
Keesokan harinya Jam 9 pagi, seperti yang dikatakan Kanaya, Akan diadakan jumpa pers di hotel Bimantara, yang diadakan secara live. Kanaya yang saat ini terlihat Anggun memakai gaun putih selutut, rambutnya yang panjang diikat satu ke belakang, wajahnya di poles make up tipis, luka pada keningnya akibat kecelakaan, yang meninggalkan sedikit bekas, tak sedikitpun terlihat, berkat keahliannya menggunakan make up.
Melihat penampilannya di depan cermin Kanaya mengulas sebuah senyum puas di wajahnya, lalu beranjak pergi menuju walk in Closet, menuju dimana setiap koleksi sepatunya tertata rapih. Lalu Kanaya mengambil sepatu high hells berwarna putih Senada dengan Gaunnya, setelah mematut di depan cermin besar yang berada dalam walk in Closet tersebut, Kanaya pun berjalan keluar , menuju pintu kamarnya, setelah membuka pintu dia pun keluar berjalan menuruni anak tangga, menghampiri kedua orang tua dan kakaknya, serta putranya yang telah menantinya di ruang tamu.
"Wahhh, Mami cantikkkkkk sekali,"seru Gerald.
"Benar Mami mu sangat cantik,"ucap Richard tersenyum menatap adik semata wayangnya itu, sedangkan Mommy dan Daddy nya tersenyum bahagia menatap putrinya yang berjalan menuruni anak tangga.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Gerald dan Richard, putrinya itu sangat cantik, lalu Daddy Ded teringat saat Kanaya masih duduk di bangku SMP dan SMU, Dan selalu saja pulang ke mansion dengan wajah cemberut, saat ditanya ada apa, dengan wajah marah berkata jika dia membenci di kejar oleh para cowok, sehingga membuatnya merasa risih, dan tanpa sepengetahuan Kanaya, Daddy Ded memperketat penjagaan pada putrinya itu, sehingga terhindar para lelaki yang mengejarnya.Hingga suatu hari dia kecolongan dan berakhir dengan kehilangan putri semata wayangnya selama 10 tahun.
"Kenapa Daddy liatin Nay segitunya sih?"tanya Kanaya.
"Gak kok Nak,"ucap Daddy Ded.
"Baiklah sudah saatnya kita berangkat,"ucap Kanaya. Lalu mereka pun berjalan keluar mansion menuju mobil yang telah di parkir di depan teras mansion, sopir Daddy Dad dan juga Pak Iwan telah menunggu mereka di depan pintu mobil, setelah memasuki dan menutup pintu mobil, kedua sopir tersebut memasuki mobil dan melajukannya menuju Hotel Bimantara. setengah jam kemudian mereka pun sampai di hotel Bimantara.
"Are you ready princess?"( Apakah Kamu siap, Putri) tanya Richard.
"Sangat siap Kak,"jawab Kanaya.
"Jumpa pers ini dilakukan secara live, dan aku akan lihat bagaimana mereka beraksi,"ucap Kanaya lagi.
"Oke. let's go,"ucap Richard.
Kemudian mereka pun turun dari mobil lalu memasukinya, didepan pintu hotel, General Manager, Manajer beberapa staff hotel berbaris di depan pintu menyambut kedatangan Pemilik hotel dan juga pewaris mereka.
"Selamat Pagi Tuan Bimantara, Nyonya Bimantara, Tuan Edward dan Nona Kanaya,"ucap mereka seraya menundukkan kepala dengan hormat.
"Tuan Kecil apakabar, ini pertama kalinya anda datang kesini,"ucap General Manager Hotel.
"Selamat pagi Paman,"ucap Gerald dingin menatap tajam General Manager Hotel, lalu menatap seluruh staff yang menyambut mereka. General Manager yang melihat tatapan dingin Gerald serta perkataannya yang dingin dan tajam, menatap tak percaya anak berusia 10 tahun itu dalam benaknya berkata.
"Astaga ternyata tuan kecil ini lebih menakutkan di bandingkan Tuan Richard."
"Apakah semua sudah siap?"tanya Kanaya.
"Dan apakah mereka sudah berada di ballroom?"tanyanya lagi.
"Semua sudah siap nyonya, mereka pun sudah berada di dalam ballroom,"jawab General Manager.
Tak lama kemudian Cintya berjalan menghampiri mereka, lalu berkata.
"Nay,"Sapa Cintya.
"Cin gimana semuanya udah beres?"tanya Kanaya.
"Semua beres,"ucap Cintya seraya mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum licik.
"Baiklah sekarang kita masuk,"ucap Kanaya.
kemudian mereka pun melangkahkan kaki, berjalan menuju pintu samping ballroom hotel. Sesampainya di depan pintu samping Ballroom, Kanaya pun menghela nafas panjang, kemudian menatap pintu ballroom itu, tatapan yang sulit di mengerti, lalu berjalan dan memasuki Ballroom bersama putranya, kemudian Daddy Ded dan juga Mommy Lingga, lalu disusul Cintya dan juga Richard.
Wartawan dan para Reporter berdiri dan mengarahkan kamera mereka, begitu pun dengan beberapa orang perwakilan dari stasion TV, mereka begitu antusias ingin segera mewawancarai Kanaya dan keluarga Bimantara yang lainnya, seketika suasana riuh, Para wartawan dan juga para reporter, menghampiri Kanaya dan memotret mereka lalu memberikan pertanyaan.
"Nona Kanaya apakah benar semua pemberitaan itu?
"Dan mengapa anda tidak mengklarifikasi pemberitaan tersebut?
"Dan dimana anda disembunyikan oleh keluarga anda?
"kami mendapatkan Rumor bahwa karena masalah anda ini, keluarga anda menghancurkan keluarga Kusuma, dan saat ini kalian berseteru karena Edward Kusuma adalah pria yang meniduri anda saat itu? dan tidak ingin bertanggungjawab sehingga anda disembunyikan dan itu membuat keluarga anda sangat membenci keluarga Kusuma dan menarik seluruh Saham dari Kusuma Group sehingga membuat Kusuma group gulung tikar.
"Apakah Kalian tidak bisa bersabar untuk bertanya?"ucap Cintya menatap satu persatu wartawan dan reporter, lalu berkata lagi.
"Jika kalian seperti ini silahkan kalian keluar dari Ballroom ini,"
setelah mengatakan itu Cintya mempersilahkan Kanaya dan kedua orang tuanya serta Richard menaiki panggung, lalu mereka pun duduk di kursi.
Tatapan Kanaya mengedar di seluruh ruangan, lalu menyunggingkan sebuah senyum licik yang tak terlihat oleh siapapun.
"Sudah ku duga kau akan muncul, kau salah jika mengira kau akan menang dan menyerang ku disini."ucap Kanaya.
Lalu matanya menatap seluruh isi ruangan Ballroom, lalu kedua tangannya di letakkan di atas meja, kemudian wajahnya mendekat pada Microfon dan berkata.
"Selamat pagi semuanya, terima kasih karena anda-anda sekalian telah datang ke ballroom ini,"ucap Kanaya seraya menghela nafas panjang, lalu menundukkan wajahnya.
Sementara itu di sebuah kursi duduk dua orang wanita menyunggingkan senyum penuh kemenangan melihat Kanaya menundukkan kepalanya.
"Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa, kau dan keluarga mu akan mendapatkan malu seumur hidup mu, perempuan brengsek, kali ini akulah pemenangnya, aku pastikan kau tidak akan memiliki kebanggaan lagi,"ucap Wanita itu.
"Apa yang kalian katakan itu benar adanya,"ucap Kanaya seraya mengangkat wajahnya dan menatap semua wartawan dan juga reporter seketika lampu Blitz bertaburan menyilaukan ke arah wajah Kanaya dan juga Gerald.
"Apakah benar anda menuangkan obat perangsang pada minuman Edward Kusuma dengan menyuruh salah seorang pelayan hotel, lalu menyuruhnya membawa ke kamar anda, saat anda tidak menggunakan busana?"tanya salah seorang wartawan.
"Dan anda menggoda Tuan Edward Kusuma karena pengaruh obat bius itu, anda berhasil mendapatkan tuan Edward, tetapi anda malah ingin mencelakainya dan menuduhnya bahwa anda telah di gagahi oleh Tuan Edward, sehingga kedua orang tua anda murka dan membuatnya bangkrut?"tanya seorang reporter lagi.
"Dan anda juga yang membuat kekasih Tuan Edward bersedih selama bertahun-tahun karena anda mengancamnya untuk menghabisinya agar tidak mendekati Tuan Edward, karena dia frustasi lalu menggugurkan kandungannya."ucap Seorang Wartawan.
"Anda sungguh keterlaluan nona Kanaya, saya tidak menyangka bahwa seorang putri dari keluarga terhormat rela berbuat itu semua, apakah anda tidak takut jika anda terkena karma,"ucap Seorang wartawan wanita, seraya tersenyum sinis.
"Dia sudah mendapatkan karmanya, anak laki-laki nya sekarang menjadi anak haram karena tuan Edward tidak ingin bertanggung jawab padanya, setiap hari dia di bully oleh teman sekolahnya karena lahir tanpa ayah, dan juga tak diakui,"ucap seorang wanita lalu berkata lagi.
"Apakah kalian tahu, nona Kanaya ini telah menggunakan cara licik sehingga membuat anaknya itu menderita karena malu,"ucapnya dan satu hal kebenaran lagi.
"Salah seorang yang mengenal nona Kanaya, teman dekatnya mengatakan bahwa nona Kanaya ini memang seperti itu, selalu menggoda pada pria tampan dan membawanya ke tempat tidur, untuk menutupi identitasnya dia tidak pernah memakai nama belakang keluarganya alasannya sih agar tak diketahui oleh orang lain, tapi sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga, para korban nya itu berdatangan karena kecewa padanya, meninggalkannya saat mereka mencintai permainan ranjang nona Kanaya,"ucap wanita itu lagi, lalu wanita itu pun berkata lagi dengan mengajukan pertanyaan pada Kanaya.
"Nona Kanaya apakah semua itu benar?" seraya menatap Kanaya sinis.
Suasana pun menjadi riuh, lalu para wartawan dan juga reporter, berseru seraya mengejek dan menghina Kanaya.
"Wahhhhh ternyata anda sangat menjijikkan nona,"ucap Salah seorang reporter.
"aku tidak menyangka ternyata seorang anak konglomerat bisa berkelakuan seperti pelacur murahan bahkan lebih dari murahan."ucap salah seorang wartawan.
Sementara itu Daddy Ded dan juga Mommy Lingga, serta Richard, dan juga Gerlad. menggertakkan giginya menahan amarah mendengar mereka menghina Kanaya. Mengetahui itu, Kanaya menatap Daddy dan Mommy nya, tangannya menggenggam tangan Gerald erat. Gerald pun menatap Maminya, lalu Kanaya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu menoleh pada kedua orang tua dan kakaknya seraya tersenyum menenangkan mereka dan menggelengkan kepalanya.
Lalu Kanaya pun menatap semua audiens satu persatu matanya menatap sendu pada wartawan dan reporter yang mengajukan pertanyaan dengan nada menghinanya.
"Kenapa anda diam nona?"tanya seorang wartawan. Lalu sebuah suara terdengar.
"Dia diam karena semua yang kalian katakan itu benar,"ucapnya seraya menatap Kanaya dengan senyum licik dan bersedekap.
"Dia tidak mungkin membela diri karena aibnya telah kalian bongkar,"ucapnya lagi