Cursed And Love

Cursed And Love
21 : Tinggal bersama


Beberapa mobil polisi terparkir di kawasan ujung kota bagian Timur, polisi hutan yang sedang berpatroli kembali menemukan bangkai untuk yang kesekian kalinya. Namun, kali ini berbeda. Yang mereka temukan bukanlah bangkai hewan seperti rusa atau sejenisnya, melainkan bangkai dari potongan tubuh manusia.


Mungkin bagian tubuh itu lebih pantas disebut mayat, tetapi berbentuk dalam beberapa potongan terpisah. Bagian-bagian tubuh ditemukan dalam lokasi yang berbeda meskipun jaraknya tidak jauh. Tubuh itu seperti dicabik-cabik hingga menjadi beberapa bagian.


Namun, anehnya tidak ditemukan jejak darah sama sekali di sana. Potongan tubuh itu seakan sudah tidak memiliki darah barang setetes pun, hanya berupa potongan daging besar yang sudah pucat dan membiru.


"Bagaimana ini, Letnan? Sampai kapan kita akan menutupinya?" Seorang polisi yang terlihat masih sangat muda menghampiri atasannya dengan wajah kalut.


Sang Letnan hanya terdiam sambil mengamati kantung mayat di depannya, "ya, sebaiknya jangan sampai bocor pada publik jika kita belum menemukan dalang masalah dari semua ini." Tegasnya.


*****


"Bukankah hari ini kau harus kembali?" Serena menatap bingung pada Louis yang sedang duduk santai menonton TV.


"Aku akan tinggal di sini." Sahut laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangannya pada Serena, matanya fokus menonton acara kartun kesukaannya.


Serena mencubit lengan Louis hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan, kini perhatiannya beralih pada Serena yang sedang melihatnya dengan tatapan tajam.


"Uhh..., aku sudah mengajukan pengunduran diri dan akan pindah ke sini, jadi biarkan aku tinggal di sini," Cicit Louis yang masih meringis dan was-was dengan tatapan mematikan Serena.


"Apa? Apa kau gila? Bagaimana dengan ibumu?" Balas Serena tidak percaya.


Louis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, laki-laki itu terlihat kikuk dan tidak berani menatap Serena.


"Dia tidak masalah tuh..., lagipula aku sudah melamar pekerjaan pada beberapa tempat di sini," Jawab Louis seadanya.


Serena menatap laki-laki itu atas bawah, ia tidak mengerti kenapa Louis tiba-tiba ingin menetap di sana sampai berhenti dari pekerjaannya. Laki-laki itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perpustakaan besar yang ada di kota lain, tetapi bisa-bisanya sekarang ia memilih untuk berhenti dan pindah ke kota kecil tempat mereka sekarang.


"Yah..., itu bukan urusanku, sih. Apa kau akan kembali ke rumah lama-"


"Aku ikut di sini." Potong Louis.


Serena mengernyit bingung, "ikut apanya?".


Louis bangkit dari duduknya dan langsung mengambil tangan Serena, laki-laki itu berlutut dengan posisi memohon.


"Izinkan aku tinggal di sini, aku akan bayar uang sewa, ya?" Tukas Louis yang sukses membuat Serena tercengang.


Serena segera menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Louis, gadis itu mundur beberapa langkah dari Louis yang masih berlutut dengan wajah memelas.


"Untuk apa kau tinggal di sini, rumah lama milikmu kan masih ada?" Ucap Serena yang langsung dibalas dengan tatapan kesal dari Louis.


Laki-laki itu sekarang duduk di atas lantai dengan lesu, "tidak mau, aku tidak mau tinggal di rumah tua menyeramkan itu sendirian!" Gumamnya kesal.


Serena mendengus dan mendekati Louis lalu menariknya agar laki-laki itu segera bangkit. Tapi bukannya bangkit, Louis sekarang malah berbaring dan terus merengek seperti anak kecil.


"Aku mau di sini, Serena. Anjing liar itu saja kau izinkan tinggal sesukanya, kenapa aku tidak?!" Protes Louis dengan wajah penuh rasa tidak terima.


Serena memicingkan matanya, kini ia mulai paham kenapa Louis tiba-tiba memutuskan untuk kembali tinggal di kota ini.


"Louis, jangan bilang kau berhenti bekerja lalu ingin tinggal di sini karena Van?" Tanya Serena dengan tatapan menyelidik.


"Aku lelah bekerja di sana, dan soal anjing liar itu, ya..., kau tahu aku mengkhawatirkanmu bukan?" Ujar Louis dengan nada kesal.


Serena tersenyum manis, Louis yang melihat itu langsung berdiri dengan mata berbinar.


"Terimaka-"


"Kemasi barangmu dan pergi setelah sarapan, aku akan membantu membersihkan rumah itu." Tegas Serena.


Louis mematung, senyum lebarnya yang tadi terukir indah kini langsung pudar. Laki-laki itu melongo sambil menatap tidak percaya ke arah Serena yang berlalu pergi meninggalkannya ke dapur.


Sementara itu, terdengar suara Van yang sedang berbicara dengan Serena dari arah dapur. Louis sontak langsung pergi menyusul mereka.


*****


"Bunga, aku juga ingin memasak," Ucap Van yang sedang memperhatikan Serena memotong sayuran.


"Bantu aku saja, perlahan kau akan terbiasa dan bisa melakukannya," Sahut Serena pelan, tangannya lincah memotong sayuran dengan cepat.


Louis muncul dari ambang pintu, wajah laki-laki itu terlihat kusut dan tidak ada semangat hidup.


Serena menoleh ke arahnya sebentar, "kau sudah berkemas?".


Louis berjalan mendekat dengan wajah datar, kedua tangan laki-laki itu mengepal hingga urat-urat tangannya semakin menonjol.


"Serena," Louis berhenti tepat di samping Serena yang sedang fokus memotong sayuran, "aku tidak mau pergi!" Rengeknya.


Louis memegang sebelah tangan Serena, ia benar-benar merengek sambil bergelayut di tangan gadis itu.


"Kau ini kenapa sih?" Serena memutar bola matanya saat melihat Louis yang menatapnya dengan mata memelas bak anak anjing.


"Anjing liar itu boleh tinggal di sini, kenapa aku tidak?! Apa kau lebih peduli padanya daripada aku? Ayolah, Serena. Biarkan aku tinggal di sini, ya?" Kini ia sudah tidak peduli lagi, Louis benar-benar merengek seperti anak kecil, bahkan laki-laki itu tidak peduli pada Van yang sejak tadi melihatnya dengan tatapan bingung.


"Louis-"


"Aku memaksa!" Potong Louis, "izinkan aku tinggal di sini, kau pikir aku percaya meninggalkanmu bersama anjing liar itu? Jika kau menolak, aku akan melapor-"


"Baiklah!" Serena sudah lelah dengan sahabatnya itu, "dengan satu syarat, jangan memulai pertengkaran dengan Van." Tegasnya.


Mau bagaimana pun Louis tetaplah keras kepala, akhirnya Serena membiarkan laki-laki itu tinggal di sana juga.


"Nah, itu baru benar," Kini Louis tersenyum penuh kemenangan.


Laki-laki itu melirik sebentar ke arah Van dengan tatapan dingin yang dibalas dengan hal yang sama oleh Van, tetapi Serena yang menyadarinya langsung mencubit Louis entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Baru saja aku mengatakannya...." Kesal Serena.


Louis terkekeh pelan, kini ia ikut duduk pada kursi dan menopang wajahnya dengan kedua tangan di meja makan.


"Berapa uang sewa yang harus aku bayar?" Tanya laki-laki itu dengan wajah girang.