
Skotlandia, 2014.
Hening, ruangan itu terasa sunyi dan sesak. Serena jelas sedang ketakutan dan juga bingung dengan apa yang baru saja terjadi, ia ingin tidak mempercayainya tetapi hal itu jelas-jelas sudah terjadi padanya barusan.
Van duduk diam sambil memandangi Serena dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, laki-laki itu terlihat gelisah sambil terus memainkan jari-jarinya.
"Bunga..., maaf...." Lirihnya pelan.
Serena yang mendengarnya langsung tersadar jika Van masih berada di hadapannya.
"Van...," Gadis itu mendekati Van, meskipun masih tersisa rasa takut pada dirinya. "Dengar, aku tidak marah padamu, hanya saja aku memintamu untuk jangan melakukan ini pada siapapun selain aku." Tutur Serena dengan lembut.
"Tidak membuangku..., Bunga tidak membuangku, kan?" Tanya Van pelan, laki-laki itu masih memainkan jemarinya dengan gelisah.
•
•
•
Skotlandia, 2003.
Suara serangga penghuni malam mulai terdengar, matahari pun perlahan menyembunyikan dirinya di ufuk Barat. Seorang anak laki-laki berlari menggiring dua ekor domba, kaki kecilnya lincah melompat di atas bebatuan terjal di tepi bukit.
Hari ini ia menggantikan ayahnya untuk menggiring para domba kembali ke kandang karena sang ayah sedang sakit. Seharusnya domba-domba itu sudah di jemput sejak sore, tetapi hari ini harus terlambat karena ayahnya pun telat memberitahunya.
"Domba~ Domba~ Pulanglah~" Anak itu bersenandung riang.
Tanpa ia sadari, sepasang mata yang berkilat sedang memperhatikan mereka dari balik pepohonan.
"Ayo lebih cepat, hari sudah gelap," Ucap anak itu seakan domba yang digiringnya mengerti dengan perkataannya.
Ia mempercepat langkahnya, tetapi anak itu terhenti saat seekor serigala tiba-tiba menyerang salah satu domba yang sedang ia giring. Domba itu memekik kencang, dan sang pengembala kecil sedang mematung karena terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
Darah pekat menggenang di atas rerumputan hijau, seekor serigala dengan leher yang tercabik-cabik tergeletak tidak bernyawa di sana. Tak jauh dari serigala itu, seorang anak laki-laki sedang gemetar ketakutan.
Tubuh dan pakaiannya kini dipenuhi darah, tangan dan jari-jarinya pun ikut berlumur cairan merah berbau anyir tersebut. Ia menatap nanar pada tubuh serigala yang sudah tak bernyawa itu. Ia sedang kebingungan, mungkin bisa dibilang setengah sadar saat mencabik serigala itu dengan tangannya sendiri. Tubuhnya seakan didorong oleh sesuatu yang bergerak di luar kendalinya.
Ia kembali melihat ke arah salah satu domba yang kakinya terluka parah akibat gigitan serigala, perlahan anak itu bangkit dan mendekat meskipun tubuhnya sempoyongan.
"Kenapa kau diam saja, sembuhkan lukamu," Ucapnya masih dengan bibir yang gemetar.
Anak itu menatap heran pada dombanya yang tidak melakukan apa-apa, "kenapa kau tidak menjilatinya? Nanti tidak akan sembuh tau!" Tukasnya kesal.
Tentu saja domba itu hanya terkulai diam dengan kaki yang terus mengeluarkan darah. Anak laki-laki tadi menggeram frustasi.
"Paman bisa marah kalau aku telat membawa kalian!" Ujarnya, anak itu berjongkok di depan kaki domba miliknya.
Dengan cepat ia menjilati luka yang ada pada kaki domba itu, meskipun sekekali meringis karena anyir dan amisnya darah dari domba tersebut sangat mengganggunya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Pria itu mendekat, ia begitu shock ketika melihat mulut dan tubuh anak laki-laki di hadapannya dipenuhi dengan darah. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, ia benar-benar melihat sendiri saat anak itu menjilati kaki domba yang bersimbah darah.
"Demi Tuhan..., apa-apaan ini...." Lirihnya, ia menatap nanar pada anak laki-laki itu.
"P-paman..., dombanya terluka, jadi aku-"
"Harusnya sejak awal aku menyadarinya...," Potong pria itu, "Van, ayo pulang...." Nada suaranya terdengar getir.
Bughhh!
Satu pukulan, dan anak laki-laki bernama Van itu kini tersungkur ke tanah.
"Tuhan..., apa yang aku lakukan...." Pria tua itu kini jatuh berlutut.
Ia menatap ke arah domba yang sedang sekarat, kaki hewan itu robek berlumur dengan darah dan sudah jelas jika itu luka bekas gigitan.
Pria itu menatap tubuh Van yang tersungkur tidak sadarkan diri, tangannya yang gemetar mengangkat tubuh anak kecil itu dan membawanya di pangkuannya.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
Sepasang mata dengan manik kuning terang itu terbuka, Van terbangun di dalam gudang yang digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan jerami. Seluruh tubuhnya masih dipenuhi darah yang kini sudah mengering. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh rantai besar yang biasa digunakan untuk penahan gerobak.
"P-paman...." Gumamnya, anak itu masih setengah sadar.
Van tersentak saat sepenuhnya sadar, ia meronta berusaha melepaskan rantai yang mengikat kaki dan juga tangannya. Meskipun itu sia-sia, anak itu terus berusaha sambil memanggil pria tua yang ia sebut dengan Paman.
"PAMAN! LEPASKAN AKU! PAMAN..., AKU MINTA MAAF!" Teriaknya.
Ia masih meronta hingga pergelangan tangan dan kakinya lecet dan memerah, sekarang anak itu mulai menangis.
Krieettt~
Pintu gudang terbuka, nampak seorang pria dengan sebilah cerutu di mulutnya sedang melihat ke arah anak itu dengan tatapan dingin. Perlahan, kakinya melangkah mendekati Van yang masih tersungkur dalam keadaan terikat.
"Bocah kecil, aku tidak menyangka jika perubahanmu akan terlihat secepat ini." Ujarnya, pria itu menghembuskan asap cerutu dari mulut dan juga hidungnya.
Van melihat pria itu dengan tatapan bingung, "p-paman... Kenapa aku diikat di sini?" Nada anak itu terdengar ketakutan.
"Usiamu baru 10 tahun, tapi kau tumbuh lebih cepat dari anak-anak seusiamu," Pria itu duduk dan bersandar pada gundukan jerami yang menggunung, "bahkan aku harus berbohong pada semua orang tentang usiamu," Lanjutnya lagi.
Tangan kekarnya terulur mengusap pucuk kepala Van yan gemetar, "kau tahu kenapa aku tidak mengijinkanmu untuk memanggilku dengan sebutan Ayah?" Tanya pria itu.
Van membisu, kini tubuhnya sudah tidak gemetar. "Karena aku bukan anakmu, Paman...." Balasnya lirih.
"Aku tahu kau berbeda, tapi aku juga sangat penasaran," Pria itu mendekat dan menjambak rambut Van hingga kepala anak itu terangkat dan mendongak ke arahnya, "selama ini kau benar-benar tidak menyadarinya, atau kau hanya pura-pura lugu?!" Desisnya dingin.
Van tidak menyahut, ia hanya balas menatap pria itu dengan tatapan sayu.
"Bahkan kau tidak pernah menangis." Pria itu melepas cengkeramannya pada rambut Van dan langsung membuat kepala anak itu menghantam tanah dengan keras. "Jangan pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan pada domba itu di depan orang lain selain aku, atau kau akan benar-benar aku habisi." Tegasnya dingin.