HUMAN 2075

HUMAN 2075
Manipulasi


Ekspresi di wajah Juju hanya tinggal kesedihan dan penyesalan. Dia yang harusnya bisa menjaga sang istri, satu-satunya keluarga yang ia punya. Tetapi dia hanya bisa sebatas ini, dia hanya bisa memberikan sebuah keputusan paksa untuk Jupiter.


Dia terlalu takut kehilangan istrinya, sehingga Juju tak mau bertanya tentang, setujukah Jupiter akan pilihan yang ia pilih.


Juju tak bertanya terlebih dahulu pada Jupiter, tentang keputusannya untuk menurunkan Type Gen istrinya. Dia tak ingin ada penolakan dari Jupiter, dia tak ingin berdebat dengan Jupiter, karena ketika wanita itu bersedih, maka Virus Zombie akan menguasai tubuhnya.


Juju benar-benar tak tega, ketika melihat istrinya yang amat cantik jelita, berubah menjadi Zombie di depan matanya.


Setiap melihat Jupiter berubah menjadi Zombie, dirinya merasa gagal. Dia merasa tak pecus menjadi seorang suami, apa lagi menjadi seorang ayah bagi janin yang kini bersemayam di rahim Jupiter.


Juju merasa tak pantas berada di dekat siapa pun saat ini. Menjadi Pemimpin SYPUS, adalah sebuah tanggung jawab yang tak kecil. Dia yang adalah orang gagal ini, dapatkah ia meneruskan tanggung jawab sebesar itu.


Melindungi seluruh Makhluk hidup di Bumi, dari terpaan bencana akhir zaman. Sanggupkah orang seperti Juju memikulnya.


Lamunan Juju pecah, karena dia melihat sebuah pergerakan aneh di dalam kamar Isolasi Jupiter.


Mata indahnya segera membidik tajam ke arah dalam kamar Jupiter, dia memandang sekeliling ruangan yang ditempati Jupiter dengan seksama.


Tetapi aneh sekali, Juju tak mendapatkan apa pun. Padahal dia yakin sekali, ada sesuatu yang aneh di dalam kamar Jupiter.


Juju segera meneliti ekspresi Jupiter yang sedang duduk tenang di atas ranjangnya.


Tepatnya baru mulai tenang, dada Jupiter yang membusung, kembang-kempis menahan sesak. Nafasnya tersenggal karena dia baru saja pulih dari perubahan.


Juju merasa tenang kembali setelah melihat Jupiter tak bereaksi. Sebagai manusia setengah Zombie, Jupiter memiliki indra perasa yang lebih tajam dari manusia biasa.


Tak mungkin Jupiter tak dapat mendeteksi, jika ada sesuatu yang aneh di sekitarnya.


"Tuan semua sudah siap!" Dokter Daniel berkata pada Juju.


Lelaki berjas dokter dengan wajah datar itu tak bisa membantah keputusan Juju untuk mempersiapkan, persiapan proses penurunan Type Gen Jupiter. Ia ingin keberatan, tapi Daniel juga tak tega melihat kondisi Jupiter saat ini.


Wanita jenius, cantik dengan kharisma luar biasa, seperti Jupiter terkurung di ruang isolasi yang tertutup, dengan penyakit yang mungkin tak bisa disembuhkan.


"Tuan!" Dokter Daniel mengulangi perkataannya, sebab Juju tampak tak bergeming. Lamunan lelaki gagah itu terlalu dalam, sehingga dia tak mendengar dengan jelas perkataan Dokter Daniel.


"Ohhh, Apa?!" Juju terkejut dengan keberadaan Dokter Daniel di dekatnya.


"Masih ada waktu, jika anda mau merubah keputusan anda!" kata Dokter Daniel.


Juju menggeleng dengan keraguan terlukis jelas di raut wajahnya.


"Bagiku Nyawa Jupiter adalah segalanya. Dia harus selamat, apa pun caranya!" Juju berkata begitu yakin, membuat keraguan di hati Daniel menghilang seketika.


Tampaknya Daniel tak perlu khawatir jika atasannya akan dikucilkan setelah menjalani prosedur penurunan Type Gen. Jupiter punya pelindung yang amat kuat dan tulus seperti Juju, Daniel merasa dirinya khawatir secara berlebihan.


"Baiklah Tuan! Saya akan mempersiapkan Nyonya Jupiter terlebih dahulu!" Daniel meminta ijin pada Juju, agar dia bisa masuk ke dalam kamar Jupiter.


Jupiter harus dipindahkan keruangan khusus untuk menjalani prosedur penurunan Type Gen.


"Jangan bilang pada Jupiter, jika dia harus menjalani prosedur penurunan Type Gen!" Juju memperingatkan Daniel.


"Tenang Tuan! Saya tak akan mengatakan hal itu pada Nyonya Jupiter!" jawab Daniel.


Juju mengangguk pelan, dia terpaksa mempercayakan semua pada Dokter Daniel. Karena dia tak bisa menemui Jupiter secara langsung. Entah kenapa setiap melihat Juju, Jupiter menjadi semakin sering berubah menjadi Zombie.


Juju masih berdiri di sana, melihat setiap proses yang Daniel lakukan. Calon Pemimpin SYPUS itu terus memantau keadaan di dalam ruangan isolasi Jupiter tanpa rasa lelah.


"Tuan mau kemana?!" penganti Alan berteriak keras pada Tyfan yang keluar dari ruang keamanan Mention Pribadi Tuan Gayo, secara tiba-tiba.


Tyfan sama sekali tak mengubris pertanyaan yang diajukan oleh anak buahnya padanya. Saat ini yang ia pikirkan hanya satu hal, orang yang menjadi pemicu Alan pingsan.


Tyfan menebak, manusia tanpa Gen di ruang penjara kaca, yang ia tugaskan untuk Alan berikan Darah Hijau Makhluk Mars. Pasti mempunyai andil besar, atas kekacauan di Laboratorium Mention Pribadi Tuan Gayo.


"Tuan...Tuan!!!" pengawal pengganti Alan terus saja memanggil Tyfan yang berlari kencang di depannya.


Tyfan sampai di ruang penjara kaca, di mana semua manusia tanpa Gen dikurung, sebelum mereka diberikan Darah Makhluk Mars. Tyfan membuka pintu besi dengan keamanan tinggi dengan pindaian kornea, sidik jari dan juga sebuah kode angka yang hanya dia dan Tuan Gayo yang tau.


Dia berjalan cepat, satu persatu ruang penjara kaca ia periksa. Dia mencari orang yang terakhir Alan temui, sebelum bawahannya itu pingsan.


Tyfan hampir saja melewatkan ruangan yang tepat, namun penglihatan dan juga instingnya yang tajam, Tyfan kembali mundur lalu melihat dengan cermat manusia di dalamnya.


Tyfan langsung mengenali manusia itu, wajahnya yang masih gugup terlihat bertambah gugup ketika meihat lelaki di depannya.


"Kau?!" Tyfan tampak terkejut melihat pria yang terbaring di salah satu Ruang Penjara Kaca di depannya.


"Kenapa kau masih hidup?!" Tyfan kembali bergumam, matanya masih melotot tajam ke arah pria di depannya.


Lisa duduk diam tanpa banyak bergerak, mata indahnya bahkan berkedip secara teratur, sesuai perintah Tyfan padanya. Ia terdiam tanpa berpikir apa pun, Lisa sama sekali tak punya setitik-pun ingatan masa lalunya di otaknya.


Manusia tetap-lah manusia, mereka tetap Mahkluk Ciptaan Tuhan dengan akal dan perasaan. 


Manusia tetap bisa berpikir, meski jaman sudah berubah jauh. Manusia masih punya rasa, entah itu rasa marah, sedih, bahagia. Banyak perasaan yang tercipta di hati manusia, sehingga mereka menjadi makhluk yang ekspresif.


Cinta adalah sebuah hal yang tak bisa dilukiskan oleh apa pun. Cinta adalah rasa yang ajaib, yang bisa membuat kita lupa segalanya.


Keyakinan yang awalnya kita pegang teguh, bisa runtuh porak-poranda karena perasaan egois yang kita punya. 


Kita bisa berubah menjadi manusia yang berbeda, ketika jatuh cinta. Serasa bisa melakukan apa pun untuk seseorang yang kita cintai, tanpa memikirkan semua hal yang mungkin bisa terjadi.


Kerugian akan keputusan yang kita buat tanpa menimbang semua aspek, seolah tak kita pedulikan. Asal orang yang kita cintai tetap berada di sisi kita.


Ketika manusia jatuh cinta, tanpa sengaja mereka berubah menjadi orang yang sangat egois.


Tak ada yang bisa ditebak dengan benar, jika menyangkut masa depan. Tak ada yang tau, apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Manusia selalu ingin mendahului waktu, tapi waktu adalah sebuah hal yang tak bisa dimanipulasi.