Brotherhood

Brotherhood
Pria Angkatan Laut


...****************...


Pria dikatakan sejati ketika bisa melindungi apa yang dimiliki nya. Sehingga seorang pria selalu dituntut untuk kuat dan hebat. Hal ini juga yang menjadi prinsip dari seorang yang meskipun sudah di usia pensiun tetapi tetap terlihat gagah berani.


Pagi yang mengejutkan menghampiri kakek Heri,dia mendengar kabar dari anaknya bahwa cucu-cucu nya berulah lagi. Tanpa berpikir lama, dia segera mengemasi barang-barang untuk tinggal beberapa saat di kota tempat tinggal anak dan cucu-cucu nya.


Karena sudah terlibat sebuah perjanjian antara dia dan cucu-cucu nya, dimana jika salah satu di antara mereka berbuat masalah. Maka kakek Heri yang akan turun tangan untuk memberikan mereka arahan untuk kembali menuju jalan yang benar, meskipun itu hanyalah masalah kecil.


Seorang pria harus mampu mengemban beban untuk melindungi,menjaga, dan memberikan rasa aman dan nyaman kepada orang-orang di sekitar mereka. Jika mereka tidak memiliki pandangan yang baik dan benar, tidak memiliki tujuan serta arah dan prinsip hidup pria akan hanya menjadi beban bagi sesama. Ini adalah hal yang mutlak bagi seorang kakek Heri.


...****************...


Suasana di rumah Kenny,Gama,dan Lion juga tidak kalah tegang nya. Ayah mereka yang sudah mendapatkan kabar tentang surat panggilan itu langsung menghubungi kakek Heri.


Kenny,Gama, dan Lion sudah pucat dan pasrah. Hari-hari mereka kedepannya akan lebih berat pastinya.


"Ayah dan ibu tidak akan memberi kalian hukuman apa-apa. Kalian seharusnya sudah mengetahui betapa ketat nya pendidikan karakter dari kakek Heri. Ayah akan mendoakan yang terbaik buat kalian." ayah Niel yang sedang duduk menyantap kopi menatap ketiga anak nya yang sedang sarapan untuk ke sekolah.


Kenny, Gama, dan Lion hanya terdiam terus sambil memasukan menu sarapan pagi mereka ke dalam mulut.


"Kakek Heri pasti senang karena akan bertemu cucu-cucu nya yang sudah dewasa ini." Ibu yang datang dari dapur ikut menambahkan obrolan.


"Pasti kakek bakal terus-terusan melarang ini itu, tidak boleh bermain game, tidak boleh duduk seperti ini, tidak boleh ini itu. Huaaaaaaaa..." Lion merengek sambil memeluk ibu nya.


Kedua kakaknya saling bertatap tanpa kata. Begitulah keadaan pagi hari di rumah Kenny,Gama, dan Lion.


...****************...



Siang hari setelah pulang dari sekolah, Kenny, Gama, dan Lion duduk di teras belakang rumah untuk bersantai sambil mengobrolkan beberapa hal.


"Pokok nya pas ada kakek kita harus kalem yah dek" Kenny membuka pembicaraan.


"Jangan lupa sembunyiin PS, komik-komik , dan juga permainan kita. okey" tambah Gama yang sedang asik bermain dengan kucing tetangga.


"Ahh, gak seru banget. Pasti bakal sangat membosankan" ucap Lion.


"Kayak nya kakek udah dalam perjalanan deh." seru Gama.


"Bisa jadi, soalnya kakek tau berita ini udah dari tadi pagi" Kenny membuang napas kasar.


"Kalo abang di tanya sama kakek jawab nya apa?"


Kenny menoleh ke arah Lion yang bertanya hal tersebut, dan baru kepikiran soal alasan apa yang tepat dan baik.


"Aduh, bener nih. Kalo sama kakek bohong dikit gapapa kali yah?" Kenny menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sebagai tanda frustasi.


"Saran aku sih nyari jawaban aman, mmm.. tapi gak ada alasan bagus sih bang untuk sebuah kejahatan." Timpal Gama yang ikut berpikir keras.


Kini ketiga nya sedang terhanyut dalam pikiran masing-masing. Meneliti manakah alasan yang paling aman dan baik.


Broom..


Suasana yang tenang tadi tiba-tiba berubah menjadi suasana panik. Kenny, Gama, dan Lion langsung berlarian masuk ke dalam rumah.


Terlihat ibu yang sedang berjalan keluar dari rumah untuk membukakan pagar rumah mereka.


"Fix, ini pasti kakek" ucap Lion


Kini mereka bertiga sedang mengintip dari pintu rumah mereka untuk melihat sosok seram yang akan turun dari bus tersebut.



Bagai tersambar petir ketiga nya mundur perlahan setelah dugaan mereka benar. Seorang pria tua yang terlihat gagah dan sangat sedang berjalan bersampingan dengan ibu menuju ke arah rumah.


Kenny, Gama, dan Lion langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Mereka naik ke kasur masing-masing dan berpura-pura sedang tidur.



"Ahahahahhahaha,, Rose di mana cucu-cucu ku yang tersayang? mengapa mereka tidak ikut menjemput ku di depan?." Suara berat dan nyaring itu menggema memenuhi seisi rumah.


"Duduk dulu ayah, sepertinya anak-anak ada di kamar. Rose panggilkan dulu." ucap Rose kepada mertua nya itu.


Kenny, Gama, dan Lion yang mendengar percakapan tersebut langsung panik bukan main.


"Tadi pintunya di kunci kan dek?" tanya Kenny kepada Lion.


"Udah kok" jawab Lion.


Gama pun turun untuk memastikan bahwa pintu tersebut sudah benar-benar terkunci.


"Ia udah kekuncii." seru gama dan langsung kembali menuju ranjang nya.


tok.. tok..


Seperti set adegan di film horor, ketukan pintu itu terdengar begitu menyeramkan dan ngilu di telinga. Mereka menaikan selimut dan berusaha menenangkan diri di balik selimut itu.


"Kenny, Gama, Lion.. Buka pintunya segera atau kakek yang buka paksa."


Mendengar hal yang sudah seperti sesuatu yang mutlak dan tidak bisa di bantah. Mereka bertiga bertatapan mendiskusikan siapa yang akan membuka pintu itu.


Lion menggelengkan kepala dengan tatapan memelas, sedangkan Kenny ketakutan jika dia yang membuka pintu pasti kakek akan langsung menyerbu nya. Kenny menatap gama yang langsung menggelengkan kepalanya.


"Biar adil kita bertiga yang sama-sama membuka pintu nya." ucap Kenny mengambil keputusan.


tok..tok..


"Oe,, cepat bukakan untuk kakek pintu ini." Kakek Heri terus mengetok pintu kamar mereka.


Kenny, Gama , dan Lion pun turun dari ranjang masing-masing dan berjalan menuju pintu. Langkah kaki mereka begitu berat, seolah-olah tiap langkah maju mereka menuju kepada sebuah nasib malang.


Dengan satu tarikan napas pasti, mereka bertiga membuka pintu kamar mereka. Mata mereka melotot menatap sosok yang berdiri di hadapan mereka itu.


"Cucu-cucu kuuu.." seru kakek Heri yang langsung menuju ke arah Kenny, Gama, dan Lion untuk memberikan bentuk kasih sayang nya.


Bugh..


Bugh..


Bugh..


Bentuk kasih sayang seorang kakek Heri adalah sebuah tinju yang sangat luar biasa. Ini merupakan ciri khas dari kakek Heri sejak masih aktif sebagai angkatan laut. Tinju ini merupakan bentuk kasih sayang dan rasa hormat.



Kenny, Gama, dan Lion hanya bisa mengaduh kesakitan saja.


Sedangkan ibu mereka yang ada di belakang kakek hanya tersenyum saja melihat interaksi anak-anaknya dengan kakek mereka tanpa mau ikut campur.


Ini adalah awal bagi ketiga saudara itu.


Bersambung


...****************...



Bonus pict : Kenny yang sedang berpose layaknya sorang model. (btw kenny cakep amat ><)


...****************...


Halllo minaa 🤗


Kalian kalo punya kakek kayak kakek Heri bakal kayak gimana yah?


🙂


Terimakasih buat kalian yang udah mau membaca cerita ku, dan udah mau dukung karya aku.


jangan lupa kalau kalian suka chapter ini silahkan like yah 👍


sampai jumpa di chapter selanjutnyaa🧡