HUMAN 2075

HUMAN 2075
Manusia


Sebujur tubuh lelaki mengejang hebat setelah kehabisan suara karena darah di dalam tubuhnya sedang di hisap oleh manusia lain.


"Glekkkk...Glekkk...Glekkk!" dengan rakusnya Tyfan menelan setiap tetes darah dari leher asistennya sendiri.


Bak seorang vampire, dia terus menyedot dan menelan darah asistennya sampai tubuh lelaki bertubuh tegap dengan setelan jas hitam itu mati tak berdaya.


"Agrakkkkkkkkk!" Tyfan mengeram karena dahaganya telah terpuaskan.


"Buakkkkkkk!" lelaki tangan kanan Tuan Gayo itu melempar tubuh asistennya yang sudah kehabisan darah, begitu saja.


"Siapa suruh kau membuat kesalahan seperti itu!" ujar Tyfan lirih.


Ekspresi di wajahnya begitu terlihat amat puas, karena selain dahaganya yang terpuaskan. Ia juga berhasil menyingkirkan biang keladi dari kegagalannya.


Senyum kepuasannya langsung sirna dari wajah tampannya, tangan kirinya ia gunakan untuk mengelap sisa-sisa darah yang menodai bibirnya.


"Dasar tak berguna!" teriak Tyfan tiba-tiba.


Mata merah semerah darah yang menodai bibir indahnya, Tyfan tampak seperti hantu yang berkeliaran di siang bolong.


Wajahnya yang tegas mengarah kedepan dan membuat semua orang di ruang kerjanya bergidik ketakutan. Sepertinya para bawahan Tyfan yang masih sangat muda-muda itu, sedang berkumpul untuk memberikan laporan atas tugas yang ditumpukan pada mereka.


"Kalian semua!!!" kata Tyfan dengan nada yang sangat keras dan mengintimidasi. "Jangan membuat kesalahan apa pun lagi! Atau kalian akan mati mengenaskan seperti dia!" Tyfan mengacungkan jari telunjuknya ke arah mayat pria yang kehabisan darah karena dihisapnya.


Mayat pria itu sudah kaku di atas lantai. Hal mengerikan itu ternyata cukup ampuh untuk memberikan Efek Jera kepada para bawahannya.


"Baik Tuan!" secara serempak semua bawahan Tyfan menjawab ancaman bosnya.


Tyfan dengan pandangan tegas yang buas melangkah mendekati salah satu anak buahnya. Anak buahnya itu tak bergemiming, saat semua orang di sana ketakutan karena kekejaman Tyfan.


"Alan, kau yang akan mengantikan tugas Sanu di Lingkar Gen Akis!" Tyfan mendekati anak buahnya itu cukup tegas.


Orang yang paling dipercaya Tuan Gayo itu bahkan merapikan kerah jas yang dikenakan oleh Alan, meski pakaian lelaki gagah itu sama sekali tak berantakan.


"Siap Tuan!" Alan menundukkan kepalanya, tanda dia setuju menanggung tugas yang tentunya tak ringan itu.


Sebagai pemilik Gen Uras murni, masuk ke Lingkar Gen Akis saja adalah perkara yang cukup sulit. Apa lagi memata-matai kegiatan para petinggi Gen Akis yang merupakan tempat dengan keamanan luar biasa. Tetapi tampaknya Alan tak merasa keberatan sama sekali, ekspresi di wajahnya tak dapat dibaca siapa pun.


Dia begitu tenang, bak air di sungai yang paling dalam. Nafasnya saja terdengar selalu setabil meski dia dihadapkan dengan Tuannya yang membuat semua teman-temannya bergidik ngeri.


Tyfan tak mengatakan apa pun lagi, ia hanya menepuk pundak Alan sekilas. Sepertinya Tyfan sudah tau betul bagaimana kemampuan anak buahnya yang satu ini.


Mempercayai Alan, seolah adalah hal yang paling tepat di kondisi Tyfan saat ini. Seperti yang kita tau, kondisi Tyfan sedang terjepit karena kelakuan Juju di Mansion Pribadi Tuan Gayo beberapa waktu lalu.


Tak ada banyak pilihan bagi Tyfan yang namanya sudah tercoreng di mata Tuan Gayo. Tyfan harus mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga yang ia punya. Karena bagi Tyfan kepercayaan Tuan Gayo adalah segalanya baginya.


.


.


.


.


"Kau yakin bisa sendiri?" Juju sudah dihubungi oleh Seva di saat dia baru saja membuka matanya untuk memulai hari.


"Jika kau berada di sini, itu akan memicu keributan," ujar Seva.


Gadis setengah robot itu sudah siap dengan seragam kebesaran Pasukan Keamanan Gen Akis. Wanita itu begitu bersemangat karena kali ini dia akan bertemu Zombie yang jinak.


Dia berharap dengan adanya hal ini, Jupiter dan Bumi bisa bebas dari jeratan virus Zombie yang tak kunjung hilang.


"Kau benar sekali. Tampaknya Tyfan tak begitu menyukaiku, dia pasti akan mencari keburukanku!" kata Juju yang masih berada di dalam kamarnya.


Lelaki gagah itu masih telanjang dada karena habis bangun tidur, bahkan dia belum sempat membasuh muka bantalnya yang masih terlihat tampan.


"Kau harus lebih hati-hati mulai sekarang!" Seva mengingatkan Juju karena sedikit banyak Seva pernah menjadi rekan satu tim dengan Tyfan. Jadi Seva tau betul sifat dan perangi Tyfan itu seperti apa.


"Dia terlihat sangat licik!" ujar Juju.


"Ternyata penglihatanmu masih bagus!" timpal Seva.


Tyfan itu mempunyai pribadi yang licik dan tak punya rasa malu, manusia paling menjijikan memang.


"Tentu saja aku tau, dia juga memgatakannya secara terang-terangan!"


"Tyfan selalu tak suka pada siapa pun yang dekat dengan Tuan Gayo! Dia juga tak menyukaiku!"


"Aneh jika ada orang yang tak suka denganmu, kau baik dan sangat royal!" Juju memuji Seva dengan jujur.


"Wajahku memerah karena tersipu. Apa kau sekarang mau meluluhkan hatiku juga?!" canda Seva.


"Sepertinya dalam waktu dekat aku bisa meluluhkan hatimu! Sekarang aku cukup pandai merayu!" Juju menjawab candaan Seva dengan senyuman yang bahagia.


"Aku percaya!" kata Seva, pandangan Seva tiba-tiba kosong. Dia tau pujian Juju padanya bukan jenis pujian yang diberikan pria kepada wanita, lebih ke jenis pujian atasan kepada bawahan. Tetapi Seva tak bisa memungkiri dirinya sangat senang sekali ketika Juju memujinya.


"Baiklah...Sahabatku yang cantik, hati-hati yaaa! Jangan sampai terluka!"


Kata-kata Juju itu begitu merasuk ke dalam hati Seva, itu adalah kalimat termanis yang pernah Seva dengar dari mulut seorang pria.


"Kau juga, jaga dirimu baik-baik!" kata Seva, gadis itu mencoba menyadarkan dirinya dari terpaan gejolak aneh di hatinya, karena kata-kata Juju yang sederhana.


.


.


.


.


2075 dimana Bumi telah berubah sepenuhnya, dikala hati manusia sudah membeku seperti batu, dan ketika Batu terkikis menjadi Debu.


Setiap manusia selalu punya cara untuk bertahan hidup, tapi ketika salah satu manusia bertahan hidup dengan cara membunuh rasa di dalam hatinya. Apakah mereka masih bisa disebut dengan manusia.


Hari demi hari, tragedi demi tragedi, sehingga bumi berubah menjadi seperti saat ini.


Dimulai dari hari dimana semua makhluk memutuskan untuk membuang rasa dihati mereka. Ketika mereka memutuskan berperang antar negara, dan menunjukkan semua kekuatan yang mereka punya.


Perang ekonomi, perang senjata, perang nuklir dan terakhir adalah perang biologis. Ketika dunia dikuasai oleh virus saat itu SYPUS muncul sebagai penyelamat dan harapan satu-satunya untuk bertahan hidup.


Tetapi apakah benar SYPUS adalah penyelamat???


Jawabannya BUKAN.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤