
"Kanaya kerja dulu Dad, mom, Kak, Gerald aunty Cintya akan mencarikan sekolah untuk mu, seperti yang kamu inginkan nak," ucap Kanaya.
"No, Daddy yang akan mencari untuk cucu ku," ucap Daddy Ded.
"Baiklah kalau begitu," ucap Kanaya kemudian mengecup pucuk kepala putranya Gerald, lalu seperti kebiasaannya, Kanaya Salim pada kedua orang tuanya dan juga kakaknya. Dengan langkah yang santai Kanaya menuju mobilnya yang telah diparkir cantik halaman mansion keluarganya, sopir pribadinya Pak Iwan telah menantinya di depan mobil sportnya.
"Selamat Pagi nona," ucap Pak Iwan seraya membukakan pintu mobilnya.
"Pak Iwan di rumah saja, Gerald tidak sekolah hari ini, aku akan memindahkan sekolahnya," ucap Kanaya, seraya menengadahkan tangannya meminta kunci mobil kemudian memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang, ditengah perjalanan Kanaya mengambil Handphonenya yang diletakkan di dasboard mobilnya, lalu menelpon Cintya.
"Hallo," ucap Cintya.
"Aku menuju Kusuma Group," ucap Kanaya, seraya menutup telponnya kemudian fokus pada setir dan jalanan ibu kota.
Sesampainya di Kusuma Group Kanaya pun memarkirkan mobilnya, dan keluar dari dalam mobil, semua mata memandangnya dengan tatapan kagum tubuhnya yang dibalut stelan kerja berwarna ungu tua, dipadu padankan dengan kemeja putih, blazer ungu tua membalut tubuhnya yang langsing bak gitar spanyol, celana kulot, sepatu high heels, rambutnya yang panjang diikat satu, wajahnya yang di pulas dengan make up tipis natural menambah kecantikannya.
Dengan langkah tegas tanpa mengindahkan tatapan kagum yang ditujukan padanya, Kanaya memasuki Perusahaan tersebut dan menghampiri Resepsionis.
"Selamat Pagi," Ucap Kanaya dengan dingin pada Resepsionis tatapan matanya tajam mengintimidasi.
"Selamat pagi nona," ucap Resepsionis sedikit gugup melihat tatapan Kanaya.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Putra," ucap Kanaya dengan nada dingin.
"Apakah anda sudah buat janji dengan tuan Kusuma nona?" tanya Resepsionis.
"Belum," ucap Kanaya seraya menatap resepsionis itu dengan dingin dan tatapan mengintimidasi.
"Tapi nona, anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan tuan Kusuma apabila ingin bertemu dengannya beliau orang sibuk," Ucap resepsionis memberanikan diri menatap Kanaya. Kanaya yang mendengar perkataan Resepsionis tersebut mengetuk-ngetuk kan jarinya diatas meja resepsionis seraya menata tajam, mengintimidasi Resepsionis tersebut kemudian matanya melirik name tag yang disematkan di baju sebelah kirinya.
"Nama mu Wati bukan?" tanya Kanaya matanya tak lepas memandang mata resepsionis tersebut.
"Benar nona," ucap Resepsionis seraya menundukkan wajahnya seraya berkata dalam hatinya.
"Astaga selama aku bekerja di perusahaan ini, pertama kalinya aku melihat tatapan seperti itu, membuat mu merasa takut memandangnya."
Tak lama kemudian seorang pria menghampirinya dengan gayanya yang sok playboy menghampiri Kanaya.
"Nona ingin bertemu tuan Kusuma?" tanya pria itu, tatapan matanya tak lepas memandang wajah cantik Kanaya dengan pandangan menggoda, kemudian pria tersebut mendekatkan dirinya pada Kanaya, Kanaya yang menyadari itu hanya melirik pria tersebut dengan ekor matanya.
"Katakan pada Putra Kusuma aku Kanaya ingin bertemu dengannya, atau aku sendiri yang menghubunginya," ucap Kanaya lagi dengan dingin dan pandangan menusuk pada resepsionis.
"Baik nona," ucap Resepsionis.
"Tidak usah aku akan membawanya ke ruangan Tuan Kusuma," ucap Pria tersebut seraya mengedipkan sebelah mata pada resepsionis tersebut. Resepsionis itu pun hanya menundukkan wajahnya, seolah takut pada pria tersebut. mendengar perkataan pria itu, Kanaya pun menolehkan wajahnya dan menaikkan sebelah alisnya.
"Tuan Putra Kusuma paman ku kebetulan aku ingin menemuinya," ucap Pria itu.
"Kenalkan nama ku Eden," ucap Pria itu seraya mengulurkan tangannya, Kanaya hanya melirik pria itu, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu lift khusus CEO.
"Tunggu nona," ucap Resepsionis.
Kemudian pria yang bernama Eden itu mengejar Kanaya wajahnya menengok sebentar ke arah resepsionis, tangganya memberi tanda agar Resepsionis itu diam di tempat tak mengejar Kanaya.
Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka Kanaya memasuki lift tersebut diikuti oleh Eden.
"Laki-laki murahan," ucap Kanaya dalam hati.
Eden yang merasa dicuekin dan dianggap tak ada dalam lift tersebut, memandang Kanaya dari atas sampai kebawah.
"Cantik," ucapnya. wajahnya menyeringai licik, kemudian dia pun mendekati Kanaya.
"Hemmm..., ada urusan apa nona ingin bertemu dengan paman ku?" tanya Eden dengan nada penekanan yang sombong pada kata Paman
Sedangkan Kanaya tak memperdulikan pertanyaan Eden. Tatapannya lurus kedepan menatap pintu lift, merasa di acuhkan oleh Kanaya, Eden pun semakin mendekati Kanaya menggeserkan tubuhnya sehingga tangan mereka bersentuhan Kanaya pun menggeser tubuhnya menjauhi Eden. Eden yang semakin penasaran semakin menggeserkan tubuhnya kesamping. Kemudian Kanaya membalikkan tubuhnya, kedua tangannya bersedekap dan matanya menatap dingin dan tajam pada Eden.
"Apakah kau tidak memiliki rasa malu?" tanya Kanaya dengan nada tajam.
"Rasa malu ku hilang melihat wajah cantik ini," Jawab Eden dengan senyum menggoda. kemudian tangannya berusaha menyentuh pipi Kanaya dengan Jari telunjuknya, tetapi sebelum jari tangan itu menyentuh Pipi Kanaya, sebuah tamparan telak mengenai wajah tampan Eden.
"Kau berani menampar ku?" ucap Eden seraya lebih mendekatkan tubuhnya pada Kanaya.
"Laki-laki pecundang dan tak tahu malu seperti anda, pantas mendapatkan tamparan dari semua wanita," ucap Kanaya dengan dingin matanya menatap tajam wajah Eden, Kakinya sedikit menekuk dan bugg...,dengkul kaki Kanaya menghajar sebuah pusaka Kramat bagi kaum pria.
"Ahhhhh," teriak Eden seraya membungkukkan tubuhnya kedua tangannya memegang pusaka Kramat nya, kemudian mengangkat kepalanya dan mendongak wajahnya menatap tajam Kanaya dengan penuh amarah.
"Kau berani melakukan itu..! kau akan merasakan akibatnya nanti. Kau belum tahu siapa aku," ucap Eden dengan nada penuh ancaman. Mendengar perkataan Eden Kanaya hanya menatapnya dengan datar tanpa ekspresi sedikit pun. Kemudian menaikkan sebelah alisnya, tak lama kemudian pintu lift pun terbuka, dengan langkah santai Kanaya keluar dari lift meninggalkan Eden yang sedang mengaduh kesakitan dalam lift.
Kanaya terus berjalan tanpa memperdulikan siapapun yang melihatnya hingga sampai di depan ruangan Pemilik perusahaan. Kanaya berhenti dan menghampiri sekertaris yang duduk di kursi dibelakang meja sekertaris. Sekertaris itu memandang Kanaya dengan tatapan tak berkedip sedikit pun, kemudian Kanaya menjentikkan Jarinya di depan wajah sekertaris tersebut.
"Apakah Tuan Putra Kusuma ada di dalam?" tanya Kanaya dengan wajah datar dan dingin.
"Iya ada di dalam," ucap Sekertaris Kusuma Group seraya menganggukkan kepalanya.
Kanaya yang melihat sekertaris itu seperti orang bodoh lalu menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi, menghampiri pintu ruangan Putra Kusuma tangannya membuka pintu itu dan memasuki ruangan tersebut, Sekertaris yang menyadari kebodohannya tersentak kaget dan bergegas mengejar Kanaya yang telah memasuki Ruangan CEO Kusuma Group.
"Tidak bisa kah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?"tanya Putra Kusuma tanpa mengangkat wajahnya dari berkas yang di bacanya.
"Katakan ada apa?" tanyanya lagi.
"Maaf tuan bukan saya yang tidak mengetuk pintu, tetapi nona ini tanpa permisi memasuki ruangan anda tuan," ucap Sekertaris Putra Kusuma.
mendengar perkataan Sekertarisnya.
Putra Kusuma pun mengangkat wajahnya dari berkas laporannya dan melihat kearah pintu, wajahnya sontak terkejut melihat kedatangan Kanaya, spontan Putra Kusuma bangkit dari kursi Kebanggaannya dan menghampiri Kanaya kemudian mengulurkan tangannya. Kanaya dengan tak acuh hanya menatap uluran tangan Putra Kusuma lalu bersedekap seraya berkata.
"Aku tidak ingin basa-basi tuan," ucap Kanaya dengan wajah datarnya nada bicaranya penuh penekan.
"Apa maksud anda datang ke sekolah putra ku?" tanya Kanaya.
"Saya tahu anda pemilik sekolah itu tetapi pada saat itu arah anda tidak menuju ruang Dewan sekolah bukan?" tanya Kanaya lagi seraya menatap tajam Wajah Putra Kusuma.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda lebih baik anda menyerah dengan apa yang ingin anda lakukan dan rencanakan," ucap Kanaya.
sekertaris Kusuma Group yang masih berada di ruangan bos nya termangu menatap Kanaya, kemudian beralih menatap Putra Kusuma.
"Dan apakah di perusahaan anda ini memiliki sekertaris yang selalu ingin mendengar setiap ucapan tamu Perusahaan ini?" tanya Kanaya.
Mendengar perkataan Kanaya lalu Putra Kusuma melirik kearah Sekertarisnya dan dengan gerakan kepalanya Menyuruh Sekertarisnya keluar. Sekertaris itu pun melangkah kakinya berjalan keluar, meninggalkan ruangan bosnya.
"Duduklah dulu," ucap Putra Kusuma pada Kanaya.
"Maaf tuan, saya tidak memiliki banyak waktu untuk duduk dan berbincang bersama anda, saya datang kesini hanya untuk mengingatkan anda untuk tidak melakukan semua rencana anda," Ucap Kanaya dengan penuh penekanan.
" Permisi," ucap Kanaya kemudian melangkahkan kakinya beranjak keluar ruangan itu, lalu langkahnya terhenti ketika mendengar Putra Kusuma berkata.
"Saya tahu, Kamu dan keluarga mu membenci ku dan juga putra ku dan aku tidak membenarkan semua perbuatan putra ku, tetapi Putra mu adalah cucu ku dan aku ingin mengenalnya lebih dekat, aku berhak melihatnya dan juga Edward berhak mengetahui putranya sendiri." ucap Putra Kusuma seraya menatap Kanaya dengan senyum tulus.
"Terlepas dari bagaimana dia di lahirkan tetapi bagi ku dia adalah cucu ku, tak ada yang bisa mengubah itu. Kanaya yang mendengar Perkataan Putra Kusuma termangu didepan pintu, tanpa membalikkan badannya dia pun berkata.
"Semua sudah terlambat tuan, sejak putra anda menghina dan mempermalukan ku, serta meminta ku menggugurkan kandungan ku," ucap Kanaya dengan nada dingin tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun dia pun membuka pintu ruangan dan berjalan keluar.
"Tidak ada kata terlambat untuk sebuah tanggung jawab dan saat ini aku sedang mendidik anak ku agar menyadari arti tanggung jawab itu, dan bahkan aku rela melakukan apapun untuk memberinya pelajaran," ucap Putra Kusuma seraya berjalan kearah pintu dan menatap belakang punggung Kanaya hingga lift terbuka dan Kanaya memasukinya serta membalikkan tubuhnya, masih sempat mereka saling bertatapan dari jauh, Kanaya melihat tatapan sendu seorang Putra Kusuma. sebelum pintu lift tertutup.
Selama di dalam lift, terbayang senyum dan tatapan sendu seorang Putra Kusuma padanya dalam hati Kanaya berkata.
"Apakah aku salah melakukan ini?"
Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka Kanaya melangkah kakinya keluar dari pintu lift, langkahnya terhenti ketika seorang Pria menghalangi jalannya. Dengan tatapan tajam, Kanaya menatap wajah tersebut kemudian berjalan kearah samping kanannya untuk menghindari pria tersebut, Pria tersebut berjalan ke samping kiri berusaha menghalangi langkah Kanaya.
"Aku ingin bicara dengan mu," ucap Edward seraya menatap Kanaya. Pria yang menghalangi jalan Kanaya itu adalah Edward. Kanaya yang mendengar itu hanya menatap dingin pria tersebut ekspresi wajahnya datar tak menyiratkan sedikit pun ekspresi, tatapan matanya hanya sebuah tatapan mengejek dan mencemooh.
"Minggir," ucap Kanaya dengan nada penuh penekanan dan dingin.
"Ijinkan aku bicara dengan mu satu jam saja," ucap Edward.
"Bahkan satu detik pun aku tidak memiliki waktu untuk bicara dengan mu," ucap Kanaya. Kemudian melangkah kakinya meninggalkan Edward yang termenung menatap belakang punggung Kanaya yang menjauh hingga tak terlihat lagi. Kemudian Edward membalikkan tubuhnya dan menekan tombol lift, tak lama kemudian pintu lift pun terbuka dia pun masuk kedalam lift itu dalam benaknya bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Kanaya di perusahaan Papinya.