
Serena nampak sedang berbincang-bincang dengan petugas keamanan di luar rumah, samar-samar pembicaraan mereka juga terdengar sampai ke dalam toko. Louis memicing saat melihat siluet Serena dari balik jendela kaca yang mengarah langsung ke teras rumah, laki-laki itu juga menajamkan pendengarannya.
Raut wajahnya mulai terlihat serius saat mendengar petugas itu menanyakan siapa saja yang tinggal di rumah ini, ia tahu jika para petugas berjaga sangat ketat terhadap penduduk kota akhir-akhir ini. Maka sedikit saja ada hal yang janggal, pasti akan segera diseret ke kantor polisi. Akan sangat kacau jika Serena kedapatan sedang menampung seseorang yang tidak memiliki identitas. Ya, Louis sedang mengkhawatirkan tentang keberadaan Van.
Ia melirik sebentar ke arah Van yang masih duduk manis di dalam toko. Bukankah bagus jika Anjing Liar itu diseret oleh polisi dengan sendirinya? Pikirnya.
Louis kembali menghampiri Van, ia berhenti sebentar dan melihat laki-laki itu dengan tatapan dingin. "Hey, Anjing Liar." Matanya kembali melirik ke arah jendela kaca tempat siluet Serena terlihat.
Sialan....
Louis mendengus, ia mengutuk dirinya yang untuk sesaat telah berpikir seperti seorang baj*ngan yang suka mengambil kesempatan.
"Kenapa kau tidak bersembunyi? Di luar para polisi sedang berkeliaran," Kata Louis, "bukan kah Serena menyuruhmu bersembunyi saat ada orang semacam mereka? [polisi], apa kau mau membuat Serena repot?" Tanya Louis dengan suara pelan, ia berhati-hati agar suaranya tidak terdengar sampai ke luar.
Van mengerjap bingung, tetapi setelah itu ia langsung berdiri lalu masuk ke kolong meja hingga sukses membuat Louis melongo.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Desis Louis heran.
Apa anak ini ingin bersembunyi di sana?!
Louis tertawa frustasi sambil berjongkok dan menarik baju Van yang sedang meringkuk di bawah meja.
"Kau ingin bersembunyi seperti ini?" Louis kini mengencangkan tarikannya pada baju milik Van. "Cepat keluar dan bersembunyi dengan benar, atau Serena akan marah lalu mengusirmu." Tambahnya lagi.
Dan benar saja, setelah mendengar kata-kata itu, Van langsung keluar dari kolong meja.
Louis mendengus, ia berjalan ke dalam rumah sambil masih menarik ujung bawah baju milik Van. "Apa kau siput? Atau keong? Lamban sekali, sih!" Desisnya kesal.
Sebenarnya Louis juga kebingungan, di mana ia harus menyembunyikan bocah besar itu? Tetapi ia berhenti saat melewati kamar milik Serena.
"Kemari!" Louis menyeret Van masuk ke dalam sana. "Hmm..., ah! Masuk ke sana!" Suruhnya, ia mendorong Van ke arah lemari besar yang ada di kamar itu.
Van berjalan ragu mendekati lemari itu hingga membuat Louis yang tadinya akan keluar dari sana dan menyusul Serena jadi berhenti. "Masuk dan diam di sana sampai aku kembali, kau tidak ingin Serena marah, kan?" Ucap Louis, laki-laki itu segera berlalu pergi. Meninggalkan Van yang sedang berdiri kebingungan di depan lemari.
Sekarang Van sendirian, ia membuka pintu lemari itu dengan ragu.
Krieettt~
Lemari terbuka dan menampakan banyak sekali gaun-gaun indah serta beberapa potongan kain yang berbentuk aneh. Van keheranan melihat benda yang berbentuk seperti baju atasan tetapi sangat kecil dan minim serta berpadu dengan tali dan renda-renda aneh.
Ia bingung karena Serena tidak pernah terlihat memakainya sama sekali, untuk apa gadis itu menyimpan pakaian seperti ini? Van menenteng salah satu pakaian minim berwarna hitam dan mengamatinya dengan bingung. Tetapi itu hanya sebentar, ia langsung masuk ke dalam sana dan bersembunyi saat teringat akan perkataan Louis tadi.
Cukup lama ia di sana, dan mungkin terlalu lama hingga laki-laki itu tertidur. Louis belum juga kembali, Van menunggunya di dalam lemari itu meskipun sang empu yang ditunggu tak kunjung datang.
Laki-laki itu kini tertidur pulas. Tanpa ia sadari, pintu lemari itu kini sedikit terbuka karena tidak kuat menahan beban kakinya yang tersandar ke sana. Namun, perlahan ada siluet bayangan seseorang yang mendekat ke arah lemari itu.
"Aahhhh! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Van terbangun, ia meringis sambil mengusap kepalanya yang terasa kebas dan juga nyeri karena baru saja terbentur oleh pintu lemari.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
"Dasar..., kenapa juga harus menyuruhnya masuk ke dalam lemariku?!" Gumam Serena dengan kesal setelah mendengar penjelasan Van tentang bagaimana laki-laki itu bisa berada di dalam sana.
Kini Serena mendelik ke arah Van yang sedang menatapnya dengan polos. "Hey, Bocah." Panggil gadis itu, ia mendekati Van hingga mereka berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. "Kau harus mengingat ini, para polisi sedang berjaga di luar sana, jadi jangan sampai terlihat sampai aku menemukan identitasmu." Ucapnya serius.
"Jangan terlihat...." Gumam Van pelan.
"Ya, jangan terlihat oleh mereka," Balas Serena, "lagi pula, apa kau bisa memberitahuku tentang asalmu? Atau apa saja?" Tanya Serena, gadis itu terlihat sedikit frustasi. "Ah! Sudahlah, sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu, tapi simpan saja itu sebentar, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Tambahnya lagi, Serena berlalu pergi dari sana.
Gadis itu kembali ke dalam tokonya, ia harus menyelesaikan beberapa pesanan buket bunga dari para pelanggan.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
Van termenung, kini ia berada di loteng. Laki-laki itu duduk diam sambil memandangi lukisan milik Serena dengan tatapan menerawang. "Asal... Paman..." Lirihnya.
Van meringis, laki-laki itu menggeram tertahan. Tangannya mencengkram kuat helai rambut di kepalanya, ia meringis hingga urat lehernya menonjol seperti orang yang menahan rasa sakit.
"Paman... Paman... Siapa?!!" Van bergumam tidak jelas, kini ia memukul kepalanya sendiri berkali-kali dengan tangannya.
Hening, cukup lama ia memukul kepalanya sendiri hingga laki-laki itu tersungkur di atas lantai. Ia benci hal itu, setiap ia mencoba mengingat masa lalunya, potongan ingatan aneh selalu berdatangan menyerbu pikirannya dan seakan membuat isi kepalanya akan meledak.
Jangankan orang yang bertanya tentang siapa dan dari mana asal dirinya, bahkan Van sendiri tidak tahu akan hal itu dengan jelas. Ingatannya yang utuh hanya sebatas bagian saat ia berada di hutan beberapa tahun ini, lalu sisanya adalah potongan-potongan aneh seperti puzzle yang berhamburan.
Namun, ia bisa ingat dengan jelas tentang seseorang. Seseorang yang selalu ia panggil dengan sebutan "Paman". Orang yang memberinya larangan akan banyak hal, pemilik kata-kata yang seakan mengatur bagaimana ia harus bersikap pada orang lain.
Selain hal itu, kini ia bertemu dengan Serena. Entah kenapa gadis itu seperti bola cahaya yang bersinar dan membuatnya selalu mengikuti kemana arah bola itu pergi. Ia juga bingung, ia tidak mengerti dengan perasaannya. Perasaan nyaman yang membuatnya ingin menetap di suatu tempat dan ingin selalu berada dekat dengan Serena, bahkan ada perasaan lain yang masih tidak ia mengerti.
"Bunga... Indah...." Lirihnya, ucapan itu keluar dari sela-sela gigi yang meruncing.
•
•
•
Holaa^^ huehue maaf banget saya gak update beberapa hari yak T_T Author ga sempet up karena kurang sehat, tapi mulai besok saya usahain update rutin lagi kok, mweheheheh^^
Happy reading, guyss!!💜