
Pagi-pagi sekali Serena sudah sibuk membersihkan toko bunga miliknya agar bisa kembali di buka. Beberapa hari ini juga ada banyak sekali telpon masuk dari pelanggan yang ingin memesan bunga, tetapi karena belakangan ini ia cukup disibukkan dengan kedatangan Louis maka Serena benar-benar menutup tokonya lagi.
"Hari kerjaku kenapa berantakan sekali," Gumam Serena, kini ia harus kembali memilah bunga-bunga layu atau pun rusak karena sudah lama berada di dalam lemari pendingin.
"Kau akan buka tokonya?" Louis muncul dengan setelan rapi, hari ini ia sudah mulai masuk kerja.
Serena menoleh, "sudah makan sarapanmu?" Tanya gadis itu, tangannya sibuk memasukkan sampah bunga ke dalam kantong plastik besar.
Louis mendekati Serena dengan wajah riang, hari ini laki-laki itu terlihat sangat bersemangat.
"Masakanmu memang tidak ada duanya, rasanya energiku akan terisi sampai malam," Celoteh Louis, "Serena, lihat! Bagaimana penampilanku? Ini hari pertamaku masuk kerja, apa kau tidak mau menyemangatiku?" Louis merentangkan kedua tangannya, menunggu Serena melihat ke arahnya.
"Kapan kau akan memakai warna lain selain hitam?" Serena melihat Louis dari ujung kepala sampai kaki.
Laki-laki itu selalu mengenakan pakaian dengan warna hitam, kebiasaannya itu tidak pernah berubah sejak ia kecil. Bahkan Louis pernah mewarnai rambutnya yang pirang pucat menjadi warna hitam, tapi karena ia memiliki alergi maka laki-laki itu harus berhenti.
"Bukannya memuji dan menyemangatiku, kau malah menanyakan itu," Sungut Louis, wajahnya cemberut dengan bibir yang dimajukan ke depan.
Serena memutar kedua bola matanya, gadis itu mendekat ke arah Louis dan menarik kerah baju laki-laki itu hingga membuat sang empu terhuyung ke depan.
"Dan sampai kapan kau selalu berantakan begini?" Serena merapikan simpul dasi Louis yang memang sangat berantakan, jemari lentiknya lihai menyisipkan helai dasi itu hingga tersimpul dengan rapi.
Louis mematung, ia terdiam memperhatikan Serena yang sedang fokus pada dasinya. Gadis itu terlihat sangat kecil, padahal dulu Serena selalu membanggakan diri karena ia lebih tinggi dari Louis. Tapi lihatlah sekarang, bahkan untuk meraih kerah bajunya saja Serena harus berjinjit.
"Pfft...." Louis berusaha menahan tawanya yang sontak membuat Serena menatap tajam ke arahnya.
"Hati-hati di jalan, jangan lupakan makan siangmu," Ucap Serena, gadis itu kembali fokus dengan pekerjaannya.
Louis terdiam, ia memandangi punggung Serena yang membelakanginya. Tapi perlahan sudut bibirnya terangkat, laki-laki itu tersenyum.
"Aku rasa keputusanku untuk kembali ke sini memang sangat tepat." Lirihnya.
Louis sudah pergi, mobilnya bergerak menjauh dari halaman. Sekarang hanya tersisa Serena yang sedang membersihkan tokonya sendirian.
"Kapan anak itu dewasa," Gumamnya.
****
Skotlandia, 2002.
Rintikan hujan masih tersisa walaupun sudah tak seberapa, aroma tanah yang baru saja terguyur hujan menguap dan berbaur dengan bau rerumputan basah.
Brakkk!
Seorang anak laki-laki tersungkur di samping tumpukan barang bekas, tubuhnya dipenuhi oleh lebam dan juga kotor dengan lumpur. Ia di dorong oleh anak-anak lain yang tidak suka padanya, dirundung seperti ini sudah menjadi hal biasa untuk anak itu.
"Ahahahaha, kau tidak punya ayah kan? Katanya ayahmu kabur meninggalkan kau dan juga ibumu kan?!"
"AHAHAHAHAHA"
"Ayahmu tidak mau punya anak sepertimu, makanya dia kabur, ahahahaha~"
"Ughh..., lihat itu, menjijikan sekali! Kau itu memang menyedihkan, Louis!!" Ejek salah satu anak laki-laki berambut hitam, tangannya memegang sebuah balok kayu yang tadi ia gunakan untuk memukul Louis.
"Kenapa kau tidak mat-"
Bugh!
Hening, semua mematung saat anak kecil berambut hitam tadi tersungkur di atas tanah dengan kepala yang berdarah.
"Sampah itu seharusnya memang tergeletak di tanah, kan?" Seorang gadis dengan rambut hitam panjang melihat ke arah sekumpulan anak laki-laki itu dengan wajah datar, tangannya menggenggam sebongkah batu dengan ukuran cukup besar yang sudah ternoda dengan bercak darah.
"G-gila, dia orang gila!" Anak-anak lain langsung berlarian meninggalkan temannya yang sedang tidak sadarkan diri di atas tanah.
Louis mematung, ia menatap bingung ke arah bocah rambut hitam yang tadi memukulnya kini malah tersungkur tak berdaya di hadapannya.
"Kenapa kau masih di situ, sampahnya sudah pergi," Gadis itu membuang batu yang ada di tangannya ke sembarang arah, ia menatap dingin ke arah Louis yang masih mematung.
"A-apa dia m-mati?" Ucap Louis, bibirnya bergetar dan sudah memucat.
Gadis itu memiringkan kepalanya, mata abu terangnya melirik ke arah anak laki-laki yang baru saja dipukulnya itu.
"Masih bernafas, tuh..." Gumamnya pelan.
"K-kenapa kau memukulnya? Bagaimana jika dia mati?!" Panik Louis, tubuhnya gemetar dengan wajah pucat ketakutan.
"Memangnya kenapa kalau dia mati?" Manik abu gadis itu berkilat dingin, "toh sampah sepertinya lebih baik tidak perlu ada," Ucapnya dingin.
Begitulah pertemuan mereka, kala itu Louis berusia 11 tahun. Ia hidup dalam perundungan, anak itu tidak pernah melawan dan selalu ketakutan.
Tapi hari itu, seorang gadis aneh dan mungkin sedikit gila datang padanya entah dari mana. Wajah datar tanpa ekspresi dan rambut panjang yang selalu terurai, gadis itu seperti tidak memiliki rasa takut di matanya.
Namanya Serena, gadis yang ternyata lebih muda 1 tahun darinya. Meskipun begitu, Serena terlihat jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan Louis. Sejak hari itu mereka sering bertemu, bahkan ternyata Serena satu sekolah dengannya.
Louis sering mengikuti Serena hingga ke rumah gadis itu, dan di sanalah ia bertemu dengan ibu Serena, Anne. Wanita itu mempunyai toko bunga dan juga gemar bermain piano, ia juga menyukai Louis dan menganggapnya seperti anak sendiri.
Louis yang pemurung dan dingin perlahan mulai ceria dan sering tersenyum, hampir setiap hari ia mengunjungi Anne dan juga Serena. Anak laki-laki itu belajar banyak tentang musik dan juga seni dengan Anne.
Mereka bertemu di usia yang masih sangat muda, sejak saat itulah Louis dan Serena tumbuh bersama dan menjadi dekat. Walaupun kepribadian mereka berbanding terbalik. Louis yang banyak bicara terlihat kontras dengan Serena yang cukup pendiam dan tidak banyak berekspresi.
Serena seakan mengubah segalanya, Louis yang penakut manjadi berani dan mengubah sudut pandangnya terhadap dunia sekitarnya. Dari sana lah Louis selalu mengagumi Serena. Dimatanya, gadis itu seperti secercah cahaya yang menghangatkan.
"Serena, berjanjilah padaku," Louis kecil menyodorkan kelingkingnya, "kita akan menua bersama, kan?" Ucapnya polos.
Serena melirik bocah laki-laki itu, "untuk apa sih pakai cara seperti itu," Sinisnya sambil melihat ke arah kelingking Louis.
Serena kembali menatap bintang malam, "janji." Ucapnya datar.
"Anak-anak! Kalian di mana? Masuk lah, ini sudah malam!"
Suara Anne menggelegar dari dalam rumah, Louis dan Serena yang sedang berada di kebun belakang langsung berlarian masuk setelah mendengar suara wanita itu.