
Sesampainya di rumah, Tsabinna langsung pergi ke kamar. Tsabinna sudah selesai dengan acara mandi nya itu, sekarang cewek itu sedang duduk di balkon.
Cklek
Abizar, masuk ke kamar mereka. Abizar melihat Tsabinna yang sedang duduk di balkon kamar mereka, Ia langsung berjalan menuju Tsabinna.
Tsabinna terkejut karna sebuah tangan kekar melingkar di perut nya. Tsabinna mendongak ternyata suaminya yang sedang memeluk dirinya dari belakang.
"Kenapa hm?" tanya Tsabinna sambil mengelus rambut Abizar.
Abizar menggeleng. "Laper eum." jawab Abizar memelas.
Tsabinna terkekeh geli lalu berkata. "Mau makan sama apa hm?"
"Apa aja, semua masakan kamu enak." balas Abizar sambil terus menggesekan hidung mancung nya ke bahu mulus Tsabinna.
Tsabinna melepaskan pelukan tersebut. "Udah ah, aku mau masak dulu." pamit Tsabinna.
"Ikut ih." rengek Abizar.
"Ya ikut aja, kan punya kaki." sahut Tsabinna sambil berjalan keluar kamar.
"Tsabinna, tungguin ih." rengek Abizar sambil berlari mengejar Tsabinna.
Sesampainya di dapur Tsabinna membuka kulkas, ia menatap bahan bahan makanan, hanya ada udang dan juga tepung. Tsabinna mengeluarkan udang berserta bumbu lainnya yang akan ia gunakan.
"Yang." panggil Abizar.
"Hm, kenapa?" tanya Tsabinna tanpa melirik Abizar sedikit pun.
"Yang, liat ke aku dulu ih." balas Abizar sambil menghentak hentak kakinya.
Tsabinna menghela nafas panjang. "Apa sih?" jawab Tsabinna.
"Kamu mau masak apa?" tanya Abizar.
"Udang tepung aja deh." sahut Tsabinna.
"Ya kali udang tepung doang sih?" desis Abizar.
"Terus mau nya sama apa?!" sinis Tsabinna.
"Ya apa aja, Tsa." jawab Abizar.
Tsabinna memejamkan mata nya sesaat, ia benar benar menahan emosi. "LO DIEM AJA DEH!" teriak Tsabinna lalu memotong udang.
Abizar kicep. "Kan cuma nanya, kok ngegas sih?" gumam Abizar.
"Gue denger heh!" gertak Tsabinna.
Abizar pun langsung mendaratkan bokongnya di kursi makan, ia menompang dagu nya sambil melihat Tsabinna yang sibuk memasak.
Lima menit telah berlalu, akhirnya masakan Tsabinna sudah matang. Abizar mengambil piring lalu memberi kepada Tsabinna.
Tsabinna menatap bingung. "Kenapa?" tanya Tsabinna.
"Kamu gak mau siapin nasi buat suami kamu?" sahut Abizar.
"Punya tangan kan, yaudah ambil sendiri." pekik Tsabinna.
Abizar mendengus kesal. "Nih mau nya di ambilin sama kamu." jawab Abizar.
Tsabinna menghela nafas. "Yaudah sini!" ketus Tsabinna.
"Yang ikhlas dong." protes Abizar.
"Lo protes mulu ya?" desis Tsabinna.
"Ya makannya kalau di suruh itu harus ikhlas!" sambar Abizar.
Tsabinna hanya mengedikkan bahunya acuh, ia mulai melanjutkan lagi acara makannya.
Abizar menatap Tsabinna dengan kesal, ia pun langsung menyuapkan nasi itu ke dalam mulut nya.
Tsabinna menahan agar tidak tertawa berbahak bahak, ia benar benar gemas sendiri kepada suaminya itu.
"Apa liat liat hah?" tanya Abizar sinis.
"Dih pede banget hidup lo!" balas Tsabinna ketus.
"Kenapa sih jutek banget!" gerutu Abizar.
Tsabinna tidak kuat lagi untuk menahan agar tidak tertawa berbahak bahak. "Kamu lucu banget sih" balas Tsabinna sambil tertawa berbahak bahak.
"Dosa ketawain suami!" sarkas Abizar.
"Bodo amat", balas Tsabinna acuh.
Setelah beres makan, Tsabinna langsung mencuci piring. Abizar sedang duduk di sofa sambil menonton tv, Abizar celingak-celinguk ntah mencari apa.
"Yang, gabut nih." teriak Abizar.
Tsabinna yang sedang mencuci piring pun menatap Abizar yang sedang berbaring di sofa tersebut. "Cari aja di youtube tutor ilangin gabut." balas Tsabinna.
Abizar mendengus sebal. "Kesel banget gue, pasti aja di ledekin mulu sama istri sendiri, ini kan kode biar gue sama dia keluar rumah." batin Abizar.
Tsabinna berjalan ke arah Abizar. "Kenapa sih?" tanya Tsabinna.
"Aaaaa gabut, Yang." rengek Abizar .
Tsabinna duduk di sebelah Abizar, sontak Abizar langsung bangun dan mendudukan bokong nya di paha Tsabinna.
"Mau apa hm?" tanya Tsabinna sambil mengelus rambut Abizar.
Abizar menyembunyikan kepalanya di bahu Tsabinna. "Gak tau yang, aku gabut." rengek Abizar.
"Iya terus kamu mau nya apa?" tanya Tsabinna.
"Aku pengen ke Bandung." ucap Abizar sambil terus mendusel dusel di bahu Tsabinna.
"Mau ngapain ke Bandung?" tanya Tsabinna.
"Pengen ke Ciwidey, Yang." balas Abizar sambil menggoyangkan lengan Tsabinna.
"Mau ngapain ke Ciwidey, mening kita ke Lowong Sewu." ajak Tsabinna.
"Gak mau, Lowong Sewu mah serem!" kesal Abizar.
Tsabinna terkekeh geli. "Iya iya, nanti kita ke Ciwidey oke." final Tsabinna.
"Asik makasih, Tsabinna." sahut Abizar antusias.
Tsabinna hanya menggeleng kepala, ia merasakan deru nafas Abizar yang teratur. Ia menatap Abizar, ternyata suaminya sudah tidur. Padahal baru saja ngobrol dengannya.
"Dasar *****!", sahut Tsabinna sambil terus mengelus rambut Abizar.
Kantuk yang menyerang Tsabinna, akhirnya Tsabinna juga tertidur dalam posisi duduk dan Abizar tidur di pangkuan Tsabinna.
💠💠💠💠
Abizar bangun terlebih dahulu setelah mendengar adzan ashar. Ia menatap Tsabinna yang tidur dalam posisi duduk kepala nya ia senderkan ke kepala sofa. Abizar merasa bersalah karna telah tertidur di pangkuan Tsabinna. Pasti perempuan itu menahan pegal selama satu jam lebih.
Abizar berjalan ke arah kamar mandi, ia sudah berwudhu, ia membangunkan istri kecilnya yang sedang tertidur pulas, ia terpaksa membangunkan Tsabinna, karna ini sudah memasuki jam sholat ashar.
Abizar menepuk pipi Tsabinna. "Yang, bangun sholat dulu yuk." ajak Abizar.
Tsabinna membuka mata nya. "Iya, kamu udah wudhu?" tanya Tsabinna dengan nada khas bangun tidur.
Abizar mengangguk lalu ia mulai berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. "Kamu cepet wudhu, aku nunggu di kamar ya." teriak Abizar.
Tsabinna hanya mengangguk, ia berjalan gontai menuju kamar mandi yang berada di lantai bawah. Setelah wudhu Tsabinna menaiki tangga menuju kamar mereka.
Cklek
Tsabinna meneguk salivanya susah payah, ia menatap kagum Abizar yang memakai peci, sarung dan juga baju koko. Sumpah sih damage nya gak ada obat.
Abizar menatap Tsabinna. "Aku tau kalau aku tuh ganteng, udah gak usah gitu juga liatin aku nya." ucap Abizar.
Tsabinna merasa pipinya memerah, ia benar benar malu karna tertangkap basah oleh suaminya. "Nggak kok, siapa juga yang liatin kamu!" elak Tsabinna.
"Yaelah masih aja ngelak!" sahut Abizar.
Tsabinna pun memasuki kamar mereka, lalu mereka berdua sholat ashar bersama sama. Setelah sholat mereka memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat, hanya untuk belanja bulanan saja.
...***...
Setelah melaksanakan sholat ashar, sekarang Tsabinna sedang memilih baju yang akan ia gunakan untuk pergi ke Minimarket.
"Yang, cepetan ih!" teriak Abizar dari luar kamar.
Tsabinna tidak menjawab. "Buru buru amat sih!" gumam Tsabinna.
Tsabinna keluar dari kamar, ia menatap Abizar yang sedang bermain ponsel. Tsabinna berdehem singkat untuk membuyarkan lamunan Abizar.
Abizar langsung menatap Tsabinna dari bawah sampai atas, Abizar mengerutkan keningnya. Lihat lah bagaimana penampilan Abizar yang sudah kece dan Tsabinna hanya memakai kaos putih lengan panjang, dan celana selutut?
"Kamu yakin cuma kayak gini?" tanya Abizar.
"Apa nya, Bi?" bingung Tsabinna.
"Kamu yakin penampilannya kayak gini, liat aku udah keren, malah istrinya kayak gembel!" gerutu Abizar.
Tsabinna mencerna ucapan Abizar, sungguh perkataan Abizar menamparnya. Ia lebih nyaman menggunakan kaos lengan panjang dari pada baju yang kurang bahan.
"Jadi kamu anggap aku gembel?" tanya Tsabinna dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Abizar tersenyum. "Ya menurut kamu, Tsa kamu itu cantik, coba ubah penampilan kamu." sahut Abizar.
Sehalus apapun pujian itu, tetap lah membuat Tsabinna Insecure, karna baru pertama kalinya ia merasakan kurang percaya diri.
"Kamu kok hina aku sih?" balas Tsabinna.
"Aku gak hina kamu, kan aku cuma ngomong fakta" jawab Abizar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tsabinna hanya menggeleng sambil terus menatap Abizar yang tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia benar benar kecewa kepada Abizar, yang dengan entengnya menghina Tsabinna yang notabenya adalah istrinya sendiri.
Brak
Tsabinna membanting pintu kamar dengan kencang, membuat Abizar terkejut.
"Tsa, kamu kenapa?" teriak Abizar.
Tsabinna hanya diam enggan menjawab, ia mengunci pintu kamar mereka. Tsabinna butuh waktu sendiri, Tsabinna terlalu kecewa dengan ucapan Abizar barusan.
"Tsa, kamu marah sama aku?" teriak Abizar.
Tsabinna membuka pintu kamar tersebut, dengan mata sembab, hidung merah dan jangan lupakan kening nya pun sampai merah.
"Kamu nangis?" tanya Abizar memegang kedua bahu Tsabinna.
Tsabinna hanya diam, lalu ia mulai masuk ke kamar tersebut. Tsabinna mendaratkan bokongnya di balkon kamar.
Abizar berjalan menghampiri Tsabinna, lalu duduk di samping Tsabinna. Abizar berusaha menggapai tangan Tsabinna, tapi selalu di hempas kan dengan kasar oleh sang empu.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Abizar sambil memperhatikan muka cantik istrinya.
"Lo nanya gue kenapa?" ucap Tsabinna dingin.
Abizar meneguk salivanya susah payah, jujur Abizar takut mendengar kata kata dingin yang keluar dari mulut Tsabinna.
Abizar mengangguk. "Iya, emang kenapa?" sahut Abizar.
Tsabinna yang sedang menahan amarah pun akhirnya ia keluarkan di depan Abizar. "LO BEGO APA SOK POLOS HAH, LO GANTENG, LO JUGA KAYA, TAPI MINUS LO CUMA SATU! YAITU SUKA HINA ORANG?!", teriak Tsabinna.
Abizar melongo menatap istrinya. "Ngehina gimana sih, Tsa?" tanya Abizar bingung.
"BEGO LO BEGO, GUE BENCI SAMA COWOK YANG SUKA HINA FISIK ORANG!" murka Tsabinna
Abizar semakin bingung. "Emang aku hina fisik orang, nggak kan?" balas Abizar.
"DIEM ATAU GUE BUNUH LO?!" ketus Tsabinna menatap Abizar tajam.
Abizar benar benar ketakutan sekarang juga.
"Kalau udah gini, gue ngeri ngeliat aura mematikan istri gue." batin Abizar.
"Kenapa diem hah?!" bentak Tsabinna sambil memukul lengan Abizar.
"Aww, sakit KDRT kamu!" gertak Abizar.
"Apa, gak terima lo hah?" sinis Tsabinna.
"Gue gak takut sama cewek kayak lo!" balas Abizar ketus.
"Oh ya, gak takut hm?" bisik Tsabinna.
"Lo mau gue lukisin apa di muka lo?" tanya Tsabinna.
"Mau pake pisau lipat atau silet?" sambung Tsabinna.
"Tsa, jangan aku mohon." ucap Abizar sambil menunduk.
"Haha, seorang Abizar takut sama psychopat kecil kayak Tsabinna Arabella?" pekik Tsabinna.
Tsabinna mengangkat dagu Abizar, ia menatap manik hitam itu dengan tajam. Sekarang ia benar benar ingin memakan suaminya itu.
"Lo mau gue jadiin apa hm?" tanya Tsabinna.
"Tsa, jangan gila deh kamu!" desis Abizar.
"GUE GILA? IYA GUE EMANG GILA, KARENA BARU PERTAMA KALI NYA GUE DI BODY SHAMMING SAMA LO, FISIK GUE NYARIS SEMPURNA BRO. APA YANG KURANG DARI GUE HAH?" tanya Tsabinna sambil terus menatap Abizar.
"Tsa, maafin aku." tangis Abizar pecah.
"DRAMA KING, COWOK COWOK KOK SUKA BANGET SOK PALING TERSAKITI YA?!" heran Tsabinna.
"Maafin aku, iya aku salah." cicit Abizar.
Tsabinna langsung teringat akan ucapan Mama nya dulu sebelum ia menikah dengan Abizar.
"Gak boleh ngebantah apa kata suami, apa lagi sampe ngelawan. Karena itu dosa"
"Maafin aku, Tsa." ucap Abizar sambil terus menangis.
Tsabinna tidak tega melihat suaminya menangis seperti itu, Tsabinna menarik Abizar ke dalam dekapannya. Meskipun Abizar sempat memberontak tapi pada akhirnya Abizar hanya diam.
"Maafin aku, tadi kebablasan." ucap Tsabinna menyesal.
Abizar hanya mengeratkan pelukannya kepada Tsabinna. "Jangan kayak tadi, aku takut." balas Abizar dengan isakan kecil.
Tsabinna mengangguk lalu mulai mengelus rambut hitam milik Abizar. "Iya ngga kok, maaf ya." sahut Tsabinna.
Abizar hanya mengangguk, Abizar sudah mulai berenti menangisnya. Ia menatap Tsabinna yang sedang melihat pemandangan sore ini.
"Ke kamar ayo." ajak Abizar masih dengan suara serak.
Tsabinna mengangguk lalu mulai menggendong Abizar ala koala. "Diem ya, aku cuma mau tebus kesalahan yang tadi" titah Tsabinna.
Abizar hanya mengangguk, ia benar benar takut jika melihat Tsabinna semarah itu kepadanya.
💠💠💠💠
Sesampainya di kamar, Tsabinna langsung merebahkan tubuh Abizar di kasur king size nya.
"Bobo yuk." ajak Abizar.
Tsabinna yang mendengar ajakan dari suaminya itu langsung menyentil kening Abizar dengan keras. "Gak boleh tidur sore, ntar gila!" celetuk Tsabinna.
"Ah mana ada, itu mah mitos doang." protes Abizar.
"Ih bener kok, jangan bobo ah." peringat Tsabinna.
"Emang kenapa?" tanya Abizar.
"Lima menit lagi adzan magrib, masa mau bobo." jawab Tsabinna.
Abizar mengerjapkan matanya lucu. "Eh iya, aku lupa." balas Abizar sambil cengengesan.
Adzan magrib pun terdengar di kota Semarang. Mereka memutuskan untuk sholat berjamaah, setelah sholat kan enak bisa ngelakuin apapun itu.
Tsabinna tidak menyangka jika akan menjadi istri dari Abizar yang lumayan sholeh, tapi ya gitu minus nya suka hina fisik orang atau Body Shamming.