
Saat ini Tsabinna dan juga Aldeon sedang berada di mall, ia ingin Refreshing. Aldeon begitu antusias saat bermain di time zone.
"Al, pulang yuk sayang." panggil Tsabinna.
"Iya bental." jawab Aldeon.
Tsabinna mendudukan dirinya di kursi tunggu. Ia menatap Aldeon yang begitu senang, ia pun mulai membuka ponsel yang berlogo apel di gigit.
TBAS🔥
Me | gue mau cerai sama abi
Balqis | apaan sih, gak bisa lawak diem!
Aurelele | iya bnr bnget
Sepi | queen g bsa lawak👎
Me | klo g prcya gpp
Balqis | emng lo serius?
Me | 👍
Aurelele | what!
Read
Ia menyimpan kembali ponselnya kedalam tas nya. Ia mulai memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu, ia tidak menyangka jika Abizar akan melakukan seperti itu kepada Keyla. Sekarang keputusan Tsabinna sudah bulat, ia ingin cerai dengan suaminya. Tidak mungkin Tsabinna menerima jika dirinya di madu, lebih baik pisah saja bukan?
"Tsabinna." sapa seseorang membuyarkan lamunan Tsabinna.
Tsabinna mendongak. "Eh Bara." jawab Tsabinna.
"Lo ngapain di sini?" tanya Bara.
Saat hendak menjawab, suara Aldeon mengalihkan kedua sejoli itu.
"Bunda." panggil Aldeon.
"Bunda?" beo Bara.
"Lo udah punya anak?" tanya Bara.
Tsabinna mengangguk. "Al, sini sayang." suruh Tsabinna.
Aldeon berlari ke arah Tsabinna. "Ada apa bun?" tanya Aldeon.
"Pulang yuk, udah mau malem nih." ajak Tsabinna.
"Yah tapi aku belum puas maen nya, bun." rengek Aldeon.
Aldeon menatap Bara. "Abang ini ganteng sama kayak Al." kagum Aldeon.
Bara tersenyum manis. "Hai nama abang Bara." ucap Bara sambil mengulurkan tangannya.
Aldeon membalas uluran tangan Bara. "Nama aku Aldeon Ghifali Mahaldika." balas Aldeon cadel.
"Mahardika kali." koreksi Tsabinna.
Aldeon mengerutkan bibirnya lucu. "Ih bunda, aku kan gak bisa ngomong L." jawab Aldeon.
"R bukan L." koreksi Bara.
"Ganteng ganteng masih cadel!" ejek Tsabinna.
Aldeon hanya menatap Tsabinna malas. "Abang, jadi ayah Al mau gak?" tanya Aldeon begitu frontal.
"Al, gak usah ngadi ngadi kamu!" bentak Tsabinna.
"Tadi bunda angis, di malahin telus sama ayah." adu Aldeon kepada Bara.
"Beneran tadi bunda di marahin hm?" tanya Bara.
Aldeon mengangguk. "Iya benelan, tadi pas puyang dari lumah nenek, bunda angis sambil pukulin stil mobil." ujar Aldeon.
Tsabinna benar benar malu karna kelakuan anaknya ini. "Ayo pulang, sebelum bunda suruh kamu bobo di luar rumah, mau?" ancam Tsabinna.
Aldeon menciut mendengar ancaman dari bunda nya. "Iya ayo puyang!" sahut Aldeon antusias.
"Bar, gue balik duluan ya." pamit Tsabinna.
"Iya, boleh dong kapan kapan gue maen ke rumah lo?" tanya Bara.
"Boyeh banget!" timpal Aldeon ceria.
Tsabinna melihat kelakuan anaknya hanya bisa menggeleng. Ia dan juga Aldeon segera menuju parkiran untuk pulang ke rumah mereka. Hari sudah menjelang malam, Tsabinna terjebak macet di kota Semarang. Ia menatap Aldeon yang tertidur pulas di kursi samping pengemudi.
Tsabinna berinisiatif untuk membelikan Seafood. Tapi sayang kota Semarang belum juga sepi, ia masih terjebak macet selama satu jam lebih.
Tsabinna menghela nafas panjang. "Lama banget macetnya." gerutu Tsabinna.
Setelah menghabiskan waktu selama dua jam lebih, akhirnya Tsabinna sudah membelikan Seafood untuk Aldeon yang sedang tertidur pulas.
Setelah itu, Tsabinna sudah sampai di rumah nya. Ia segera menggendong tubuh mungil Aldeon, begitu sampai di ruang keluarga ia di kejutkan oleh kedatangan Abizar.
"Abis dari mana, Tsa?" tanya Abizar sambil tersenyum manis.
"Aku cuma pengen liat keadaan kalian berdua, apa salah." cicit Abizar.
"Salah, karna lo bentar lagi kan punya anak dari darah daging lo sendiri, betul?!" ucap Tsabinna ngegas.
"Maafin aku, Tsa." lirih Tsabinna.
"Gue udah bosen denger kata maaf lo! Semua orang bisa mengucapkan kata maaf, tapi gak semua orang bisa ngulang kesalahan yang sama!" tutur Tsabinna.
"Pergi atau gue sama Aldeon yang pergi dari sini". tekan Tsabinna.
"Maafin aku plis, aku bener bener khilaf." jawab Abizar sendu.
"Gue gak butuh kata maaf lo BRENGSEK, gue cuma mau lo pergi dari rumah ini!" bentak Tsabinna.
"Nikahin cewek lo itu, jangan lupa undang gue biar gue bisa undangan bareng sama Aldeon, nanti Aldeon bisa liat gimana kelakuan ayah nya!" sambung Tsabinna.
Abizar sama sekali tidak berkutik. Mulut nya berasa mati rasa, karna tidak bisa mengelak lagi. Minta maaf pun percuma, Tsabinna sudah kecewa kepada nya.
Tsabinna membawa Aldeon ke kamarnya, setelah itu ia mulai menemui Abizar. "PERGI ATAU GUE YANG PERGI!" teriak Tsabinna.
"Tapi aku pengen sama kalian." lirih Abizar.
Plak
Plak
Plak
Plak
"Gue muak sama lo!". murka Tsabinna.
Bugh
Bugh
Bugh
"KELUAR DARI SINI ATAU GUE YANG KELUAR!" teriak Tsabinna.
Abizar berusaha bangun, tubuhnya sakit akibat bogeman dari Tsabinna. Tubuh nya berasa remuk, ia tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.
"Aku sa..sayang sama kamu." ucap Abizar terbata bata.
Tsabinna mengepalkan tangannya. Ia mulai menarik paksa tubuh tegap milik Abizar.
Bruk
Tsabinna menjatuhkan tubuh Abizar di tanah depan rumah nya. "Pergi dari sini BRENGSEK!” bentak Tsabinna lalu masuk ke dalam rumahnya.
Abizar berjalan gontai. Ia mulai menaiki motor sport nya, wajah tampannya penuh dengan bogeman dari Tsabinna. Ia memaksakan agar bisa mengendarai motor sportnya.
Tsabinna menangis di sofa panjang, ia benar benar lega karna tidak ada Aldeon yang melihat dirinya menangis tersedu sedu.
"Abi jahat." tangis Tsabinna.
"Aku pengen pisah sama Abi, hati aku udah bener bener sakit, tapi gimana sama Aldeon."
Aldeon menatap bunda nya dari anak tangga. "Bunda." panggil Aldeon.
Tsabinna dengan cepat menghapus air matanya dengan kasar dan ia memaksakan tersenyum. "Eh kok bangun sih?" tanya Tsabinna.
"Bunda, agi ada masalah sama ayah?" tanya Aldeon.
"Kenapa bunda, gak pelnah celita ke Al" sambung Aldeon.
Tsabinna menggeleng. "Nggak ada kok sayang." balas Tsabinna.
"Kalau bunda boong, nanti idung nya panjang kayak pinokio." jawab Aldeon.
Tsabinna menggendong tubuh mungil Aldeon. Sekarang mereka berdua sedang tiduran di atas kasur king size nya. Aldeon dari tadi tidak bisa tidur karna khawatir dengan keadaan bunda nya.
"Al, janji kalau udah besal gak bakal kayak ayah." ucap Aldeon.
Tsabinna menatap Aldeon. "Emang ayah gimana?"
"Ayah jahat, bisanya bikin bunda angis, aku sebel banget sama ayah, nanti kalau aku udah besal aku bakal hajal ayah." sahut Aldeon antusias.
Tsabinna menggeleng. "Gak boleh gitu sayang, emang kamu mau jadi anak durhaka?" tanya Tsabinna.
"Dulhaka?" beo Aldeon.
"Iya durhaka, itu anak yang suka marah marah sama orang tuanya terus suka ngebantah kata orang tuanya pokoknya gitu deh kasar sama kedua orang tua, kalau kamu kayak gitu ntar di kutuk jadi batu emang mau?" tanya Tsabinna.
Aldeon menggeleng keras. "Al gak mau jadi batu bunda, Al pengen jadi pembalap kayak di tv." pekik Aldeon.
"Al juga pengen bahagiain bunda, sekalang bunda gak boyeh sedih agi kan masih ada Al." sambung Aldeon.
Tsabinna mendekap tubuh mungil itu dengan gemas. Ia tidak habis pikir mengapa bocah seperti Aldeon pikirannya seperti orang dewasa. Ia benar benar bersyukur mempunyai anak seperti Aldeon yang pengertian. Meskipun Aldeon bukan anak kandungnya, tapi ia benar benar menyayangi Aldeon layaknya anak kandung.
Tsabinna akan bahagiakan Aldeon apapun caranya, ia benar benar tidak ingin jika Aldeon kekurangan kasih sayang sedikitpun. Karena menurutnya kekurangan kasih sayang sangat lah tidak enak.
Ia hanya berharap bisa hidup sampai nanti dengan anaknya Aldeon, ia bahagia sangat bahagia bisa di pertemukan dengan anak se-pintar Aldeon.