Cursed And Love

Cursed And Love
25 : Jangan takut


Skotlandia, 2014.


Serena terkejut saat Van tiba-tiba menepis tangannya dengan keras, laki-laki itu menjauh mundur saat Serena mendekatinya. Padahal gadis itu sedang khawatir karena melihat Van yang sedang gemetar seperti orang ketakutan, tetapi sekarang ia justru dibuat bertambah bingung dengan sikap Van yang berubah dalam waktu singkat.


"Ada apa?" Tanya Serena, sekarang rasa khawatir gadis itu menjadi-jadi.


Van bergumam, entah apa yang ia katakan dari bibir merahnya.


"J-jangan banyak bicara..., t-tidak boleh..., jangan...." Laki-laki itu terus bergumam dengan gemetar.


Serena semakin dibuat bingung, ia tidak pernah melihat Van seperti itu sebelumnya. "Hey, Van...." Gadis itu mencoba mendekati Van setenang mungkin.


Tapi percuma, Van tidak mau disentuh. Semakin Serena mendekat, maka Van juga semakin menjauh dan menjaga jarak darinya. Bahkan kini laki-laki itu mulai berlari ke arah pintu belakang.


"Hey! Tunggu, V-van!" Serena panik, ia langsung mengejar laki-laki itu.


Sebenarnya siapa yang harusnya ketakutan sih?


Serena cukup frustasi sekarang, ia masih shock perihal luka itu, tetapi sekarang ia disibukkan oleh Van yang lagi-lagi bertingkah aneh begini.


Van berjalan cepat ke kebun belakang, ia akan segera masuk ke hutan. Tetapi Serena berhasil mengejarnya, tangannya meraih ujung belakang baju laki-laki itu hingga langkah Van terhenti.


"Kau ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba menjauhiku?!" Kesal Serena, sekarang tangannya menggenggam erat pergelangan Van agar laki-laki itu tidak menjauh lagi.


Tidak ada jawaban, Van hanya menunduk. Sekarang tubuh laki-laki itu terasa dingin, Serena yang sedang memegang pergelangan tangannya mulai sadar akan hal itu.


Apa tubuhnya memang sedingin ini?


Gadis itu berpindah, dan sekarang mereka berhadapan.


"Hey..., kau kenapa? Kenapa seperti ketakutan begitu?" Serena berbicara dengan lembut. "Apa kau pikir aku marah padamu lagi?" Tambahnya pelan.


Masih tidak ada sahutan, Van diam seribu bahasa. Tapi itu hanya sesaat, karena Serena perlahan meraih wajahnya. Jemari lentiknya menyibak poni Van yang menutupi separuh wajah laki-laki itu, sekarang bisa terlihat jelas sepasang netra kuning di dalam palung mata yang begitu sayu.


"Hey?" Panggil Serena lembut, sekarang kedua tangannya menangkup wajah pucat laki-laki itu.


Van masih diam, tetapi matanya menatap Serena. Tatapan sayu yang seakan menyimpan begitu banyak kesedihan di sana. "Kenapa kau tidak memukulku...." Lirihnya.


Serena mengernyit bingung, ia tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Van barusan. "Apa? Kenapa aku harus memukulmu?" Tanya gadis itu heran.


Van kembali menunduk, kedua tangannya yang kekar terangkat dan menggenggam tangan Serena yang sedang menangkup wajahnya.


"Kalau tidak hati-hati..., nanti harus dipukul...." Ucapnya lirih, "paman bilang begitu".


Serena terdiam, jujur saja ia masih belum mengerti sepenuhnya dengan perkataan laki-laki itu. Tetapi ia tahu jika apa yang dikatakan oleh Van itu berkaitan dengan masa lalunya dengan paman atau siapa lah itu.


"Tidak ada, tidak ada yang akan memukulmu." Tegas Serena, netra abu itu menatap lembut.


Serena melepaskan tangannya, perlahan gadis itu mendekat. Sedangkan Van membeku, ia terdiam saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk dengan erat. Serena menepuk pelan punggung laki-laki itu.


"Tidak apa-apa, hanya tunjukkan padaku saja, jangan sampai orang lain melihatnya." Ucap Serena menenangkan.


Hening, hanya suara kicauan burung yang terdengar. Kebun bunga itu dipenuhi oleh berbagai kupu-kupu, dan jika sekarang ada yang melihat mereka seperti itu maka orang lain akan mengira jika Van dan Serena adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan.


Van masih terdiam, ia menatap pucuk kepala Serena yang tepat berada pada bidangnya. Gadis itu sangat kecil.


Serena langsung melepaskan pelukannya pada tubuh laki-laki itu, dan sekarang ia sedang kikuk.


"Ah..., i-itu," Gadis itu bergumam tidak jelas, "BUKU! Ya, di buku kan kau bilang seperti itu?" Tukasnya lagi.


Van mengerjapkan matanya dengan polos, sekarang raut wajah dan tatapan laki-laki itu sudah tidak sedingin tadi. "Benar, buku bilang begitu," Ucap Van polos, ia mengangguk cepat seperti anak kecil yang sedang memberikan persetujuan.


Sial..., kenapa aku melakukan itu sih?!


Rasanya Serena ingin segera membuang wajahnya jauh-jauh, tapi untung saja Van itu polos seperti anak kecil.


"Bunga, terimakasih." Van menyodorkan setangkai mawar putih pada Serena.


Gadis itu terdiam, lagi-lagi Van memberikannya bunga saat mengucapkan terimakasih.


"Pfft, dasar," Kekeh Serena pelan, entah kenapa sekarang ia merasa lega.


Padahal kan ini bunga dari kebunku juga, anak ini sedang memberiku barang yang jelas-jelas sudah menjadi milikku dari awal....


Tanpa sadar Serena tersenyum tipis, memikirkan hal itu membuatnya gemas dengan tingkah Van yang begitu polos.


"Aku harus membuka toko, kita tidak akan bisa makan enak jika aku jatuh miskin karena tidak bekerja." Ujar Serena, gadis itu mematahkan tangkai mawar yang baru saja Van berikan padanya lalu menyisipkannya pada kantong kemeja laki-laki itu. "Nah, sekarang kau seperti seorang pangeran." Ucap Serena.


Van menatap bunga di kantong bajunya, "pangeran...." Gumamnya pelan.


"Ya, pangeran yang manis." Ucap Serena diiringi dengan senyuman.


"Aku ingin bekerja juga, Louis bilang harus bayar jika tinggal dengan Bunga," Van menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, laki-laki itu terlihat kikuk.


Serena mengernyit, tentu saja itu hal yang mustahil. Akan berbahaya jika Van berkeliaran tanpa indentitas, ditambah lagi dengan semua keanehan laki-laki itu. Tidak mungkin Serena membiarkannya bekerja di luar atau pergi ke mana saja.


"Aku tidak memintamu untuk membayar tempat tinggal, sejak awal memang aku yang menyuruhmu untuk tinggal di sini." Ucap Serena datar, meskipun sebenarnya ia sedang kesal dengan Louis yang lagi-lagi mengatakan hal aneh seperti ini pada Van di belakangnya.


"Tapi aku juga ingin bekerja, nanti Bunga bisa miskin...." Gumam Van pelan, sekarang raut wajahnya seperti anak kecil polos yang gagal mendapatkan mainan.


Serena menghela nafasnya, "kau bisa membantuku di toko, itu juga disebut bekerja." Tegas Serena, ia tidak mau memperpanjang masalah ini.


Van menatap Serena dengan tatapan berbinar, "kerja? Aku sudah bekerja?" Ucapnya girang.


Serena tersenyum tipis, walaupun sebenarnya lebih terlihat seperti senyuman lelah. "Ya, sekarang ayo kita bekerja, bantu aku memotong bunga." Ucap gadis itu sambil menarik Van agar ikut bersamanya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang memperhatikan mereka dari pintu belakang. Mata birunya berkilat dingin, kedua tangan kekar itu mengepal. Terlihat jelas kabut amarah pada matanya, tetapi ia lebih memilih untuk segera pergi begitu melihat Van dan juga Serena kembali menuju rumah.





Huhuu sepi banget T_T, ga semangat Author tuh nulis ini novel huehuehue (⁠。⁠•́⁠︿⁠•̀⁠。⁠), tapi buat yg udah setia baca tulisan saya yang amburadul ini Author ucapin makasih banyak lhooo^^, Support saya terus yaaa! Jangan sungkan buat ngasi kritik kalau ada yang salah sama ketikan saya, kadang masi hobi typo di mana-mana huhu😔


Happy reading guyys!💜