Cursed And Love

Cursed And Love
23 : Darah


Serena merenggangkan tubuhnya yang kaku, ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama dari perkiraannya untuk mengemasi toko itu. Sekarang ia hanya perlu mengambil bunga-bunga dari kebun sambil memberi pupuk.


Serena berhenti sebentar, sejak pagi tadi ia belum melihat batang hidung Van sama sekali. Suaranya saja belum ia dengar, bahkan tadi pagi pun tidak ada pertengkaran antara Louis dengan laki-laki itu. Sungguh pemandangan yang aneh.


"Dimana anak itu?" Gumam Serena bingung.


Ia mengambil peralatan untuk memotong bunga serta beberapa keranjang dari anyaman rotan, gadis itu segera pergi menuju kebun belakang. Serena sempat berhenti di bawah tangga menuju loteng, ia mendongak menatap loteng itu cukup lama sebelum akhirnya naik ke sana.


Tok.. Tok... Tok~


"Van? Kau di dalam?" Serena meninggikan suaranya, "sudah makan sarapanmu?" Tambahnya lagi, tapi tidak ada sahutan sama sekali.


Gadis itu memutar gagang pintu. Hening, tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Bahkan ruangan itu terasa dingin karena jendela kaca yang ada di sana dibiarkan terbuka.


"Apa dia di bawah..." Serena segera turun dan masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang.


Namun ia kembali dibuat kebingungan, matanya terpaku pada sandwich utuh yang ada di atas meja makan. Itu adalah sarapan yang ia buat untuk Van dan juga Louis. Karena Louis sudah memakan sarapannya, maka sudah pasti jika yang tersisa adalah milik Van.


"Kemana anak ini?" Serena segera memeriksa seisi rumah, "Van? Kenapa tidak makan sarapanmu?" Teriaknya.


Namun lagi-lagi yang menyambutnya hanyalah keheningan, Van tidak berada di rumah itu.


Kemana dia? Apa bertengkar lagi dengan Louis? Apa Louis mengusirnya?


Gadis itu sudah berkeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Van sama sekali.


"Selalu saja pergi tanpa pamit...." Gumam Serena dengan kesal.


Serena kembali ke kebun untuk melanjutkan aktivitasnya, ia mencoba menenangkan dirinya jika Van hanya pergi ke hutan seperti dulu. Entah untuk apa, mungkin saja laki-laki itu merindukan hutan bukan?


"Kalau kau kembali siap-siap aku-"


"Bunga," Suara serak mengagetkan Serena yang sedang mengomel.


Serena mendongak, ia sangat mengenali suara yang familiar itu. Ya, siapa lagi jika bukan Van. Laki-laki itu terlihat berantakan dengan baju yang kotor serta robek di beberapa bagian, bahkan wajahnya juga kotor karena tanah. Serena bangkit dan menghampiri Van yang berdiri diam.


"Dari mana saja?" Tukas Serena, ia melihat Van dengan tatapan datar setelah meneliti laki-laki itu dari atas sampai bawah.


"Hutan...." Jawab Van pelan, wajah laki-laki itu terlihat sangat letih.


Serena mendekatinya, gadis itu menarik salah satu tangan Van yang sejak tadi diremas oleh laki-laki itu. Ia langsung menyibak lengan baju yang dikenakan oleh Van. Dan benar saja, ada sebuah luka goresan yang cukup dalam.


"Dasar anak nakal...." Lirih Serena, "kau sepertinya berhutang penjelasan tentang dari mana saja dan bagaimana bisa terluka bahkan pulang dengan wajah cemong begini!" Omelnya panjang lebar, gadis itu langsung menarik dan membawa Van masuk ke dalam rumah.


*****


Van duduk diam sambil membaca buku di ruang tamu, sekarang laki-laki itu sudah kembali rapi setelah diserang dengan omelan dan juga cubitan Serena. Lukanya telah diobati dan sekarang Serena tidak mengizinkannya untuk ikut muncul ke dalam toko.


Sementara itu, Serena sedang melamun sambil mengerjakan beberapa pesanan buket bunga. Selain kebingungan, sekarang muncul rasa takut dan khawatir karena ia menyadari kebiasaan dan tingkah aneh Van belakangan ini.


Sebenarnya Van mengatakan jika ia suka melihat kunang-kunang di hutan saat malam hari, tadi malam ia sempat tergelincir karena tidak berhati-hati dan alhasil mendapatkan luka dan juga pulang dalam keadaan kotor sekai. Serena mempercayai apa yang dikatakan oleh Van, tapi tetap saja ia merasa janggal dengan semua itu.


Apa aku harus mengikutinya jika anak itu pergi ke hutan lagi?


Serena menyusun bunga-bunga sambil melamun, tanpa sadar tangannya terluka karena cutter yang ia kira adalah batang bunga.


"A-aishhh..." Gadis itu seketika sadar saat rasa perih menjalar di tangannya, bahkan kini darah segar mengalir hingga menetes ke atas mawar-mawar putih yang sedang ia rangkai.


Serena segera berlari ke dalam rumahnya untuk mengambil kotak obat dan juga perban, hal itu tentu saja membuat kaget Van yang sedang fokus dengan bukunya.


"Darah...." Desis Van, pupil matanya membesar.


Serena tergopoh-gopoh mengambil perban untuk segera membalut lukanya, gadis itu sibuk mengutuk dirinya sendiri karena tidak berhati-hati.


"Sial..., perih sekali...." Ringisnya.


"Bunga..., darah...." Van menggumam pelan, ia berdiri di ambang pintu kamar Serena.


Mata kuningnya menatap tajam punggung Serena yang sedang membelakanginya, terdengar jelas ringisan gadis itu saat sedang membalut luka di tangannya.


Perlahan, Van mendekat dengan dengan kilau mata yang mengkilat.


"AHH! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


Serena memekik kencang saat Van tiba-tiba menarik tangannya yang terluka, laki-laki itu melepas perban yang sudah dipasang Serena dengan susah payah lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Apa kau gila?! L-lepaskan..., sakit tau!" Amuk Serena, ia meronta berusaha melepaskan tangannya.


Namun, hal itu percuma saja. Genggaman Van terlalu kuat dan Serena tidak mungkin bisa melepaskannya. Dengan cepat, Van menarik Serena, wajahnya mendekat pada tangan Serena yang berlumuran darah.


"A-apa-apaan kau...."


Serena terdiam, matanya membelalak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Van. Laki-laki itu menjilati lukanya, lidah Van yang hangat menyapu tangannya yang terluka dengan lembut.


Serena terlalu kaget hingga tubuhnya seakan membeku, matanya menatap tidak percaya pada Van yang sedang menjilati tangannya.


"Nanti sembuh," Ucap Van pelan, matanya menatap Serena yang masih membeku.


Serena menatap tangannya yang sekarang sudah bersih dari darah karena Van menjilatinya, ia terdiam. Yang membuat gadis itu terdiam bukanlah perkara darahnya lagi, melainkan lukanya yang kini hampir menghilang. Bahkan luka itu sudah tidak terasa sakit lagi, hanya tersisa bekas goresan kecil pudar yang sedikit ngilu jika tertekan.


Gadis itu menatap tangannya dan Van secara bergantian, "a-apa ini?" Gumamnya dengan tatapan bingung.


Plakkk!!!


Serena menampar pipinya sendiri, ia melakukan itu karena menganggap jika apa yang terjadi sekarang hanyalah mimpi. Van yang melihat itu tentu saja langsung menahan tangan Serena untuk kembali menampar pipinya lagi.


"Van..., kau ini apa?" Lirihnya pelan.