
Siang ini Tsabinna sudah rapih dengan pakaiannya, gadis itu akan kuliah jam dua belas siang ini, dan di rumah nya sudah ada mama tercintanya untuk menjaga Aldeon.
"Ma, aku pamit ya."pamit Tsabinna.
Arafah mengangguk. "Iya sayang, Deon gak bakal nangis kan?" tanya Arafah khawatir.
Tsabinna terkekeh. "Kalau nangis, Mama buatin susu formula aja, maaf ya jadi ngerepotin Mama." jawab Tsabinna tidak enak.
"Iya gapapa kok, Deon kan cucu mama juga." balas Arafah.
Tsabinna hanya tersenyum, setelah itu ia mencium punggung tangan sang mama. Lalu ia mulai menancapkan gas mobil BMW nya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di kampus, Tsabinna berlari dengan cepat karena cewek itu sedang menahan buang air kecil.
Bruk
"Maaf gue gak sengaja." ucap Tsabinna lalu mulai berlari lagi.
"Jangan kabur lo!" teriak Bara
Yap, orang itu adalah Bara Wijaya dosen di kampus nya.
Tsabinna sudah selesai melaksanakan panggilan alam nya, ia sedang memakai bedak dan juga polesan lipbam. Ia menghela nafas panjang setelah selesai dengan urusannya itu.
Cklek
"Lo!" teriak Bara.
Tsabinna menutup kedua kuping nya saat mendengar teriakan dari Bara. "Sopan dikit bisa gak sih!" ketus Tsabinna.
Bara membulatkan mata nya. "Lo tuh ya, kenapa sih masuk kampus ini hah?" tanya Bara sinis.
Bara menghela nafas panjang. "Kenapa lo itu selalu ganggu gue?!" sambung Bara
Tsabinna melongo mendengar ocehan Bara. "What, gue ganggu lo? Dih najis banget." balas Tsabinna ketus.
"Gue juga gak tau kalau lo itu dosen di kampus ini, lagian kalau gue tau lo dosen di kampus ini, mana mau gue masuk ke kampus ini!" desis Tsabinna.
"Sombong banget sih lo, se-pinter apa sih lo sampe belagu banget, emang lo pikir semua kampus di Semarang bakal nampung mahasiswa minus ahlak kayak lo?!" jawab Bara.
Tsabinna mengepalkan kedua tangan nya. "Anjing ya hidup lo, gue gak pernah cari masalah sama lo! Tapi lo kayak nya udah injek injek harga diri gue deh." sahut Tsabinna.
Bara tertawa hambar. "Gue injek injek harga diri lo? Berapa duit harga diri lo hah, gak inget lo waktu di mana pacar lo itu hina gue?!" ucap Bara.
"Ya lo salahin pacar gue, ngapain marah marah ke gue!" murka Tsabinna.
"Gue gak takut sama cewek mungil kayak lo!" tunjuk Bara.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"INI PELAJARAN BUAT COWOK SONGONG KAYAK LO, GUE GAK MANDANG LO DOSEN, LO GURU, SELAGI LO INJEK HARGA DIRI GUE, GUE GAK BAKAL TINGGAL DIEM!" bentak Tsabinna.
Semua mahasiswa melihat kejadian itu, ada yang merekam nya dan ada juga yang menggosipi Tsabinna yang menurut mereka Tsabinna itu cewek caper.
Tsabinna berjalan menuju kelas nya, baru saja ia mendaratkan bokong nya, Tsabinna sudah mendengar teriak Nadin yang membuat kuping Tsabinna pengang!
"Tsa, ada gosip nih!" teriak Nadin yang baru saja masuk.
Tsabinna hanya menaikan sebelah alis nya sambil menatap Nadin.
Nadin menunjukan video itu, sontak Tsabinna terkejut bukan main. Video itu saat Tsabinna sedang membabi buta wajah tampan milik Bara dosen nya sendiri.
Tsabinna memukul meja nya, sampai membuat yang lain terkejut sambil menatap Tsabinna bingung.
"Gak bisa di biarin!" teriak Tsabinna.
Nadin menatap Tsabinna. "Gue tau, lo gak sengaja kan mukulin pak Bara?" tanya Nadin.
Tsabinna menggeleng. "Gue sengaja, karna dia udah injek injek harga diri gue!" sinis Tsabinna.
Nadin menghela nafas berat. "Tapi gak gitu juga, Tsa" sahut Nadin.
"Emang nya kenapa?" tanya Tsabinna.
"Lo gak inget aturan kampus ini gimana, semua mahasiswa mau pun mahasiswi harus menghormati dosen nya, lo berurusan sama dosen beuh pertanda lo gak bakal bisa hidup tenang." peringat Nadin.
Tsabinna hanya mendengar omelan dari temannya itu, ia tidak takut jika harus berurusan dengan dosen yang benar benar belagu. Prinsip Tsabinna hanya ada dua, ia tidak akan melawan jika harga diri nya tidak di injak injak, dua ia tidak akan berkelahi jika tidak ada yang memancing emosinya.
"Gue gak takut!" balas Tsabinna.
"Gue anak pak Leonardo, duit ortu gue gak bakal habis cuma buat masukin gue kuliah lagi." sahut Tsabinna sombong.
"Sombong amat lo!" desis Nadin.
Tsabinna tersenyum smirk. "Emang bener kan, harta keluarga Mahardika gak akan habis sampe sepuluh turunan." jawab Tsabinna.
"Iya deh yang anak sultan mah, sombong." desis Nadin.
Tsabinna hanya menatap Nadin malas, ia hanya ingin cepat pulang untuk bertemu anak nya Aldeon.
*****
Pukul tiga sore, Tsabinna sudah selesai melaksana kan kuliah nya, ia sekarang sudah berada di rumahnya. Arafah sudah pulang saat beberapa menit yang lalu, Tsabinna hanya berdua dengan Aldeon di rumah.
Hari ini Tsabinna harus pergi ke rumah sakit, untuk Kemoterapi, awalnya Tsabinna menolak untuk menjalani kemoterapi. Tapi ia mikir dua kali, sekarang ia sudah mempunyai anak.
Tsabinna sudah selesai Kemoterapi, sekarang Tsabinna harus pergi ke kantor suaminya itu, karna Aldeon menangis terus, mungkin bayi mungil itu rindu kepada Ayah nya.
"Masuk jangan ya." gumam Tsabinna yang sudah berada di depan pintu ruangan suaminya.
Tsabinna mendengarkan obrolan Abizar dengan perempuan, tunggu tunggu Tsabinna mengenali suara perempuan itu. Apa jangan jangan dia lagi?
Pintu ruangan Abizar terbuka sedikit, sehingga membuat Tsabinna bisa melihat suaminya sedang berbicara dengan perempuan itu, iya Keyla.
"Serius, aku di terima di sini?" tanya Keyla antusias.
Abizar terkekeh geli. "Iya, kamu jadi sekertaris aku mau?" tawar Abizar.
Keyla mengangguk antusias. "Mau banget, Al." jawab Keyla.
"Boleh peluk gak, kangen soalnya." sambung Keyla
Abizar tersenyum manis. "Boleh kok." balas Abizar.
Deg
"Abizar, apa apaan sih." batin Tsabinna.
Mereka pelukan dengan erat, Abizar mengelus rambut panjang Keyla. Dan Keyla menyenderkan kepala nya di dada bidang Abizar.
Cklek
Tsabinna membuka pintu tersebut, ia masih memegang knop pintu ruangan Abizar tersebut. Sontak kedua sejoli itu terkejut lalu melepaskan pelukannya.
"Sorry ganggu." ucap Tsabinna.
Abizar langsung panik. "Tsa, aku bisa jelasin kok." jawab Abizar.
Tsabinna tertawa hambar. "Gak usah." tolak Tsabinna.
Keyla hanya tersenyum miring. "Kalian udah punya anak ya, udah besar lagi bayi nya." sahut Keyla.
"Apa jangan jangan, lo hamil di luar nikah?" tanya Keyla sambil menatap Tsabinna.
Tsabinna mengepalkan tangannya, ia mendekat ke arah Keyla dan ia pun mulai melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi Keyla, saking keras nya sampai terdengar suara tamparan tersebut.
Keyla meringis kesakitan, Abizar yang melihat itu pun naik pitam karna perbuatan istrinya.
"Kamu apa apaan sih!" bentak Abizar.
Tsabinna terkejut karna bentakan itu. "Dia yang mulai duluan!" sinis Tsabinna.
"Keyla, kan cuma nanya." balas Abizar santai.
"Itu bukan nanya, tapi fitnah!" ketus Tsabinna.
"Kalau kamu gak hamil di luar nikah ya gak usah pake nampar segala!" gertak Abizar.
"Gue kecewa sama lo!" balas Tsabinna lalu berlari keluar ruangan.
Saat Abizar hendak mengejar Tsabinna, tangan kanan nya di cekal oleh Keyla.
"Bi, sakit." lirih Keyla.
Abizar yang melihat Keyla seperti itu, ia tidak tega jadinya. Ia pun memilih untuk tetap di ruangan menemani Keyla.
Tsabinna menangis di dalam mobil, ia ke kantor suaminya di antar oleh pak satpam yang berada di rumah nya.
"Non, kenapa?" tanya pak satpam.
Tsabinna menggeleng kepala. "Jalan pak." suruhnya.
Pak satpam pun mengangguk lalu mulai menjalankan mobil milik majikannya tersebut. Air mata Tsabinna turun semakin deras, hati nya sangat sakit seperti di tikam ratusan jarum. Hari ini hari dimana Abizar membentak nya dan juga membela perempuan di masa lalu nya.