
Kini hari sudah malam, Serena sedang sibuk menyiapkan tempat tidur untuk Louis. Laki-laki itu meminta untuk menginap di sana beberapa hari sebelum kembali ke kota tempatnya bekerja.
"Rasanya rumah ini seperti dipenuhi oleh anak kecil...." Gumam Serena, ia menghela nafas letih.
Saat mereka makan tadi Louis dan Van tidak berhenti bertengkar, bahkan kedua laki-laki itu hampir saja saling tinju meninju. Van yang selalu menempel pada Serena membuat Louis geram dan menjauhkan laki-laki itu, tetapi Van yang tidak terima juga marah dan memancing Louis lebih marah juga.
"Istirahatlah di kamar ibu," Ucap Serena, ia ikut duduk di sofa besar tempat Louis menonton TV.
"Apa anjing liar itu sudah tidak menempel padamu?" Sahut Louis ketus, ia masih kesal karena Serena membiarkan Van menempel terus-menerus.
Serena memalingkan wajahnya ke arah Louis, gadis itu tersenyum miring sambil menyandarkan punggungnya pada sofa empuk tempat mereka duduk.
"Dia memang seperti itu, bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" Ucap Serena tenang.
Louis menghela nafasnya dengan kasar, laki-laki itu kini duduk menghadap ke arah Serena. Kali ini wajahnya benar-benar terlihat serius, manik biru cerah itu terlihat berkilau di dalam ruang gelap yang hanya ada cahaya dari TV dan lampu yang redup.
"Serena, aku tahu kau tidak suka orang yang banyak bertanya, tapi katakanlah yang sebenarnya tentang bocah itu," Kini tatapan Louis melembut, "kau tahu jika aku sangat mengkhawatirkan dirimu bukan?" Tuturnya lembut.
Serena hanya diam, matanya masih fokus melihat ke arah TV yang menyala. Meskipun begitu, sebenarnya ia sedang bingung bagaimana harus menjawab perkataan Louis barusan.
"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya," Serena mulai membuka suara.
Kini Louis kembali memasang wajah serius, ia benar-benar sudah siap menerima jika ternyata Serena mengatakan bahwa Van itu adalah kekasihnya.
"Sebenarnya aku...," Serena terlihat ragu, "dia bukan orang yang bekerja untukku," Kalimat gadis itu terpotong lagi.
Louis menahan nafasnya, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih. Buliran keringat mulai muncul satu-persatu di pelipisnya.
"Aku menemukannya di hutan," Lanjut Serena, "aku sempat kembali menemuinya beberapa kali, lalu aku membawanya ke sini saat dia terluka," Serena tersenyum tipis.
Louis mematung, ia mengerjapkan matanya tidak percaya dengan mulut terbuka.
"Dia anak pintar, Louis. Tidak ada salahnya aku membiarkannya tinggal di sini bukan?" Serena menghela nafas pelan, "yah..., setidaknya sampai aku menemukan keluarganya-"
"Tunggu, kau menemukannya di mana?!" Sergah Louis, "kau mengijinkan orang asing yang tidak kau ketahui asal usulnya tinggal di rumahmu?! Serena, apa kau gila?" Terlihat jelas jika Louis sedang panik dan tidak terima.
"Aku tahu kau akan begini...." Serena menatap Louis dengan lesu.
"Apa?! Lalu kau pikir aku akan seperti apa?! Apa aku bisa bersantai lalu mengatakan wooowwww Serena kau punya teman baru dari hutan!! Apa aku harus begitu?!" Kesal Louis.
Serena berusaha menenangkan sahabatnya itu, ia menjelaskan panjang lebar semua soal Van. Namun, tetap saja Louis tidak menerima penjelasan itu dan bersikeras meminta Serena untuk mengusir Van.
"Jika kau tidak mau mengusirnya sekarang juga, maka aku yang akan memanggil polisi." Ucap Louis dingin, laki-laki itu bangkit dan masuk ke kamar lalu keluar lagi sambil memakai jaketnya dan menenteng kunci mobil.
"T-tunggu, Louis. Apa-apaan kau ini?!" Marah Serena.
"Aku? Aku kenapa? Kau yang kenapa, Serena. Kau membawa orang asing ke rumahmu tanpa tahu asal usulnya." Terlihat jelas jika laki-laki itu sedang menahan nada bicaranya sekeras mungkin.
"Kau tidak mengerti..., Louis," Lirih Serena, "aku tahu kau mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku mohon... Aku juga punya alasan kenapa aku membiarkannya di sini...." Ucapnya pelan.
Louis mematung, emosinya sekarang sedang berada di ubun-ubun tetapi sebisa mungkin ia redam.
"Jelaskan, jelaskan apa alasanmu itu," Suara Louis yang berat mengalun di tengah sunyi nya malam, "apa kau menyukainya?" Tanya Louis dengan sorot mata sayu.
Serena mendongak, Louis sangat tinggi hingga Serena hanya sebatas dadanya saja.
"Ada sesuatu yang tidak kau lihat, tapi aku melihatnya..." Lirih Serena, matanya masih menatap manik biru milik Louis, "percayalah padaku, paling tidak sampai aku menemukan keluarganya," Tutur gadis itu dengan pelan dan penuh harap.
Louis menghembuskan nafasnya kasar, laki-laki itu mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia benar-benar tidak terima, tetapi melihat Serena seperti itu juga membuat hatinya terenyuh.
"Aku khawatir, Serena. Aku tidak bisa menjagamu, karena itu aku sangat takut saat ada orang lain di sisimu," Ucapnya lirih, "tahun depan, aku akan bebas dan bisa kembali ke sini menjagamu," Tambahnya pelan.
Serena mengusap pelan tangan Louis yang terasa dingin, ia mengerti jika laki-laki itu sangat mengkhawatirkannya.
"Percayalah padaku, selain itu aku juga ingin meminta tolong padamu..., tapi karena kau sibuk aku berusaha menahan-"
"Jadi ini alasan kau memintaku mencari informasi mengenai orang-orang yang hilang itu?" Potong Louis.
Serena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku tidak menjawab pun kau pasti akan tahu jawabannya," Sahut Serena pelan.
Louis hanya menatap datar gadis itu, ia kembali melepas jaket yang tadi ia kenakan. Mereka sama-sama terdiam sebelum akhirnya Serena dibuat kaget oleh Louis yang tiba-tiba memeluk gadis itu dengan erat.
"Maaf, Serena..., maaf karena tidak bisa selalu ada di sisimu...." Lirihnya.
Serena yang tadinya ingin meronta kini terdiam membiarkan Louis memeluknya erat, ia bisa merasakan bagaimana pelukan tulus laki-laki itu yang dipenuhi oleh rasa khawatir.
"Kau tidak perlu merasa bersalah atas itu...., " Ucap Serena pelan, ia balas menepuk punggung Louis, "aku bukan anak kecil yang lemah lagi, Louis." Suaranya kini terdengar melembut.
Louis tersenyum, ia hanya diam sambil memeluk Serena dengan erat.
"Sepertinya aku harus membuat tanda peringatan, uhm..., tanggal berapa hari ini?" Tanya Louis pelan.
Serena mendongak, "peringatan? Untuk apa?" Ucapnya heran.
"Ini adalah hari dimana kau berbicara lembut padaku, yah..., walaupun bercampur dengan kejadian menyebalkan, sih...." Ucap Louis ringan yang sontak membuat Serena mendorong laki-laki itu hingga terjatuh ke sofa.
"Dasar menyebalkan!" Ketus Serena.
Malam itu berakhir dengan pembicaraan ringan di antara mereka, Serena memaksa Louis untuk tidur karena tidak suka melihatnya bergadang semalaman.
Di samping semua itu, Van sedang berdiri kaku di depan pintu belakang. Laki-laki itu ingin membuka pintu tetapi ia mengurungkan niatnya.
"Bunga....?" Lirihnya.