Cursed And Love

Cursed And Love
26 : Bunga dan kumbang


Louis menggerutu sambil melajukan mobilnya pada jalanan kota yang sepi, laki-laki itu sudah tiba di tempat kerja barunya tetapi ia tidak sengaja meninggalkan beberapa berkas penting di rumah Serena. Dan sekarang ia harus kembali lagi untuk mengambil berkas itu.


"Merepotkan sekali...." Gerutunya kesal.


Sekitar 15 menit ia sudah kembali ke rumah, laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jika saja Serena mengetahuinya, maka sudah pasti gadis itu akan mengomel tanpa henti.


Louis turun dengan tergesa-gesa, ia harus cepat kembali ke kantor dan tidak boleh mendapatkan kesan buruk lebih dari kecerobohannya sekarang di tempat kerja saat hari pertama.


Suara pintu terbuka menggema di rumah putih yang sepi itu, Louis sempat bingung saat melihat toko masih tutup dan tidak ada tanda-tanda Serena di dalam sana.


Kenapa dia masih belum membuka toko?


Louis mencoba mengacuhkannya, ia tidak punya banyak waktu sekarang.


Laki-laki itu bergegas menuju kamarnya, tapi lagi-lagi ia menggerutu karena tidak menemukan berkas yang ia cari. Terlihat sekali wajah frustasi Louis yang begitu kentara, "kemana sih?" Kesalnya sambil terus memeriksa satu-persatu berkas yang tersusun di atas meja.


Apa Serena membereskan kamar ini?


Louis keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Serena, ia menuju kebun belakang karena sudah melihat jika gadis itu tidak ada di dalam tokonya.


Louis menghela nafas lega saat melihat pintu belakang terbuka, sudah pasti gadis itu ada di belakang sana.


"Seren-"


Suaranya tertahan, Louis mematung setelah matanya menangkap siluet Serena dari kejauhan. Laki-laki itu terdiam karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, berkali-kali ia mengusap mata bahkan mencubit lengannya sendiri untuk memastikan jika yang sedang dilihatnya itu bukanlah suatu kebohongan.


Louis masih terdiam, di sana terlihat Serena sedang memeluk seseorang yang ia kenal. Gadis itu memeluk laki-laki yang belakangan ini benar-benar mengganggunya, laki-laki yang selalu ia panggil dengan sebutan anjing liar.


Serena memeluk erat tubuh Van, tangan mungil gadis itu bahkan mengelus punggung laki-laki itu dengan begitu lembut. Ditambah lagi kini Serena sedang tersenyum.


Apa itu?


Louis tidak bisa berkata-kata lagi, pemandangan ini benar-benar membuat tubuhnya seakan mati rasa dan terpaku pada tempatnya berdiri.


Bagaimana tidak, Serena yang seumur hidup dikenalnya adalah seorang gadis dingin yang pendiam. Meskipun ia sudah mengenal Serena sejak lama, tetapi gadis itu sama sekali tak tersentuh. Meskipun mereka saling berdampingan atau berhadapan satu sama lain, Serena seperti terpisah oleh sebuah jurang curam sehingga ia tidak dapat disentuh.


Tapi kenapa? Sekarang gadis itu sedang tersenyum manis. Bahkan ia memeluk laki-laki liar itu dengan hangat, tatapan yang selalu dingin itu kini terlihat melembut saat berhadapan dengan sang pemilik netra kuning.


"Sudah lama sekali sejak kau tersenyum seperti itu...." Lirih Louis, rahangnya mengeras.


Tangan laki-laki itu mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, terlihat jelas tatapan tajam dari manik biru miliknya. Tapi itu hanya sesaat, sorot dingin dari mata itu kini melunak dan berubah menjadi sebuah tatapan sayu.


Louis segera pergi dari sana begitu melihat Serena dan juga Van akan kembali ke rumah, ia kembali ke luar dan menunggu di dalam toko.


"Kenapa kau kembali? Bukannya hari ini bekerja?" Tanya Serena heran.


Louis tak langsung menjawab, tapi kemudian laki-laki itu tersenyum simpul. "Aku meninggalkan berkas penting, heheh,." Kekehnya pelan.


"Lalu? Sudah kau ambil? Kenapa masih di sini?" Bingung Serena.


Louis menggaruk kepalanya, bersiap-siap mendapat lirikan maut dari Serena. "Aku tidak bisa menemukannya...." Cicitnya.


Dan seperti yang diduga, Serena langsung melihatnya dengan tatapan tajam. Ya, sejak dulu Serena selalu begitu jika menghadapi kecerobohan Louis. Namun sebenarnya ia tidak marah, setelah beberapa omelan maka gadis itu selalu mengurus Louis seperti mengasuh anak kecil.


"Kapan cerobohmu itu hilang, padahal barangmu sendiri, kenapa pula tidak menemukannya," Gadis itu mengomel sambil berlalu pergi untuk mencari berkas yang Louis maksud.


Louis menghembuskan nafas berat. Meskipun ia begitu, sebenarnya laki-laki itu sangat senang saat Serena mengomel dan memperhatikannya seperti anak kecil. Ia menyukainya.


"Sampai kapan kau menempel pada Serena seperti hama?" Ucap Louis dingin, matanya melirik ke arah Van yang sedang merapikan susunan bunga di dalam Vas kaca.


Van hanya meliriknya, laki-laki itu tidak membalas perkataan Louis. Ia masih fokus merapikan bunga sebelum akhirnya berhenti karena Louis menepuk bahunya.


"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?" Cetus Louis, ia mengambil setangkai bunga yang ada pada tangan Van.


Kini Van berbalik hingga mereka berhadapan, "kata Serena jangan bertengkar, nanti bisa diusir." Tukasnya singkat dan langsung menjauh dari Louis.


Tetapi lagi-lagi Louis menahannya, laki-laki itu tersenyum tipis. "Bunga ini indah, kan?" Ujarnya sambil membelai setangkai Lily yang sudah mekar, "bukankah sesuatu yang cantik seperti ini harus dijaga agar tidak rusak? Karena itu..., para penjual bunga selalu menjaga dan menjauhkan para serangga dari bunga mereka," Ucap Louis pelan, manik birunya melirik ke arah Van yang sedang balas melihatnya dengan tatapan dingin.


"Bagaimana bisa kau tidak menemukannya?! Padahal berkas itu berada di atas rak paling depan." Ucapan Serena memecahkan ketegangan di antara dua laki-laki yang saling beradu tatap seperti ingin menghabisi satu sama lain.


"Ah! Benarkah? Padahal aku sudah mencarinya di sana...." Sahut Louis kikuk, sekarang laki-laki itu tersenyum manis pada Serena.


Sedangkan Serena melihat ke dua orang itu secara bergantian, "kalian sedang membicarakan apa?" Tanya gadis itu, matanya melirik tajam ke arah Louis. "Kau tidak memulai pertengkaran lagi, iya kan, Louis?" Desis Serena masih dengan tatapan menyelidik.


"Apa? Tentu saja tidak," Sahut Louis tenang, "hehehe, iya kan? Anjing Liar?" Ia merangkul Van sambil tersenyum.


Tapi kenapa atmosfer di ruangan ini terasa sangat sesak?


Serena masih melihat Louis dan Van secara bergantian, ia tidak percaya dengan perkataan Louis barusan.


Tok... Tok... Tok!


Suara ketukan dari pintu utama terdengar dan memecahkan keheningan mereka, Serena pun bergegas memeriksa siapa yang datang.


"Selamat siang, Nona. Kami dari petugas keamanan,"