
Hari sudah sore, Serena merapikan tokonya setelah menyelesaikan pesanan buket bunga dari pelanggan. Hari ini lebih melelahkan dari dugaannya, badannya benar-benar terasa pegal di sana sini.
Ia sudah hampir merasa lega, tetapi gadis itu mendengus saat mengingat jika persediaan bahan makanan di kulkasnya hampir habis dan ia harus membelinya malam ini.
"Merepotkan sekali...." Gumamnya lelah, ia berjalan gontai menuju kamarnya untuk segera bersiap-siap dan pergi.
Setelah berpakaian rapi, Serena langsung pergi. Sebelum itu ia sempat pergi mencari Van untuk memberitahu laki-laki itu jika ia ingin pergi sebentar serta menyuruhnya untuk berhati-hati.
Baru saja ia membuka pintu depan, mobil milik Louis terlihat memasuki area halaman rumahnya, laki-laki itu sudah kembali dari tempat kerjanya.
"Kau mau ke mana?" Tanya Louis yang telah turun dari mobilnya.
"Berbelanja, beberapa bahan makanan sudah habis." Jawab Serena singkat, ia berjalan menuruni tangga kecil dan berhenti di hadapan Louis. "Kenapa pulang awal sekali? Kau bilang pekerjaanmu akan selesai pukul 8 malam." Serena mengernyit heran pada laki-laki itu.
Louis hanya tersenyum, "karena aku merindukanmu, hehe." Balasnya usil sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Serena memutar bola matanya, ia tidak minat menanggapi gurauan Louis yang tidak pernah ada habisnya. "Aku pergi-"
"Aku ikut." Potong Louis, ia menarik Serena berjalan ke sisi lain mobilnya dan membukakan pintu untuk gadis itu. "Aku juga perlu membeli beberapa barang, malas sekali jika harus mengambil barang-barangku yang tertinggal di tempat ibu."
Mesin mobil dinyalakan, Louis membawa mobilnya melaju bersama Serena.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
Serena sedang sibuk memilih daging dan juga bahan masakan lain, sedangkan Louis sudah tidak terlihat lagi karena sibuk mencari barang-barang yang dibutuhkannya. Gadis itu sudah selesai, ia tidak memerlukan waktu lama karena hanya membeli bahan makanan.
"Tidak ada mustard?" Tanya Serena sambil meletakkan keranjang belanjanya ke atas meja kasir.
"Sudah habis, stok baru akan datang besok pagi." Sahut pria berbadan kurus dengan rambut pirang, ia sedang sibuk menghitung barang-barang yang dibeli oleh Serena.
"Dimana Harry?" Serena melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan Harry, hari ini yang berjaga adalah orang lain yang mungkin bekerja untuk pria tua itu.
"Di kantor." Sahut pria penjaga toko, ia menyerahkan kantong belanja milik Serena.
Serena mengangguk, padahal ia berencana untuk menanyakan sesuatu pada Harry. "Anak itu kenapa lama sekali, sih?" Gumamnya sambil mencari-cari keberadaan Louis, tetapi ia tidak menemukannya dan lebih memilih untuk menunggu di mobil saja.
"Mereka memang sengaja menutupinya dari kita semua, coba pikirkan saja, bagaimana bisa penjagaan kota jadi seketat ini hanya karena masalah beruang liar yang tiba-tiba berkeliaran di daerah ini,"
"Aku juga sudah curiga sejak awal, polisi menyembunyikan itu semua dari kita,"
"Memang benar, adikku yang bekerja di sana mengatakan jika baru-baru ini mereka sering menemukan mayat manusia yang tercabik-cabik, tetapi polisi menyuruh agar tidak sampai bocor ke media massa dan berdalih jika itu adalah bangkai hewan,"
"Huh? Mengerikan sekali! Sebenarnya monster apa yang melakukan itu, sih? Aku takut sekali."
Serena mendengar jelas pembicaraan dua orang wanita paruh baya yang sedang duduk di depan toko, ia mengernyit setelah mendengar perkataan salah satu wanita itu barusan.
Monster?
Entah kenapa ia langsung mengingat satu nama, Van. Ia juga tidak mengerti kenapa nama laki-laki itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
Serena tersentak saat tak sengaja melihat telapak tangannya. Ya, luka di sana sudah menghilang total. Bahkan tidak ada bekas sama sekali, rasa sakitnya pun juga sudah hilang.
Serena segera turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam toko, dengan cepat ia berjalan menuju ruang kerja milik Harry dan mengetuk pintunya dengan ragu. "Harry! Boleh aku masuk?" Ucap Serena keras.
Ceklekkk!
Gadis itu terlonjak kaget saat pintu tiba-tiba dibuka, terlihat Harry yang sedang merokok berdiri di ambang pintu sambil memijit pelipisnya.
"Ada apa? Apa anak baru itu teledor lagi?" Harry bersiap-siap keluar tetapi ditahan oleh Serena.
"T-tidak! Aku hanya ingin menanyakan sesuatu," Sergah Serena.
Harry menatap datar gadis itu, "tentang apa?".
"Itu..., tentang cerita dongeng... Atau legenda, ah pokoknya itu!" Ucapnya kikuk.
Harry mengernyit sebentar karena tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Serena, tetapi hanya sebentar, wajahnya kembali datar saat sudah mengerti ke mana arah pembicaraan gadis itu. Harry tidak menjawab, ia justru kembali masuk ke ruang kerjanya.
"Hey, kau belum menjawabku!" Serena mengikuti Harry hingga ke dalam.
Pria itu terlihat sibuk menggeledah rak buku miliknya, ia sedang sibuk mencari-cari sesuatu.
"Kau ini sedang apa, sih? Bukannya menjawabku, kau malah-"
Ucapan Serena terhenti, Harry tiba-tiba menyodorkan sebuah buku tebal padanya. "Eh, ini kan...." Serena mengenali buku itu. Ya, itu adalah buku dongeng tebal dengan sampul merah tua yang dulu pernah Harry bawa.
"Pergi dan baca itu, aku sedang tidak enak badan." Ujar Harry sambil mendorong Serena menjauh ke arah pintu dengan tongkat kayu miliknya.
"Kenapa memberiku buku dongeng ini? Aku tidak punya waktu untuk membaca dongeng anak-anak, jawab saja-"
"Jawaban atas pertanyaanmu tadi ada di dalam buku itu," Potong Harry, "dan itu bukan buku dongeng".
Blammm!
Pintu tertutup, meninggalkan Serena yang mematung di depan pintu itu. "Apa?!" Desisnya bingung.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
"Kenapa tidak menunggu aku saja untuk membayar? Harusnya aku yang membayar semua itu," Ucap Louis sambil menyetir mobilnya, mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Kenapa aku harus menunggumu, toh aku bisa membayarnya sendiri," Sahut Serena, "lagipula kau lama sekali." Gadis itu menatap datar pemandangan indah sepanjang jalan dari jendela mobil.
Louis mendelik, kini laki-laki itu menghentikan mobilnya. Ia menepi di dekat sebuah taman bunga luas yang sengaja dibuat untuk umum.
"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Serena dengan heran, "aku harus segera memasak makan malam, kau dan bocah itu akan kelapar-"
"Sebentar saja," Louis memotong ucapan Serena, laki-laki itu keluar dari mobilnya dan juga segera membukakan pintu untuk gadis itu. "Aku sudah lama sekali tidak ke sini, tidak bisa kah hari ini kita bersantai sebentar?" Louis mengulurkan tangannya, menuntun Serena untuk segera turun dari mobil.
"Kau masih menyukai tempat ini?" Serena duduk pada salah satu kursi taman, di depan mereka terdapat sebuah danau cukup besar dengan air yang jernih.
"Hahhhh~ Aku merindukan tempat ini," Louis merenggangkan tubuhnya yang lelah, "dan segala yang ada di sini." Matanya melirik ke arah Serena, gadis itu duduk tenang sambil memejamkan matanya. "Tuh, kan. Kau juga menikmatinya."
Serena tak bergeming, ia masih menutup matanya. Gadis itu memang suka duduk tenang mendongakkan wajahnya sambil menutup mata, merasakan semilir angin di sekitarnya.
"Louis," Panggil Serena.
"Ya? Kenapa?" Louis menyahut, sejak tadi ia memandangi wajah Serena.
"Apa kau percaya dengan manusia serigala?"