
Pagi ini Tsabinna sedang bermain dengan Aldeon, kini Aldeon sudah menginjak usia tiga tahun. Aldeon sudah bisa berbicara tapi belum bisa ngomong huruf R.
"Bun." panggil Aldeon.
Tsabinna yang sedang mencuci baju pun, harus berlari menuju ruang bermain baby Aldeon.
"Apa sih, Deon?" tanya Tsabinna.
Aldeon hanya cengengesan. "Ayah, kapan puyang?" tanya Aldeon yang sedang memegang mobil mobilannya.
Tsabinna terdiam beberapa saat. "Bunda gak tau." balas Tsabinna cuek.
Aldeon menatap Tsabinna yang sedang sedih. "Bun, ndak papa?" tanya Aldeon memastikan.
Tsabinna menggeleng lalu ia mendekap tubuh mungil sang anak. "Kamu kalau udah besar, harus bisa hargai perempuan ya sayang." ucap Tsabinna.
Aldeon mengangguk meski pun diri nya tidak mengerti apa yang di maksud oleh bunda nya. "Bun, ndak boleh angis." cicit Aldeon.
Tsabinna tersenyum manis. "Nggak kok sayang, kamu maen sendiri dulu ya, bunda mau nyuci baju." sahut Tsabinna sambil mengelus rambut Aldeon lembut.
Aldeon hanya mengangguk menanggapi. Ia mulai bermain dengan mainan nya yang cukup banyak.
Tsabinna sudah kembali ke kamar mandi yang berada di lantai bawah.
Aldeon berteriak. "Ayah!" teriak Aldeon sambil berlari ke Abizar.
Abizar tersenyum melihat putra nya. "Anak ayah apa kabar?" tanya Abizar sambil menciumi wajah Aldeon.
Aldeon tertawa kencang. "Aku baik." sahut Aldeon
"Bagus deh." balas Abizar.
"Ayah kenapa balu puyang sekalang, kata Bunda ayah gak puyang udah satu bulan lebih." cicit Aldeon.
Abizar tersenyum. "Maafin, Ayah ya sayang." jawab Abizar.
Aldeon hanya mengangguk. "Bunda, tadi angis." adu Aldeon .
Abizar menaikan sebelah alis nya. "Kok bisa nangis sih?" heran Abizar.
"Ndak tau, tadi Deon tanya bunda jawab ndak papa." tutur Aldeon.
Cup!
"Al, disini dulu ya, ayah mau ke bunda dulu oke." ucap Abizar.
"Iya ayah." balas Aldeon.
Abizar langsung mencari keberadaan istri kecilnya. Ia sudah mencari ke seluruh ruangan di dalam rumah nya tapi nihil tidak ada Tsabinna. Ia berjalan ke taman depan rumah mereka, Abizar tersenyum melihat istrinya yang sedang menjemur pakaian.
"Tsa, kamu apa kabar?" tanya Abizar.
Tsabinna mendongak. "Baik, gimana perusahaan kamu yang di Bandung?" tanya Tsabinna yang masih sibuk menjemur pakaian.
Abizar tersenyum. "Baik kok, oh iya waktu aku ke Bandung, masa sih aku cuma di temenin sama Keyla doang, tapi ada untung nya juga sih soalnya Keyla makin cantik." sahut Abizar.
Deg
"Tapi ada untung nya juga sih soalnya Keyla makin cantik."
Ucapan Abizar sukses membuat Tsabinna tidak berkutik sedikit pun, Tsabinna merasakan lemas di kedua kaki nya. Bahkan ia sampai terduduk di rumput depan rumah mereka.
Abizar yang melihat itu pun langsung membantu Tsabinna udah duduk di kursi teras rumah mereka. Ia memberikan minum untuk Tsabinna.
"Minum dulu, Tsa." titah Abizar sambil menyodorkan gelas berisi air putih.
Prang
Tsabinna menjatuhkan gelas yang di genggam oleh Abizar, dan membuat sang empu kaget bukan main.
"Tsa, are you okay?" tanya Abizar memastikan.
Tsabinna menatap Abizar horor. "Lo masih sayang sama masa lalu lo?" tanya Tsabinna sambil tersenyum miring.
Abizar menelan salivanya susah payah. "Aku. Eum udah gak sayang lagi kok sama dia." balas Abizar gelagapan.
"Udah tiga tahun kita menikah, dan lo masih bisa bisa nya nyimpen perasaan lo buat si KEYLAKOR?!" murka Tsabinna
"Tsa, aku gak terima kamu ngubah nama Keyla jadi kayak gitu." balas Abizar tidak terima.
"Haha, emang gue peduli?" desis Tsabinna.
"LO TUH KAYAK ANAK KECIL TSA, EMANG PANTES SEORANG WANITA YANG UDAH PUNYA SATU ANAK NGEJELEK JELEKIN NAMA ORANG?!" sarkas Abizar.
Aldeon sampai keluar dari ruang bermainnya, ia pun mulai berlari menuju taman depan rumah nya. Aldeon melihat bunda nya yang sedang menangis tersedu sedu.
"Bundaaaaa." teriak Aldeon.
Aldeon berlari lalu berhamburan memeluk sang bunda yang sedang menangis.
"Al, kenapa ke luar sayang?" tanya Tsabinna sambil menahan isakan kecilnya.
"Bunda, kenapa angis?" tanya Aldeon lalu ia menatap Abizar yang sedang menatap ke arah lain.
Aldeon memukul kaki Abizar menggunakan sapu yang berada di luar rumah. Ia menatap Abizar tajam.
"Ini pasti ulah ayah, iya kan!" tanya Aldeon ngegas.
Abizar menggeleng sambil merintih kesakitan karna pukulan dari sang anak.
"Al, udah sayang." lerai Tsabinna.
"Ndak mau, bun." ucap Aldeon.
"Ayah jahat udah bikin bunda angis." sambung Aldeon.
Tsabinna terharu mendengar ucapan dari sang anak, ia bersyukur memiliki anak seperti Aldeon yang bisa menghargai perempuan. Berbeda dengan Abizar, yang selalu menyepelekan hal hal kecil.
Abizar berjalan menuju motor sport nya, lalu Abizar menancap kan gas motor nya itu dan melaju keluar gerbang rumah.
"Ayah, jangan tinggalin Al." tangis Aldeon sambil berlari mengejar Abizar.
Tsabinna mengejar Aldeon, lalu ia mendekap tubuh mungil sang anak. "Al, biarin ayah pergi ya sayang." pekik Tsabinna
"Tapi bun, ayah jahat.." tangis Aldeon semakin pecah.
Tsabinna memejamkan mata nya kala menahan amarah yang benar benar sudah di puncak nya, ia mengelus punggung mungil anak nya itu.
"Sayang, dengerin bunda ya." pinta Tsabinna sambil menghapus air mata Aldeon.
Aldeon mengangguk. "Apa?" tanya Aldeon dengan isakan kecil.
"Nanti ayah pasti pulang kok." ucap Tsabinna sambil melihat ke arah lain.
"Bunda gak boong kan?" tanya Aldeon.
"Nggak kok sayang." balas Tsabinna.
"Kita masuk yuk." ajak Tsabinna.
"Tapi, ayah gimana?" tanya Aldeon.
"Nanti ayah pulang kok." jawab Tsabinna setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.
****
Malam ini Tsabinna sedang memeluk Aldeon yang ingin tidur, Aldeon sama seperti Abizar jika tidak di peluk ya gak tidur.
Tsabinna sambil menepuk bokong sang putra, tangan kiri nya memegang ponsel berlogo apel di gigit.
Ting!
Mertua❤️ | kamu lagi dimana sayang?
Me | di rumah, Ma
Mertua❤️ | bukannya kamu lagi di mall ya?
Me | mksd mama?
Mertua❤️ | tdi mma liat abizar di mall sama cwek mama kira itu kamu sayang.
Me | mama serius?
Mertua❤️ | iya beneran
Mertua❤️ | mama kira itu kamu
Me | bkn ma, makasih info nya!
Tsabinna melemparkan ponsel nya ke karpet berbulu, ia menangis tersedu sedu, melihat foto yang di kirim kan oleh mertua nya. Ia benar benar tidak tau lagi sekarang harus apa
"Gue gak mungkin cerai sama Abi, nanti Deon gak punya ayah dong." ucap Tsabinna risau.
"Maafin bunda sayang." lirih Tsabinna sambil menatap wajah damai sang anak.
Tsabinna berjalan menuju balkon kamar nya. Ia terduduk di kursi yang di sediakan di balkon tersebut.
"Ma, aku kangen." lirih Tsabinna menatap langit malam.
Sudah satu bulan lebih orang tua Tsabinna ke Amerika, kata nya sih hanya mengurus beberapa pekerjaan, tapi sampai detik ini mereka belum juga pulang.
"Abi, bukan orang yang baik."
"Kapan sih aku bahagia, aku udah ikutin semua ke mauan mama sama papa, tapi apa? Aku hidup gak bahagia, Abizar selingkuh ma. Abizar pasti bakal poligami."
"Aku gak tau harus gimana, aku pengen pisah tapi aku gak boleh egois, Aldeon masih butuh sosok ayah."
"Argh pusing."
Tsabinna benar benar rapuh malam ini, ia baru tau jika Abizar pergi ke mall bersama wanita. Ia yakin wanita itu adalah Keyla mantan Abizar. Apakah sekarang ia harus egois? Bagaimana kehidupan Aldeon setelah ia dengan Abizar bercerai?
Tsabinna tidak mau jika Aldeon kekurangan kasih sayang dari sosok sang ayah. Tsabinna hanya bisa berpasrah kepada tuhan, ia benar benar frustasi sekarang. Ingin sekali ia balapan atau tidak tawuran tapi diri nya mikir dua kali karna sekarang ia sudah menjadi seorang ibu. Tsabinna berjanji akan mengajari Aldeon bela diri, agar jago bela diri seperti diri nya.