
Aqua dan Ruby mengunjungi makam Ai, meletakkan bunga di sana. Mengatakan bahwa mereka sudah mencapai semua impian Ai. Cita-cita dan harapan Ai pada mereka satu persatu terwujud.
"Jadi, onii-chan. Haruskah aku mengatakan ini berkali-kali padamu?" Ruby bertanya setelah mereka menikmati kopi di kafe terdekat.
Aqua tersenyum pada Ruby. "Apa? Kau mau mengatakan apa?"
"Janjimu padaku dulu, bisakah kau menepati janjinya sekarang?" tanya Ruby. "Kau berjanji untuk menikah denganku. Dan selalu mendukungku."
"Bukannya aku sudah selalu mendukungmu?" tanya Aqua seraya meminum kopi miliknya.
"Iya aku tahu, lalu bagaimana jika aku yang mencintaimu sebagai Goro-sensei?" tanya Ruby seraya menatap Aqua serius.
"Aku berterima kasih dengan perasaanmu padaku, Sarina. Tapi, tubuhku bukan lagi sensei. Aku sudah sepenuhnya tubuh Aqua yang di mana aku adalah saudara kembarmu. Kita dibesarkan di rahim dan waktu yang sama."
"Jadi, kau menolak perasaanku?" tanya Ruby sedih.
"Kau tetap menjadi gadis yang kusayangi. Aku akan terus mendukungmu." Aqua tersenyum seraya mengelus kepala Ruby.
Ruby menatap Aqua sedih. "Sudah sangat lama aku ingin bertanya ini padamu, onii-chan."
Aqua menatap Ruby serius.
"Apa kau menyukai senpai?" tanya Ruby dengan wajah merah.
Aqua mengalihkan pandangannya, memangku dagunya. "Dia sudah tidak ada, aku juga sudah melupakannya. Lagipula siapa yang menyukai gadis bermulut kasar seperti Arima."
"Kau terlihat sangat terpuruk dan terlihat seperti hidupmu sudah berakhir sejak pembunuhan senpai. Apa senpai orang yang sangat spesial untukmu?"
Pemuda berambut blonde itu tidak menyadari tingkahnya sendiri sejak pembunuhan yang dialami Kana, Aqua hanya diliputi seluruh rasa bersalah. Ia menatap Ruby dengan wajah yang sudah memerah. Matanya sudah basah, ia ingin sekali menangis dan mengatakan ini pada Ruby.
"Karena aku sudah membuatnya mati di tangan Hikaru Kamiki." Aqua menundukkan kepalanya.
"Itu bukan salahmu! Bukan salahmu, onii-chan! Bukan! Itu takdir untuk senpai!"
Aqua mengeraskan rahangnya. "Itu salahku, Ruby. Arima selalu memintaku untuk menghentikan balas dendamku yang sangat ingin membunuh Hikaru. Tapi ternyata Hikaru tertarik dengan Arima karena dia dekat denganku dan itu sebabnya malam itu dia menjadi percobaan pembunuhan."
Ruby menahan napasnya. "Hikaru Kamiki tertarik pada senpai?"
"Dia hampir melecehkan Arima malam itu. Dan membanting Arima ke atas meja kaca hingga kacanya pecah." Aqua semakin frustasi melanjutkan ceritanya. "Arima berusaha keluar dengan cara melompat dari jendela lantai dua. Sepertinya Hikaru punya anak buah yang sukses menangkap Arima." Aqua menghapus air matanya kasar. "Aku selalu terbayang dan memimpikan Arima meminta tolong padaku. Dan aku tidak bisa melakukan apa pun."
"Kenapa kau baru menceritakannya padaku?" tanya Ruby sambil menahan isakannya.
"Aku merasa kau akan terbebani dengan ini. Aku sudah berusaha berkali-kali melupakan Arima, tapi…." Aqua menahan napasnya, membuangnya frustasi. "Semakin aku berusaha melupakannya, semakin aku teringat dengannya. Rasanya sangat menyakitkan…."
Selama ini Aqua membohongi dirinya sendiri, selalu dan selalu. Membuang perasaannya sendiri untuk balas dendam. Mengatakan bahwa dia tidak akan membalas cinta siapapun yang menyukainya. Namun, pada akhirnya perasaan itu menyiksa dirinya.
...****************...
Genap sudah dua tahun setelah Kana menghilang. Dan satu tahun sudah Kana dinyatakan meninggal. Semua yang berada di dunia hiburan mulai meroket.
Aqua mencoba untuk kembali tidak peduli pada perasaannya untuk kesekian kalinya. Film bersama Akane kedua kalinya membuatnya sibuk dan melupakan Kana meski tidak sepenuhnya. Sementara Ruby tengah melakukan konser solonya.
"Aqua-kun…. Di scene selanjutnya akan ada kiss scene antara kita. Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Akane pada Aqua yang tengah duduk di kursinya.
Aqua membuka naskahnya. "Lakukan saja seperti biasa, ini pekerjaan mudah untukmu kan?"
"Apa kau tidak baca di situ ada adegan kau kembali menemukanku setelah aku pergi?" tanya Akane lagi.
"Aku akan urus diriku sendiri, jadi kau hanya perlu melakukannya dengan baik. Karena kau jenius bukan?" Aqua berdiri dan mendahului Akane.
Selain dalam film, mereka tidak pernah bertegur sapa. Padahal di dalam film mereka banyak melakukan adegan skinship walaupun mereka tidak berpacaran. Dan di akhir cerita peran yang Akane mainkan akan kembali setelah pergi ke luar negeri untuk belajar.
Sutradara sudah berteriak dan scene pun di mulai.
Bermula dengan Aqua yang tengah duduk sendiri di kursi taman.
"Kyoya!" Akane memanggil Aqua yang berperan sebagai Kyoya di dalam film.
Aqua berdiri mencari sumber suara. Akane berlari dengan senyum mengembang di wajahnya. Angin meniupkan rambut panjang birunya dengan indah. Aqua melebarkan tangannya untuk memeluk Akane.
"Hisashiburi Kyoya…" Akane membalas pelukan Aqua dengan erat.
Aqua memeluk Akane penuh rindu. Tangannya melepas pelukan Akane, menatap mata Akane. Menarik pelan dagu Akane dan menciumnya dengan lembut.
Akane merasa Aqua melakukan akting dengan sangat baik, melakukan dengan sepenuh hati. Ciuman dengan Akane bahkan membuat wajah Akane memerah. Aqua memejamkan matanya, mencoba untuk profesional.
Aqua melepas ciumannya dan memulai scene baru dengan Akane. Mereka bergandengan tangan di bawah matahari sore.
"Cut!"
Suara tepuk tangan memenuhi taman. Semua staff saling melempar senyum. Aqua dan Akane saling membungkuk dan segera melangkah keluar stage. Scene telah selesai. Mereka selesai menyelesaikan film kedua mereka bersama.
Acara makan-makan pun dilakukan. Aqua duduk di sebelah Akane. Berkali-kali Akane mencoba untuk akrab dengan Aqua, namun pria itu seperti memasang tembok penghalang di antara dirinya dan Akane.
"Apa kalian pacaran lagi?" tanya salah satu staff pada Akane.
"Ah… Tidak mungkin, itu sudah berapa tahun berlalu." Akane menjawab seraya melirik Aqua.
"Siapa tahu kan? Karena banyak penggemar yang menyukai kalian." Staff lain menyahut.
Aqua tidak membalas dan memilih untuk menikmati daging pesanannya. Dia tidak ingin memperpanjang percakapan yang menurutnya membosankan.
"Aqua-kun sudah punya pacar ya?" tanya staff lain.
"Aku tidak tertarik menjalin hubungan seperti itu," jawab Aqua.
"Ah…. Padahal aku yakin kau sering menerima penuturan cinta dari banyak aktris." Staff lain menyahuti.
"Aku belum sukses jadi harus lebih sukses dari sekarang. Terima kasih atas makan malamnya." Aqua berdiri, membungkuk dan melangkah keluar dari restoran.
Pertanyaan yang paling mengganggu Aqua. Ia terlihat kesal dengan pertanyaan itu. Setelah hampir bertahun-tahun sudah putus dengan Akane, masih saja ia harus mendengar kalimat menyebalkan untuk kembali menjalin hubungan. Aqua sudah membulatkan tekad untuk tidak memiliki hubungan istimewa dengan siapa pun. Ia hanya ingin sendiri, menjaga Ruby sampai menua.
...****************...
"Kau mendapat tawaran drama baru, apa kau mengambil dramanya?" tanya Miyako sesampainya Aqua di Strawberry Production.
"Siapa lawan mainnya?" tanya Aqua seraya meraih skrip naskah di atas meja.
"Ini bukan genre romance, aku sudah mengatakan pada banyak rumah produksi sesuai permintaanmu. Drama slice of life tentang pemuda yang tinggal di desa sebagai seorang anak petani dan peternak."
Aqua membaca naskah dengan seksama. "Ini sulit, aku tidak ada pengalaman memerah susu sapi, tidak pernah membersihkan kandang ayam juga."
Miyako berdiri di hadapan Aqua, membuat ekspresi kesal. "Kau yang minta untuk tidak mengambil genre romance, jadi ya ini yang kau dapatkan."
"Tapi, aku tidak bisa beternak." Aqua menjawab dan menaruh kembali naskah ke atas meja.
"Syuting dilakukan tahun depan. Kau bisa langsung pergi ke tempat yang aku berikan. Di sana kau bisa belajar beternak dan mengolahnya. Kau juga bisa berlibur." Miyako meraih naskah di atas meja. "Ini pengalaman baru untukmu. Romance di sini juga tipis dan bagus, ceritanya hangat dan sangat menyenangkan. Kau bisa menunjukkan sisi yang berbeda. Dan setelah ini, aku yakin kau akan semakin sukses."
"Kenapa begitu?"
"Karakter yang kau mainkan adalah pemuda pesimis yang selalu bekerja keras. Ohiru Nanami juga bukan pemuda cerdas, jadi ini sangat relate dengan keseharian kita. Satu lagi, di sini Ohiru merupakan pemuda yang selalu ceria. Jadi akan bertolak belakang dengan semua karakter yang pernah kau perankan. Karena biasanya kau hanya memerankan pemuda dingin, tsundere dan tak bisa berekspresi."
Aqua merubah posisinya. "Berbeda juga kepribadianku dengan Ohiru Nanami."
"Iya, makanya aku sarankan kau ambil. Karena kalau kau tidak mau, maka akan diberikan pada Himekawa Taiki yang sedang naik daun juga."
"Yasudah berikan saja padanya…." Aqua berdiri dan bermaksud untuk keluar ruangan Miyako.
"Kau yakin? Aku akan memberimu liburan satu bulan. Dua pekan untuk belajar dan dua pekan kau bisa pakai ke luar negeri."
Aqua berhenti melangkah. "Maksudnya?"
"Ya, kau kan sudah bekerja keras tahun ini. Jadi, akhir tahun ini kau bisa ke luar negeri ke mana pun terserah, kami yang akan bayar. Dan aku akan memberikanmu liburan di musim gugur ini untuk belajar beternak."
Aqua tersenyum, dia sangat ingin liburan karena jadwalnya benar-benar penuh sejak awal tahun. "Call!"
Miyako tersenyum. "Bersiaplah. Pekan depan aku akan memberikan tiket keretamu."
"Ke mana? Apa jauh dari Tokyo?" tanya Aqua.
"Bersiap saja. Sedang musim gugur, kudengar musim dingin di sana sangat indah. Peternakan di sana tidak besar, tapi kudengar penduduk di sana ramah dan sangat membantu orang baru. Kau bisa pergi ke sana sendiri kan?"
Aqua tersenyum kecut. "Aku bukan anak kecil." Aqua melangkah keluar. "Ya, akan kucoba…."
Tidak disangka, Aqua dengan mudah dibujuk hanya dengan liburan. Miyako tersenyum dan segera menghubungi salah satu produser rumah produksi yang mengirim naskah.
...****************...