HUMAN 2075

HUMAN 2075
Rahasia Gen Akis


"Aku tak berharap kok!" kata Juju.


"Jika aku berhasil menyalahkan bencana kali ini pada Tuan Gayo!


"Kau tak perlu memberi bayi padaku!" ujar Jupiter.


"Apa yang sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Juju pada Jupiter.


Juju sama sekali tak bisa membaca arah pikiran Jupiter. Gadis Gen Akis itu amat ambisius, tapi tak bisa ditebak.


"Aku hanya ingin hidup selayaknya manusia!" Ujar Jupiter.


Pandangan Juju menyapu kaca bening di depannya, dia hanya bisa melihat langit yang biru dan beberapa awan yang berwarna kelabu.


Pria itu masih duduk di kursi penumpang sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Jupiter istrinya.


Hidup selayaknya manusia, benar kata sederhana itu. Yang mungkin 50 tahun yang lalu tak tak begitu dipentingkan. Tapi kini hal itu sangat mahal harganya, tak ada mata uang yang sanggup membeli hal itu sekarang.


Semua orang harus hidup sesuai aturan SYPUS, jika tidak maka mereka tak akan mendapat jatah Vaksin dan akan mati mengenaskan. Di usia muda tentunya.


"Apa bisa?" tanya Juju pada Jupiter.


"Hanya kau satu-satunya manusia yang kutemui semenjak aku hidup! Dan aku iri sekali saat melihatmu yang begitu normal," ujar Jupiter.


"Aku???" Juju tampak sangat bingung. Manik matanya berputar, dia tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Jupiter.


"Pencernaanmu bagus, darahmu di kekentalan yang setabil.


"Fisikmu masih bugar di usiamu, dan kau masih bisa mimpi basah tadi!" jelas Jupiter.


Juju membuang pandangannya dari Jupiter, lelaki gagah itu sedikit kesal. Karena istrinya masih membahas masalah sepele itu.


"Apa nggak ada bahan obrolan lain?" gumam Juju.


"Tentu saja ada! Tapi apa kau masih ingin mengobrol denganku?" tanya Jupiter.


"Asal apa yang kau bicarakan ada faedahnya, aku tak keberatan mendengar. Meski panjang!" ujar Juju.


"Apa kau memikirkan, mahluk apa yang akan kita hadapi di Lingkar Olio Gen Akis?" tanya Jupiter pada Juju.


"Apa kau tak bisa menjelaskan saja, tanpa menyelipkan pertanyaan?" keluh Juju.


Calon Pemimpin SYPUS itu mulai tak suka, jika ada yang menanyakan pertanyaan yang tak bisa dia jawab.


"Ok, suamiku!


"Aku tak akan menggunakan kalimat tanya lagi!" ujar Jupiter.


Juju mengerutkan dahinya sampai matanya terpejam, dia sangat tak suka dengan perkataan Jupiter.


"Jangan pernah panggil aku, 'Suamiku'!" Juju melanjutkan keluhannya.


"Baiklah, ternyata kau tipe pria yang ribet juga yaaa!" ujar Jupiter.


"Jelaskan padaku sekarang!" perintah Juju.


Jupiter hanya tersenyum tipis, dia tak menyangka bisa mengoda Juju hanya dengan kalimat pasif seperti itu. Pria disampingnya itu memang lucu, menurut Jupiter.


"Awal mula kenapa Gen Akis dianggap tak kebal dari Virus Zombi.


"Jadi satu tahun yang lalu, seorang Zombi ditangkap dan diteliti.


"Zombi itu dibawa ke laboratorium Gen Akis di Lingkar Olio SYPUS.


"Zombi itu dibawa ke sana dalam kondisi hidup-hidup, Zombi tak bisa dibius atau di lumpuhkan dengan cara apa pun kecuali dibunuh.


"Dengan rantai yang membelenggu dan alat pelindung di wajahnya, Zombi itu hidup disebuah ruang kaca di laboratorium.


"Zombi itu tak mau makan daging hewan apa pun!" jelas Jupiter.


Sementara Juju memperhatikan Jupiter yang masih menjelaskan, dan sibuk mengalihkan pesawatnya ke mode otomatis. Mereka telah keluar dari area Benua Aust, jadi GPS SYPUS sudah bisa diaktifkan kembali.


Karena hanya dengan perangkat itu tanpa perlu dikemudikan, dengan otomatis pesawat tenaga nuklir itu berjalan ke tempat tujuannya tanpa kecelakaan. Kelengkapan sensor yang tiada tanding, dan responsif yang luar biasa. Begitu banyak teknologi canggih yang dimiliki oleh SYPUS, karena itu SYPUS menjadi perusahaan teknologi yang berkuasa di Bumi saat ini.


"Zombi itu hanya mau makan daging manusia, tapi saat darah Gen Akis di suntikkan kedalam tubuh Zombi itu.


"Zombi itu punya sedikit ketenangan, mahluk menjijikan itu menjadi tak buas lagi. Namun lama-lama Zombi itu mati dengan sendirinya." Lanjut Jupiter.


Manik mata Juju membesar seakan merasa bahwa perkataan itu hanya sebuah kebohongan belaka.


"Lalu kami dengan sengaja membuat sebuah percobaan.


"Kami menyuntikkan darah Zombi ke tubuh seorang Gen Akis level tiga.


"Tiga hari setelah terkena, dia mati. Gen Akis tak bisa berubah jadi Zombi!" ujar Jupiter.


"Bukankah seharusnya serangan itu sudah berakhir?" tanya Juju.


"Penelitian ini sangat dirahasiakan, karena meyalai prosedur SYPUS.


"Hanya beberapa orang dari Gen Akis yang tau akan penelitian itu," ujar Jupiter.


Juju yang mendengar hal itu, segera mencari berita tentang bencana di Lingkar Olio Gen Akis.


.


.


.


.


Dihari bencana itu Wenda istri Luca sedang keluar dengan teman-temannya untuk menghadiri sebuah pameran seni, di luar Lingkaran terdalam Gen Akis. Saat Zombi-Zombi itu muncul semua pintu di dalam gedung seni otomatis tertutup.


Wanita manis yang anggun itu tampak bingung, melihat orang-orang di sekitarnya berlarian kesana-kemari.


"Ada apa ini?" tanya Wenda pada seorang staf Galeri.


"Lingkar Olio kita diserang oleh Zombi, Nyonya!" jawab staf Galeri berbadan agak gemuk itu.


Air mukanya ketakutan, dan pandangannya sudah tak fokus pada Wenda saat ditanya. Staf itu lalu berjalan menuju dinding kaca yang berada di dasar bangunan dua lantai itu, karena memang posisi mereka ada di sana saat ini.


Grekkkkkkkkkkkkk


Grerrrr....Jegrekkkkkkk


Besi pagar sudah mulai diturunkan dengan perlahan, bisa dilihat diluar gedung mewah itu. Kekacauan sudah tak dapat dikendalikan.


Dari tempatnya berdiri, Wenda mencoba melihat keluar. Dengan perasaan gusar dan khawatir, namun wanita itu tetap bertingkah anggun. Apa pun situasinya wanita bangsawan harus tetap menjaga martabatnya, itulah pedoman yang dipegang teguh oleh leluhurnya. Leluhur yang dulunya adalah penguasa tanah Prancis.


Mata berwarna coklat terang itu terus fokus pada bayangan di luar kaca. Bayangan banyak orang yang seperti kabur, karena asap menutupi seluruh area gedung itu. Sepertinya kebakaran terjadi di sisi lain gedung seni ini.


Gubrakkkkkkkkkkk


Di depan staf bertubuh sedikit gemuk tadi, seongok tubuh manusia dengan banyak luka cabikan dan koyakkan. Tubuh yang masih lengkap itu menempel di dinding kaca galeri seni itu.


"Akkkkkkkkkkkkkk!"


Seketika semua orang berteriak, tentu saja pemandangan itu sangat mengerikan. Darah segar memenuhi tubuh pria itu, tubuh yang struktur kulitnya sudah hampir hancur itu. Dari juah Wenda memfokuskan bola matanya ke arah pria yang hampir berubah menjadi Zombi itu, tapi masih mampu berdiri itu. Wenda dapat mengenali lelaki itu.


"Jerome!!!" teriak Wenda.


Saat semua manusia di sana berteriak ketakutan dan mencoba untuk menjauhi dinding itu. Tapi dengan gesitnya Wenda mendekat, dia meneliti wajah yang sudah penuh luka gigitan Zombi itu.


"Jerommmmmmme!!!" sekali lagi Wenda berteriak.


Pria penuh luka yang hampir berubah menjadi Zombi itu adalah adik sepupunya. Lelaki itu pasti ingin memgunjungi galeri ini, karena Wenda sering membicarakan seni saat keluarga berkumpul.


"Jerome...!" Wenda merintih karena kesedihan sudah memenuhi dadanya.


Gadis bangsawan itu masih mengelus dinding kaca galeri. Dia bahkan menatap mata Jerome adik sepupunya yang sudah hampir menghitam semua.


"Bertahanlah, Jerome!" kata Wenda.


Wanita bangsawan itu membalikkan badannya, dia harus menolong sepupunya. Meski gadis manis itu tak tau apa yang bisa dia lakukan, tapi dia merasa harus berusaha. Atau dia akan menyesali hal ini, seumur hidupnya.




___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤