IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 7


Sesampainya di rumah, Tsabinna langsung duduk di ruang keluarga. Tsabinna melihat orang tua nya yang sedang berbincang ria, sesudah itu Arafah berjalan ke arah Tsabinna.


"Tsa, besok kamu nikah aja padahal baru aja kemaren kamu nangis minta di bikinin susu." ucap Arafah sambil menahan air matanya.


Tsabinna mengelus lengan Mama nya. "Mama, gak usah nangis ya." ucap Tsabinna sambil tersenyum manis.


"Papa bersyukur punya anak seperti kamu." timpal Leonardo yang baru saja mendaratkan bokongnya di samping Tsabinna.


"Kalau nanti kamu udah sah jadi istrinya Abizar, kamu harus lakuin perintah suami kamu, jangan ngebantah itu dosa sayang." sahut Arafah.


"Iya siap Ma, aku ke kamar dulu ya." pamit Tsabinna lalu kedua orang tua nya hanya membalas dengan anggukan saja.


Sesampainya di kamar yang bernuansa putih dan juga crem, Tsabinna memandang wajahnya di cermin kamarnya tersebut.


"Gue kok makin hari makin pucet ya." ucap Tsabinna.


Lalu setelah itu Tsabinna memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Setelah menghabiskan waktu selama sepuluh menit Tsabinna sedang duduk di meja belajarnya. Lalu dirinya mengambil buku Diary nya yang berada di dalam laci nakas tersebut.


Tuhan


Jika engkau ingin aku pulang, tolong jangan membuat orang di sekitar ku merasakan kesedihan, karna aku membenci kesedihan:)


Sakit banget harus berjuang sendirian biar cepet sembuh, aku Tsabinna Arabella berjanji akan memberi tau tentang penyakit ku di buku Diary ku ini..


Pa, Ma maafin aku ya.. aku udah sembunyiin penyakit aku dari kalian, bukan nya aku gak mau cerita in ini semua ke kalian.. tapi aku gak mau liat kalian khawatir sama aku:)


Aku mengidap gagal ginjal, aku mengidapnya udah lebih dari satu tahun hebat kan aku bisa sembunyiin ini semua dari kalian berdua, lebih tepat nya semua orang!


Waktu aku  gak pulang kerumah selama satu malem, aku sebenernya bukan nginep di rumah temen.. tapi aku di rawat di rumah sakit hehe, dari hasil penelitian Dokter, kata nya aku mengidap Leukimia Stadium dua, atau yang sering di sebut Kanker Darah:)


Aku syok banget Pa, Ma... Pas tau penyakit aku itu:'(  aku pengen nangis saat itu juga, aku gak bisa terima takdir aku yang harus mengidap penyakit ganas tersebut..


Awalnya aku emang gak iklhas ngejalani nya, tapi makin ke sini aku makin ikhlas kok, karna aku tau semua penyakit itu dateng nya dari tuhan... Aku semangat kok buat sembuh!


Tapi maafin aku, Aku gak bisa mengikuti kemoterapi hehe.. aku bakal berjuang sendirian gimana pun caranya:)


Papa, Mama sehat sehat ya! Kalian jangan sedih kalau nanti aku udah pulang ke pangkuan nya:) karna aku bakal terus sama kalian kok...


Makasih banyak berkat kalian aku gak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun.. makasih banyak ya, aku titip kalian sama Tuhan:)


I love My Hero and My Strong Girl!


Aku sayang kalian semua>3


Aku tunggu kalian berdua di surga:)


Aku pulang yah Pa, Ma


                Salam manis


       Tsabinna Arabella Queenza Mahardika


Tsabinna menutup kembali buku Diary nya, sungguh diri nya tidak tau mengapa menulis seperti yang akan pergi jauh saja.


Drt drt drt


"Hallo Tsabinna, ini saya dokter Ranti."


"Eh iya hallo juga, Dok."


"Saya hanya memberi tahu kalau ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya buat kamu nak."


"Dokter, se... Serius kan."


"Saya serius."


"Besok kamu kesini ya nak."


"Tapi, besok aku nikah Dok."


"Yaudah kalau udah acara pernikahan kamu aja ya."


"Iya dok, makasih."


"Sama sama, apa kamu tidak mau mengikuti kemoterapi?"


"Gak usah, Dok."


"Baiklah kalau kamu tidak mau, sana tidur."


"Iya dok."


Tutt


Tsabinna memutuskan sambungannya secara sepihak, dia bersyukur ada orang yang mau mendonorkan ginjal untuknya, di sisi lain Tsabinna masih terlihat murung karena penyakit Leukimia nya.


Tsabinna berjalan menaiki kasur empuk nya itu lalu dirinya menarik bedcover sebatas dada, ia pun mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk yang menyerangnya.


 


                                   ****


Keesokan pagi nya Arafah ribet sendiri, perihal membangunkan ratu tidur siapa lagi jika bukan Tsabinna Arabella Q. M.


"Tsabinna, bangun sayang." ucap Arafah menggoyangkan lengan anaknya itu.


"Eungh lima menit lagi, Ma." balas Tsabinna dengan nada serak khas bangun tidur.


"Kamu kan sekarang mau nikah sayang." sahut Arafah.


Tsabinna langsung mengubah posisinya menjadi duduk sambil menatap Arafah. "Aku mandi ya, Ma." pekik Tsabinna berjalan gontai menuju kamar mandinya.


Arafah menggeleng melihat putri sulungnya itu, masih tidak menyangka putrinya akan menikah saat ini juga.


Setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit, Tsabinna sedang duduk di meja rias di temani oleh mbak Kiara, kata Mama nya sih mbak Kiara jago merias pengantin.


"Cantik banget sih kamu." kagum mbak Kiara.


"Ah mbak bisa aja." jawab Tsabinna malu malu.


"Sampe pangling saya ngeliat kamu." sahut mbak Kiara.


Tsabinna hanya tersenyum tipis, lalu mengambil ponsel berlogo apel di gigit itu.


                             TBAS


Me | ke rumah, gue nikah!


Balqis | iya bener tuh


Sepio | emang kamu mau nikah ya?


Me | kalau gak percaya kesini aja, bentar lagi akad nikah nya di mulai.


Aurelele | serius lo?


Balqis | kita ke sana aja yuk, mumpung tanggal merah.


Sepio | iya bener tuh kta abisin dagingnya.


Aurelele | malu maluin!


Balqis | 2in


Read


Tsabinna hanya terkekeh geli membaca chattroom grupnya itu. TBAS itu inisial huruf mereka berempat. Setelah menghabiskan waktu selama tiga puluh menit akhirnya Tsabinna sudah beres di rias oleh mbak Kiara.


Tsabinna memandang wajah nya yang lebih cantik dari sebelumnya, ia kagum dengan riasan mbak Kiara, sungguh ia bisa berubah menjadi bidadari sekarang.


"Udah selesai cantik." ujar mbak Kiara.


"Wah, mbak hebat banget deh." kagum Tsabinna.


"Udah yuk turun." ajak mbak Kiara menggandeng tangan Tsabinna.


Tsabinna menerima uluran tangan tersebut sambil berkata. "Jangan gugup oke." gumam Tsabinna.


Sesampainya di ruang keluarga yang cukup besar ini, Tsabinna melihat Abizar yang dua kali lipat lebih tampan, lalu Tsabinna mendaratkan bokongnya di samping Abizar.


Abizar hanya tersenyum manis menatap calon istrinya tersebut. Lalu pak penghulu mengulurkan tangan kanannya dan langsung diterima oleh Abizar.


"Saudara Abizar Al Ghifari bin Rorenzo Adipati Ghifari, saya nikah dan kawinkan engkau dengan Tsabinna Arabella Queenza Mahardika binti Leonardo Smith Mahardika dengan maskawin uang sebesar dua ratus milyar dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya, Tsabinna Arabella Queenza Mahardika binti Leonardo Smith Mahardika dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana, para saksi?" tanya pak penghulu kepada seluruh tamu undangan.


"SAH."


"Alhamdulilah, silahkan saudara Abizar untuk memasangkan cincin nya di jari manis istrinya." suruh pak penghulu


Abizar hanya tersenyum lalu mengambil cincin itu dan mengambil lengan kanan Tsabinna.


Setelah memasangkan cincin untuk kedua nya, sekarang mereka sedang duduk di atas pelaminan. Banyak tamu yang datang jadi membuat Tsabinna mengeluh karena pegal bagian kakinya.


"Kaki gue pegel anjir." bisik Tsabinna.


Abizar hanya terkekeh. "Duduk aja dulu." suruh nya.


Tsabinna hanya menggeleng dan ia melihat teman teman sekelas nya yang akan menaiki pelaminan.


"Aaaa gue kira lo ngehalu tadi." ucap Aurel sambil memeluk tubuh mungil Tsabinna.


"Lepasin ih gak bisa nafas gue, kan tadi gue udah bilang kalau serius!" jawab Tsabinna.


"Hehe ya maaf, semoga jadi pasangan yang samawa ya!" ucap Aurel lalu menjabat tangan Abizar.


"Jagain tuh bos gue!" peringat Aurel.


Dan di balas deheman singkat dari Abizar sambil berkata. "Tanpa lo suruh pun gue bakal jagain istri gue." jawab Abizar sambil tersenyum manis.


"Bagus lah kalau gitu." ucap Aurel lalu menuruni pelaminan tersebut.


"Gue gak nyangka lo bakal nikah secepet ini." ucap Balqis dengan nada yang di dramatis kan.


"Hehe mau gimana lagi." balas Tsabinna.


"Iya deh, longlast terus ya!" pekik Balqis.


"Dan buat lo Abizar, jagain bestie gue!" tunjuk Balqis ke arah Abizar.


Abizar hanya mengangguk sebagai jawaban nya.


"kenapa nikah, Tsa?" isak Stevia.


"Lah semua orang bakal nikah oon!" ketus Tsabinna.


"Selamat menempuh hidup baru." jawab Stevia sambil terus terisak kecil.


"Abi, gue titip bestie gue ya." ucap Stevia lalu di balas anggukan oleh sang empu.


Setelah semua teman sekelas Tsabinna mengucapkan selamat, kini teman teman Abizar menaiki pelaminan.


"Selamat bro, akhirnya kalian berdua di satuin padahal kan sikap kalian bertolak belakang ya!" sahut Joe sambil cengengesan.


"Diem lo!" ketus Tsabinna.


"Jangan galak galak, Bin." ucap Joe.


"Yaudah longlast ya bro!" sambung Joe lalu menuruni pelaminan.


"Selamat ya!" singkat Syahdan lalu berjalan menuruni pelaminan.


Abizar hanya menggeleng melihat sifat dingin sahabatnya itu, sudah biasa pikirnya.


Setelah itu orang tua dari Tsabinna menaiki pelaminan tersebut.


"Selamat menempuh hidup baru ya sayang." tangis Arafah sambil mendekap putri sulungnya.


"Makasih banyak Ma." jawab Tsabinna sambil terisak.


"Dengerin apa kata suami kamu ya." pesan Arafah lalu mencium pipi kanan putrinya itu.


"Iya pasti Ma." sahut Tsabinna sambil menghapus air mata nya dengan tissue.


Arafah pun beralih kepada Abizar lalu berkata. "Mama, titip anak nakal itu ya." ucap Arafah sambil terkekeh melihat muka putrinya yang sudah seperti kepiting rebus.


Abizar terkekeh geli mendengar ucapan dari sang mertua. "Iya pasti aku jagain kok, Ma." balas Abizar.


Lalu setelah itu di gantikan oleh Leonardo yang menaiki pelaminan tersebut dan begitu seterusnya.


Memang sudah keputusan dari dua pihak untuk mengadakan akad nikah di rumah mempelai wanita, dan untuk malam nya keluarga bermarga Ghifari menyewa gedung bintang lima, untuk pesta pernikahan putra sulungnya itu.