapi Gerald hanya mengatakan tidak melamunkan apapun," ucap Kanaya, seraya menghela nafas panjang dan teringat bagaimana Kanaya sering mendapatkan Gerald duduk sendirian, termenung seolah memikirkan suatu masalah yang besar, Gerald tak seceria anak-anak sebayanya, di depan maminya Gerald tertawa dan bercanda tetapi saat tak ada siapapun dia hanya duduk sendirian.
Gerald pun tak memiliki teman akrab seperti anak-anak lainnya. yang berkunjung ke mansionnya atau pergi bermain bersama temannya, atau mengunjungi temannya. Kanaya pernah bertanya padanya tentang teman-temannya di sekolah Gerald hanya berkata.
"Aku malas bermain mom, mereka sangat kekanakan," Kanaya hanya dapat menatap Heran pada putranya itu, Kanaya teringat ketika bertanya pada Wali kelas Gerald tentang perkembangan Gerald di sekolah dan juga tentang pergaulannya di sekolah, saat itu wali kelasnya berkata.
"Gerald sangat pintar, tetapi dia pun tidak pernah bergaul dengan teman-temannya, cenderung menghindari semua temannya, dia hanya memiliki satu teman yang selalu bersamanya."
"Kamu ingat saat kita ke taman dan makan bubur ayam?" tanya Mommy Lingga.
"Iya mam," ucap Kanaya.
"Saat itu Gerald sangat senang bermain bola bersama anak-anak sebayanya, hanya saja itu sesaat, mommy selalu bertanya pada kepala sekolah dan juga wali kelasnya, mereka berkata Gerald sangat tertutup dan terkadang saat anak-anak lain bermain pada jam istirahat dia hanya duduk di bangkunya dan melamun," ucap Mommy Lingga.
"Dan menurut informasi dari orang yang di perintahkan Daddy mu untuk menjaga Gerald. Gerald pernah bertemu dengan seorang wanita seusia mommy dan ternyata wanita itu Adalah Mami dari Edward Kusuma." ucap Mommy Lingga.
"Mami Edward Kusuma?" tanya Kanaya.
"Apakah mommy tidak salah?" tanya Kanaya lagi.
"Tidak, informasi anak buah Daddy mu tidak pernah salah," ucap Mommy Lingga.
"Apa yang mereka inginkan dari putra ku?" tanya Kanaya.
"Belum cukupkah mereka membuat hidup ku dan Gerald merasakan sakit selama ini?" tanya Kanaya lagi.
"Mommy tidak tahu apa tujuan mereka, tetapi lebih baik kamu menemuinya dan bicaralah baik-baik, mami Edward seorang wanita dan mami tahu dia wanita yang baik," ucap Mommy Lingga kemudian menatap wajah Kanaya seraya tersenyum lembut. kemudian berkata lagi.
"Lakukan demi Gerald Nak," ucap Mommy Lingga lagi, seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.
Mendengar perkataan Mommy nya, Kanaya yang masih berdiri di teras mansion diam termenung, dalam pikirannya berkecamuk.
"I'm so lonely broken angel
"i'm so lonely listen to my heart
nada dering ponsel Kanaya berbunyi. Kanaya merogoh tas kerjanya dan mengambil handphonenya. keningnya berkerut melihat identitas Penelpon.
"Hallo," ucap Kanaya.
"Hallo, selamat pagi, apakah nyonya Kanaya bisa datang ke sekolah sekarang?" tanya penelpon yang ternyata wali kelas putranya Gerald.
"Apa yang terjadi dengan putra saya pak?" tanya Kanaya dengan penuh kekuatiran.
"Lebih baik anda ke sekolah sekarang juga Nyonya, kita bisa bicarakan di sekolah," ucap Wali kelas Gerald.
"Baiklah saya segera kesana," ucap Kanya kemudian menutup telponnya.
"Nayyy..," teriak Mommy Lingga menghampiri Kanaya dengan tergopoh.
"Kita harus ke sekolah Gerald sekarang juga," ucap Mommy Lingga.
"Daddy mu menghubungi mommy dan mengatakan bahwa Gerald memukuli temannya," ucap Mommy Lingga.
"Apa..! seru Kanaya.
"Wali kelas Gerald menghubungi ku mom, baru saja dia menyuruh Nay ke sekolah Gerald ternyata ini masalahnya," ucap Kanaya, seraya berlari menuju mobilnya, diikuti oleh Mommy Lingga dengan tergesa Kanaya dan Mommy Lingga membuka pintu mobil dan memasukinya. Kemudian dengan kecepatan tinggi Kanaya melajukan mobilnya. Tak lama kemudian mobil pun sampai di sekolah Gerald. Kanaya pun memasukkan mobilnya kedalam halaman sekolah. Lalu memarkirkannya semua mata memandang mobil sport Lamborgini Anvantando keluaran terbaru milik Kanaya, dengan pandangan kagum.
Kanaya dan Mommy Lingga membuka pintu mobil dan keluar dari mobil tersebut. Para orang tua siswa yang kebetulan berada di sekolah yang menunggu putranya, terkejut kaget melihat Mommy Lingga, siapa yang tidak mengenal Mommy Lingga, istri dari Deddy Bimantara, seorang konglomerat yang memiliki uang yang tak berseri, mereka pun bertanya-tanya siapa wanita cantik yang berada disebelah Mommy Lingga.
Sesampainya di depan pintu ruang kepala sekolah, Mommy Lingga dan juga Kanaya memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi pak kepala sekolah, pak wali kelas," ucap Kanaya.
"Selamat pagi nyonya," ucap Kepala Sekolah dan juga wali kelas Gerald.
"Silahkan duduk," ucap Kepala Sekolah.
Kemudian Kanaya dan Mommy Lingga pun duduk di sofa Yanga ada Diruangan kepala sekolah. Tatapan mata Kanaya dan Mommy Lingga melihat Gerald yang duduk di sofa, seraya menundukkan kepalanya tak berani menatap Maminya dan juga Omanya.
Kemudian Kanaya dan Mommy Lingga pun menoleh ke sebelah sofa yang diduduki oleh seorang anak dan seorang wanita yang menatap bengis Gerald. wajah anak tersebut lebam dan membiru, kemudian Kanaya menatap tajam Gerald.
"Katakan apa yang dilakukan putra ku," ucap Kanaya dingin.
"Kami mendapati Gerald sedang memukuli Budi." ucap Pak kepala sekolah.
"Aku mengenal putra ku dia tidak mungkin memukul seseorang jika orang itu tidak melakukan kesalahan," ucap Kanaya lagi dengan tajam.
"Jadi kamu pikir anak saya yang sudah babak belur ini, yang melakukannya?" tanya Ibu si murid yang dipukuli oleh Gerald.
"Aku tidak mengatakan seperti itu," ucap Kanaya dingin kemudian menatap tajam ibu si anak yang bernama Budi itu.
"Tadi anda mengatakannya," ucap Ibu Budi.
"Saya mengatakan, anak saya tidak akan memukul seseorang jika orang itu tidak melakukan kesalahan," Ucap Kanaya dengan dingin.
"Pahami bahasa Indonesia yang baik nyonya, sebelum anda berbicara," ucap Kanaya dingin.
"Kau," ucap Ibu Budi seraya bangkit berdiri menghampiri Kanaya kemudian mengangkat tangannya ingin menampar wajah Kanaya.
"Jangan pernah anda mengangkat tangan anda pada ku nyonya," ucap Kanaya tersenyum sinis seraya menatap wajah ibu Budi dengan tatapan tajam, dalam kondisi masih duduk di sofa, hanya menegakkan tubuhnya, tangan kanannya menahan tangan kiri Ibu Budi yang ingin menampar nya, kemudian meremasnya dengan keras sehingga Ibu Budi meringis kesakitan.
"Nyonya-nyonya, tolong kalian tenang, ini sekolah bukan arena tinju," ucap Kepala sekolah dengan nada tegas.
"Lebih baik kalian duduk dan kita bicarakan baik-baik," ucapnya lagi.
Mendengar perkataan Pak Kepala Sekolah, Kanaya pun melepaskan cengkraman tangannya. Tatapan matanya tajam menatap mata ibu Budi, seolah ingin merobek wajahnya. kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruang kepala sekolah.
"Gerald apakah mami pernah mengajarkan kamu berbohong nak?" tanya Kanaya pada putranya, tetapi matanya terus menatap ibu Budi yang sedang duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Tidak pernah mam," Jawab Gerald.
"Katakan pada Mami, alasan mu memukul teman mu itu?" tanya Kanaya.
"Dia mengatakan, aku anak haram mam, dan mami perempuan murahan," Jawab Gerald.
Mendengar perkataan Gerald Kanaya dan Mommy Lingga sontak menatap Gerald, matanya berkaca-kaca, lalu berkata lagi.
"Aku tidak perduli dikatakan anak haram tetapi aku tidak pernah mau menerima hinaannya terhadap mami," ucap Gerald seraya menatap mami nya dengan sendu.
"Maafkan Gerald mam, Gerald terpaksa memukul dia," ucap Gerald lagi seraya menunjuk temannya yang dipenuhi lebam biru pada wajahnya, dengan tatapan geram kemudian mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.
"Kamu tidak salah nak, kamu membela diri mu sendiri dan mami mu, dan kau ajar anak mu itu agar tahu bersikap," seru mommy Lingga seraya menunjuk ibu Budi dengan penuh amarah.
"Dan kau tahu saat ini aku ingin sekali menghajar anak mu itu," seru Mommy Lingga seraya bangkit berdiri dari sofa yang di dudukinya.
"Plak
"Plak
Dua buah tamparan mengenai wajah Ibu Budi.
"Tamparan itu untuk anak mu yang tidak tahu diri itu, dan untuk kau yang tidak bisa mendidik anak mu," ucap Mommy Lingga dengan nada dingin dan tajam.
Mendengar perkataan dan tamparan dari Mommy Lingga. Ibu Budi pun bangkit berdiri dengan penuh amarah,kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Mommy Lingga, Kanaya sontak bangun berdiri dari Sofanya dan menepis tangan Ibu Budi, sehingga tangan tersebut tidak sampai mengenai Pipi mulus Mommy Lingga.
"Heii, kau berani mengangkat tangan pada Mommy ku, akan ku patahkan tangan mu," seru Kanaya penuh emosi.
"Jangan Pernah kau melakukan itu," ucap Kanaya lagi seraya menatap tajam Ibu Budi.
"Kau tidak tahu siapa aku, dasar perempuan murahan, pantasan anak mu kasar ternyata dia lahir dari seorang wanita murahan," Ucap Ibu Budi dengan penuh amarah, seraya memegang pipinya yang panas akibat tamparan mommy Lingga.
"Satu kali lagi kau mengucapkan itu maka kau dan seluruh keluarga mu serta anak cucu mu, akan aku hancurkan," ucap Sebuah suara dengan nada dingin dan tajam.
"Aku Daddy nya belum pernah membentaknya dan kau berani membentak dan mengatakan dia perempuan murahan, hahhh...!" ucap suara itu yang ternyata suara Daddy Ded.Ketika Anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawal Gerald secara diam-diam, memberikan informasi bahwa Gerald memukuli temannya, Daddy Ded yang saat itu sedang menghadiri rapat Dewan Direksi di perusahaan, bergegas meninggalkan rapat, dan menuju sekolah Gerald.
Ibu Budi terkejut melihat seorang Daddy Bimantara ada di sekolah itu, dia menatap Daddy Ded seolah tak percaya, kemudian menatap Mommy Lingga, dan alangkah terkejutnya melihat wajah itu, wajah yang selalu menghiasi Majalah Bisnis bersama Suaminya.
"Mampus aku, kenapa aku tidak memperhatikan wajahnya, aku pikir wanita yang ada di hadapan ku ini yang hanya mirip dengan Lingga Bimantara saja. Karena aku berpikir tidak mungkin, si Gerald itu anak atau cucunya," ucap Ibu Budi.
"Pak Kepala Sekolah, saya ingin anda men skorsing anak itu dan jika kejadian ini terulang lagi, keluarkan dia dari sekolah ini," ucap Daddy Ded. seraya menatap tajam Wajah Kepala Sekolah itu.
"Ayo kita pulang," ucap Daddy Ded pada keluarganya.
"Tuan Maaf atas kejadian ini, sebenarnya saya dan Wali kelas Gerald telah bertanya pada Nak Gerald tetapi Gerald hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan kami," Ucap Pak Kepala Sekolah.
"Maka kami memutuskan untuk memanggil kedua orang tua siswa kami," ucapnya lagi.
"Aku tidak mau menerima alasan mu itu," ucap Daddy Ded.
Kemudian menatap Ibu Budi dan juga anaknya yang duduk ketakutan diatas sofa. Kanaya dengan santainya merogoh handphonenya kemudian
"Jepret wajah Ibu Budi pun di foto oleh Kanaya.
"Dan anda harus ingat nyonya, jika anak anda berulah satu kali lagi, tidak hanya berlaku pada Cucu saya, tetapi pada semua murid disini, maka hari itu adalah hari dimana kalian tidak bisa melihat matahari," ucap Daddy Ded.
"Tuan maafkan saya dan anak saya, kami tidak tahu jika Gerald adalah cucu anda," ucap Ibu Budi.
"Cihh, jadi jika Gerald bukan Cucu dari Deddy Bimantara, anak mu bisa melakukannya?" tanya Kanaya dengan nada penuh ejekan.
"Sungguh miris dan menakutkan cara mu mendidik anak mu nyonya," ucap Kanaya. kemudian Kanaya menghampiri Gerald dan berkata.
"Ayo Nak kita pulang," ucap Kanaya dengan lembut seraya menatap Wajah Putranya.
"Oke mam," ucap Gerald seraya menatap wajah maminya dan tersenyum, kemudian tangannya meraih tangan mami nya dan menggenggamnya, Ibu dan anak itu pun keluar dari ruang Kepala sekolah, diikuti oleh Mommy Lingga dan Daddy Ded.
Sebelum melangkahkan kakinya Daddy Ded menatap tajam satu persatu orang-orang yang berada di ruangan kepala sekolah. Tatapan yang penuh ancaman, siapapun yang mengerti arti tatapan itu akan bergidik ngeri karena bagi seorang Bimantara apa yang dikatakannya adalah sebuah janji yang harus ditepati. setelah puas menatap mereka Daddy Ded pun keluar dari ruangan itu menghampiri Putranya yang berdiri disamping maminya tangannya masih menggenggam tangan Mami nya.
"Opa bangga pada mu nak, kamu dengan berani menjaga dan melindungi mami mu,"ucap Daddy Ded seraya menatap cucu kesayangannya, tangannya menepuk pipi Gerald dengan pelan.
"Mami adalah tanggung jawab ku Opa," ucap Gerald.
Daddy Ded, Mommy Lingga dan Juga Kanaya menatap Gerald bersamaan, kemudian Daddy Ded berkata seraya tersenyum.
"Kamu adalah Bimantara sejati," ucap Daddy Ded dengan bangga.
"Ayo sekarang kita pulang." ucap Daddy Ded.
"Bagaimana kalau kita jalan kaki Opa," ucap Gerald.
"Astaga Kau ini senang sekali jalan kaki," ucap Omanya
"Apa kau tidak kasian sama Oma yang sudah tua ini hah..!" ucap Omanya berpura-pura marah.
"Ya udah Oma baik mobil aja, aku sama mami dan Opa jalan kaki," ucap Gerald seraya nyengir pada Omanya. Omanya pun membalas cengiran cucunya kemudian memeluk Gerald dengan erat.
"Ayo kita let's Go...!" ucap Mommy Lingga.
Kanaya yang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya dan juga putranya hanya tersenyum dalam hatinya merasa bangga pada Putranya. tanpa mereka sadari seseorang menatap mereka dari kejauhan dan mengambil beberapa foto mereka.
sementara semua orang di sekolah yang menyaksikan keluarga Bimantara menatap mereka penuh dengan kekaguman, dan dalam hati mereka bertanya-tanya apakah putri yang selalu di sembunyikan oleh Keluarga Bimantara adalah Wanita yang adalah ibu dari Gerald.