
Sesampainya di ruangannya Kanaya duduk di kursi kebesarannya, lalu mengambil handphonenya dan menghubungi Cintya.
"Hallo Nay,"ucap Cintya.
"Berkas Cin,"ucap Kanaya.
"Kok udah masuk aja? kamu udah bener-bener sehat?"tanya Cintya.
"Udah lah Cin,"Jawab Kanaya.
"Ya udah, aku keruangan mu sekarang,"ucap Cintya.
"Oke,"jawab Kanaya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Kanaya terbuka, Cintya berjalan masuk dan menghampiri Kanaya, lalu duduk di kursi sehingga mereka berhadapan.
"Ini Nay,"ucap Cintya seraya menyerahkan beberapa berkas laporan perusahaan.
"Bagaimana dengan persiapan peragaan Busana?"tanya Kanaya.
"Beres Nay,"ucap Cintya.
"Sepertinya lokasinya kita ubah deh Cin,"ucap Kanaya seraya menatap Wajah Cintya.
"Bagaimana kalau kita melakukannya di Bali?"tanya Kanaya.
"Sepertinya ide bagus,"jawab Cintya.
"Kita akan survey langsung, tanpa di wakili oleh siapapun,"ucap Kanaya.
"Kalau itu mah, aku tahu Nay, secara kamu kan gak mau ada kesalahan sedikit pun jika menyangkut peragaan busana,"ucap Cintya seraya nyengir memamerkan gigi putinya.
"Hehehehe," tawa Kanaya.
"Oh ya, kamu mau gak nikah sama Kakak aku?"tanya Kanaya.
"Hah..!"seru Cintya.
"Apaan sih Nay?"tanya Cintya, kedua pipinya bersemu merah.
"Maaf Cin, aku lebih iklas kamu nikah dengan kakak aku di bandingkan dengan para pria yang mengejar mu, kamu tahu kamu saudara ku dan aku takut kamu mengalami sakit lagi Cin,"ucap Kanaya seraya menatap sendu wajah Cintya.
"Aku tahu Nay, tetapi entah kenapa aku merasa takut pada pria sekarang ini,"ucap Cintya.
"Masa lalu ku mengajarkan untuk tidak mudah percaya pada lelaki,"ucap Cintya lagi.
"Kakak ku menyukai mu dan aku pastikan dia tidak akan menyakiti mu,"ucap Kanaya.
"Dan tidak akan pernah,"ucap Sebuah suara dari arah pintu, seraya melangkah kakinya menghampiri mereka lalu duduk di sebelah Cintya seraya menatapnya lembut.
"Sejak pertama kali aku melihat mu, aku sudah menyukai mu, ironis bukan sementara di luaran sana para wanita mengejar dan mendekati ku tetapi sedikit pun aku tidak merasakan apapun pada mereka, tetapi pada mu aku merasakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya sesuatu itu masuk ke sini,"ucap Richard seraya menunjuk dadanya.
"Kita bisa belajar, untuk saling mencintai Cin, tidak semua laki-laki brengsek, dan akan aku buktikan bahwa aku tidak seperti mereka,"ucap Richard. lalu berkata lagi.
"Pikirkanlah." Lalu seulas senyum menghias wajahnya.
Kanaya kaget melihat senyum kakaknya itu , sangat jarang kakaknya memperlihatkan senyum semanis itu pada wanita manapun biasanya wajahnya akan dingin dan jutek boro-boro senyum nyengir aja gak akan pernah mau.
"Sepertinya aku akan meninggalkan kalian berdua,"ucap Kanaya.
"Aku ingin kau menjadi saksi setiap hal yang diungkapkan oleh Kakak mu, dan dalam hal ini aku ingin Kau menjadi saudara ku, bukan teman ku, dan Richard adalah orang lain bukan Kakak mu,"ucap Cintya tegas.
"Baiklah,"ucap Kanaya seraya duduk kembali di kursinya.
"Well, lanjut kak,"ucap Kanaya tegas.
"Mommy dan Daddy setuju jika kita berhubungan bahkan mereka meminta ku untuk segera menikah dengan mu, tetapi itu bukan alasan ku, karena alasan ku yang sesungguhnya adalah karena kau sangat cocok untuk menjadi pendamping ku,"ucap Richard seraya menatap Cintya, lalu berkata lagi.
"Kita bisa mencoba untuk menjalaninya terlebih dahulu, dan berusaha untuk membuka hati akan sebuah cinta, aku memang menyukai mu tetapi, aku juga jujur pada mu, aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta atau bukan, tetapi aku merasakan cemburu jika aku mendengar mu bersama pria lain, dan juga aku merasa nyaman bersama mu."
"Sepertinya kalian bisa mencoba untuk menjalaninya terlebih dahulu."ucap Kanaya.
"Tetapi semua keputusan balik lagi pada mu Cin."ucap Kanaya lagi.
"Apakah kau serius dengan apa yang kau katakan?"tanya Kanaya.
"Iya aku serius itulah sebabnya aku datang kesini."ucap Richard.
"Untuk menemui mu."ucapnya lagi.
"Baiklah kita akan mencoba menjalaninya selama 6 bulan jika kita merasa ada kecocokan dan merasakan sesuatu di hari kita, kita bisa melanjutkannya,"ucap Cintya dengan nada tegas.
"Setuju,"ucap Richard, tak kalah tegasnya.
"Kenapa tidak sekalian saja, kalian membuat perjanjian kontrak berpacaran?"tanya Kanaya dingin.
seraya menatap Richard dan Cintya, lalu menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka.
Melihat mimik Kanya, Cintya dan Richard bertanya.
"Kenapa?"
"Kalian membuat suatu hubungan berjangka seperti itu, aku heran melihat kalian,"jawab Kanaya.
"Aku mengatakan kalian bisa mencoba untuk menjalaninya, bukan menjalaninya dengan cara berjangka seperti itu,"ucap Kanaya.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian,"ucap Kanaya lagi.
"Lebih baik dicoba dari pada tidak sama sekali bukan?"tanya Richard menatap tajam adiknya, mendapatkan tatapan seperti itu Kanaya balas menatap kembali kedua mata kakaknya.
"Hemmm, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan kak Richard."ucapnya dalam hati. kemudian Kanaya menatap Cintya, lalu berkata.
"Terserah kalian,"ucapnya tegas dan dingin.
"Yang penting tidak ada salah satu dari kalian yang merasakan sakit hati nantinya, aku mengenal kalian berdua,"ucap Kanaya kemudian bangkit berdiri berjalan keluar dari ruangannya, meninggalkan Richard dan Cintya berdua di dalam ruangannya.
Tetapi sebelum membuka pintu, Kanaya menoleh dan berkata pada mereka berdua.
"Suatu hubungan bukan untuk di permainkan, hati manusia bukan sebuah ruang dimana saat kalian berkata kalian tidak cocok, kalian membuka pintunya dan menyuruh salah satu dari kalian pergi, jika kalian ingin menjalankan hubungan ini lakukan dengan benar, tetapi jika kalian hanya terpaksa menjalani hubungan ini, lebih baik kalian berpikir lagi." seraya menghela nafas panjang dan membalikkan tubuhnya pada Cintya dan Richard yang menolehkan wajahnya menatap Kanaya, lalu Kanaya berkata lagi.
"Jika hati adalah ruangan ini maka pemilik ruangan ini akan selalu datang dan pergi, karena ruangan ini bukanlah suatu tempat yang dapat ditempatinya, tetapi jika hati adalah sebuah rumah, walaupun kalian pergi menjauh, dan berlari maka kalian akan kembali kerumah lagi, karena di rumah itu lah kalian menetap, dan bernaung, dan juga dimana kalian berlabuh."
"Jangan kau katakan kau tidak akan kembali kerumah mu Cin,"ucap Kanaya, saat melihat Cintya membuka mulut untuk berbicara.
"Karena walaupun rumah itu hancur, tetapi akan tetap meninggalkan puing-puingnya dan sebidang tanah yang utuh, dan saat kau kembali kau dapat membangun kembali rumah itu, dan akan kembali menjadi sebuah rumah dengan orang yang sama, kecuali mereka menjual tanah tersebut, menjadi hak orang lain, tetapi ada satu yang tersisa yang tak bisa di pungkiri, saat ini kau selalu ingin kembali ke rumah itu bukan? itulah sebabnya hati diibaratkan sebuah ruang yang dibangun dengan pilar-pilar yang kokoh, kenapa seperti itu karena sehancur apapun bangunan rumah itu, kau akan selalu merindukannya."Ucap Kanaya seraya menatap Cintya dan Richard.
"Pikirkanlah baik-baik, hati kalian bukan baja yang tak bisa hancur, jangan sampai saat kalian menyudahi hubungan kalian yang berjangka 6 bulan itu, membuat kalian hancur dan sakit ketika menyadari kalian merasakan jatuh cinta satu sama lain, dan merasakan bahwa rumah kalian adalah hati kalian, hati kalian bukanlah seperti sebuah persinggahan, atau seperti ruangan ini, aku mendudukinya hanya untuk bekerja lalu aku meninggalkannya walaupun aku sangat mencintai ruangan ini, tetapi aku tetap pulang ke rumah ku, karena aku tahu bahwa cinta sejati ku adalah rumah ku, rumah dimana aku menemukan kebahagiaan dan cinta."ucap Kanaya. Kemudian membuka pintu ruangannya dan berjalan keluar, meninggalkan kakak dan juga sahabatnya.