
Serena memasang raut wajah bingung, apa Van benar-benar belum mengerti dengan hal semacam itu? Padahal ia cukup yakin jika buku dengan tema romansa yang ada di rumahnya telah dibaca habis oleh laki-laki itu.
"Cinta?" Serena terlihat berpikir. Ia tidak tahu harus menjawab apa, toh cinta itu ada banyak sekali penjabarannya. "Entahlah..., aku juga tidak begitu mengerti tentang hal itu." Jawabnya singkat.
Van memiringkan kepalanya, laki-laki itu makin terlihat penasaran. "Kata buku, jika kita menyukai seseorang itu bisa disebut cinta, kan?" Netra kuning laki-laki itu mengerjap antusias, tubuhnya condong ke depan sambil menunggu persetujuan Serena atas ucapannya barusan.
Serena menatap datar laki-laki di hadapannya itu, bibirnya mengukir senyum tipis karena gemas dengan wajah polos Van. "Tidak selalu, Bocah. Menyukai seseorang itu belum tentu bahwa kau mencintainya, bisa saja hanya sebatas kagum atau pun obsesi." Gadis itu berlalu dan menuang segelas air, ia haus.
"Jadi, cinta itu seperti apa?" Tanya laki-laki itu lagi, ia masih belum puas dengan jawaban Serena.
Serena kembali duduk, ia menghela nafas panjang. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada laki-laki itu, toh ia juga tidak pernah merasakan hal semacam itu, jadi bagaimana ia harus menjelaskannya?
"Yah, mungkin seperti saat kau menyukai seseorang dan juga menyayanginya, lalu kau tidak ingin kehilangan orang itu di dalam hidupmu," Serena terlihat berpikir, "dan saat kau benar-benar merasa nyaman saat berada di dekatnya..., bahkan kau selalu memikirkannya di kepalamu setiap saat...." Serena mendengus, ia juga tidak tahu sedang membicarakan apa.
Sementara Van terdiam, ia memperhatikan Serena sejak tadi. Isi kepalanya berkecamuk memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis itu.
"Sudahlah! Lagipula kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal semacam itu? Nanti kau juga akan tahu sendiri jika sudah jatuh cinta dengan seseorang!" Ucapnya frustasi.
"Aku ingin jatuh cinta pada Bunga".
Serena langsung tersedak, air yang ia teguk kembali keluar dari tenggorokannya. Gadis itu terbatuk hebat, matanya sampai berair karena menahan batuk yang tak kunjung berhenti.
Van yang melihat itu langsung berdiri dan menghampiri gadis itu, tangannya bergerak menepuk pelan punggung Serena yang sedang kewalahan karena tersedak.
"Bunga tidak apa-apa?" Terdengar nada khawatir dari laki-laki itu, ia bergerak cepat mengambil tisu dan membersihkan sisa air yang membasahi baju yang dikenakan oleh Serena.
"Aku tidak apa-apa," Serena merebut tisu yang ada di tangan Van lalu membersihkan bajunya sendiri.
"Bocah ini... Apa kau memang sepolos ini?!" Cecar gadis itu.
Sementara sang empu yang dimaksud hanya memasang wajah polos, "kenapa? Aku kan sudah besar." Sahut Van datar, matanya mengerjap bingung.
Serena tak menyahut, ia lebih memilih untuk menutup toko karena ini sudah sore. Melanjutkan pembicaraan dengan laki-laki itu pasti tidak akan ada habisnya, dan entah ada berapa banyak pertanyaan aneh lagi yang harus ia jawab nantinya.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
"Belum tidur?" Suara berat mengalun merdu pada keheningan malam.
Serena menoleh sebentar ke arah Louis, laki-laki itu hanya mengenakan celana panjang dan tidak mengenakan baju. "Di mana bajumu." Desis Serena. Padahal angin malam ini sangat dingin, tetapi laki-laki itu malah tidak mengenakan baju.
Louis mengusap kedua lengannya, jujur saya ia memang kedinginan. "Aku tidak berniat keluar, tapi saat melihatmu ada di sini aku jadi ikut," Sahutnya.
"Pakai ini, bodoh." Serena melempar selimut tipis yang sedang dipakainya pada Louis.
Laki-laki itu terkekeh, "terimakasih, Nona manis." Senyum manisnya terukir, netra biru terang itu terlihat berkilau di bawah cahaya redup lampu teras. "Hmm..., Serena. Apa kau tidak merasa aneh dengan anak itu?" Celetuknya lagi.
Serena masih menatap langit, "aneh apanya," Balasnya.
Tak terdengar sahutan, gadis itu langsung menoleh ke arah Louis yang ternyata sedang melamun.
"Hey! Aneh bagaimana?" Ucap Serena sambil menggoyangkan bahu Louis.
Laki-laki itu terlihat sedang berpikir, dahinya berkerut dalam. "Aku pikir ini penting..., aku tidak ingin mengatakannya padamu karena pasti kau hanya akan berpikir jika semua itu karena aku tidak menyukai-"
"Beri tahu saja apa yang ingin kau katakan." Potong Serena, kini raut wajah gadis itu terlihat serius. Bukannya ia marah, tapi sekarang ia sedang takut jika ternyata Louis juga mengetahui sisi aneh Van seperti yang ia ketahui selama ini.
Louis menghela nafasnya dalam, kini ia membuat posisinya berhadapan sejajar dengan Serena. "Temanku yang aku suruh untuk mencari informasi tentang anak itu benar-benar tidak bisa menemukan apapun, dia bilang kemungkinan Anjing Liar itu berasal dari desa kecil pedalaman yang jauh...." Jelasnya pelan.
"Lantas? Di mana bagian anehnya?" Serena terlihat masih waspada.
"Dia amnesia parah, kan? Seharusnya ada beberapa hal yang bisa membuat ingatannya kembali, atau beberapa hal yang bersangkutan dengan trauma..., kau tidak merasa aneh saat melihat anak itu selalu menyebut seseorang dengan panggilan Paman? Dia selalu mengatakan hal-hal yang dilarang oleh orang itu, apa dia mantan budak atau semacamnya?" Tutur Louis panjang lebar.
Serena menghembuskan nafasnya yang tadi sempat tertahan karena takut, ternyata apa yang ia takutkan barusan hanya imajinasinya semata. Louis tidak mengetahui apa-apa tentang sisi lain Van, hal itu membuatnya cukup lega.
"Budak? Kau bercanda? Mana ada orang yang melegalkan perbudakan jaman sekarang ini," Serena mendelik pada laki-laki itu, betapa tidak masuk akal pemikirannya.
"Uhh, lalu dia apa? Tidak ada informasi sama sekali tentang dirinya, bukankah para budak selalu begitu?" Balas Louis tidak terima. "Lagipula tidak mustahil kan jika masih ada yang melakukan perbudakan." Tambahnya lagi, kali ini dengan suara pelan.
Serena ikut berpikir, apa yang dikatakan Louis juga sedikit masuk akal meskipun rasanya juga hampir mustahil. Yah, dan itu lebih masuk akal daripada buku yang ia baca.
Buku yang berisi tentang asal usul "Sang penanggung kutukan", dikatakan di sana bahwa para penanggung kutukan adalah anak laki-laki yang akan berubah wujud menjadi monster serigala saat umur mereka mencapai masa dewasa, yakni dimulai pada usia 18-20 tahun.
Dikatakan juga bahwa mereka yang menanggung kutukan itu suka memakan daging mentah dan takut dengan air, tetapi Van sama sekali berbanding terbalik dengan hal konyol itu. Bahkan anak itu tidak mau memakan telur setengah matang, dan ia juga suka bermain air seperti anak kecil.
Lalu untuk kemampuan aneh tentang menyembuhkan luka, Serena berfikir jika itu hanyalah kemampuan istimewa yang dimiliki oleh laki-laki itu. Toh ada banyak para cenayang dan tabib yang juga menyembuhkan orang sakit dengan cara aneh menggunakan kemampuan mereka bukan?
"Entahlah, Louis. Selama bocah itu tidak membuat masalah, tinggal di sini selama yang ia mau pun aku tidak masalah." Ucap Serena, gadis itu berlalu masuk ke dalam, tetapi tangannya dicekal oleh Louis.
"Ada apa lagi-"
"Serena, sebenarnya kau memberi tempat pada anak itu karena kasihan dan simpati, atau... Kau menyukainya?".