
Hari ini Tsabinna sudah di izinkan untuk pulang, tapi ia harus menggunakan kursi roda. Tsabinna menurut saja perintah dari dokter Ranti. Saat ini mereka berdua sedang di perjalanan pulang, Abizar sesekali mencuri pandang kepada Tsabinna yang sedang tersenyum bahagia.
Setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit akhirnya mereka sampai di gerbang rumah, Tsabinna mengerutkan keningnya bingung.
"Abi, kita dimana?". tanya Tsabinna bingung
"Udah diem ya". jawab Abizar langsung keluar dari mobil sport nya.
Lalu Abizar mulai membuka gembok gerbang tersebut, ia pun mulai memasuki mobilnya kembali. Setelah itu ia langsung memasuki mobilnya ke dalam garasi samping rumah.
"Yuk turun." ajak Abizar lalu turun terlebih dahulu sebelum membukakan pintu mobil untuk Tsabinna.
"Kita di mana sih ini?" tanya Tsabinna
"Udah gak usah banyak tanya, yuk masuk." ajak Abizar sambil mendorong kursi roda.
Cklek
Tsabinna di buat melongo dengan isi rumah itu yang benar benar royal. Ia hendak bertanya kepada Abizar, tapi sayang Abizar malah keluar rumah untuk membawa tas yang berisi baju nya dan juga baju Tsabinna.
"Abi, ini rumah siapa?" tanya Tsabinna
Abizar mendongak lalu berkata. "Ini hadiah dari mama Mawar, kata nya sih hadiah ultah kamu sama hadiah pernikahan kita." balas Abizar yang masih sibuk membereskan tas tersebut.
"Beneran nih, Bi?" sahut Tsabinna
"Iya beneran kok." jawab Abizar sambil mengelus rambut panjang Tsabinna.
"Ada yang gak kamu suka dari isi rumah ini?" tanya Abizar.
Tsabinna menggeleng keras lalu berkata. "Aku suka semua nya." sahut Tsabinna antusias.
"Syukur deh kalau kamu suka." pekik Abizar.
"Makasih banyak ya". ucap Tsabinna menatap Abizar.
"Sama sama, Tsa". balas Abizar.
~oOo~
Tsabinna menatap kamar nya penuh takjub, ia benar benar menyukai kamar nya ini. Ia bersyukur memiliki mertua baik seperti Rorenzo dan juga Mawar.
"Gimana suka?" tanya Abizar.
"Aku suka banget." balas Tsabinna sambil tersenyum manis.
"Semua isi rumah ini itu hadiah dari Papa." ucap Abizar.
"Ya ampun mereka baik banget sih." pekik Tsabinna.
"Bisa aja kamu." sahut Abizar sambil terkekeh.
Tsabinna sedang duduk di kasur king size nya, lalu ia mulai mendekati Abizar yang sedang memainkan ponsel miliknya.
"Abi." panggil Tsabinna.
Abizar menengok. "Apa hm?" tanya Abizar.
"Pengen buka hadiah yang kamu kasih." pinta Tsabinna.
Abizar terkekeh lalu berkata. "Buka aja semoga kamu suka ya."
"Makasih banyak ganteng!" sahut Tsabinna antusias lalu mulai mengambil kotak yang di beri oleh suaminya.
Abizar hanya terkekeh gemas melihat istri kecilnya yang begitu antusias.
Mata Tsabinna berbinar menatap kotak yang berwarna hitam, ia benar benar menyukai sepatu yang di belikan oleh suaminya.
Tsabinna mulai membuka kotak yang berwarna putih tersebut, ia menganga tak percaya kepada suaminya yang begitu baik kepadanya.
"Ini kan mahal banget." ucap Tsabinna
Dan tiga kotak lagi, yaitu hoodie dan juga baju yang harga nya fantastis.
Tsabinna mendorong kursi roda nya ke arah Abizar, ia menahan air mata nya agar tidak jatuh saat itu juga.
"Hiks makasih hiks." tangis Tsabinna sambil memeluk erat tubuh tegap suaminya.
Cup
"Sama sama sayang, suka hm?" tanya Abizar.
Tsabinna mengangguk mantap lalu berkata. "Suka banget, makasih banyak ya." sahut Tsabinna.
"Iya, bahagia kamu bahagia aku juga." jawab Abizar.
"Maafin aku ya, kamu jadi lumpuh sementara juga karna aku eum." lirih Abizar.
Tsabinna mengelus rahang tegas milik Abizar lalu berkata. "Mungkin ini semua udah takdir, jangan nyalahin diri sendiri." balas Tsabinna.
"Maafin aku tapi ya?" tanya Abizar sambil menunduk.
"Iya iya, aku udah maafin kamu kok." sahut Tsabinna sambil mengelus lengan Abizar.
"Makasih cantik!" ucap Abizar.
"Iya, kamu udah masuk univ mana?" tanya Tsabinna.
"Aku gak kuliah." balas Abizar santai.
"Lho kenapa?" tanya Tsabinna.
"Aku kerja di perusahaan papa, lumayan lah aku udah bisa kerja kantoran jadi kata papa, mening langsung kerja aja gitu kata nya." jawab Abizar panjang lebar.
"Yaudah, semangat terus ya kerja nya." ucap Tsabinna sambil tersenyum manis.
"Iya cantik, nanti kalau kamu udah sembuh, mau masuk univ mana hm?" tanya Abizar sambil menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Kemana aja, asal jangan keluar dari kota Semarang hehe". balas Tsabinna sambil terkekeh.
"Okay, nanti aku masukin kamu ke univ yang ada di daerah sini aja." final Abizar.
Tsabinna hanya mengangguk menyetujui keputusan dari Abizar. Ia bukannya tidak mau masuk ke univ yang ia idamkan, ia sebenarnya ingin masuk ke Universitas Indonesia. Namun ia urung kan karna sekarang ia memiliki suami.
Tidak mungkin jika ia harus meninggalkan suaminya itu, ia ingin menjadi istri yang baik.
...###...
Tiga minggu kemudian..
Tsabinna sudah bisa berjalan seperti biasa, ia sekarang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Abizar pergi ke kantor satu jam yang lalu.
Tsabinna menghela nafas panjang. "Bosen banget gue." gerutu Tsabinna
Drt drt drt
"Hallo Tsa."
"Hallo juga, Dok."
"Saya hanya ingin memberi tahu, kalau kanker kamu sudah sedikit membaik, tapi maaf jika suatu hari kamu harus merasakan sakit nya lagi."
"Apa dok? Jadi saya cuma sehat sementara waktu?"
"Iya begitu lah."
"Jadi dokter, gak bisa memprediksi kalau saya bisa sembuh?"
"Maaf, saya bukan Allah. Saya hanya lah seorang dokter, saya belum bisa menemukan obat untuk orang yang mempunyai penyakit kanker darah."
"Yaudah, makasih info nya dok."
"Sama sama."
Tutt
"Jadi gue cuma sehat sementara gitu?". ucap Tsabinna.
Mata Tsabinna mulai memanas, ia benar benar tidak menyangka kalau kanker yang ia idap masih ada pada tubuhnya. Lalu Tsabinna harus apa?
"Gue pengen bahagia terus sama Abizar." lirih Tsabinna.
"Gue udah bener bener ngerasa cukup karna harus melewati masa koma gue sendirian."
"Oke gak boleh ngeluh, terima nasib." ucap Tsabinna getir.
~oOo~
Sore ini Tsabinna sudah menyiapkan makanan kesukaan Abizar. Ia membuat ayam kecap, sayur sup. Ia saat ini sedang menunggu suaminya.
Tsabinna mulai bosan menunggu kepulangan Abizar, sudah satu jam lebih cowok itu belum juga kelihatan batang hidung nya.
Hari sudah semakin gelap, sekarang waktunya Tsabinna untuk sholat magrib. Ia benar benar khawatir kepada Abizar, pasalnya Abizar tidak pernah pulang lewat jam segini.
Drt drt drt
"Hallo dengan siapa ya?"
"Oh iya perkenalkan, saya Clara sekertaris nya pak Abizar."
"Maaf salah sambung."
Tutt
Tsabinna membanting ponsel nya yang berlogo apel di gigit, ia benar benar kecewa kepada Abizar. Ia benar benar tidak habis pikir lagi.
Tsabinna tertidur di sofa panjang yang berada di ruang tamu. Ia terbangun karna mendengar suara gerbang di buka, Ia buru buru melihat nya.
Tes
Tsabinna menangis melihat Abizar di antar kan oleh seorang wanita. Ia benar benar yakin kalau wanita itu adalah Clara sekertaris suaminya.
Abizar mengetuk pintu utama, Tsabinna langsung menghapus air mata nya itu.
Cklek
"Dari mana?" tanya Tsabinna datar.
Abizar terkekeh. "Aku kan abis kerja, kamu ini ada ada aja." jawab Abizar sambil berjalan masuk dalam rumah.
"Bukan urusan lo!". sinis Tsabinna lalu berlari menuju kamar.
Abizar mengerutkan keningnya bingung. "Tsa, kamu kenapa?" teriak Abizar
Tidak ada sahutan yang di lontarkan oleh Tsabinna. Abizar menghela nafas panjang, ia pun berjalan menuju kamar.
Tok tok tok
"Tsa, kamu kenapa sih?" tanya Abizar.
"Tsa, kamu denger aku gak?"
"Aku dobrak ya pintu nya kalau kamu gak bukain juga pintu nya!". teriak Abizar.
Abizar dengan terpaksa harus mendobrak pintu kamar nya itu, ia mencari ke beradaan istrinya itu.
"Tsa, kamu dimana?" teriak Abizar.
"Jangan becanda, ini udah malem."
Lalu Abizar melihat jendela yang terbuka, ia berjalan menuju jendela nya itu. Ia benar benar yakin jika Tsabinna kabur lewat jendela yang menuju balkon kamar.
"Lah masa dia kabur gak pake kain buat dia turun ke bawah?" ucap Abizar bingung.
Abizar baru ingat, jika istrinya adalah cewek tomboy. Apa saja bisa dia lakukan bukan? Tawuran tanpa senjata pun ia pernah mencoba nya, Meskipun lawan nya memakai senjata tajam.
"Tsa, kamu pergi ya?" lirih Abizar.
"Aku jahat ya, aku bener bener gak bisa jadi imam yang baik buat kamu. Maafin aku Tsa."
"Aku tau kamu marah karna aku pulang nya telat kan? Aku lembur Tsa, aku juga gak mau pulang larut malem kayak gini."
"Tsa, besok aku cari kamu ya. Aku bener bener cape kalau sekarang harus cari kamu." ucap Abizar sambil menutup jendela kamarnya.
🦋🦋🦋🦋
Pagi ini Tsabinna terbangun dari tidurnya, ia mengerutkan keningnya bingung. Dimana ia berada?
Tsabinna menatap sekeliling nya, ia berada di sebuah rumah bernuansa sederhana. Ia benar benar ada di desa, ntah lah desa mana ini.
"Eh nak, udah bangun." sapa seseorang.
Tsabinna mendongak, melihat seorang ibu yang umur nya mungkin sudah menginjak lima puluh tahun. Ia mengubah posisi nya menjadi duduk lalu tersenyum tipis ke ibu itu.
"Kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Tsabinna.
"Perkenalkan nama saya ibu Mita, nama kamu siapa nak?" sahut bu Mita sambil mengulurkan tangan nya.
Tsabinna menerima uluran tangan bu Mita lalu berkata. "Nama saya Tsabinna Arabella." jawab Tsabinna.
"Nama nya cantik kayak orang nya ya." balas bu Mita.
Tsabinna hanya tersenyum tipis. "Bisa aja bu."
"Oh iya, ini rumah ibu ya?" sambung Tsabinna.
"Iya ini rumah ibu, kamu gak nyaman ya tidur di kamar jelek kayak gini?". tanya bu Mita sambil menaikan sebelah alisnya.
Tsabinna menggeleng lalu berkata. "Saya nyaman kok." balas Tsabinna.
"Ibu, bisa ceritain kenapa saya bisa ada di rumah ibu?" lanjut Tsabinna.
Bu Mita tersenyum lalu mengangguk menyetujui.
Flashback on
Saya sedang berjalan menuju ke warung, saat itu saya melihat mobil berwarna abu abu, karna saya penasaran akhirnya saya samperin mobil itu. Pas saya liat ternyata di dalem nya ada orang, nah setelah itu saya minta pemuda yang sedang melintas, untuk mengemudikan mobil itu.
Setelah sampai di rumah saya, kamu di gendong sama pemuda itu untuk di bawa ke kamar ini. Saya kira kamu kecelakaan karna mobil nya berhenti tepat di pohon gede yang berada di sana, untungnya jarak dari jalan itu ke rumah saya lumayan dekat.
Flashback off
"Ibu, tidak tau kalau kamu, itu tidur." sambung nya.
"Gitu ya bu, makasih banyak ya." sahut Tsabinna.
"Iya nak, kenapa kamu bisa tidur di mobil?" tanya bu Mita.
"Saya waktu malem niat nya cuma jalan jalan aja bu, tapi gak tentu arah dan akhirnya tersesat di desa ini." ucap Tsabinna panjang lebar.
Pertama kali nya Tsabinna ngomong panjang lebar sama orang asing.
"Yaudah, kamu mandi sana." titah bu Mita.
"Iya, ibu di sini sendirian?" tanya Tsabinna.
"Ibu, di sini sama anak ibu." jawab bu Mita.
"Anak ibu cewek apa cowok?" pekik Tsabinna.
"Cowok nak, dia kerja dan kata nya sekarang pulang." jawab bu Mita.
Tsabinna mengangguk lalu turun dari kasur itu. "Kamar mandi nya dimana ya bu?" tanya Tsabinna
"Ayo ibu antar kan." balas bu Mita.
Tsabinna mengangguk lalu berjalan mengikuti bu Mita. Ia berjalan sambil melihat isi rumah itu, rumah nya adem banget. Pertama kali nya Tsabinna merasakan rumah yang benar benar adem tanpa bantuan AC.
"Ini handuk nya, dan itu kamar mandi nya." ucap bu Mita sambil menunjuk pintu kamar mandi.
"Makasih banyak, Bu." sahut Tsabinna sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek
Tsabinna menganga kaget melihat kondisi kamar mandi bu Mita, ia berfikir dimana bath up dan shower?
Ia melirik kanan kiri, tidak ada bath up dan juga shower, lalu bagaimana ia mandi nya? Haruskah ia mandi menggunakan gayung?
Tsabinna melirik ember berwarna hitam, damn tidak ada air nya? Di mana air nya? Ia mulai berjalan menuju sumur besar yang berada di kamar mandi itu. Ia melihat ke bawah sumur itu, dan ternyata ada air nya. Ia bingung bagaimana cara nya ia mendapatkan air itu?
Hello Tsabinna ini kan sultan, mana mungkin bisa mengambil air di dalam sumur. Ya ampun Tsabinna ingin menghilang saja dari bumi!
Tsabinna memijit pangkal hidung nya, ia benar benar frustasi perihal air yang di sumur! Tsabinna menghela nafas panjang lalu membuka pintu kamar mandi itu.
Ceklek
"Astaghfirullah, siapa lo!?" teriak seorang cowok.
"Gu..gue eum anu----" ucap Tsabinna terpotong.
"Lo maling ya di rumah ini!" tuduh cowok itu.
Tsabinna gelagapan lalu ia menggeleng keras. Enak saja sultan seperti Tsabinna di kira maling, ia juga milih milih kalau mau maling!
"Bohong, mana ada maling ngaku!" sarkas nya.
"Gue bukan maling anjir!!" sinis Tsabinna.
"IBU, DI RUMAH KITA ADA MALING!!" teriak nya.
Mita yang sedang menyiram tanaman pun terkejut mendengar teriakan anak nya itu, ia berlari menuju dapur.
"Huh, ada apa sih?" tanya Mita
"Bu, dia maling!" tuding nya.
"Heh, dia bukan maling!" sinis Mita.
"Lah terus dia siapa, bu?" tanya nya.
"Dia itu tersesat, Bar." ucap Mita.
Cowok itu hanya ber oh ria saja, ia mulai berjalan meninggal kan Mita dan juga Tsabinna.
"Kamu kenapa gak mandi?". tanya Mita
Tsabinna gelagapan. "Saya gak bisa ngambil air yang ada di dalem sumur, Bu." ucap Tsabinna sambil cengengesan.
"Ya ampun, bentar ya ibu panggilin anak ibu dulu." ucap Mita.
Tsabinna hanya mengangguk, ia jujur sih tidak bisa mengambil air yang berada di dalam sumur tersebut.
"BARA!" teriak bu Mita.
"Apa lagi sih, Bu." gerutu Bara.
"Ambilin air yang ada di dalem sumur." titah Mita.
"Kenapa harus aku?" tanya Bara.
"Cewek ini mau mandi!" jawab Mita.
"Ya tinggal mandi lah apa susah nya sih, Bu?" sahut Bara.
"Dia gak bisa ambil air yang ada di dalem sumur, Bara!" sarkas Mita.
"Iya aku ambilin." sahut Bara malas.
🦋🦋🦋🦋🦋
"Air nya segini cukup?" ucap Bara datar.
"Iye, makasih!" ketus Tsabinna.
"Lo tinggal di mana sih, yakali ngambil air di sumur aja gak bisa!" tanya Bara ngegas.
"Gue tinggal di kota!" sinis Tsabinna.
"Pantesan gak bisa ambil air di sumur!" gertak Bara.
"Udah sana, gue mau mandi!?" usir Tsabinna.
Bara pun berjalan keluar kamar mandi. Tsabinna melamun memikirkan nasib keluarga kecil bu Mita. Jadi rasa nya seperti ini ya hidup susah?
Pantes ajaa mama sama papa, kerja tiap hari cuma karna gak mau aku susah sebagai anak nya, iya sih hidup susah tuh gak enak. Hidup kayak gini, mandi harus ambil air dulu di sumur kan ribet! Kalau kaya sih enak tinggal nyalain shower. pikir Tsabinna.