Cursed And Love

Cursed And Love
30 : Manusia atau bukan?


Serena terbangun, ia begitu kaget saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kepalanya masih terasa berat, hampir semalaman ia tidak tidur karena membaca buku yang diberikan oleh Harry. Sebenarnya bukan hanya karena sebatas membaca, tapi karena hal yang ada di dalam buku itu, hal yang sangat mengusiknya.


"Aku harus membuat sarapan...." Serena bergegas bangkit, kepalanya masih terasa berat.


Ia mengikat rambutnya, menampakan leher jenjang nan mulus yang begitu cantik. Gadis itu juga mengganti piyama tidurnya, ia harus segera mencuci muka untuk mengusir rasa kantuknya.


"Sudah bangun? Putri Tidur." Suara berat mengalun dari dapur, menyambut Serena yang baru saja menapakkan kakinya di sana.


Gadis itu terkejut, Louis sedang menyiapkan sarapan dan nampaknya itu sudah selesai. Laki-laki itu sudah rapi dengan setelan kemeja hitam, tapi sekarang apron merah juga menempel pada tubuh atletisnya.


"Kau tidur terlalu nyenyak, atau tidak tidur?" Louis mengernyit, matanya menyipit ke arah Serena.


Serena mengerjapkan matanya, apa wajah tidak tidurnya itu terlalu kentara saat dilihat?. "Aku tidur, tapi kesulitan," Sahutnya, gadis itu segera berlalu dan menghilang dari balik kamar mandi.


Serena membasuh wajahnya, air dingin yang bersentuhan dengan kulitnya terasa sangat menyegarkan. Ia mematikan keran air, gadis itu menatap pantulan wajahnya yang ada pada cermin kamar mandi.


Itu jelas-jelas hanya dongeng, kan?


Serena menggelengkan kepalanya yang masih terasa pusing, isi buku itu benar-benar seakan menggerayangi pikirannya.


••••••••••─── •☽• ───••••••••••


"Aku yang memasak ini, tahu! Minta izin dulu padaku!"


"Aku hanya minta izin pada Bunga."


"Lihat saja, nanti aku adukan pada Serena!"


"Tidak peduli."


Suara ribut terdengar dari luar kamar mandi, dan Serena juga sangat hafal akan suara itu. Ya, siapa lagi jika bukan dua lelaki yang sebenarnya terlihat lebih seperti dua bocah nakal di matanya.


"Hhhhh, ini masih pagi...." Lirihnya, hembusan nafas berat terdengar, ia segera keluar dari kamar mandi.


"Serena~ Lihat Bocah ini! Dia tidak mau mendengarkanku, padahal aku hanya menyuruhnya minta izin dulu sebelum meminta makananku," Adu Louis, ia mendekati Serena dengan wajah bersedih yang dibuat-buat.


Serena melihat ke arah Van yang sedang berdiri sambil memalingkan wajahnya dari arah Serena, laki-laki itu sengaja tidak mau menatapnya.


"Ini masih pagi, kenapa sudah bertengkar," Serena menggeser salah satu kursi dan duduk di sana, ia memijit pelipisnya yang terasa nyeri. "Van, kau harus bertanya dan meminta izin jika menginginkan barang milik orang lain. Bukan hanya padaku saja, tapi pada siapa pun yang kau temui." Jelasnya perlahan dan sukses membuat Van menoleh ke arahnya.


Laki-laki itu duduk di samping Serena, hal itu juga langsung membuat Louis melotot dan menarik kursi yang sedang diduduki oleh Van menjauh dan berganti posisi.


"Apa kau mendengar perkataan Serena tadi?" Louis bertanya sambil melirik ke arah Van yang sedang menatapnya tajam.


"Maaf..., Bunga." Ucap Van lembut, tetapi matanya sedang melirik Louis dengan tajam.


Sedangkan Louis sedang tersenyum penuh kemenangan, rasanya menyenangkan sekali membuat Van tidak berkutik di depan Serena seperti itu.


"Berhenti tersenyum dan cepat makan, kau akan terlambat." Serena menarik salah satu piring berisi pasta dan menyodorkannya pada Louis, ia juga sadar jika sejak tadi Louis tersenyum dan mengejek Van, pemandangan yang sangat biasa.


"Serena juga makan, aku belajar resep ini dari ibu." Ucap Louis dengan bangga.


"Berterimakasih lah karena aku mau memasak makanan untukmu," Desis Louis pelan, meskipun akhirnya ia mendapat cubitan keras pada pinggangnya oleh Serena.


Mereka makan dalam hening, dan Louis selesai lebih dulu. Laki-laki itu memang sedang terburu-buru, ia harus pergi bekerja.


"Aku pergi dulu, telfon aku jika terjadi apa-apa, ya?" Louis merapikan kemejanya yang sudah sedikit kusut.


"Hati-hati." Sahut Serena, gadis itu masih fokus dengan makanannya.


••••••••••─── •☽• ───••••••••••


Ruang makan itu hening, Louis sudah menghilang dari sana. Sekarang yang tersisa hanya lah Serena dan juga Van yang makan dalam diam.


Gadis itu melirik ke arah Van sebentar, mulutnya terasa sangat gatal ingin menanyakan sesuatu, tetapi ia menahannya.


"Uhm... Hei, Bocah." Ucapnya ragu, pada akhirnya ia tetap tak tahan juga.


Van langsung melihat ke arah Serena, sorot matanya memperlihatkan jika laki-laki itu sedang merespon.


"Aku hanya ingin tahu...." Serena mengulurkan tangannya dengan ragu, "kenapa ini bisa sembuh?" Tanya gadis itu dengan hati-hati.


Van memiringkan kepalanya, wajah laki-laki itu nampak polos dan balik bertanya. "Luka kan memang akan sembuh." Jawabnya singkat, Van melanjutkan makannya.


Serena terdiam, tetapi ia tetap berusaha tenang. "Van," Panggilnya lagi, wajah gadis itu terlihat frustasi, "ah! Sudahlah! Aku akan bertanya serius, kau ini manusia atau bukan, sih?!" Ucap Serena, gadis itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya pada Van.


Van mengerjap bingung, ia tak paham dengan apa yang Serena katakan. "Manusia? Aku manusia, kan?".


Wajah Serena langsung berubah datar, bukannya menjawab pertanyaannya, Van malah balik bertanya. "Yah... Bentukmu memang manusia, tapi apa kau tidak pernah berubah menjadi sesuatu yang lain seperti serigala atau babi hutan atau apa lah-"


"Serigala." Potong Van, dan sukses membuat Serena mematung.


Apa? Ia tidak salah dengar kan? Apa laki-laki itu sedang bercanda? Sungguh tidak lucu!


"A-apa?!"


"Kata paman, aku anak serigala." Ucap Van polos.


Serena semakin bingung, ia tidak tahu persis arti dari perkataan laki-laki itu. Anak serigala sebagai perumpamaan dan candaan saja, atau benar-benar serigala seperti yang ada pada buku dongeng itu.


"Di mana pamanmu?" Tanya Serena, entah kenapa perasaannya menjadi was-was.


Van diam sebentar, laki-laki itu menunduk sebelum akhirnya melihat ke arah Serena. "Tidak ingat...." Lirihnya.


Serena juga diam menatap Van cukup lama. "Begitu ya." Gadis itu tersenyum, ia mengambil piring kotor dan mencucinya. "Aku harus mandi dan membuka toko, kau juga siap-siap membantuku memotong bunga." Tambahnya lagi, padahal pikirannya masih berkecamuk dengan banyak pertanyaan.


Dari sini ia bisa paham, Van bukan lah anak normal. Laki-laki itu menganggap normal saat luka Serena sembuh dengan cepat, meskipun sebenarnya itu di luar nalar manusia biasa. Sekarang Serena juga mengerti dengan hal aneh yang terjadi saat pertama kali ia membawa Van karena terluka. Ia tidak salah lihat, luka laki-laki itu memang sembuh dalam waktu singkat.


"Bunga..., tidak membenciku, kan?"