
Setelah pulang dari cafe, kini Aldeon sudah tidur di kamar miliknya. Dan Tsabinna sedang berada di ruang tv, ia mendengar seseorang yang sedang merintih kesakitan.
"Sstt, aku mohon jangan sekarang." ucap Abizar sambil memegang bagian hatinya.
Tsabinna melihat Abizar kesakitan pun terkejut, pasalnya ia baru mengetahui jika Abizar mempunyai penyakit.
"Dokter udah vonis aku, tapi aku hanya percaya dengan kehendak mu ya Allah." lirih Abizar.
"Aku benar-benar berharap ada seseorang yang mau mendonorkan hati-nya untuk ku." ucap Abizar sambil menahan sakit.
Deg
"Abi di vonis kanker hati?" batin Tsabinna.
Cklek
"Abi, kenapa belum tidur?" tanya Tsabinna yang baru saja masuk.
Abizar terkejut, lalu ia mulai menetralkannya. "Gak bisa ti-dur." ucap Abizar terbata bata.
"Yuk aku temenin." ajak Tsabinna yang langsung di angguki oleh Abizar dengan antusias.
Setelah beberapa menit, Tsabinna merasakan deru nafas Abizar yang beraturan. Ia mulai bangkit dari kasur empuknya dan berjalan menuju tempat belajarnya lalu menendaratkan bokongnya.
"Kenapa harus Abizar yang di vonis kanker hati ya allah." lirih Tsabinna.
"Kenapa gak aku aja sih?"
Tsabinna menangis tanpa suara, ia benar benar belum siap jika harus kehilangan bintangnya. Ia benar benar menyayangi Abizar dengan tulus.
Mengapa takdirnya begitu tragis? Apa dirinya tidak pantas bahagia? Tsabinna tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya ia taruh di tumpukan kedua lengannya.
🦋🦋🦋
Matahari sudah menampakan dirinya, sedangkan Tsabinna masih tertidur pulas di bangku belajarnya.
Abizar sudah bangun beberapa menit yang lalu. Ia menatap Tsabinna yang sedang tertidur di tempat belajarnya. Abizar segera turun dari kasur empuknya, dan mulai berjalan gontai ke arah tempat belajar Tsabinna.
Abizar melihat Tsabinna yang sedang tertidur, rambut panjang yang masih di jepit oleh jepitan, dan wajah damai yang sedang tertidur menambah pesona seorang Tsabinna Arabella.
"Kenapa kamu tidur di tempat belajar sih." gerutu Abizar sambil mengelus pipi Tsabinna.
Tsabinna menggeliat kala merasakan tangan kekar menyentuh pipinya. "Eungh, kamu udah bangun?" tanya Tsabinna menatap Abizar.
Abizar tersenyum manis. "Iya, kenapa bobo di tempat belajar hm?" tanya Abizar.
Tsabinna cengengesan. "Maaf, semalem ketiduran."
Abizar memicingkan matanya. "Gak boong kan?" tanya Abizar.
Tsabinna menggeleng keras. "Yuk ke dapur buat sarapan." ajak Tsabinna antusias.
"Cuci muka dulu, Yang." perintah Abizar.
"Iya ini mau kok." pekik Tsabinna sambil memasuki kamar mandi.
Setelah itu Tsabinna langsung membuatkan nasi goreng spesial untuk anaknya yang hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah.
"Morning all." teriak Aldeon
"Morning to Aldeon." jawab Abizar dan juga Tsabinna.
"Bun, masak apa kok wangi banget sih." tanya Aldeon.
"Oh ini, nasi goreng spesial kesukaan kamu." balas Tsabinna.
"Horee nasi goreng spesial" jawab Aldeon antusias.
Tsabinna sudah selesai membuat nasi goreng. "Tada, udah jadi nih nasi goreng spesial ala Chef Tsabinna Arabella." ucap Tsabinna antusias.
Aldeon menatap kagum nasi goreng itu. "Ehem." ucap Aldeon menetralkan wajah nya.
Aldeon pun memulai drama nya. "Ini apa?" tanya Aldeon .
"Itu nasi goreng spesial, Chef." jawab Tsabinna.
"Pake apa aja ini?" tanya Aldeon sambil mengaduk nasi goreng itu.
"Hm pake sosis, udang, telur, onion dan aromatik, udah itu aja." jawab Tsabinna.
Abizar menggeleng kepala melihat tingkah kedua nya, ia sudah hafal setiap akan memulai sarapan pasti seperti itu, kalau kata Aldeon sih biar kayak di Master Chef indonesia.
"Eum, nasi goreng nya It's good, tapi udang nya opercook, aromatik nya pas."
"Thank you Chef."
Aldeon hanya mengangguk, ia pun mulai menghabiskan nasi goreng kesukaannya.
"Bun, lama banget ntar Al telat nih." teriak Aldeon di teras mansion.
"Sabar dong sayang." sahut Abizar.
"Yuk berangkat." ajak Tsabinna.
Lalu mereka bertiga langsung menaiki mobil sport keluaran terbaru. Seperti bisa kota Semarang macet total.
Aldeon menghela nafas panjang. "Tuhkan macet aja." gerutu Aldeon.
"Kamu kayak gak tau kota Semarang aja." sahut Tsabinna.
"Iya sih bun." jawab Aldeon.
"Udah gak usah pada ribut ah." lerai Abizar.
Saat ini Abizar dan Tsabinna sedang berada di pantai, soal Aldeon dia tidak mau ikut. Jadi alhasil Aldeon main di rumah Mawar.
"Indah banget ya pemandangannya." ucap Abizar menatap pantai.
Tsabinna tersenyum. "Iya indah banget." jawab Tsabinna.
"Tsa, kalau nanti aku pergi, aku mohon jagain Aldeon ya." lirih Abizar.
"Zar, aku tau kamu udah di vonis Kanker hati iya, 'kan?" tanya Tsabinna.
"Kok ka-mu tau sih?" ucap Abizar gelagapan.
"Udah tau dari semalem sih." sahut Tsabinna.
"Kamu tenang ya, Zar." sambung Tsabinna.
Abizar menaikan alis nya sebelah. "Tenang gimana, Tsa." lirih Abizar.
"Udah ada tau, orang yang mau donorin hati nya buat kamu, jadi kita bakal hidup bahagia selamanya." ucap Tsabinna.
"Kamu serius?" tanya Abizar menatap Tsabinna.
"Aku serius, nanti kita menua bareng, kita besarin Aldeon sama sama oke." jawab Tsabinna.
Abizar mengangguk antusias. "Mau banget, Yang." balas Abizar antusias.
Mereka tertawa bahagia. Mereka berharap hidupnya akan bahagia seperti sekarang, tapi takdir Allah tidak ada yang tau.
...***...
Tsabinna sedang asik menikmati angin sepoi sepoi, ia menengok ke arah Abizar.
Bruk
Abizar ambruk di pasir pantai, Tsabinna yang melihat itu pun terkejut. Ia mulai meminta bantuan kepada orang sekitar yang berada di pantai tersebut.
Ia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan full, ia tak henti-hentinya berdoa untuk suaminya itu.
"Abi, aku mohon jangan tinggalin aku." lirih Tsabinna.
"Please bangun, jangan tinggalin aku."
Beberapa menit kemudian, akhirnya Tsabinna sudah sampai di rumah sakit.
"Sus, tolongin suami saya." teriak Tsabinna.
Kedua suster itu langsung mendorong brankar, lalu mulai mendorong brankar yang Abizar tiduri.
Tsabinna menggenggam tangan Abizar yang terasa begitu dingin. "Abi, bertahan ya." lirih Tsabinna.
Sesudah sampai di ruang UGD, Tsabinna di tahan oleh kedua suster. "Maaf bu, anda tidak bisa ikut masuk." cegah suster.
"Tapi sus." ucap Tsabinna.
"Sebaiknya anda urus dulu administrasinya." titah suster.
Tsabinna hanya mengangguk lesu, ia mulai berjalan ke tempat administrasi. Sesudah itu Tsabinna mengabari mertua-nya dan juga kedua orang tua-nya. Kini mereka sedang menunggu di ruang tunggu depan ruang UGD.
"Bun, ayah baik baik aja kan?" tanya Aldeon.
Tsabinna mengangguk lemas. "Iya sayang, ayah, 'kan kuat." balas Tsabinna.
Aldeon langsung memeluk tubuh mungil sang bunda. Ia benar benar sedih mendengar jika ayahnya di larikan ke rumah sakit.
"Al, janji gak bakal nakal lagi." cicit Aldeon.
Tsabinna mengelus rambut Aldeon. "Iya sayang." jawab Tsabinna.
Tsabinna hanya mengangguk, ia menatap orang tua nya yang benar benar khawatir. "Mama, maafin aku." ucap Tsabinna.
"Sayang ini kan udah takdir, kita doain aja ya." balas Arafah.
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, akhirnya dokter tersebut keluar bersama dua susternya.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mawar.
"Jadi gini, Kanker hati yang pasien derita sudah menyebar sehingga kita butuh donor hati, jika tidak ada maka nyawa pasien tidak akan terselamatkan." ucap dokter.
Deg
"Anak saya di vonis kanker hati, Dok?" tanya Mawar syok.
Dokter tersebut hanya mengangguk
"Mas gimana anak kita." tangis Mawar.
Rorenzo memeluk tubuh Mawar. "Kita pasrahin semua sama Allah, semoga ada seseorang yang mau donorin hatinya buat Abizar." sahut Rorenzo.
Orang tua Tsabinna sudah pulang, karna besok ada pekerjaan di kantornya. Sementara kedua mertua nya sudah tertidur pulas.
"Sayang, kamu kenapa gak bobo?" tanya Tsabinna.
"Al, sedih bun." lirih Aldeon menatap Abizar dengan sendu.
Tsabinna hanya bisa mengelus rambut anaknya lembut. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa badan ayah penuh kabel, Bun?" tanya Aldeon.
Tsabinna menghela nafas panjang. "Karna ayah lagi sakit, bunda keluar kamar dulu ya." pamit Tsabinna.
Aldeon hanya mengangguk menanggapi, lalu ia mulai memeluk lengan Abizar.
🐝🐝🐝
Tsabinna berjalan gontai menuju ruangan dokter. Ia pun mulai memasuki ruangan tersebut.
Cklek
"Permisi dok." ucap Tsabinna.
"Eh iya, ada apa ya?" tanya dokter.
"Saya istri dari pasien yang bernama Abizar." jawab Tsabinna.
"Iya, lalu mengapa?" tanya dokter semakin bingung.
"Saya ingin mendonorkan hati saya." ucap Tsabinna gemeteran.
"Kamu serius, kalau hati kamu di donorin buat suami kamu, nyawa kamu tidak akan tertolong." ujar dokter.
"Tidak apa apa dok, saya rela, asalkan suami saya bisa sembuh seperti dulu." lirih Tsabinna.
"Baik jika itu kemauan kamu, besok jam sembilan pagi operasi nya di mulai." final dokter.
Tsabinna mengangguk getir. "Jangan beri tau suami saya dok, jika saya yang mendonorkan hati saya untuk dia." peringat Tsabinna.
Dokter itu hanya bisa mengangguk pasrah. Tsabinna pun mulai keluar dari ruangan dokter tersebut. Ia mulai mendaratkan bokongnya di bangku tunggu depan ruang inap Abizar.
"Aku yakin ini jalan terbaik." lirih Tsabinna.
"Aku cuma mau Abizar sembuh seperti sedia kala, semoga Abizar bisa ikhlasin aku pergi nanti."
Tsabinna pun mulai berjalan masuk ke ruang inap Abizar, ia menatap Aldeon yang tidur di atas brankar sambil memeluk tubuh tegap milik suaminya.
Tsabinna mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Abizar, ia pun mulai mengeluarkan buku Diary-nya dan juga pulpen. Ia kebetulan membawa buku pribadinya itu di dalam tas selempang nya.
Ia menulis surat terakhir untuk Abizar, Aldeon, kedua orang tua-nya dan kedua mertuanya. Lalu ia mulai menutup matanya memasuki alam mimpinya.
Pagi ini Tsabinna dan juga kedua mertua nya sudah menunaikan ibadah sholat subuh. Mawar terlihat murung, Tsabinna mengelus punggung mertuanya itu.
"Ma, jangan sedih." ucap Tsabinna.
"Mama bener bener syok sayang." balas Mawar.
Tsabinna mengangguk. "Udah ada orang yang mau donorin hati-nya buat Abizar, ma." sahut Tsabinna.
Mawar mendongak. "Kamu serius?" tanya Mawar antusias.
"Iya ma, aku beneran". jawab Tsabinna
"Ya ampun, pa akhirnya anak kita dapet donor hati." ucap Mawar kepada Rorenzo.
Rorenzo hanya tersenyum senang. "Yaudah, kita pulang yuk ma, kan ada meeting sekarang." ajak Rorenzo.
"Yaudah ayo, sayang nanti kalau operasi nya mau di mulai kabarin kita ya." titah Mawar.
Tsabinna hanya mengangguk. "Siap ma, kalian hati hati ya di jalan." ucap Tsabinna.
Kedua mertua nya hanya mengangguk, lalu mulai berjalan keluar dari ruang inap Abizar.
Tsabinna membangunkan Aldeon, setelah itu ia mulai berjalan keluar dari ruang inap Abizar, ia akan membeli sarapan untuknya dan juga Aldeon.
Cklek
"Sayang, bunda beliin bubur ayam nih." ucap Tsabinna.
"Wah, mau dong bun." balas Aldeon antusias.
"Nih makan ya, bunda suapin oke." sahut Tsabinna.
"Iya, Bun."
Lalu Tsabinna mulai menyuapi Aldeon dengan bubur ayam yang tadi ia beli.
"Sayang kamu sekolah, ya." titah Tsabinna.
"Nanti aku ke sini lagi, 'kan, Bun?" tanya Aldeon.
Tsabinna hanya mengangguk. "Iya, yuk berangkat." ajak Tsabinna.
🐝🐝🐝🐝
Tsabinna dan Aldeon sudah berada di gerbang sekolah Aldeon. Tsabinna berjongkok agar sesuai dengan tubuh Aldeon.
"Belajar yang rajin anak bunda." ucap Tsabinna sambil mencium pipi gembul Aldeon.
"Siap bun, nanti aku ke rumah sakit sama siapa?" tanya Aldeon.
"Sama nenek Mawar atau gak sama nenek Arafah juga boleh sayang." jawab Tsabinna.
Aldeon mengangguk lalu ia mulai mencium punggung tangan bundanya. "Bun, aku sekolah dulu ya," pamit Aldeon.
Tsabinna hanya tersenyum, ia melihat punggung anaknya yang kian menjauh. Ia melihatnya dengan sendu, karna dirinya tidak bisa menemani Aldeon sampai dewasa.
Tsabinna sudah berada di ruang inap Abizar, setelah itu dokter pun masuk ke ruang inap Abizar.
"Kamu siap?" tanya Dokter.
"Siap banget, Dok." balas Tsabinna antusias.
"Saya tunggu di ruang operasi." jawab Dokter lalu pergi keluar.
Tsabinna mencium setiap inci wajah pucat milik suaminya.
Cup
Cup
Cup
"Kamu bakal sembuh setelah ini." lirih Tsabinna.
Lalu ia mulai menelpon kedua orang tua nya dan juga kedua mertuanya, kalau operasi nya akan di laksanakan sekarang juga.
Tsabinna sudah berbaring di brankar ruang operasi, ia menitikan air mata yang sedari tadi keluar begitu deras.
"Tenang ya, Mbak.” ucap Suster.
Tsabinna hanya mengangguk lemah. Lalu ia mulai membatin. "Abi maafin aku, aku gak bisa menua bersama, aku gak bisa besarin Aldeon bareng kamu. Aku titip hati aku buat kamu ya."
Kedua orang tua Tsabinna sudah sampai di depan ruang operasi. Aldeon mencari bunda nya yang belum kelihatan.
"Nek, bunda kemana, ya?" tanya Aldeon.
"Bunda lagi ada urusan kali." balas Arafah.
Kedua besannya sudah sampai di depan ruang operasi, mereka benar benar tidak curiga dengan Tsabinna yang belum menunjukkan batang hidungnya.
Setelah dua jam berlalu, operasi nya berjalan dengan lancar. Dokter keluar dari ruang operasi itu.
"Abizar sudah mendapatkan donor hati, ia akan bangun sekitar jam dua siang. sahut Dokter.
"Terimakasih banyak, Dok". ucap Mawar.
Dokter tersebut langsung mengangguk, ia tidak membayangkan bagaimana rasanya ketika anaknya sembuh dan menantu belum juga menunjukan batang hidungnya.